Se connecterCarlos Rigel, anak tunggal dari CEO kaya raya, terbiasa hidup dalam kemewahan dan hubungan tanpa makna. Tak pernah puas dengan siapa pun yang ia miliki, rasa hampa justru membawanya pada rasa penasaran terhadap satu-satunya gadis yang tak pernah tersentuh pria mana pun. . Azalea Frieda, sahabat kecilnya yang keras kepala dan galak. Tanpa Azalea sadari, Carlos mulai mendekatinya dengan cara licik, menjadikan perasaan sebagai permainan untuk memuaskan egonya. . Namun segalanya berubah saat Tommy Rigel mengalami serangan jantung dan memaksa Carlos mengambil alih posisi penerus perusahaan. . Di tengah tekanan dunia bisnis, Tommy juga memaksa Carlos menikahi Azalea, gadis yang sejak dulu dianggap paling mampu menjaga putranya. . Kini, di antara pernikahan yang dipenuhi keraguan dan cinta yang perlahan tumbuh, akankah Azalea menjadi korban permainan Carlos, atau justru ketulusan cintanya mampu mengubah seorang playboy menjadi pria sejati? *** Cover Ilustrasi by fb Rida Graphic
Voir plusCarlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.
Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.
Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.
Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”
Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.
Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.
“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”
Ia kembali mendekat, memeluk tubuh Carlos yang masih tanpa atasan. Tangannya menyentuh perut sixpack Carlos mencoba untuk membuat Carlos bergairah lagi. Carlos hanya diam, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar merespons.
Tiba-tiba, suara pintu apartemen terbuka memecah suasana. Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang gadis dengan kaos oversize dan rambut bondol berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah mereka berdua yang masih dalam posisi terlalu dekat.
“Azalea?” gumam Carlos menatap sahabatnya itu.
Raisa langsung menarik diri, memperbaiki posisi duduknya dengan wajah kesal.
Azalea hanya menghela napas pendek. “Sorry,” ucapnya singkat, nada suaranya datar tanpa rasa canggung. “Gue mau pinjem tablet.”
Tanpa menunggu respons, ia melangkah masuk seolah pemandangan di depannya bukan hal yang perlu diperhatikan.
Raisa menatapnya tidak percaya. “Sepertinya lo terlalu bebas masuk ke apartemen pacar orang?”
Azalea tidak berhenti. Ia terus berjalan melewati mereka, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Seolah suara Raisa hanya angin lalu. Ia langsung menuju meja dapur kecil, meraih tablet yang memang tergeletak di sana.
Carlos memperhatikan dalam diam. Entah kenapa, kehadiran Azalea selalu terasa berbeda. Tidak ada canggung, tidak ada basa-basi. Selalu seperti itu sejak dulu.
“Lusa gue balikin,” ujar Azalea singkat, masih tanpa melihat ke arah mereka.
Raisa berdiri, kesabarannya mulai habis. “Hei! Gue lagi ngomong sama lo!”
Azalea akhirnya berhenti sebentar di dekat pintu, tapi tetap tidak menoleh. “Gue denger,” jawabnya dingin. “Cuma nggak penting buat dijawab.”
Ucapan itu membuat Raisa semakin kesal. Ia melangkah cepat, seolah ingin mengejar Azalea keluar.
Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, tangan Carlos menahan pergelangannya.
“Udah,” kata Carlos santai, tapi tegas. “Nggak usah ditanggepin.”
Raisa menoleh tajam. “Lo serius? Dia masuk seenaknya, terus lo bela?”
Carlos menghela napas pelan. “Dia anak teman mama gue,” jawabnya singkat. “Udah biasa keluar masuk sini.”
Raisa terdiam, masih jelas tidak terima. “Tetap aja—”
“Raisa,” potong Carlos, kali ini menatapnya langsung. “Udah, ya. Gue anterin lo pulang.”
***
Lampu klub malam berpendar redup dengan dentuman musik yang menggema di seluruh ruangan. Carlos menenggak segelas bir tanpa jeda, menaruhnya kembali ke meja dengan sedikit keras. Wajahnya terlihat datar, tapi jelas ada sesuatu yang mengganjal.
Alex yang duduk di seberangnya mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Kenapa lo kayak bete gitu?” tanyanya santai sambil memutar gelas di tangannya.
Carlos menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue udah lima kali gonta-ganti pacar semester ini,” katanya jenuh. “Tapi kenapa nggak ada yang bisa bikin gue puas? Semuanya… hambar. Biasa aja.”
Alex langsung tertawa lebih keras, seolah itu hal yang menghibur. “Sejak kapan lo udah nidurin cewek?” ejeknya. “Pas kuliah doang? Atau dari zaman SMA? Jangan-jangan SMP?”
Carlos mendengus. “Gila aja gue begituan pas SMP,” balasnya cepat. “SMA lah. Gue masih inget pertama kali… gue malah bingung sendiri. Padahal udah sering nonton film biru, tapi pas ngalamin langsung beda.”
Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis mengingat masa lalu. “Dan mantan gue itu… ya, bisa dibilang jago. Kayak udah biasa.”
Alex mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya. “Nah itu dia masalahnya,” katanya santai. “Lo kebiasaan sama yang kayak gitu. Yang udah nggak perawan, jadinya nggak ada rasa baru lagi.”
Carlos menoleh, sedikit tertarik. “Terus?”
Alex menyeringai, matanya penuh ide iseng. “Coba lo cari cewek yang perawan,” ucapnya. “Yang belum pernah main-main kayak yang lain. Pasti rasanya beda banget.”
Carlos langsung menggeleng sambil terkekeh. “Nggak mungkin lah. Zaman sekarang mana ada yang kayak gitu? Kalaupun ada, pasti ribet.”
Alex meraih dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di atas meja di antara mereka. “Ayo taruhan,” katanya santai tapi penuh tantangan. “Lo pasti ketagihan.”
Carlos menatap uang itu sekilas, lalu kembali menatap Alex. “Ketagihan apaan?”
“Rasanya,” jawab Alex singkat. “Sensasi yang beda. Bukan cuma soal fisik, tapi saat mulai pertama jebol perawan. Itu yang bikin nagih.”
Carlos terdiam sejenak. Ia mengambil gelasnya lagi, memutar isinya sebelum akhirnya meneguknya perlahan. Matanya tampak berpikir, mengingat-ingat sesuatu.
“Cewek suci, ya…” gumamnya pelan.
Entah kenapa, satu nama langsung terlintas di pikirannya.
Azalea.
Carlos mengerutkan kening, sedikit menggeleng seolah menepis pikiran itu. “Nggak mungkin,” katanya lagi.
Alex memperhatikan ekspresinya dan tersenyum tipis. “Kenapa? Udah kepikiran, kan?”
Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuhnya lagi, menatap keramaian di depan dengan pandangan kosong.
Tiba-tiba, di tengah kerumunan yang padat, muncul sosok yang sama sekali tidak cocok dengan tempat itu. Azalea. Wajahnya terlihat kesal, alisnya berkerut tajam. Ia berjalan cepat, sesekali menghindar dari pria-pria yang mencoba mendekatinya.
“Hey, cantik—”
“Woi, minggir,” potong Azalea dingin tanpa menoleh.
Beberapa pria mencoba menyentuh lengannya, tapi Azalea dengan sigap menepis dan terus melangkah. Pandangannya fokus mencari satu orang.
Dan saat akhirnya ia menemukan Carlos dalam kondisi berantakan seperti itu, kesabarannya benar-benar habis.
Tanpa basa-basi, Azalea mendekat lalu menepak keras kepala Carlos.
Plak!
Carlos mengerjap, sedikit tersentak. “Eh…” gumamnya bingung.
“Ayo pulang!” kata Azalea tegas. “Mama lo udah nyariin dari tadi!”
Carlos menyipitkan mata, mencoba fokus. Begitu mengenali wajah di depannya, ekspresinya langsung berubah.
“Azalea…” katanya lirih, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.
Tanpa peringatan, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk Azalea erat. “Gendong…” rengeknya manja, suaranya terdengar seperti anak kecil. “Gue capek…”
Azalea langsung mendorong kepalanya dengan kesal. “Ih, apaan sih! Jangan nempel-nempel!” Ia menoyor kepala Carlos pelan, tapi jelas jengkel.
Kini keduanya udah di luar club, Azalea terpaksa membopong Carlos, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Bisa nggak sih lo jalan yang bener?” gerutunya.
Carlos hanya menggumam tidak jelas, kepalanya hampir jatuh ke bahu Azalea.
Azalea menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan mencoba menghentikan taksi yang lewat. “Taksi!” panggilnya beberapa kali.
Namun satu per satu kendaraan berlalu tanpa berhenti.
“Duh, kenapa sih penuh semua…” keluhnya kesal.
Di saat yang sama, Carlos mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng ke samping, dan sebelum Azalea sempat mengantisipasi Carlos jatuh, dan tanpa sengaja menarik Azalea bersamanya.
Azalea tidak sempat menahan diri. Tubuhnya ikut terjatuh, tepat di atas Carlos. Untuk sesaat, dunia terasa diam. Wajah mereka sangat dekat. Dan tanpa disengaja, bibir mereka bertemu.
Azalea membeku, matanya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Carlos pun terdiam, meski kesadarannya samar, ia tetap merasakan momen itu.
Di dalam mobil, suasana langsung berubah sunyi. Carlos fokus menyetir, sementara Azalea duduk di sampingnya sambil memandang keluar jendela.Lampu-lampu jalan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya Azalea mendengus pelan."Ngapain sih lo ke sana?"Carlos melirik sekilas."Jemput istri gue lah."Azalea langsung menoleh dengan wajah kesal."Istri? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama cewek-cewek bule di Bali?"Carlos justru tersenyum kecil."Oh... Kirain lo nggak lihat semua foto dan video yang gue kirim."Azalea mendengus lagi."Gue sibuk. Jadi nggak sempat lihat semuanya. Kalau lo mau seneng-seneng ya seneng-seneng aja. Nggak usah nyepam kayak
Carlos berjalan santai menghampiri Mike yang masih berdiri. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke sekeliling kebun yang mulai sepi lalu bertanya dengan nada santai,"Pestanya udah selesai?"Mike memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Udah."Lalu ia balik bertanya,"Untuk apa lo ke sini?"Carlos tersenyum tipis."Kenapa? Gue nggak boleh datang?"Mike tidak menjawab. Carlos lalu menambahkan sambil mengangkat bahu,"Lagi pula Azalea itu anak teman nyokap gue. Nggak aneh kalau gue datang."Mike menatap Carlos beberapa detik. Tatapannya jelas tidak bersahabat."Cuma sayangnya.""Apa?""Azalea nggak bisa ketemu lo."Carlos mengangkat sebelah alis."Siapa lo ngatur-ngatur Azalea?"Nada suaranya berubah dingin. Mike langsung menatap balik."Gue cuma nggak mau Azalea terluka."Kalimat itu membuat Carlos tersenyum miring."
Senja mulai turun ketika pesta rakyat akhirnya selesai.Lampu-lampu gantung yang dipasang sejak pagi mulai menyala satu per satu, menerangi kebun yang kini perlahan kembali sepi.Anak-anak sudah pulang bersama orang tua mereka. Tenda-tenda mulai dibongkar. Beberapa warga masih membantu membereskan meja dan kursi.Sementara itu, Rose dan Bryan tampak sibuk membagikan hasil panen kepada warga yang masih mengantre.Bryan terlihat sangat bahagia."Ambil yang banyak ya! Tahun ini panen kita luar biasa!" serunya sambil tertawa.Rose ikut tersenyum melihat suaminya yang begitu bersemangat. Sedangkan di sisi lain, Azalea masih membantu membereskan sisa-sisa makanan bersama Mike.Namun sejak pagi tadi, tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Perutn
Carlos akhirnya tiba di kamar hotel saat matahari mulai tenggelam di ufuk Bali. Begitu pintu kamar terbuka, Sintia yang sejak tadi berjalan di belakangnya langsung ikut melangkah maju."Pak Carlos, kalau ada yang perlu saya bantu—""Nggak usah."Carlos langsung memotong.Sintia berhenti. "Tapi kita bisa berbagi kehangatan—""Lain kali aja."Carlos membuka pintu lebih lebar lalu menatap sekretarisnya."Gue mau istirahat."Sintia tampak kecewa. Ia sebenarnya berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengan Carlos, apalagi mereka sedang berada di luar kota.Namun tatapan dingin pria itu membuatnya tidak berani membantah."Baik, Pak."Carlos mengangguk singkat. Lalu menutup pintu.Klik.Kamar hotel yang luas itu langsung terasa sunyi. Carlos melemparkan kartu kamar ke atas meja. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang besar.Matanya menatap langit-langit.A
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang.“Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya
Di dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih ke






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus