Mag-log in21++ Cerita dewasa!!! Bijaklah memilih bacaan! "Aku... mencarimu untuk berterima kasih," ucap Luna pelan, hampir ragu. Luke baru mengangkat pandangan dan tatapannya turun, pelan, tidak sopan, seolah sedang menilai Luna. Merah gaunnya memotong hitamnya ruangan seperti luka yang belum menutup. "Berterima kasih?" tanya Luke, suaranya berat. Luna menggenggam jemarinya sendiri, caranya berdiri terlalu lurus dan kaku. Tidak ada senyum dan tidak mendekati Luke. Ia seperti seseorang yang datang ke ruang pengadilan. "Ya. Berterima kasih karena akhirnya aku mendapatkannya dan semua itu tidak akan terjadi jika bukan karena kamu," ucapnya hampir parau. Luke menyandarkan punggungnya ke sofa. Satu kakinya bergeser, memberi ruang kosong di sampingnya—gerakan kecil, hampir tak terlihat, tapi penuh makna. Sementara bibirnya mengulas senyum licik yang sangat samar. "Terima kasih tidak membutuhkan gaun seperti itu," ucapnya datar. Merah gaun itu bukan sebagai godaan yang ia minta, tapi sebagai tanda Luna tidak sedang bermain melainkan sedang belajar berjalan di wilayah yang salah. Dan Luke tahu—perempuan di hadapannya belum menjadi monster, tapi sudah berhenti menjadi korban. "Namun, kau datang sendiri, dengan warna yang sangat berani. Di duniaku, ini disebut undangan," lanjut Luke dengan tenang.
view moreChapter 58 Bangun di Genangan Darah Bangunan batu tua itu sunyi, Beata melangkah keluar dengan kaki gemetar dan sepatunya terasa berat seolah setiap langkah menariknya kembali ke dalam ruangan tempat Aami tergeletak. Bau besi masih menempel di tenggorokannya, ia menelan ludah, keras, tapi rasa itu tidak pergi. Udara malam Sisilia dingin dan lembap. Angin membawa suara serangga dan di kejauhan, ombak memukul batu. Beata memeluk tubuhnya sendiri, jaketnya tipis, tangannya masih bergetar—bukan karena dingin, tapi karena kesadaran yang datang terlambat bahwa setelah ini, tidak ada tempat pulang. Ia berjalan menjauh dari bangunan itu, menyusuri jalan tanah yang retak dan gelap. Setiap bayangan tampak hidup, setiap suara seperti langkah yang mengejarnya. Beata mempercepat langkah, napasnya memburu, pikirannya berantakan. Genevece pasti memburunya seperti memburu sisa-sisa pengikut Nicolo, ia benar-benar tidak memiliki tempat lagi di Sisilia. Tiba-tiba lampu menyala dan cahaya put
Chapter 57 Keadilan Gerbang besi mansion belum sepenuhnya tertutup ketika mesin mobil bergetar aneh, seperti tersedak napasnya sendiri. Aami langsung merasakan itu, insting yang entah mengapa terbentuk begiu saja selama beberapa bulan berada di tengah-tengah lingkungan dengan ancaman yang tak pernah benar-benar pergi. Tangannya refleks menahan tubuh Liam yang duduk di kursi belakang, sabuk pengaman sudah terpasang, rambut bocah itu masih berantakan karena baru saja tertidur di perjalanan pulang. "Kenapa kita berhenti?" suara Liam kecil, masih serak, tapi tidak menangis. Aami tersenyum, senyum yang dipelajarinya bukan dari kebahagiaan, melainkan dari cara bertahan hidup. "Mesinnya manja sedikit. Kita tunggu sebentar, ya...." Mobil di depan mereka mendadak memotong jalur. Dari spion, Aami melihat bayangan bergerak cepat untuk disebut sebuah kebetulan kemudian pintu pengemudi dibuka paksa, suara logam beradu terdengar kering dan tajam. Aami tidak berteriak karena tahu teriakan
Chapter 56 Rumah yang Tidak Layak Hujan turun tipis dan malas, seperti ragu apakah layak membasahi kota yang sudah busuk sejak lama. Bangunan rumah susun itu berdiri miring, catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lampu lorong berkedip seolah setiap detik bisa padam. Audrey mengenakan mantel panjang berwarna gelap, rambutnya disanggul rapi seperti wanita yang tidak pernah disentuh kemiskinan dan berhenti di depan pintu besi berkarat di lantai tiga. Ia mengetuk sekali, tidak keras dan tidak ragu. Beata membuka pintu dan wajahnya langsung berubah mendapati Audrey di depan pintu, tetapi tidak kaget. Ekspresinya lebih seperti campuran malu dan marah. Rambut Beata kusut, wajahnya lebih tirus dari terakhir Audrey melihatnya, dan aroma ruangan di belakangnya adalah bau pengap dan sisa hidup yang tidak lagi dirawat. "Kau," kata Beata, nadanya tajam, seolah satu kata itu cukup untuk melampiaskan semua kebencian yang ia simpan. Audrey tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat, tapi juga
Chapter 55 Pemain Lama Dua bulan kemudian. Malam itu Palermo berkilau dengan cara yang dingin. Bukan kemewahan yang hangat, melainkan cahaya lampu kristal yang memantul di marmer putih dan gaun mahal, menciptakan kesan bersih yang terlalu sempurna untuk sebuah kota yang hidup dari darah dan rahasia. Gedung tua peninggalan bangsawan abad lalu itu malam ini menjadi tuan rumah sebuah acara amal. Musik klasik, donasi untuk pendidikan seni, dan deretan nama besar yang tercetak rapi di undangan. Klan-klan lama, pengusaha pelabuhan, pejabat yang pura-pura netral, dan wajah-wajah yang saling mengenal tapi tak pernah benar-benar percaya satu sama lain, berkumpul dalam satu ruang. Luna melangkah masuk bersama Luke. Gaun hitamnya sederhana, tanpa perhiasan mencolok dengan potongan bersih yang jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Rambutnya disanggul rendah, memperlihatkan tengkuk pucat yang kontras dengan tatapan matanya yang kini jauh lebih tenang dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Namun k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.