Share

Penyelidikan

"Selamat datang kembali, Ibu Arinda," sambut Mayang saat aku memasuki ruangan yang masih lengang.

Gadis itu akhir-akhir ini memang selalu datang lebih awal.

"Halah, kek yang dari mana aja!" Aku tertawa, menaruh tas dan duduk manis mengeluarkan handphone. Sepertinya tadi ada panggilan masuk, tapi kubiarkan saja karena masih di jalan.

"Kan calon manager!" Mayang mengedipkan satu mata.

"Jare sopo? Sotoyyy!" sangkalku sambil mendorong pipi mulusnya dengan telunjuk.

Pandanganku kembali tertuju pada gawai di tangan. Astagaaa, Pak Afnan. Kira-kira ada apa ya? Apa kutelepon balik aja? Eh, tapi nanti Mayang curiga. Aku mendongak menatap Mayang. Takut dia mengintip. Ah, amaan.

"Beritanya dah nyebar seantero kantor, lho, Mbak!" ujar Mayang dengan nada menggoda.

"Berita apa?" tanyaku khawatir. Jangan-jangan gosip antara aku dan Pak Afnan.

"Berita Mbak dan Pak Afnan," jawab Mayang setengah berbisik.

"Haaah?!" Aku terhenyak, lalu kemudian tersadar kalau di ruangan ini sudah banyak karyawan berdatangan.

"Nggak usah sekaget itu kali, Mbak! Ha ha ha kayak yang lagi ketahuan selingkuh aja," Mayang menepuk bahuku pelan. "Gosip Mbak Arin yang mau gantiin Pak Afnan itu, lho!" terangnya lagi.

Hummfff ternyata. Kukira gosip yang bukan-bukan.

"Yeee! Itu kan belum pasti benar, May. Kan cuma gosip," sanggahku.

Mayang terkikik. "Iya juga sih. Eh, Mbak! Pak Afnan beneran mo pindah pa nggak, sih?" tanyanya kemudian.

"Lha yo Mbuh, May! Tanya sama orangnya!" jawabku pura-pura tak tahu. Padahal Afnan sudah memberitahuku malam itu, sebelum kejadian .... Hushhh! Pikiranmu, Rin! Lupakan lupakan lupakaaan!

Tak lama kemudian, jam kantor sudah dimulai. Kami tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Soal Pak Afnan, biar dia menghubungi lagi jika memang ada keperluan. Syukurlah, tugasku hari ini tak terlalu banyak. Hanya memeriksa beberapa laporan dari staff marketing dan memberikan resumenya pada Pak Afnan.

Ooo eem jii ... kudu siap-siap oleng lagi nih pastinya.

Sesekali masih sempat melirik handphone dan mencari hiburan di dunia maya. Kata Mayang, biar nggak spaneng dan bikin awet muda! Ya misalnya ... ngepoin seseauthor pemes yang jadi idola para mamah muda, uppss! Tar para pembaca penasaran siapa dia. Hi hi hi.

***

Aku duduk menyamping dengan lengan memeluk pinggang hingga perut Mas Ichsan. Semilir angin sore membelai rambut yang biasanya tak pernah kubiarkan melewati tengkuk, tapi kali ini hampir menyentuh bahu. Permintaan khusus dari suami. Entahlah kenapa tiba-tiba dia peduli pada gaya rambutku. Aku memang tak suka rambut panjang. Selain ribet, juga mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun silam.

Mas Ichsan menjemputku dari kantor, lalu mengajakku sejenak berkeliling kota. Sebenarnya aku masih khawatir, tapi kurasa kondisinya sudah cukup baik untuk mengajarinya kembali ke kehidupan nyata.

"Pingin kemana, Rin?" tanya Mas Ichsan. Kurasakan tangan kirinya mengelus punggung tanganku.

"Terserah Mas aja deh, aku manut. He he he," jawabku sekenanya sambil mengelus lembut perutnya.

"Ke kuburan? Mau?" Tawanya terdengar renyah.

Kucubit pelan pinggangnya, "Hiss, yo emoh! Mo ngitungin batu nisan apa ya?" selorohku, dia hanya tertawa.

"Ya ... kali aja pingin yang antimainstream," jawabnya sambil melirikku dari kaca spion.

"Eh, Mas!" Tiba-tiba aku mendapatkan ide.

"Hmm?" sahutnya.

"Ke toko aja, yuk?" ajakku. Semoga dia mau.

"Toko siapa?" tanyanya.

"Toko kita, yang dekat toko brownies," jelasku.

"Ohh ... iya deh. Lama ya gak ke sana," ujarnya.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat mengajaknya ke toko. Mengingatkannya kembali pada satu persatu bagian dari kehidupan nyata. Berharap dengan ini ia bisa kembali seperti sedia kala. Menjadi seorang lelaki tangguh dan pekerja keras yang memilih hidup mandiri sejak masih kuliah dan merintis usaha sendiri tanpa bantuan orang tua.

Beruntung, kami memiliki beberapa karyawan yang setia dan bisa dipercaya. Kesibukanku di kantor juga kesibukan mengurus Mas Ichsan membuatku tak punya banyak waktu untuk mengelolanya. Mbak Firo --kasir kami-- akan melaporkan hasil penjualan harian melalui WA. Begitupun Andi dan Rudi, merekalah yang selama ini telah berjuang membuat toko kami tetap berdiri.

***

Malam kembali datang membawa bayang-bayang kecurigaan. Mas Ichsan telah lelap di bawah selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya. Aku bangkit, memakai kembali baju yang berserak dan beranjak ke kamar sebelah. Harus segera kutuntaskan rasa penasaran jika tak mau terus tersiksa.

Kaff pasti bisa membantuku. Dibanding aku, dia tahu lebih banyak tentang puisi serta tokoh-tokoh penulisnya, tapi menghubunginya lebih dulu tentu bukan gayaku. Nanti malah dikira kangen atau lebih parahnya ... ganjen! Astagaaa ... bisa mencoreng reputasi. Lagipula, sejak pertemuan kami tempo hari, Kaff belum menghubungiku lagi secara pribadi.

Kulihat titik hijau milik Kaff menyala. Aku menulis sebuah puisi di wall pribadi. Kuyakin, nanti dia pasti membacanya.

CARAKU MENCINTAIMU

Oleh: Pesona Senja

Caraku mencintaimu ialah tetap menjaga hatimu

Bahkan saat kau buat marah juga kecewa

Aku tak punya cara lampiaskan amarah

Jangankan mengumpat, sedikit kasarpun tak kuat

Itu alasan kenapa aku sering menghilang

Tiap kau buat marah, pun kecewa

Diam-diam kutekan dada, biar tak nampak detak amarah

Diam-diam kukatup bibir, biar samar getar terindra

Diam-diam kubendung empat sudut mata, biar tak banjir alir beningnya

Diam-diam kutarik napas sedalam-dalamnya, selega-seleganya

Lalu dengan senyum kucurah keluh

Dengan kata yang kupikir masak

Dengan nada yang kau dengar enak

Tapi ketika telah kukabarkan baik-baik

Tetap saja kau tak mengerti

Kuputuskan sejenak menepi

Diam-diam ke tempat sunyi

Lalu, kutumpah tangis sendiri

Tanpa rasa benci terhadapmu

Sekadar meretas pedih

Sekadar legakan hati

Sekadar ini

Kali ini

Caraku mencintaimu ialah tetap menjaga hatimu

Bahkan saat hatiku sendiri tak lagi utuh

_______________________________________

Tak butuh belasan menit, notif pesan dari Kaff muncul di pintasan. Nahh kan, apa kubilang! Pasti dia baca. Hi hi hi

"Itu puisi?" tulis Kaff dalam pesannya.

"Iyalah, masa' cerpen!" Kuketik cepat-cepat.

"Tumben kek ular tangga," ejeknya.

Aku tersenyum, Kaff memang sangat tahu ciri khasku.

"Iseng aja," balasku singkat.

"Harusnya kalau mo curhat, bikin senandika aja," balasnya lagi.

Aku terkikik. Tuuh kan, Kaff pasti bisa menebaknya. Kemudian kami larut dalam obrolan mengenai kecurigaanku terhadap Dayu, atau mungkin Ida Ayu. Ah entahlah siapa itu.

Kukirim foto puisi di blog suamiku pada Kaff dan memintanya menelusuri nama perempuan yang ada di sana. Selama ini, ia memang selalu bisa diandalkan untuk hal-hal seperti itu.

Tak lama kemudian.

"Ada banyak akun dengan nama itu," lapor Kaff.

"Ya, aku tahu. Kemarin uda kucari juga," balasku.

"Keknya bukan penulis deh," simpulnya.

"Jadi kecil kemungkinan kalau itu teman kolab suamiku atau penulis favoritnya?" tebakku.

"Yapss," jawab Kaff singkat.

"Menurutmu, apa dia bagian dari masalalu?" tanyaku meminta pendapatnya.

"Yaa bisa jadi!" balas Kaff.

Lagi-lagi ujung mataku berembun. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa timbul lagi masalah saat ujian sebelumnya hampir saja kuselesaikan. Kubalas pesan Kaff dengan stiker sedih.

"Apa nama blognya?" Kaff membalas beberapa menit kemudian.

"Buat apa?" Aku balik bertanya.

"Kirim aja," perintahnya.

Aku menurut, mencari beberapa foto lalu mengirimkannya pada Kaff. Titik hijau milik Kaff berubah abu-abu setelah dia menyuruhku berangkat tidur dan menyerahkan semua rasa penasaran ini padanya. Kutebak hal yang mungkin ia lakukan pada blog suamiku. Meretasnya!

Next

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status