LOGIN"Tuan William memaafkan Anda? Mengizinkan Clarissa bebas bersyarat? Anda benar-benar berpikir seorang William Wijaya memiliki kemurahan hati seperti itu?" Hendri terkekeh tipis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Raka mendadak meremang. "Tuan William tidak pernah memaafkan Anda, Raka. Dia sengaja menarik kembali semua tuntutan awalnya minggu lalu agar Anda merasa aman. Dia memberi Anda umpan berupa kebebasan palsu."Raka tertegun. Jantungnya berdegup kencang, rasa dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke kepala. "Umpan...?""Benar," sahut sang pengacara di samping Hendri, membalik halaman dokumen ke arah Raka. "Saat Tuan William membiarkan Anda bebas berkeliaran, Anda langsung memanfaatkan momen itu untuk memindahkan sisa aset gelap Anda dari rekening luar negeri dan menghubungi kembali jaringan lama Anda untuk mencoba menyabotase saham minoritas kami, bukan? Anda pikir pergerakan Anda rapi?"Hendri menumpu dagunya dengan kedua tangan, menatap Raka dengan pandangan mengasihani.
Dentum musik berdentum keras, menggetarkan lantai marmer sebuah klub malam eksklusif di kawasan SCBD Jakarta. Lampu strobo berwarna ungu dan merah neon berputar liar, memotong kabut tipis dari mesin asap yang memenuhi ruangan VVIP di lantai dua.Di tengah sofa beludru merah yang melingkar, Raka duduk dengan angkuh. Kancing kemeja sutranya terbuka dua teratas, memperlihatkan kalung emas yang berkilau. Di lengan kanannya, seorang wanita berpakaian minim menggelayut manja, sementara tangan kirinya memegang gelas kristal berisi wiski mahal yang sesekali digoyangkannya hingga es batu di dalamnya berdenting.Raka tersenyum puas. Pekan ini berjalan luar biasa sempurna baginya. Setelah drama panjang kehancuran bisnisnya kemarin, ia merasa angin segar kembali berembus ke arahnya. William tiba-tiba bersikap melunak atau setidaknya, begitu yang ada di dalam kepala culas Raka. Kasus pemerasan dan sabotase kecil yang sempat ia lakukan tempo hari menguap begitu saja tanpa tuntutan hukum yang berar
Ciuman yang tiba-tiba itu menghentikan seluruh untaian kalimat pahit yang hendak meluncur dari bibir William. Sasha sengaja tidak memberikan ruang bagi suaminya untuk terus mengorek luka lama atau mengasihani diri sendiri. Baginya, William yang berdiri di depannya sekarang bukanlah pria lemah yang kesepian, melainkan pelindung, belahan jiwa, dan ayah terbaik untuk putra mereka.William tertegun selama beberapa detik, sepasang matanya yang kelam melebar pelan sebelum akhirnya perlahan terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehangatan yang ditawarkan Sasha. Sentuhan bibir Sasha yang lembut namun penuh penekanan itu bagaikan penawar racun yang paling ampuh, seketika memadamkan sisa-sisa kegelisahan yang sempat bergejolak di dalam dada bidangnya.Kedua tangan William yang semula menggantung bebas di sisi kursi kerja, kini bergerak naik secara refleks. Telapak tangan besarnya yang hangat merayap naik menangkup pinggang ramping Sasha, menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat tanpa
Mobil sedan mewah itu melaju membelah jalanan dengan kecepatan konstan, dikawal ketat oleh barisan SUV hitam yang menjaga jarak aman di sekeliling mereka. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan sempat kembali merayap, namun kali ini atmosfernya tidak lagi sedingin es. Ketegangan yang tadinya mencekik perlahan-lahan mencair, digantikan oleh rasa saling percaya yang kian mengikat di antara keduanya.Sasha menyandarkan kepalanya di bahu bidang William, sementara jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas kursi. Ia bisa merasakan bagaimana perlahan-lahan ritme napas William mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat pria itu mendobrak masuk ke dalam kafe tadi."Will," panggil Sasha lirih, memecah kesunyian."Hm?" William menoleh sedikit, mengecup puncak kepala Sasha yang bersandar di bahunya tanpa melepaskan tautan jemari mereka."Soal ibu kandungmu... kalau kamu belum siap bercerita, tidak apa-apa," ucap Sasha lembut. Ia mendongak, menatap profil samping suaminya dengan
Sudah kubilang jangan pernah menyentuh wilayahku, Aditama," desis William. Suaranya begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mematikan. Genggamannya pada pergelangan tangan Sasha terasa erat namun berhati-hati agar tidak menyakiti wanita itu, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya harta paling berharga yang tidak boleh direnggut darinya.Aditama tidak bergeming dari posisi duduknya. Ia hanya menatap putranya dengan senyuman miring yang meremehkan, lalu beralih menatap Sasha yang mengintip dari balik bahu kokoh William."Kamu selalu impulsif jika menyangkut hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan, William. Papa hanya sedang mengobrol santai dengan menantu Papa. Apa itu salah?" tanya Aditama tenang, sengaja memancing emosi William."Dia bukan menantumu. Dan anakku tidak ada hubungannya dengan silsilah busuk keluarga yang kamu banggakan itu," sahut William tajam.William tidak ingin memperpanjang konfrontasi di tempat umum seperti ini, terlebih dengan adanya Sasha di sisinya.
"Jangan-jangan keluarga William keberatan dengan keberadaanku... atau lebih buruk lagi, keberadaan Arlan?" Kini batinnya berkecamuk, meremas pinggiran ponsel hingga buku-buku jarinya memutih. Dugaan itu menghantam benak Sasha bak godam berat, menyisakan rasa sesak yang seketika memenuhi rongga dadanya. Sasha tahu betul bahwa William adalah pria dari kasta yang sangat berbeda dengannya. Selama ini, suaminya itu memperlakukannya bak ratu, mengikis habis seluruh trauma masa lalunya, dan membangun dinding pelindung yang begitu tebal. Namun, dinding tebal itu kini disadarinya memiliki fungsi ganda: bukan hanya menjauhkan musuh-musuh Sasha, melainkan juga menyembunyikan Sasha dari dunianya sendiri. Sambil mengatur napasnya yang memburu, Sasha mencoba memosisikan dirinya sebagai seorang mahasiswi akuntansi yang terbiasa berpikir logis. Ketakutan tidak akan menyelesaikan masalah. Sikap aneh William sejak kemarin sore, mulai dari kepulangannya yang mendadak, pengetatan penjagaan, hingga t
“Pak Heri, boleh saya bicara sebentar?”Sasha menghampiri sang pemilik usaha saat rekan-rekan lain sedang sibuk bercerita riang tentang hidangan rendang pari yang semalam mereka nikmati. Pak Heri sedang membersihkan bibirnya dengan serbet kain, wajahnya masih merona karena keceriaan tadi malam. Ia
Langkah Sasha keluar dari kantor Distributor Sentosa Abadi terasa lebih ringan daripada saat ia masuk tadi. Sinar matahari sore di kota kabupaten itu tidak lagi terasa menyengat, melainkan hangat dan menjanjikan.Sesampainya di rumah kontrakan, aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambutnya. Bu
Bu Lastri menatap Sasha lamat-lamat. Ada ketegasan di mata wanita muda itu yang mengingatkannya pada Nenek Wati keras kepala namun penuh kasih. Perlahan, keraguan di wajah Bu Lastri memudar, berganti dengan anggukan mantap."Baiklah, Nduk. Ibu ikut. Harta Ibu cuma kebun kecil ini, tapi ketenangan j
"Oalah... jadi begini kelakuanmu kalau aku lengah, Mas?!" teriak Siti. Suaranya melengking, memecah kesunyian sore dan memancing perhatian beberapa warga yang sedang duduk-duduk di pos ronda tak jauh dari sana.Rianto terlonjak kaget, langsung melepaskan tangan Sasha. Bukannya merasa bersalah pada







