FAZER LOGINLusty Mona, CEO perusahaan skincare, memiliki segalanya—cantik, cerdas, namun di usia 30 tahun ia masih belum menikah. Keluarganya bersikeras menjodohkannya dengan Arga Wijaya, seorang CEO muda demi nama besar keluarga. Tak disangka, hati Lusty justru jatuh pada Raman, seorang cleaning service yang selalu ada di dekatnya dan membantunya dengan tulus. Hubungan mereka memicu penolakan keras dan rencana licik untuk menyingkirkan Raman. Mampukah Lusty mempertahankan pria yang dicintainya? Atau ia akan kehilangan segalanya demi pilihannya?
Ver mais“Aku tidak peduli apa kata mereka, aku hanya mencintaimu,” ujar aktor di layar ponsel menggema di ruangan kantor yang sunyi, kemudian adegan berciuman mesra di atas ranjang.
Suara desahan memenuhi ruang kantor yang sepi.
Jam dinding di ruang kerja direktur utama Mona Beauty Group sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Suasana kantor begitu sunyi, menyisakan deru samar pendingin ruangan. Di balik meja kerja, Lusty Mona, CEO berusia 30 tahun, yang masih lajang, menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Kacamata bertengger di hidung mancungnya. Untuk mengusir penat dan rasa sepi yang tiba-tiba menyergap, Lusty menonton film romantis di ponselnya.
Lusty termenung, sedikit terbawa suasana.
Adegan film romantis semakin panas, suara-suara desahan makin nyaring.
KLEK…
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa ketukan yang keras.
"Permisi, Ibu Lusty... Oh, maaf!" Suara yang sangat dikenalnya itu menggema dari sudut ruangan.
Lusty tersentak kaget bukan main. Tangannya refleks bergerak cepat membalikkan layar ponselnya ke atas meja, tepat saat adegan ciuman di atas ranjang itu mengeluarkan suara desahan nyaring. Wajah sang CEO seketika memerah sampai ke telinga.
Di ambang pintu, berdiri Raman Syah, petugas cleaning service di kantornya. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu mematung dengan memegang alat pengepel lantai.
"R-Raman? Sedang apa kamu di sini?!" tanya Lusty, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar berwibawa sebagai atasan, meski jantungnya berdebar karena malu.
"Maaf, Bu Lusty. Saya kira Ibu sudah pulang," ujar Raman gugup, langsung menundukkan kepala dengan sopan. "Saya hanya ingin membersihkan ruangan agar siap untuk rapat besok pagi."
"Sudah saya bilang berapa kali? Jangan panggil saya Ibu! Saya belum kawin... eh belum nikah! Panggil saya Nona Lusty. Eh, lain kali ketuk pintu dulu!" sahut Lusty, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Saya tadi sedang menonton video berita malah ada iklan video dewasa, huh!" Lusty berbohong.
"Baik, Non. Sekali lagi saya mohon maaf mengganggu waktu Nona Lusty," kata Raman tulus, melangkah mundur perlahan. "Kalau begitu, saya permisi keluar dulu—"
Belum sempat Raman menutup pintu, ponsel Lusty di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang seketika membuat pundak Lusty kembali menegang: Mama Lusty.
Lusty menghela napas panjang, menatap layar itu dengan tatapan enggan. Ia melirik Raman yang masih berdiri di dekat pintu. "Tunggu, Raman. Jangan keluar dulu. Kamu... bersihkan saja dulu sudut yang di sebelah sana."
"Baik, Bu, Eh, Non," jawab Raman patuh, lalu berjalan pelan menuju rak lemari pajangan di sudut ruangan, mencoba mengalihkan pandangannya demi privasi sang atasan.
Lusty menggeser layar ponselnya dan mendekatkannya ke telinga. "Ya, Halo, Ma?"
"Lusty! Kamu di mana? Jam segini belum pulang juga?!" Suara melengking Ratna Prameswari langsung memberondong dari seberang telepon, membuat Lusty terpaksa menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter.
"Lusty masih di kantor, Mah. Masih ada beberapa laporan keuangan Mona Beauty yang harus diperiksa," jawab Lusty pelan, mencoba memberi alasan logis.
"Jam segini kamu masih kerja? Dasar gila kerja! Kerja, kerja, kerja terus yang kamu pikirkan! Mau sampai kapan kamu jadi gila kerja begitu, Lusty? Umur kamu itu sudah tiga puluh tahun!" cecar Ratna tanpa ampun. "Sadar tidak, adikmu, Lula, baru dua puluh enam tahun tapi dia sudah resmi tunangan! Masa kamu sebagai kakak mau dilangkahi begitu saja tanpa kejelasan?"
Lusty memijat pelipisnya. "Lula dan tunangannya memang sudah siap. Kalau Lusty kan belum—"
"Belum apa lagi?! Mama tidak mau tahu ya, pokoknya kamu harus segera menikah! Mama ini sudah mau punya menantu, mau cepat-cepat gendong cucu dari kamu! Teman-teman sosialita di medsos selalu pamer cucu mereka!”
Suara ibunya begitu nyaring di keheningan malam, hingga Lusty yakin Raman yang sedang mengelap kaca pajangan di sudut ruangan pun bisa mendengar sayup-sayup omelan tersebut. Wajah Lusty terasa kaku, ada rasa sesak sekaligus sedih yang mendalam di dadanya.
"Ma, menjalin hubungan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan..."
"Makanya Mama sudah punya nama calon suamimu itu adalah Arga Wijaya! Dia itu mapan, tampan, CEO sukses. Kurang apa lagi? Pokoknya minggu ini kamu harus luangkan waktu untuk bertemu dengannya. Jangan membantah lagi, Lusty. Ibu pusing memikirkan kamu!"
PIP
Sambungan telepon diputus sepihak oleh ibunya.
Lusty perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap meja kerjanya dengan pandangan kosong. Air mata kepenatan hampir saja menetes, namun ia sekuat tenaga menahannya. Sebagai pemimpin ratusan karyawan, ia dituntut selalu kuat, namun di malam hari seperti ini, tuntutan keluarga justru membuatnya merasa menjadi wanita paling kesepian di dunia.
Suara langkah kaki yang mendekat memecah keheningan.
Lusty mendongak dan mendapati Raman sudah berdiri di depan mejanya. Di tangan pemuda itu, kini ada sebuah cangkir keramik yang mengeluarkan uap hangat.
"Permisi, Non Lusty," kata Raman dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. "Tadi kebetulan saya membuat teh camomil hangat di pantry untuk saya sendiri, tapi ini masih baru dan belum saya minum. Barangkali... Nona Lusty berkenan meminumnya untuk sedikit meredakan stres?"
Lusty menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap wajah Raman yang bersih dan tersenyum tulus tanpa pamrih. Di tengah dunia bisnisnya yang penuh kepalsuan dan tuntutan ibunya yang egois, perhatian sederhana dari seorang cleaning service ini terasa begitu menghangatkan.
Lusty menerima cangkir tersebut. "Terima kasih banyak, Raman. Kamu perhatian sekali," ucap Lusty tulus, tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu.
"Sudah tugas saya membantu kenyamanan orang-orang di kantor ini," balas Raman rendah hati. "Minum selagi hangat. Teh camomil bagus untuk menenangkan pikiran sebelum tidur."
Lusty menyesap teh itu perlahan. Rasa hangatnya langsung mengalir ke tenggorokan, perlahan meredakan ketegangan di dadanya. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja, lalu menatap jam dinding yang kini sudah lewat pukul sepuluh malam.
"Kamu benar, Raman. Sepertinya memaksakan diri bekerja malam ini juga tidak akan efektif," ujar Lusty sambil menghela napas panjang.
"Jika begitu, sebaiknya Nona Lusty segera pulang dan istirahat di rumah," sahut Raman sopan. "Biar saya bantu merapikan berkas-berkas Ibu ke dalam tas."
"Boleh, tolong ya," kata Lusty, bangkit berdiri dari kursi kebesarannya.
Raman dengan cekatan dan hati-hati mulai menyusun map-map laporan yang berserakan di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja kulit milik Lusty. Gerakannya sangat rapi dan penuh rasa hormat.
Sembari memperhatikan Raman yang sedang membantunya berkemas, Lusty terdiam. Ada rasa aman yang menjalar di hatinya ketika melihat punggung tegap pria berusia dua puluh lima tahun itu. Pria yang statusnya jauh di bawahnya, namun entah mengapa malam ini terasa jauh lebih peka dan peduli padanya dibandingkan keluarganya sendiri.
"Semua berkasnya sudah rapi di dalam tas," ujar Raman, membuyarkan lamunan Lusty. Ia menyerahkan tas kerja tersebut dengan kedua tangannya. "Dan ini kacamatanya jangan sampai tertinggal di meja."
Lusty menerima tas dan kacamatanya, jemarinya sempat bersentuhan tidak sengaja dengan ujung jari Raman yang hangat. Sebuah desir halus seolah mendebarkan dadanya seketika.
"Ah... iya, terima kasih sekali lagi, Raman," ucap Lusty agak gugup, buru-buru memakai kacamatanya kembali.
"Silakan, saya antar sampai depan lift," tawar Raman dengan senyuman ramah.
Lusty mengangguk pelan, melangkah di depan Raman keluar dari ruang kerjanya yang luas namun sepi.
Dari pantulan kaca Lusty dapat melihat tatapan Raman di belakangnya lurus ke depan. Berbeda jauh dari para tamu bisnisnya yang biasanya menatap ke arah rok pendeknya. Karena itulah, Lusty selalu merasa aman dan nyaman jika ada Raman di dekatnya.
Sesampai di area parkir, Lusty masuk ke dalam mobil. Ia buru-buru menurunkan kaca jendela mobil dan memanggil Raman. "Tunggu Raman! Tadi kamu dengar sendiri kan omelan Mama di telepon soal perjodohan itu?" tanya Lusty.
Raman hanya mengangguk pelan. Ia tampak kaget bosnya tiba-tiba menanyakan masalah pribadi.
"Apa kamu mau berpura-pura jadi calon suamiku di depan orang tuaku?" tanya Lusty penuh harap.
Raman tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Suaranya terbata-bata, “Ca—calon suami? Saya?”
“Gak perlu dijawab sekarang. Saya juga gak maksa kok, tapi saya butuh bantuan kamu.” Mesin mobil berderum pelan. Lusty melambaikan tangan lalu menyetir mobil keluar dari area parkir.
Raman masih berdiri di area parkir menyaksikan mobil bosnya menghilang di balik gedung.
Kemudian tangannya menepuk-nepuk pipinya sendiri. “Bukan mimpi kan ini?” gumam Raman kepada dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. “Waduh, aku harus menjawab apa ya? Kalau aku mengiyakan gimana nanti? Kalau aku menolak duh bakal dimusuhi Nona Lusty!”
"Kamu kenapa, Raman? Wajahmu pucat sekali," tanya Lusty sembari membetulkan letak kacamatanya. Mata indahnya menatap cemas ke arah kursi kemudi.Raman buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah. Ia meremas jemarinya yang mendadak sedingin es. "T-tidak apa-apa, Nona Lusty. Hanya sedikit pusing karena sisa kejadian kemarin."Raman memilih bungkam seribu bahasa. Ia menyembunyikan ancaman biadab dari Arga itu. Sepanjang perjalanan menuju kantor, dadanya bergemuruh hebat. Rasa takut yang luar biasa merayap di hatinya. Bayangan rumah kayu milik orang tuanya terus menghantui. Rumah panggung itu terlampir jelas dalam pesan teks tadi.Raman tahu posisi dirinya saat ini. Melawan pria sekuat Arga sangat berbahaya. Mengandalkan hukum membutuhkan proses yang lama. Nyawa keluarganya bisa menjadi korban taruhan. Polisi belum tentu bergerak cepat sebelum pelaku bertindak. Raman tidak ingin ego mengorbankan orang tuanya.***Malam harinya, Raman kembali ke kosan sempit. Ia melangkah masuk dengan h
"Kita tidak pulang ke rumah, Raman," ucap Lusty dengan napas memburu. Jemarinya mengusap dada Raman sembari meremas kejantanan pria itu lalu pindah meremas paha pria itu.Raman mengerang. Tangannya memegang lengan Lusty, menahannya agar tidak berlebihan. "Jadi kita ke hotel?" Lusty tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menggantikan menyetir mobil kemudian melajukan mobil keluar dari halaman rumah mewahnya. Sedan mewah itu meluncur masuk ke pelataran hotel bintang lima. Setelah mesin mati, Lusty memutar tubuhnya menghadap Raman. Hasrat bercinta dan melarikan diri dari tekanan perjodohan orang tuanya memuncak.Lusty melepaskan kacamatanya dengan perlahan. Ia memajukan tubuhnya hingga menempel ke Raman. Aroma parfum dari leher jenjang Lusty menguar kuat memenuhi udara. "Menginaplah bersamaku di sini. Aku tidak ingin kamu pulang ke kosan dalam kondisi begini. Aku ingin bersamamu malam ini, Raman." Wajah Raman seketika memerah. Jantungnya berdegup kencang menahan gejolak asmara. "Ta—tapi Non
Mobil sedan mewah itu berhenti di pelataran rumah Lusty. Kabin mobil terasa sunyi. Raman terus menundukkan kepalanya. Ia mencoba menyembunyikan memar di kening wajahnya dari kaca spion di atas dasbor. Lusty memicingkan matanya. Ia menatap Raman dengan sangat menyelidik. "Kamu benar-benar tidak mau jujur padaku, Raman?" Kecurigaan Lusty memuncak saat melihat gerakan tangan Raman. Pria itu tampak canggung saat membetulkan posisi topinya yang terlalu turun. Raman memaksakan sebuah senyuman tipis. Sudut bibirnya terasa sangat perih akibat hantaman keras tadi siang. "Sumpah, Nona. Saya tidak menyembunyikan apa pun. Semuanya aman dan mobil sudah bersih sempurna." Lusty tidak percaya pada bualan sopir pribadinya itu. Ia segera berpindah ke kursi depan demi meraih perangkat dashboard camera di kaca depan mobil. Gerakan tangannya tampak sangat tak sabar. Lusty membuka aplikasi khusus di ponselnya. Jemari lentiknya mulai memeriksa rekaman perjalanan mobil sepanjang hari itu. Ia ingin melih
Raman yang terkejut mencoba bersikap tenang. Ia membuka pintu mobil perlahan dan berdiri tegak menatap kedua pria asing tersebut. "Maaf, ada keperluan apa ya? Kalau mau mencuci motor, antreannya ada di sebelah sana.""Jangan berlagak bodoh, Raman!" pria satunya yang bertubuh tambun maju selangkah, menunjuk dada Raman dengan telunjuknya. "Kami di sini membawa pesan dari Tuan Arga Wijaya. Kamu itu cuma kecoak, cleaning service rendahan yang tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu merayu Nona Lusty dan mengacaukan perjodohan keluarga mereka!"Raman tersentak mendengar nama Arga Wijaya disebut. Ia langsung teringat desas-desus perjodohan bosnya yang tersebar ke seluruh kantor."Saya tidak pernah merayu Nona Lusty. Saya hanya bekerja sebagai karyawan serabutan dan sopir beliau," jawab Raman membela diri dengan suara yang ditekan."Halah, bacot! Dengar baik-baik ancaman kami, Raman. Kamu harus segera pergi dan jauhi Lusty mulai detik ini juga! Kalau kamu masih terlihat berkeliaran di dekat No












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações