Se connecterBegitu sampai di penthouse, keheningan malam terasa mencekam. William tidak langsung melepaskan Sasha. Ia menyeret gadis itu menuju balkon yang dingin, tempat di mana semuanya dimulai semalam."Kau tahu kenapa aku memilihmu, Sasha?" tanya William sambil memutar pergelangan tangannya sendiri. Sasha menggeleng pelan, tubuhnya menggigil ditiup angin malam."Karena kau memiliki cahaya yang ingin kuhancurkan. Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum kau menjadi sama gelapnya denganku." William meletakkan gelasnya dan mendekati Sasha. Ia membelai pipi Sasha dengan punggung jari-jarinya yang dingin."Malam ini, kau akan membuktikan bahwa kau memang layak menjadi milikku. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi masa lalu."“Apa ini jawaban atas pertanyaan saya tadi, Pak? Anda marah sama saya gara gara saya bertemu Raka?”Bukan menjawab, justru William mencium Sasha dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak memberikan ruang untuk bernapas, sebuah penaklukan yang menuntut kepatuh
Setelah konferensi pers yang brutal itu, William membawa Sasha ke sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai tertinggi gedung miliknya. Ruangan itu luas, dingin, dan minimalis cerminan sempurna dari pemiliknya.William melempar jasnya ke sofa kulit dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia tidak menoleh pada Sasha saat berbicara."Mulai hari ini, hidupmu di luar sana sudah berakhir," ujar William datar. "Kau dilarang keluar dari gedung ini tanpa seizinku. Semua akses komunikasimu akan dipantau. Ponselmu sudah kuganti dengan perangkat yang telah dipasangi pelacak dan penyadap."Sasha terperangah, rasa takut mulai merayap di punggungnya. "Ini bukan perlindungan, Pak William. Sejak kapan Bapak menjadi seorang hacker? Anda benar-benar membuatku kaget. Ini jadi semacam isolasi! Kau mengurungku!"William berbalik dengan cepat. Dalam dua langkah lebar, ia sudah berada di depan Sasha, menyudutkan gadis itu ke dinding kaca yang memperlihatkan jurang ketinggian kota di bawah mereka. Ia
Pagi itu, udara di dalam kamar VIP rumah sakit terasa seberat timah. Bukan karena aroma obat-obatan yang tajam, melainkan karena kehadiran pria yang kini berdiri tegak di depan jendela besar, membelakangi ruangan. William Aditama tampak seperti monolit hitam di tengah cahaya pagi yang pucat. Postur tubuhnya yang kaku dan setelan jas yang tanpa cela memancarkan aura otoritas yang begitu mutlak, seolah oksigen di ruangan itu pun harus meminta izin padanya sebelum bisa dihirup.Sasha baru saja selesai mengancingkan blus sutranya ketika William berbalik. Matanya yang sedingin es menyapu penampilan Sasha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada binar kagum, tidak ada kehangatan. Hanya penilaian dingin seorang predator yang sedang memeriksa kondisi aset berharganya."Kau terlambat tiga menit," suara William rendah, namun setiap suku katanya memiliki berat yang menekan dada."Aku hanya perlu memastikan dosis obat Nenek sudah benar sebelum aku pergi—""Aku tidak bertanya tentang alasa
William melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Aroma maskulin yang tajam campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan dinginnya ubin menyerbu indra penciuman Sasha. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menelusuri garis rahang Sasha, lalu berhenti untuk mengusap bibir bawah gadis itu dengan ibu jarinya."Harga yang kuminta adalah kepemilikan total," bisik William tepat di depan wajah Sasha. Napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit Sasha yang mendingin karena angin. "Jiwa, raga, dan setiap desah napasmu adalah milikku. Kau mengerti?"Sasha merasakan gelombang panas merambat dari titik di mana ibu jari William menekan bibirnya. Jantungnya berpacu liar. Alih-alih merasa takut, provokasi pria itu justru memicu sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dirinya. Suatu keinginan untuk menyerah sekaligus dikuasai."Kalau begitu, ambil pembayarannya sekarang," tantang Sasha pelan, matanya menatap berani ke d
William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, keluarga Anda baru datang ketika kontrol atas Sasha mulai lepas.”Ia melangkah maju setengah langkah. Tidak agresif. Justru terlalu tenang.“Duduklah, Pak Bram,” lanjutnya. “Kita bicara seperti orang dewasa. Atau… Anda ingin saya bicara sebagai orang yang punya akses pada penyelidikan kasus Clarissa di kampus, laporan rumah sakit, dan beberapa nama investor yang akhir-akhir ini cukup sering menyebut nama Anda?”“Jadi yang membuat kaca perusahaanku benar-benar kamu?’ Tanya Bram menegang.“anda sedan
“Sha…”Suara serak nenek Wati membuat Sasha terlepas dari jerat sang profesor dingin itu. “Ya, Nek. Sasha di sini.”Sasha tidak melihat Mbak Ana di sana. Padahal asisten yang dia sewa menemani sang nenek harus selalu ada di sisi sang nenek yang sakit. Dia belum berani bertanya pada William yang terlihat masih marah saat ini. “Apa kamu datang sama Raka?”William melirik pada Sasha, Sasha berharap langsung pasang badan di depan Nenek Wati. Namun ternyata tidak.“Kalian bertengkar lagi?” tanya Nenek Wati lagi.“Dia sudah berbohong sama nenek dan dia juga sudah membuat masalah besar di kampus Sasha.” “Bohong?”“Iya. Makanya Sasha di sini sama dosen di kampus, biar nenek percaya kalau Raka itu tidak baik selama ini. Dia sering berbohong tentang Sasha.”“Benarkah itu?” Nenek Wati melirik ke arah William.“Ya.” William menjawab meskipun singkat.“Astaghfirullah, maafkan Nenek, Sha.”“Dan Raka itu yang juga membuat asisten nenek harus cuti. Dia membuat Mbak Ana kecelakaan,” ucap William me







