LOGINSasha, seorang mahasiswi yang menyembunyikan pekerjaan malamnya sebagai pemandu karaoke untuk membayar pengobatan neneknya yang sakit parah. Segalanya berubah menjadi mimpi buruk saat ia bertemu tamu VIP yang panas bernama William, yang keesokan harinya ia kenali sebagai profesor filsafat barunya. Dengan ancaman untuk membongkar identitas ganda Sasha kepada universitas dan publik, William menawarkan dana tak terbatas untuk pengobatan neneknya. Namun ada satu syarat: Sasha harus sepenuhnya memuaskan hasrat terlarang William.
View More"Aku tahu, Bu. Aku tahu," rintih Sasha.“Kamu harus kuat, demi Arlan. Ibu yakin semua akan baik-baik saja.”Sasha mengusap wajahnya, matanya merah dan sembap. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit memantul di lantai keramik yang dingin, menciptakan suasana yang kian mencekam. "Ibu tahu sendiri... aku bahkan tidak ingin Arlan tahu wajahnya. Bagaimana mungkin aku harus menyeret pria itu kembali ke hidup kami?""Ini soal nyawa, Sasha!" suara Lastri mulai melunak, membujuk Sasha meski tertahan oleh keheningan bangsal. "Arlan butuh sumsum itu. Kalau hasil tesmu tidak cocok, siapa lagi yang kita punya? Kamu mau membiarkan bocah itu layu hanya karena kamu terlalu takut menghadapi masa lalu?"Sasha terdiam. Kata-kata Lastri menghantamnya lebih keras daripada diagnosis dokter. Ia menoleh ke arah bangsal, melihat tubuh kecil Arlan yang terbaring lemah dengan selang infus yang tampak terlalu besar untuk tangannya yang mungil. Dada Arlan naik turun dengan napas yang pendek dan berat."Aku ak
Di dalam taksi online yang mereka pesan dengan terburu-buru, Sasha memeluk Arlan erat-erat. Kepala Arlan bersandar di dadanya, terasa begitu panas hingga menembus kaus yang dikenakan Sasha. Sepanjang jalan, Sasha terus membisikkan doa, namun pikirannya terus kembali pada gambar krayon tadi sore."Ma..." Arlan membuka matanya sedikit, namun pandangannya kosong. "Dingin... Arlan dingin...""Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi sampai rumah sakit," Sasha mencium kening Arlan berkali-kali, berusaha menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD), perawat segera mengambil tindakan. Arlan dipasangi infus dan diberikan obat melalui dubur untuk menurunkan demamnya dengan cepat. Sasha hanya bisa berdiri di sudut ruangan, meremas tangannya sendiri hingga buku-bukunya memutih.Lastri mendekati Sasha, merangkul bahu Sasha yang berguncang karena tangis yang ditahan. "Dia akan baik-baik saja, Sha. Arlan anak yang kuat.""Aku takut, Bu. Aku takut kalau
“Mama, tadi aku gambar ini.”Arlan menunjukkan gambar keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, nenek dan dirinya. Sasha tersenyum melihatnya. “Ini siapa?”“Papa.”“Kok gelap wajahnya?” tanya Sasha. “Habis Arlan gak tau wajah Papa gimana. Mama gak kasih tahu.”Sasha hanya mengusap kepala Arlan, lalu meletakkan kertas gambar itu. “Arlan mau makan apa? Biar mama siapkan,” kilah Sasha mengalihkan topik. Dia selalu kesal jika Arlan sudah berbicara tentang ayahnya.“Arlan gak lapar,” lirih Arlan yang juga seperti tahu kebiasaan ibunya yang selalu berbohong tentang ayahnya.Sasha bergegas ke dapur, membiarkan bunyi sutil dan wajan menjadi tameng dari kesunyian yang menyesakkan. Di ruang tengah, Arlan masih menatap kertas gambarnya. Sosok jangkung dengan coretan hitam tebal di bagian wajah itu seolah menatap balik padanya, menuntut identitas yang selama lima tahun ini disembunyikan rapat-rapat oleh ibunya.Sasha memotong wortel dengan gerakan yang terlalu bertenaga. Suara pisau beradu dengan
"Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entahlah! Mama tak tahu harus ke mana. Rumah, mobil sudah disita. Mama mau ke mana coba?”“Ya udah, ke apartemen aku dulu. Aku yakin papa juga akan ke sana.”Linda pun mematikan telepon, dia langsung meminta supir menuju apartemen Clarissa. Di sana, ternyata Bram ternyata sudah menunggu."Dengar, Linda! Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”Clarisa belum sampai di sana, dia masih di jalan dan keduanya tengah menunggu dan berdiri di ambang pintu.“Aku udah gak peduli. Mas harus cari Sasha dan minta anak itu membuat William percaya lagi dengan kita.”“Bagaimana mungkin? Aku saja tidak tahu di mana anak itu sekarang!" Jawab Bram.Clarisa sampai. Wajahnya terlihat marah dan meledak. “Claris












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews