LOGIN“Aku harus pergi ke ibukota sore ini juga, Margareth jatuh sakit,” cerita Katty ditengah kesibukannya menyajikan sarapan pagi di meja.“Apa keadaannya genting?” tanya Orlando.Katty menarik kursi dan bergabung duduk. “Sudah empat hari Shopie menghilang. Margareth sudah melapor dan polisi masih berada dalam proses pencarian. Aku khawatir, Shopie menjadi korban kejahatan.”Katty lihat Sean dan Orlando bergantian, keduanya tampak masih tenang tanpa banyak reaksi meski sudah dengar ceritanya.Hubungan keluarga Floyen kembali harmonis setelah beberapa bulan lamanya hadapi keretakan dan setiap hari lalui pertengkaran. Setelah lulus kuliah, Sean memulai kariernya dengan menjadi assistant Orlando, dia pelajari segala sesuatu yang ada di pabrik karena kedepannya pabrik itu hrus diteruskan olehnya.Sementara Alysa, dia memutuskan kembali melanjutkan sekolah setelah cerai dengan Asher. Katty masih tidak mengubah wataknya, dia gemar hina menantunya yang dianggap tidak membawa keuntungan. Puncak
Brak!Begitu pintu ditutup Michaelin yang berlari kabur, Mante beranjak dari kursinya, membawa semua perlengkapan Lilian yang telah ia curi.Dengan langkah tenang pria itu menghampiri Lilian yang bersembunyi di balik pintu kamar mandi.Saat pintu di dorong terbuka, Lilian pun ikut mundur dengan waspada, berdiri saling berhadapan dengan Mante yang telah berhasil mempermainkannya, merusak tekad Lilian yang sejak tadi pagi begitu ingin menghindar.Kesunyian mengurung mereka diantara sisa-sisa jejak aroma sabun dalam ruangan kecil itu. Sudut alis Mante terangkat pelan, pandangannya bergerak menelusuri penampilan Lilian yang basah kuyup memeluk diri.Tetesan air menghiasi kulitnya yang pucat kemerahan seperti porselen, bahkan sisi wajahnya yang masih lebam itu kini tampak seperti goresan lukisan berseni.Pikiran gelap Mante berdecak, andai saja kondisi Lilian memungkinkan.. ingin sekali sekarang dia membawanya kembali ke bilik dinding kaca dan menuntun wajah itu dalam satu genggaman, memin
Menyaksikan handponenya yang tenggelam di gelas air panas, air mata Celestine berderai tidak dapat menahan tangisan. Deru napas yang tidak beraturan terdengar dan terlihat dari setiap gerak dadanya yang mencetak siluet tulang akibat kehilangan begitu banyak berat badan semenjak sakit.Celestine turun dari ranjangnya dan terburu-buru menumpahkan air di gelas sebelum handponenya rusak oleh ibunya yang telah tega, sedikitpun tidak memiliki empati dengan kondisi Celestine yang saat ini menderita oleh banyak hal.Dilihatnya sang ibu dengan tatapan sengit sambil berpegangan pada sisi meja menahan sakit. “Aku telah kehilangan segalanya, pekerjaanku, laki-laki yang ku kejar, kenyamanan hidupku bahkan harga diriku! Mengapa Ibu sedikitpun tidak menunjukan kepedulian padaku meski sebentar lagi aku akan mati!” bentak Celestine dengan suara bergetar.Jane terpaku beberapa detik seolah tidak percaya dengan kata-kata yang telah terucap dari bibir putrinya. Ditengah pertengkaran kecil itu, Bert mema
Jane Austine meletakkan satu per satu piring kecil berisi sarapan yang telah disiapkannya untuk Celestine.Di tengah kesibukannya merawat putrinya yang sedang sakit, Jane beberapa kali mencuri pandang ke arah Celestine yang sejak tadi sibuk dengan handponenya.Dari hari ke hari kondisi kesehatan Celestine semakin memburuk. Sama halnya dengan kondisi bisnis Zicola.Dampak penarikan investasi dalam jumlah besar mengancam stabilitas finansial perusahaan, sementara pembatalan kontrak pasokan memaksa sejumlah lini produksi menghentikan operasionalnya. Fondasi bisnis yang selama ini menopang kejayaan Zicola mulai retak. Jika krisis tersebut tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin seluruh imperium bisnis itu akan runtuh.Ditambah lagi kasus hilangnya Shopie yang hingga saat ini belum ditemukan. Keterkaitan kasus tersebut dengan Celestine membuat Zicola terpaksa menggunakan pengaruh keluarga Giedon untuk menutup kasusnya dengan berbagai alibi. "Makanlah sarapanmu, Celestine," perintah Jane
Napas Lilian tercekat ditenggorokan, wajahnya tampak pucat pasi dan pupil matanya gemetar panas. Bibir Lilian terbuka pelan kesulitan bernapas akibat sesak yang tiba-tiba datang, bercampur sakit yang begitu hebat seperti sudah menerima sebuah hantaman keras yang melempar dirinya ke tanah sampai hancur, sampai kehilangan tenaga untuk bersuara maupun bergerak.Lilian tidak salah dengar..Dengan sangat jelas Mante mengatakan, bahwa dia tidak ingin memiliki anak darinya.Bagaimana bisa, Mante sampai hati bicara seperti itu? Mengapa dia sudah memiliki pemikiran sampai sejauh itu? Tidakkah Mante sadar keinginannya adalah sesuatu yang sangat kejam untuk siapapun yang bermimpi ingin memiliki keluarga, terlebih untuk Lilian yang sudah tidak memiliki orang tua sekaligus anak tunggal.Tangan Lilian terkepal kuat menahan tangisan yang mulai mendesak ditenggorokan, dengan lemas ia berbalik pergi menyusuri kesunyian yang sempat dilewatinya.Pandangan Lilian mengabur, dia tekan dadanya yang kembali
Lilian menyeka air mata yang menggenang. Matanya kembali terpejam dengan napas tersengal-sengal, menyisakan jejak ketakutan yang tidak reda meski kini Lilian telah terbangun.Dengan kondisi penglihatan yang samar, Lilian pandangi jam yang menunjukan pukul lima pagi.Tiga hari sudah Lilian dirawat dan mendapatkan pemantauan intesif, kondisinya tidak sebaik yang terlihat mata.Masih ada sakit yang terkadang muncul tiba-tiba, atau muntah setelah makan, ditambah mimpi buruk yang berulang kali datang, tidak jarang Lilian panik frustasi saat mendengar suara keras. Semua kejadian yang terlihat sederhana itu membuat Lilian harus berjumpa dengan psikolog agar tidak terjadi trauma berkelanjutan.Lilian tidak peduli jika reaksinya dianggap berlebihan. Orang-orang tidak pernah berada di tempatnya ketika beberapa nyawa direnggut tepat di depan mata dengan cara yang sangat mengerikan.Bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam dunia normal, menyaksikan sebuah pembunuhan masal bukanlah sebuah kejadia
“Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t
Sakit menusuk ke dalam ulu hati, menyaksikan pria yang Lilian harapkan akan menjadi penjaganya, justru dengan tenang membiarkan teman-temannya bicara buruk. Mengapa Sean terkesan tidak peduli padanya? Meski semua orang tahunya mereka kekasih yang dijodohkan. Sean punya hati nurani yang bisa dia
Saat matahari mulai tenggelam membawa cahayanya di langit, Mante kembali ke tempat dimana dia tinggalkan kudanya. Penampilan Mante telah berubah kotor penuh debu, ada darah segar yang menghiasi wajahnya dari cipratan hewan buruan yang telah dia habisi. Dengan langkah gontai dan suara napas kasar,







