MasukPerihnya napas yang memenuhi dada sedikit demi sedikit membangunkan Lilian dari ketidak sadaran, tubuhnya yang lain mulai merasakan sakit dan bibirnya yang pucat mulai mengeluarkan racauan diantara rintihan.Bulu mata Lilian gemetar tidak mampu terbuka, tangannya kaku membeku tidak mampu digerakan sedikitpun, namun.. pendengarannya bergemuruh dibayang-bayangi suara mengerikan tembakan dan kata-kata buruk yang terakhir kali dia dengar sebelum kesadarannya menghilang.Sakit itu terus mendera dalam waktu yang panjang, perih didada mulai menjalar ke dalam perut sampai buatnya seperti sedang disayat-sayat.Kerasnya jantung Lilian yang berdetak berkejaran dengan napasnya yang tersendat-sendat kesulitan mengendalikan kecemasan.Saat Napas Lilian akhirnya mulai setabil, gadis itu akhirnya membuka mata dan melihat keadaan sekitar berkali-kali, menyaksaikan beberapa orang berpakaian dokter tengah mengajaknya bicara.. namun suara mereka tidak bisa Lilian dengar akibat bayang-bayang suara tembaka
Di bawah bentangan langit biru nan cerah, sejumlah perempuan berkumpul di sekeliling meja-meja bundar dengan taplak sutra putih yang menjuntai anggun. Percakapan mengalir di antara cangkir-cangkir porselen dan sajian yang tertata rapi, sesekali diselingi tawa lembut yang menandakan betapa mereka menikmati jamuan teh siang itu.Kendati hanya berupa pertemuan minum teh, suasananya jauh dari kesan santai. Para perempuan itu hadir dalam balutan gaun-gaun elegan yang pantas dikenakan di sebuah jamuan resmi, dengan setiap potongan kain, perhiasan, dan aksesori yang menjadi penegas garis keturunan serta kedudukan yang mereka sandang.Dengan sepatu mahal mereka injak rumput liar dihiasi bunga-bunga jacaranda yang berguguran, dengan fascinator maupun picture hat mereka berliindung dari riaknya cahaya yang menerobos pohon jacaranda yang tengah bermekaran memancarakan warna ungu kebiuran yang sejuk. Semilir angin menyusup di antara pepohonan jacaranda, membawa wangi bunga yang samar sebelum ber
Mentari pagi samar-samar mulai terlihat dibalik gorden tipis putih, embun berjatuhan di permukaan jendela kamar ruang dirawatnya Lilian yang saat ini masih terbaring dengan alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya.Satiap satu jam sekali, dokter datang memeriksa untuk memastikannya tetap stabil tidak menunjukan adanya penurunan akibat kerasnya racun yang sempat menyebar di tubuhnya.Obat-obatan terbaik dan tenaga medis paling kompeten telah dikerahkan untuk menyelamatkannya. Namun, hingga detik ini, Lilian masih belum sadarkan diri. Tubuhnya seolah masih berjuang melawan sisa-sisa racun yang nyaris merenggut nyawanya, membuat kesadarannya tetap berada di luar jangkauan siapa pun.Mante genggam lembut tangannya yang dingin tidak bertenaga, ia usap permukaan kulitnya bekas jarum transfuse darah. Racun dalam tubuh Lilian telah merusak sel darah merah yang menurunkan begitu banyak kadar hemoglobin.Tidak terbayang berapa besar sakit yang harus Lilian tanggung semalam.Dalam penantiann
Dari balik beningnya gelas wine yang tengah Elisio teguk, sekilas pria paruh baya itu pandangi Jach sebagai isyarat, agar putra bungsunya yang menjawab dan memberi alasan.Menyadari perintah yang tak terucap itu, dengan penuh ketenangan Jach angkat bicara menjawab pertanyaan sang bibi. “Saat ini, Mante sedang menyambut tamu yang baru datang, dia memiliki jadwal janji bincang secara pribadi dengan mereka,” ucapnya berdusta.Jach tahu, apa yang sebenarnya kini sedang terjadi diluar sana, dan apa yang kini tengah dialami oleh Mante.Sayang, situasi saat ini sama sekali tidak bisa mendukung Jach untuk datang dan membantu, begitupun dengan Mante yang tidak bisa membalas sekalipun bukti sudah jelas mengarahkan pada satu dalang, Celestine.Saat ini, Lilian boleh saja berstatus sebagai isteri sah-nya Mante, namun kenyataannya.. Lilian tidak lebih dari orang asing di mata anggota keluarga Hemilton yang tidak mengenali, bahkan Elisio pun belum pernah berjumpa empat mata dengan Lilian.Di tenga
Kepulan asap cerutu bergelombang di udara, menghiasi kegelapan malam yang dingin dan mencekam.Suara angin terdengar saat berhembus, menyapu rambut halus Mante yang tidak lagi tertata rapi seperti biasa.Wajah tampannya terlihat begitu tenang dan terkesan dingin, namun kilatan di matanya tidak dapat menyembunyikan kebenaran bahwa kini, Mante Hemilton sedang cemas.Setiap kali Mante tertunduk menatap jarum jam di pergelangan tangan, napasnya sesak dan beban dalam hatinya semakin besar menumpuk berat.Mante bertanya-tanya, harus berapa lama lagi dia habiskan waktu untuk bisa mengetahui keadaan Lilian? Semakin lama Mante menanti, dia merasa mulai kehilangan akal sehatnya.Sepanjang hidupnya, Mante sudah pernah merasakan ditinggal berbagai orang yang pernah dekat dengannya. Dimulai dari teman, kakaknya.. Halu Hemilton, bahkan perempuan yang sehari lagi akan dia nikahi, yaitu Gloria.Namun, Mante tidak pernah merasa terguncang apalagi menangis, dia masih bisa memikirkan dan mengerjakan pe
Air mata semakin deras berjatuhan, membasuh darah segar yang menodai wajah.Bibir Lilian terkatup rapat menelan sakit dan katakutan yang telah menjadi satu. Suara tembakan yang berkali-kali sempat pecah di pendengaran, menyisakan kesunyian dan jejak kengerian yang kini mencekam.Segala hal yang telah Lilian alami, segala hal yang telah Lilian saksikan, telah buatnya merasa seperti kehilangan sisi kemanusiaannya. ‘Mengapa ini terjadi? Mengapa aku harus menyaksikan situasi ini, disaat aku sedang belajar berdamai dan menerima sisi lain Mante?’ batin Lilian bertanya dalam tangisan.Lilian memanggilnya datang hanya ingin dapatkan perlindungannya yang normal dan membalas kejahatan semua orang di jalan yang benar, bukan membalasnya dengan kejahatan yang jauh lebih kejam.Apa yang telah Mante lakukan di depan mata, telah buat Lilian merasa kehilangan sosoknya yang selama ini dia cintai. Sosok laki-laki yang penuh kelembutan, pandai bicara manis dan tampil seperti seorang pahlawan yang menyel
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini
“Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab
Kendaraan bergerak cepat ditengah kegelapan malam, sambil menyetir Lilian berkali-kali melihat dan menyentuh ujung hidung pria yang tidak sengaja dia tabrak, memastikan kondisinya yang kini tidak sadarkan diri masih bernapas. Perasaan Lilian bercampur aduk, takut dan cemas menjadi satu, tidak t







