LOGIN“Ah, sial. Kamu terlalu ketat, Nona,” desis Kenzo rendah. Jemari kokoh sang CEO mencengkeram pinggang Mentari, mengunci tubuh gadis itu rapat di dinding ruangan yang dingin. Mentari memekik tertahan, napasnya memburu hebat saat deru napas hangat Kenzo menyapu ceruk lehernya. “K-Kenzo... hentikan, tolong...” Namun, Kenzo justru makin menekan posisinya. Tatapan matanya yang membakar gairah mengunci penuh bibir merona Mentari yang bergetar. Dominasi pria berkuasa itu melumpuhkan seluruh akal sehat Mentari, membiarkan tubuhnya kepanasan dalam cengkeraman sang atasan. Apakah Mentari sanggup menyelamatkan dirinya dari pusaran gairah dan obsesi berbahaya sang CEO dingin yang siap melahapnya tanpa sisa? Keputusan Mentari menemukan lingkungan baru, serta orang baru dalam hidupnya kini membuahkan hasil yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Hari-hari dimanjakan itu baru saja dimulai...
View More“Kalau tangan Anda masih terus ke mana-mana, saya akan panggil keamanan.”
Mentari menahan pergelangan tangannya yang baru saja disentuh pria di depannya, lalu berusaha mempertahankan senyum meskipun wajahnya mulai menegang. Seragam yang terlalu ketat memang membuat Mentari tidak nyaman, pandangan mata pria selalu mengarah padanya. Sejak beberapa menit lalu, pelanggan itu memang tidak berhenti memperhatikannya dengan tatapan yang membuat Mentari risih. Awalnya ia masih berusaha menganggapnya biasa karena sudah terbiasa menghadapi pelanggan yang suka menggoda, tetapi laki-laki itu mulai melewati batas ketika tangannya berkali-kali sengaja menyentuh pinggang dan lengannya setiap kali Mentari datang mengantarkan minuman. “Saya di sini untuk melayani pesanan Anda, bukan melayani kelakuan seperti itu,” lanjut Mentari sambil menarik tangannya. Pria tersebut malah tertawa dan bersandar santai di sofa. “Galak juga. Padahal dari tadi saya cuma ngajak kamu ngobrol lho, Cantik.” “Ngobrol tidak harus pegang-pegang, Tuan.” “Terus kalau saya mau pegang?” Mentari menatapnya tidak percaya. “Tidak boleh. Jangan sentuh saya, Tuan!” Jawaban sederhana itu justru membuat pria tersebut semakin terhibur. Ia meletakkan gelasnya, kemudian kembali meraih tangan Mentari sebelum gadis itu sempat berbalik. “Duduklah sebentar. Lima belas menit saja kok, nggak lama,” ucap pria itu dengan kerlingan mata yang membuat Mentari ingin muntah. “Saya masih bekerja, Tuan, lepaskan saya.” “Saya bayar waktumu, tenang saja,” jawab pria itu cepat. “Saya dibayar untuk mengantar minuman, Tuan bukan untuk melakukan hal lain,” geleng Mentari. “Berapa gajimu sebulan?” Mentari terdiam sesaat, bukan karena tidak punya jawaban, melainkan karena sangat mengerti mengapa pria itu tiba-tiba membicarakan gajinya. Laki-laki tersebut tersenyum seolah sudah menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk merendahkannya. “Dua juta? Tiga juta? Saya bisa kasih lima kali lipat cuma untuk menemani saya malam ini.” Mentari langsung menarik tangannya. “Saya tidak mau jawab, bukan urusan Anda.” “Sepuluh kali lipat?” “Saya bilang tidak!” Nada suaranya mulai meninggi. Beberapa orang di sekitar mereka sempat menoleh, tetapi tidak ada yang datang mendekat. Salah satu rekan kerja Mentari bahkan hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk membersihkan gelas di balik meja bar. Mentari sudah bisa menebak alasannya. Sejak tadi pria tersebut terus menyebut nama keluarganya, membanggakan ayahnya yang memiliki saham di beberapa perusahaan besar dan mengenal pemilik kawasan tempat bar itu berdiri. Ia bukan pelanggan biasa, dan semua orang di tempat itu tampaknya tahu bahwa membuatnya marah bisa membawa masalah. Namun Mentari tidak ingin menjadikan ketakutan orang lain sebagai alasan untuk membiarkan dirinya diperlakukan seenaknya. “Saya sudah menolak dengan baik,” ucapnya sambil berusaha melepaskan tangannya. “Tolong jangan bikin saya terpaksa meminta bantuan, Tuan.” “Meminta bantuan siapa? Kamu kira aku takut? Panggil saja, ayo lakukan kalau kamu berani.” Pria itu justru menarik Mentari mendekat hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Mentari segera menahan meja di sampingnya agar tidak jatuh, lalu menatap pria tersebut dengan kesal. “Lepaskan saya, Tuan!” “Jangan teriak, santai saja.” “Anda yang jangan pegang saya! Tolong!” Pria itu mendengus. “Kamu ini pelayan atau siapa, sih? Saya datang ke sini, pesan minuman, bayar mahal, terus kamu merasa lebih tinggi dari pelanggan? Pelayan ya tugasnya melayani dong.” “Saya cuma menjaga diri dari pria seperti Anda,” ucap Mentari dengan sisa keberanian. “Menjaga diri?” Pria itu tertawa sinis. “Kalau memang tidak mau disentuh laki-laki, kenapa kerja di tempat seperti ini?” Pertanyaan itu membuat Mentari terdiam sesaat. Bukan karena ia tidak punya jawaban, tetapi karena kalimat seperti itu selalu terdengar menyakitkan. Ia bekerja di sini karena membutuhkan uang, bukan karena ingin menjual diri. “Saya kerja di sini karena saya butuh uang,” jawabnya akhirnya dengan suara tertahan. “Bukan berarti tubuh saya ikut menjadi bagian dari pekerjaan.” Wajah pria itu berubah. “Berani sekali kamu. Tapi benar, itu realistis, karna itu layani saya, dan saya akan beri kamu uang.” Tangan pria itu bergerak dan menyentuh dagu Mentari. Refleks, Mentari langsung menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh saya! Saya tidak butuh uang dari Anda!” Pria itu berdiri. Tubuhnya yang jauh lebih besar membuat Mentari spontan mundur, tetapi tangannya kembali menangkap lengan Mentari dan menariknya mendekat. Mentari langsung berusaha melepaskan diri, bahkan sempat mendorong dada pria tersebut, tetapi tenaganya tidak cukup. Cengkeraman itu berpindah ke pergelangan tangannya dan terasa semakin kuat. “Sudah saya bilang, saya tidak mau!” “Kenapa sih susah sekali?” Pria itu tertawa mengejek. “Saya cuma mau bersenang-senang.” “Saya bukan hiburan Anda!” Pria tersebut tampak kehilangan kesabaran. Tangannya terangkat dan Mentari refleks memalingkan wajah, tetapi tamparan yang sudah ia tunggu tidak pernah mengenai kulitnya. Sebuah tangan menangkap pergelangan pria itu di udara. Mentari membuka mata dan mendapati seorang laki-laki berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu sejak kapan pria tersebut berada di sana. Sosoknya tinggi dengan kemeja hitam yang bagian lengannya digulung sampai siku, sementara wajahnya terlihat begitu tenang seolah keributan di depan matanya sama sekali tidak berarti. Hanya dari cara tangannya mencengkeram pergelangan pria tadi, Mentari tahu laki-laki asing itu bukan seseorang yang mudah dianggap remeh. “Lepaskan tangan saya, Brengsek!” bentak pria tersebut. Laki-laki itu tidak menjawab. Tatapannya hanya berpindah kepada Mentari sebentar sebelum kembali kepada pria di hadapannya. “Lepaskan dia,” ucap pria itu dingin. “Ini urusan saya dengan pelayan, Anda siapa mau ikut campur? Oh atau Anda tertarik dengannya? Oke, kita bisa bicarakan—” Bughhh!! “Argh sialan! Anda kenapa sih!” Pria itu menggeram sambil memegang mulutnya yang baru saja mendapatkan bogem mentah. “Menyebalkan,” ucap pria itu lalu menarik tangan pria brengsek barusan dengan lebih keras. Pria brengsek tersebut mencoba menarik tangannya, tetapi cengkeraman laki-laki asing itu tidak bergeser sedikit pun. “Brengsek! Kamu tahu siapa saya?” “Saya tidak peduli." Pria itu menjawabnya datar. Dalam satu gerakan cepat, tangan pria itu dipelintir ke belakang hingga tubuhnya ikut terputar. Bahunya menghantam meja di belakang dengan suara keras dan beberapa gelas langsung berjatuhan. Suasana bar yang semula riuh mendadak berubah, sebagian pengunjung mulai memperhatikan, sementara pria yang tadi begitu percaya diri kini meringis sambil memegangi lengannya. “Kamu cari masalah dengan saya?” “Pergilah, jangan buat saya mengulang.” Nada suara laki-laki itu rendah, tetapi justru terdengar lebih mengancam daripada bentakan. “Jangan sok—” “Pergi!!” Kali ini tidak ada ruang untuk membantah. Pria itu masih menatapnya dengan marah, tetapi akhirnya mengambil jasnya dan pergi sambil menunjuk Mentari sebelum keluar. “Kamu tunggu saja.” Mentari menelan ludah dan tidak menjawab. Baru setelah pintu bar tertutup, ia menyadari bahwa napasnya masih berantakan dan kedua tangannya sedikit gemetar. Laki-laki asing itu kemudian menoleh kepadanya. Tatapannya turun ke pergelangan tangan Mentari yang mulai memerah akibat cengkeraman tadi. Mentari mengikuti arah pandangannya, kemudian buru-buru menyembunyikan tangan itu di belakang tubuh. “Tuan Anda baru saja—” “Bisa digerakkan?” “Ah ini, tangan saya baik-baik saja,” ucap Mentari. Laki-laki itu mengulurkan tangan seolah ingin memeriksanya, tetapi Mentari spontan mundur. Gerakan itu membuat tangan pria tersebut berhenti sebelum menyentuhnya. “Maaf,” ucap Mentari pelan. “Saya cuma kaget.” Pria itu menarik kembali tangannya. “Periksa ke dokter kalau sakit.” Mentari mengangguk kecil. “Terima kasih. Kalau Anda tidak datang tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.”Sementara itu, suasana di gedung pencakar langit pusat kota Jakarta berbanding terbalik dengan ketenangan di rumah utama. Kesibukan pagi telah memenuhi lobi eksekutif perusahaan milik Kenzo. Mobil sedan hitam Kenzo berhenti tepat di depan pintu masuk VIP. Reno, asisten pribadi Kenzo yang berpakaian serba rapi dengan map tebal di tangannya, sudah berdiri menunggu di samping pintu mobil. Begitu Kenzo melangkah keluar, Reno langsung menyelaraskan langkah kakinya di samping bosnya. "Selamat pagi, Tuan Kenzo. Laporan keuangan semester ini sudah siap di meja Anda, dan jadwal rapat dengan investor Singapura dimajukan ke jam sepuluh," lapor Reno sigap. "Bagus. Bagaimana dengan urusan pembatalan kontrak investasi dengan pihak Siska?" tanya Kenzo datar sambil terus melangkah membelah lobi. "Surat pemutusan kerja sama resmi sudah dikirimkan ke sekretariat mereka tadi malam, Tuan. Namun..." Reno menggantung kalimatnya sejenak. "Namun apa?" "Bu Siska sudah berada di lantai eksekutif se
Pagi hari di rumah utama milik keluarga Kenzo menyambut dengan udara sejuk yang bertiup pelan di antara rindangnya pepohonan taman. Matahari baru saja merayap naik, memancarkan sinar keemasan yang menembus kaca-kaca jendela besar. Di dalam kamar bagian belakang, Mentari berdiri di depan cermin kayu yang tergantung di dinding. Gadis itu merapikan kemeja katun putih longgar barunya. Kain katun tebal itu jatuh dengan sopan di tubuhnya, menutup lekuk dada dan pinggulnya dengan sangat sempurna tanpa ada bagian yang menempel ketat. "Lihatlah harga memang tidak pernah menipu. Kukira harga mahal ini tidak sebanding, ya, walaupun masih sangat kemahalan. Tapi kalau aku punya uang, aku juga... tidak tidak!" Mentari mendengkus. "Aku tetap tidak akan beli kalau harganya satu tahun gaji!" Mentari mengancingkan kemejanya hingga ke kancing kedua dari atas, lalu mematut diri sekilas. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Ada perasaan lega yang sangat besar di dalam hatinya. Untuk pertama kal
Mentari mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, lalu bersandar pada pintu kayu dengan napas yang masih naik turun dengan cepat. Ia meletakkan tangannya di atas dadanya yang tadi sempat tersentuh dan teremas oleh Kenzo. Getaran aneh dan rasa panas bekas sentuhan telapak tangan pria itu masih terasa amat membakar di kulitnya. Mentari memejamkan mata rapat-rapat, meluncur turun hingga terduduk di lantai kamar yang dingin. "Ya Tuhan... dosa apa yang baru saja aku lakukan...?" bisik Mentari pada kesunyian kamarnya, air mata malu menetes tipis di pipinya. "Kenapa aku bisa seceroboh itu sampai dipandang dan disentuh seperti tadi...?" Ingatan tentang tubuh tegap Kenzo tanpa busana atas dan sentuhan kasar namun hangat di dadanya berputar berulang kali di dalam kepala Mentari, memicu rasa bersalah yang amat mendalam. Mentari merasa penampilannya yang basah tadi telah memancing hal yang tidak seharusnya dari pria sesemurni dan sedingin Kenzo. ** Malam harinya, suasana rumah utama terasa j
Matahari sore yang menembus jendela kaca memantul di atas kulit bersih milik Kenzo, mempertegas ketampanan yang begitu intimidatif dan memesona secara bersamaan. Mentari membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Belum pernah seumur hidupnya ia melihat tubuh pria dewasa seterbuka dan setegap itu secara langsung dari jarak dekat. Ketampanan Kenzo yang begitu tajam dan aura ketangguhannya mendadak menyengat dada Mentari dengan sebuah rasa asing yang membakar puncaknya. Genggaman tangan Mentari pada nampan kayu mendadak lemas dan gemetar hebat. CRASH! Karena kepanikan dan rasa gugup luar biasa yang menyerangnya secara mendadak, gelas tinggi di atas nampan itu miring dan terguling. Jus alpukat kental yang dingin bersama pecahan es batu seketika tumpah membasahi bagian depan kemeja putih baru milik Mentari, merembes cepat menembus kain katunnya hingga terasa basah dan dingin melekat di kulit dadanya. "A-astaga!" memekik Mentari panik,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore