Share

Bab 4 - Noda Merah

last update Last Updated: 2023-11-30 15:36:37

“Hei … Bangun!”

Davina mengeliat, merintih pelan sebelum membuka mata dan mengedarkan pandangannya. Matanya melebar begitu disambut wajah datar yang tengah menatapnya lewat sorot jengah. “Lucas,” ucapnya ragu. Davina segera bangun, duduk dengan wajah bingung. Butuh beberapa detik lagi untuk memastikan apa yang ditangkap oleh matanya bukan’lah sekedar ilusi.

“Kau tidur seperti orang mati,” ejek Lucas. Pria itu melengos acuh lalu kembali menikmati dosis kafein rutinnya sembari memantau pengerakan saham awal di pagi ini.

Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, Davina takut-takut menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. ‘Semalam … ‘kan?’ Pikirannya melayang pada atas apa yang terjadi tadi malam. Davina mengangkat pandangannya, menatap pria yang duduk di sofa, berniat bertanya. “Hmm, Lucas?” Dia ragu sejenak kala menyebut nama suaminya. “Semalam … Apa kita?”

“Apa?” Pria yang disebut namanya melepas perhatiannnya dari layar ponsel dan beralih menatap wanita dengan pipi merona yang malu-malu menatapnya.

Terlalu sulit bagi Davina untuk menjabarkan apa yang bersarang dibenaknya. Ini sangat memalukan, ketika kau bangun dan harus menanyakan aktivitas seksual setelah malam pertama. “Maksudku, apakah semalam kita …”

Sudut bibir Lucas naik hingga membentuk senyum yang seolah sedang menertawakan pertanyaan konyol. Dia bangkit, berdiri di depan ranjang seraya menatap tajam wanita yang sedari tadi menarik tinggi selimut hingga menutupi tubuhnya. Punggungnya menekuk sembilan puluh derajat, menurunkan wajahnya hingga kedua pandangan bertemu dan hanya berjarak sepanjang helaan napas. Wajah itu semakin merona, merespon dengan mundur hendak mengambil jarak. Namun Lucas bertindak lebih dulu, menahan lengan yang hendak melarikan diri.

“Entah apa yang kau pikirkan tapi aku akan memperjelasnya dengan singkat.” Lucas bisa melihat bola matanya bergetar gugup. “Standar ku cukup tinggi … dan kau tidak tidak termasuk didalamnya,” ucapnya mendesis.

“A-apa?”

Lucas menegakkan tubuhnya sembari mengantongi kedua tangan ke dalam saku celananya. Matanya menatap tajam wajah dengan pipi yang bersemu kemerahan. Wanita itu tampak takut untuk membalas tatapannya.

"Jadi, apakah aku tertidur lebih dulu?" Davina bergerak canggung, terlalu malu untuk memastikan apa yang terjadi tadi malam.

"Kau tidak ingat?" Lucas mengernyitkan keningnya.

Davina menggigit bibirnya. ‘Untuk apa aku bertanya bila semuanya terekam di otakku,' pekiknya dalam hati tanpa berani menyuarakannya.

"Apa yang bisa terjadi?" Lucas mengayunkan dagunya pada botol obat yang diletakkan di atas nakas. “Segera sarapan dan minum obatmu.”

Davina mengerutkan kening. ‘Tidak ada yang terjadi?’ Dia pun mengikuti arah pandang Lucas dan melirik nama yang tercetak di label botol. 'Pereda nyeri?' 'Apa yang terjadi? Jangan-jangan?' Tangannya mengangkat selimut dan mendapati cetak merah di sprei. 'Aku datang bulan?!' Kedua matanya membola. ‘Jadi, itu … itu hanya mimpi!’

Davina ingin sekali menggali lubang hingga dasar tanah dan mengubur dirinya sekarang! Bukan hanya mengalami menstruasi di malam pertama mereka, dia malah memimpikannya!? ‘Astaga Davina! Apa kau sehaus itu!?‘

Takut-takut Davina kembali mengangkat pandangannya. Perasaan tidak enak berkecamuk dalam benak Davina. Namun, dia tahu ada satu hal yang harus diucapkan sekarang. "Te-terima kasih," ucapnya dengan nada terbata.

Lucas menatap lekat wajah yang tengah melihatnya dengan sorot canggung. “Untuk apa?”

“O-obatnya.” Davina menunjuk obat yang berada di meja.

Mendengar hal itu, Lucas terdiam selagi memandang Davina dengan saksama untuk sesaat. "Kau tidak terlihat seperti yang dibicarakan orang-orang," ujarnya.

"Eh?" Davina tersentak kaget. Kening gadis itu berkerut. Dia menggigit bibirnya sedikit. ‘Apa dia tahu? Tidak, tidak mungkin. Kata Ayah, mereka tidak pernah bertemu. Lagi pula keduanya tinggal di kota yang berbeda,' pikirnya cepat.

"Apa maksudmu?" cercanya. Davina bisa mendengar suaranya bergetar, sulit untuk menutupi raut gugup di wajahnya. "Aku tidak mengerti."

Hening untuk beberapa saat. Davina hanya menatap Lucas lurus dan begitu pula sebaliknya. Setelah beberapa waktu hanya saling bersitatap, Lucas melayangkan senyum misterius di bibirnya kemudian kemudian berkata, “Segera berkemas, kita harus ke rumah sakit."

Davina mendesah lega karena Lucas tampak tak lagi tertarik untuk membahas lebih jauh, hatinya mengucap ribuan syukur. Namun kalimat lanjutan Lucas membuatnya mengerjapkan mata, bingung. "Untuk apa?"

Pandangannya beralih pada botol obat yang belum sempat disentuhnya. "Aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit, cukup minum obat dan berbaring sebentar," ujar Davina berbesar hati. Dia tak menyangka bila dibalik sikap dinginnya ternyata Lucas merupakan sosok pribadi yang perhatian.

Lucas menatap wanita itu jengah. "Jangan menghargai dirimu setinggi itu," sergahnya sinis. "Apa kau pikir dirimu begitu penting, sampai harus kubawa ke rumah sakit?"

Davina terhenyak. Jujur! hatinya berdenyut sakit, agak tersinggung, tapi dia telan harga diri itu dan bertanya, "Jadi? Untuk apa kita ke rumah sakit?"

"Untuk menemui seseorang yang merencanakan pernikahan konyol ini,” urai Lucas. “Kakekku.”

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 47 - Jujur

    Langit sore tampak sendu, memantulkan warna abu yang samar pada kaca jendela besar di café milik Baron. Suasana di dalam cukup lengang, hanya beberapa pelanggan yang tengah sibuk dengan laptop dan secangkir kopi mereka. Di sudut dekat rak buku, Davina duduk gelisah. Jemarinya saling menggenggam erat, berkali-kali ia mencuri pandang ke arah pintu, menunggu sosok yang tadi pagi mengirimkan pesan singkat. ‘Kita perlu bicara. Temui aku di tempat Baron. Jangan menunda lagi, Eleana.’ Saat pintu terbuka dan lonceng kecil di atasnya berdenting, jantung Davina berdetak lebih cepat. Megan masuk dengan langkah mantap, tanpa senyum, tanpa basa-basi. Ia berjalan lurus ke arah meja tempat Davina duduk, lalu menarik kursi dan duduk dengan anggun tapi penuh tekanan. Saat tatapan mereka bertemu, Megan tak membuang waktu. “Aku ingin penjelasan. Kali ini, tanpa kebohongan,” ucapnya tajam. Davina menelan ludah. Suara Megan terdengar datar, tapi menyimpan bara. Ia tahu, hari ini tak bisa lagi bersembu

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 46 - Ancaman

    Lucas bersandar santai di kursinya, tak menunjukkan sedikit pun rasa terganggu. Ia menyuap sesendok terakhir sarapannya, lalu mengusap bibir dengan serbet linen. Matanya menatap Maria dan Eleana satu per satu, sebelum akhirnya berhenti pada Davina yang kini terlihat tegang. “Kalian datang membawa kabar menyedihkan, rupanya.” Suaranya tenang. “Davina kehilangan ibunya. Rumahnya pun hilang. Sungguh... kisah yang menyayat hati.” Maria tersenyum kecil, mencoba membaca sikap Lucas yang terlihat terlalu santai untuk situasi seperti ini. “Jadi,” lanjut Lucas pelan, “kalian ingin... Davina tinggal di rumah ini?” “Kalau diizinkan,” jawab Maria cepat. “Itu akan sangat membantu Davina melewati masa-masa sulitnya dan Eleana akan berkumpul lagi dengan sepupu terdekatnya.” Lucas diam sejenak, mengaduk cangkir kopinya dengan pelan. Denting logam melawan keramik mengisi ruang hening itu, menciptakan ketegangan yang tak kasat mata. Lalu ia tersenyum. “Sayangnya, aku tidak terbiasa menerima

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 45 - Strategi Licik

    Minggu pagi di rumah besar milik Lucas berlangsung tenang dan hangat.Cahaya matahari merambat masuk melalui tirai tipis, membentuk garis-garis cahaya lembut yang menari di atas meja makan. Aroma kopi dan nasi goreng hangat memenuhi udara, menyatu dengan keheningan damai yang mengisi ruangan.Davina duduk tenang di kursinya, menikmati sarapan spesial yang sengaja dipersiapkannya. Di depannya, Lucas menatap dengan sorot mata hangat, seperti sedang menghafal tiap lekuk wajah istrinya.Percakapan mereka ringan, mengalir seperti aliran sungai yang jernih. Tak ada ketegangan seperti hari-hari sebelumnya. Seolah pertengkaran dan keraguan itu tak pernah ada.“Ini enak.” Lucas menunjuk isi piringnya.“Aku tidak tahu kamu bisa masak.”Davina tersenyum, malu-malu. “Ah… aku cuma bisa membuat menu simpel. Kamu suka?”Lucas mengangguk, kembali menyendok sarapannya tanpa banyak kata. Tak perlu banyak bicara—suasana nyaman itu sudah cukup bicara banyak.Namun, ketenangan itu terputus tiba-tiba oleh

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 44 - Iri Hati

    “Ma.”Eleana menghampiri sang ibu yang tengah santai di taman belakang, sibuk membolak-balik halaman majalah.Wanita paruh baya itu menurunkan majalah di tangannya, lalu melirik sang putri. “Ada apa, Sayang?”Eleana duduk dengan malas di kursi yang kosong. “Aku ingin bicara tentang Davina.”Wajah sang ibu langsung berubah. Keningnya berkerut. Ketidaksukaannya pada anak sambungnya itu terlalu besar untuk bisa disembunyikan.“Kenapa kamu harus membahas wanita pembawa sial itu?” dengusnya tak senang.“Aku tahu Mama muak mendengar namanya, aku juga. Tapi kali ini aku butuh bantuan Mama.”“Katakan’lah, Sayang. Berhenti bertele-tele karena kamu mulai membuat ku pusing.”“Aku ingin posisiku kembali,” ucap Eleana tegas.Alis sang ibu bertaut bingung. “Apa maksudmu?”“Aku ingin Davina keluar dari rumah Dawson dan mengembalikan posisi itu padaku.”Raut wajah sang ibu menegang. “Apa kamu menyukai Lucas?” tebaknya. “Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak ingin menikah dengan pria mengerikan itu?”

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 43 - Sisi Lain

    Davina memekik kaget saat tubuhnya terangkat ke udara dan mendarat dalam dekapan Lucas. “Kalau begitu, lebih baik kita menunggu waktu makan malam di kamar saja,” kata Lucas ceria, seolah tak ada kemarahan di wajahnya beberapa menit lalu. “Eh! Lucas, turunkan aku!” Davina berusaha menggeliat, tetapi pria itu justru mempererat pelukannya, mengangkatnya seperti seorang pengantin baru. “Tenang saja. Kamu butuh istirahat setelah semua drama hari ini.” Davina mendengus pelan, namun tak lagi melawan. Kepalanya bersandar di bahu Lucas, mencoba menyembunyikan rona merah yang belum juga surut dari wajahnya. Langkah kaki Lucas mantap menaiki anak tangga menuju lantai dua. Aroma maskulin dari tubuhnya begitu dekat, membuat napas Davina nyaris tercekat. Ia tak bisa menyangkal bahwa hatinya berdetak lebih cepat setiap kali pria itu menunjukkan sisi lembutnya, meski dalam waktu yang tak terduga. Pintu kamar terbuka tanpa suara. Lucas menurunkan tubuh Davina dengan lembut di atas ranjang king s

  • Dekapan Hangat Sang Pewaris   Bab 42 - Posesif Berlebih

    Tubuh Davina terdorong ke belakang hingga merapat ke tembok saat Lucas berbalik dan mengurungnya dengan kedua tangan yang terentang. Pria itu mengerang kasar seolah tengah melepaskan amarah yang tertahan. “Kenapa? Kamu masih ingin tinggal disana dan menarik perhatian Sebastian?” Lucas mendesis kasar. "Begitu inginnya kamu bersama pria itu?" “A-apa? Aku tidak—” Davina tergagap, ia kaget akan tuduhan dan kemarahan yang ditunjukkan Lucas hanya karena sepupunya datang untuk menyapa. “Aku tidak berniat untuk bertemu dengan Sebastian," elaknya tak terima. "Jangan pernah berpikir untuk melakukannya!" tegas Lucas. Davina bergidik ngeri kala wajah itu melempar sorot mata mengancam. "Mu-mulai sekarang, aku tak akan bicara bahkan bertemu Sebastian tanpa izin mu," janjinya demi menenangkan macan yang tengah mengamuk. Lucas melengos malas, tak percaya akan janji yang diucapkan oleh istrinya. "Lalu, kenapa kamu tampak kecewa karena meninggalkan pesta itu lebih cepat?" "I-itu ..." Davina kehabi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status