Se connecterSafna pulang ke Indonesia tanpa tahu satu hal-- rumah bukan lagi tempat yang aman. Kakak yang harusnya melindungi justru mengawasinya. Sentuhan yang ia tolak berubah menjadi obsesi yang tak bisa dihentikan. Penolakan Safna membuat Edgar kehilangan kendali. Cinta berubah menjadi posesif dan perlindungan berubah menjadi penjara. Sebuah kecelakaan berdarah membuka rahasia yang seharusnya terkubur. Sejak saat itu, Safna sadar menjauh dari Edgar bukan lagi pilihan. Karena dalam penjara yang ia sebut cinta, jatuh hati bisa menjadi satu-satunya cara bertahan.
Voir plus"Jangan!”
Gadis itu bergumam dengan mata terpejam. Ia merasa ada sosok pria berada di dekatnya. Sangat dekat hingga bisa merasakan napas berat pria itu di telinganya yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Akan tetapi, tubuh pria itu tidak asing baginya, bahkan aroma parfum yang menempel pada tubuh pria itu seolah sangat dikenali. “Shh.” Terdengar suara desisan keluar dari bibir ranum seorang gadis yang sedang terbaring gelisah di ranjang empuk queen size dengan seprai berwarna merah muda. Tangannya meremas bedcover yang ada di kedua sisi gadis itu. Gadis itu ingin menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat. Sentuhan itu terlalu nyata hingga membuat tubuhnya seolah terbakar. “Aah.” Safna merutuki dirinya karena menikmati sentuhan dari orang yang jelas-jelas tidak dikenalnya. “Ternyata cuma mimpi aja!” Tidak lama kemudian ia tersadar dan membuka mata. Gadis itu menyibak selimut, menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingin, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia masih menguap lebar saat berdiri di depan wastafel, membasuh wajah dengan air dingin untuk mengusir sisa kantuk. Saat itulah, ketika ia mengangkat wajah dan menatap cermin, napasnya tercekat di tenggorokan. "A-apa ini?" Matanya melebar, memindai pantulan dirinya sendiri dengan horor. Di sana, tercetak jelas di kulit lehernya yang putih. Bukan hanya satu, tapi tiga bercak kemerahan yang sangat spesifik. Tanda itu menjalar dari bawah telinga hingga ke tulang selangka, seolah membentuk jejak kepemilikan yang biadab. Jantung Safna berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan panik. Tangannya gemetar saat meraba tanda itu. Tidak sakit, hanya sedikit perih dan panas. "Nggak mungkin, semalam aku kunci pintu," bisiknya pada bayangannya sendiri. Suaranya bergetar. "Aku tidur sendirian. Aku yakin banget aku kunci pintu!" Siapa? Siapa yang bisa masuk ke kamarnya, melakukan hal ini padanya saat ia terlelap, dan pergi tanpa meninggalkan jejak selain tanda memalukan ini? Di rumah ini hanya ada dirinya dan... "Kak Edgar," gumam Safna. Tidak. Tidak mungkin Edgar. Edgar adalah kakaknya, meski kakaknya itu kadang bersikap dingin, otoriter, dan menyebalkan, tapi dia tetap kakaknya. Safna melirik jam dinding. Pukul 07.15. Dia sudah terlambat. Hari ini ada meeting penting di kantor, dan sialnya, Edgar yang akan memimpin langsung. Dengan tangan yang masih gemetar, Safna menyambar concealer dari meja riasnya. Dia memoleskan cairan kental itu berlapis-lapis di atas tanda merah itu, menepuk-nepuknya dengan kasar, berdoa agar warnanya tertutup sempurna. Setelah dirasa cukup samar, dia mengenakan kemeja kerja berwarna navy dengan kerah tinggi, lalu memadukannya dengan blazer untuk perlindungan ganda.Namun, Safna tidak pernah tahu bahwa Edgar adalah anak angkat yang diadopsi oleh orang tuanya dan selalu ingin melindunginya setiap saat.
*** Suasana di ruang rapat utama Vantera Group terasa lebih mencekam dari biasanya. Di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni, Edgar Reinhardt duduk dengan mengenakan setelan jas charcoal yang pas badan, rambutnya disisir rapi ke belakang. Biasanya, Edgar akan fokus pada layar proyektor atau berkas di hadapannya saat manajer pemasaran melakukan presentasi. Tapi hari ini, ada yang salah. Mata elang Edgar tidak tertuju pada grafik penjualan di layar, melainkan lurus ke arah Safna yang duduk di sisi kiri meja, tiga kursi darinya. Safna berusaha keras untuk tidak membalas tatapan itu. Dia pura-pura sibuk mencatat poin-poin presentasi di iPad-nya, meski jemarinya mengetuk layar tanpa pola yang jelas. Dia bisa merasakan tatapan Edgar seperti sinar laser yang menembus pakaiannya, membakar kulitnya. "Bagaimana menurutmu, Safna?" Suara bariton Edgar memecah keheningan, membuat Safna tersentak kaget hingga penanya tergelincir dari tangan. "Y-ya, Pak?" Semua mata di ruangan itu kini tertuju padanya. "Saya tanya pendapatmu tentang strategi pasar untuk kuartal ini. Kamu dari tadi menunduk terus. Ada yang menarik di meja?" Wajah Safna memanas. "Maaf, Pak. Menurut saya, strateginya sudah cukup komprehensif. Hanya perlu penekanan di segmen digital." "Hmm." Edgar hanya bergumam, matanya menyipit sedikit, seolah menelanjangi kebohongan Safna. "Cukup. Rapat selesai. Semuanya boleh kembali bekerja. Kecuali kamu, Safna." Jantung Safna serasa berhenti berdetak. Satu per satu karyawan membereskan barang mereka dan keluar ruangan, beberapa memberikan tatapan simpati pada Safna, mengira dia akan dimarahi habis-habisan karena tidak fokus. Safna memberanikan diri mendongak. "Ada apa, Kak? Eh, maksudku, Pak Edgar? Kalau soal tadi, aku minta maaf. Aku cuma kurang tidur." "Kurang tidur?" Kenapa? Ada nyamuk nakal yang mengganggumu semalam?" Jemari Edgar yang panjang dan kokoh menyentuh kerah kemeja Safna, tepat di bagian leher, di tempat dia menyembunyikan tanda itu. "Gerah sekali pakai baju tertutup begini, Safna. AC di sini kurang dingin?" Edgar bertanya sambil menggesekkan ibu jarinya pelan di atas kain kerah. Sentuhan itu. Aroma parfum woody dan mint yang menguar dari tubuh Edgar. Safna mengenalnya, aroma yang sama yang samar-samar tercium di bantalnya pagi ini. Ini sentuhan yang sama yang menghantuinya dalam mimpi buruk yang terasa nyata. "Jangan sentuh!" Safna menepis tangan Edgar kasar, lalu berdiri mendadak hingga kursinya berdecit nyaring. "Ini kantor, Pak. Tolong profesional." Edgar tidak marah tangannya ditepis. Dia justru menyeringai tipis. Seringai yang membuat Safna ingin menangis. "Profesional? Aku hanya merapikan kerahmu yang berantakan, Adikku sayang. Kenapa kamu sepanik ini? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan di balik kerah itu?" "Aku mau kembali kerja," pamit Safna, lalu buru-buru menyambar iPad-nya dan setengah berlari keluar dari ruang rapat. Sisa hari itu dihabiskan Safna dalam ketakutan paranoid. Dia menghindari Edgar sebisa mungkin. Saat jam pulang kantor tiba, dia adalah orang pertama yang kabur menuju lift. Orang tua mereka, Papa Albert dan Mama Sofia, sedang di luar kota untuk urusan bisnis selama seminggu. Dia menghela napas lega saat mobil taksi online-nya memasuki pekarangan rumah. Rumah mewah bergaya klasik itu terlihat sepi. Mobil sedan hitam milik Edgar belum terparkir di garasi. Bagus lah, artinya dia belum pulang. Safna langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Dia masuk, menutup pintu, dan memutar kuncinya dua kali. Klik. "Aman," desisnya. "Kunci ini baru diganti bulan lalu. Nggak mungkin rusak." Safna melempar tasnya ke sofa, lalu membersihkan wajahnya. Dia menggosok lehernya kuat-kuat dengan kapas pembersih, menghapus concealer yang menempel seharian. Tanda merah itu masih ada, warnanya kini berubah menjadi agak keunguan, makin terlihat jelas di kulitnya yang pucat. "Sialan," umpatnya lirih. "Siapa sih pelakunya, dia pasti sakit jiwa!" Safna mengganti pakaian kerjanya dengan piyama satin panjang yang sopan, lalu duduk di tepi ranjang, mencoba menghubungi Leo, kekasihnya. Leo adalah model yang sedang naik daun, jadwalnya padat, tapi biasanya dia selalu menyempatkan diri membalas pesan Safna. Tut... Tut... Panggilan tidak diangkat. Pesan WA yang dikirim sejak siang pun masih centang satu. "Kemana sih kamu, Leo? Aku butuh kamu," keluh Safna, melempar ponselnya ke kasur dengan frustrasi. Baru saja dia hendak membaringkan tubuh untuk istirahat, suara yang paling dia takuti terdengar. Cklek. Suara kunci diputar. Mata Safna membelalak, tertuju pada gagang pintu kamarnya. Dia melihatnya dengan jelas—gagang perak itu bergerak turun perlahan. Pintu terbuka. Di ambang pintu, Edgar berdiri. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kini lengan bajunya digulung sebatas siku, dasinya sudah longgar, dan jasnya tersampir di lengan. Di tangan kanannya, dia memegang serenceng kunci perak. "K-kak Ega..." Suara Safna tercekat. "K-kamu mau ngapain ke dalam kamar aku?"Pintu yang terbuka itu seperti memutus sesuatu yang hampir terjadi. Udara di ruang tamu mendadak berubah.Safna langsung menjauh setengah langkah, napasnya masih belum stabil. Sementara Edgar… tetap di tempatnya. Tatapannya masih tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras—gangguan yang datang di momen yang tidak tepat.Di ambang pintu, Malik berdiri tegak. Matanya masih tertuju pada keduanya, lalu perlahan bergeser—menilai situasi dengan cepat, seperti kebiasaannya.“Maaf,” ucap Malik akhirnya, datar. “Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat.”Nada suaranya sopan. Profesional. Seolah yang barusan ia lihat bukan sesuatu yang… personal.Safna menunduk sedikit, merasa canggung.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Malik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya.“Masuk,” ucapnya singkat.Malik menggeleng tipis. “Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin memastikan keadaan Nona Safna.”Kalimat itu terdengar formal. Terlalu formal untuk situasi seperti ini.Safna mengangkat wajahnya
“Astaga—Safna… Kak Edgar di depan.”Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong. Safna tidak langsung bergerak. Napasnya tertahan di tenggorokan, jantungnya yang semula hanya berdegup cepat kini seperti menghantam dinding dadanya sendiri, liar, tak terkendali. Tidak. Tidak sekarang.“Buka,” ucapnya akhirnya, pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja panik.Mila menatapnya ragu beberapa detik, seolah berharap Safna akan berubah pikiran. Tapi tidak. Pada akhirnya, ia tetap memutar gagang pintu. Dan di sanalah dia. Edgar berdiri tegak dengan setelan rapi yang selalu melekat pada dirinya, seolah dunia tidak pernah cukup berantakan untuk mengusik penampilannya. Wajahnya tenang, terlalu tenang—namun matanya… Llangsung menemukan Safna.Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan dalam yang terasa seperti menarik Safna masuk ke sesuatu yang belum selesai.“Masuk dulu,” sela Mila cepat, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menambal ketegangan yang tiba-tiba
Sudah satu minggu setelah berita skandal Edgar muncul. Kini kabar perselingkuhan dan kandasnya hubungan Maya dan Edgar sudah mulai hilang, tenggelam dengan berita lain. Bahkan, opini publik pun sudah mereda tidak sepanas beberapa waktu lalu.“Semua sudah selesai, Nak?” tanya Albert saat mereka sedang di halaman belakang rumah sambil minum teh di pagi hari.“Sudah. Semua sesuai rencana, Pah.”Albert mengangguk. Ia melipat koran di tangan lalu mengambil tablet di meja.“Bagus. Papa selalu percaya sama kamu. Coba lihat, perusahaan orang tua Maya mulai mencari klien baru yang mau investasi. Dia juga meminta papa supaya tidak membatalkan kerjasama. Menurutmu bagaimana?” ujar Albert sambil memperlihatkan tabletnya pada Edgar. Edgar mengambil gawai tersebut dan membaca email di dalamnya. Wajahnya masih datar seolah isi di dalamnya tak berarti apa-apa. Setelah selesai membaca, Edgar memgembalikan benda tersebut kepada papanya.Edgar terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka suarany
Safna menghela napas panjang begitu pintu kamarnya tertutup. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk atau macetnya jalanan, tapi juga karena sesuatu yang sejak tadi ia tahan—rindu yang tak bisa ia akui.Ia sengaja menyibukkan diri seharian. Menumpuk pekerjaan, menahan diri untuk tidak membuka chat, tidak mengetik satu pesan pun untuk Edgar. Menjaga jarak seperti yang pria itu minta. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin terasa kosong.“Sampai kapan ini akan berakhir,” gumam Safna pelanIa merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa tenaga. Tatapannya kosong ke langit-langit, seolah berharap jawabannya ada di sana.Baru saja matanya hendak terpejam tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.Safna mengernyit pelan. “Ya?”Pintu terbuka sedikit, dan kepala seorang perempuan paruh baya menyembul dengan senyum hangat.“Boleh mama masuk, sayang?” ujar Sofia lembut.Sofia melangkah masuk setelah Safna mengangguk pelan. Pintu ditutup perlahan di belakangnya, seolah ia tida
“Safna, kamu nggak papa, kan? Aku panik banget tahu, nggak?” ujar Fitri saat Edgar telah keluar dari ruangan itu.“Aku nggak papa, Kak. Cuma luka kecil aja.” Safna tersenyum tipis supaya Fitri tidak panik lagi. Sejak masuk ke ruangan itu, Fitri terlihat sangat khawatir. Bahkan, rambut yang tadinya
Keributan di basement mulai menarik perhatian beberapa karyawan yang belum pulang. Dua orang security yang berjaga di dekat pintu masuk parkir langsung berlari mendekat.“Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka.Fitri hampir menangis saat menjawab. “Dia—dia terserempet mobil!”Security itu langs
“Ekhem!”Safna dan beberapa rekan kerjanya menoleh hampir bersamaan saat mendengar deheman dari belakang. Obrolan mereka yang tadinya riuh langsung terhenti seperti kaset yang dipause.Mata mereka mengerjap hampir bersamaan ketika melihat siapa yang berdiri di sana. Edgar–pria itu berdiri tegak di
“Kamu nggak mau tahu keadaan ku?” tanya Edgar membuat Safna yang sejak tadi duduk di sofa menoleh. Safna memang belum berbicara dengan Edgar semenjak pria itu sadar. Ia lebih memilih mendengarkan percakapan Albert dengan Edgar. “Aku sudah tahu.” Jawaban Safna nyaris hanya seperti gumaman saja, te
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.