LOGINSafna pulang ke Indonesia tanpa tahu satu hal-- rumah bukan lagi tempat yang aman. Kakak yang harusnya melindungi justru mengawasinya. Sentuhan yang ia tolak berubah menjadi obsesi yang tak bisa dihentikan. Penolakan Safna membuat Edgar kehilangan kendali. Cinta berubah menjadi posesif dan perlindungan berubah menjadi penjara. Sebuah kecelakaan berdarah membuka rahasia yang seharusnya terkubur. Sejak saat itu, Safna sadar menjauh dari Edgar bukan lagi pilihan. Karena dalam penjara yang ia sebut cinta, jatuh hati bisa menjadi satu-satunya cara bertahan.
View More“Kak, kalau kamu terus begini yang ada aku jadi takut bukan jatuh cinta. Kalau kamu benar-benar peduli harusnya berhenti memaksaku. Lagi pula, perasaanmu bukan tanggung jawabku,” ujar Safna lirih saat melihat mata tajam dan dingin milik Edgar. Edgar menggertakan giginya. Sekali lagi ia harus mendapatkan penolakan dari Safna. Namun, bukan itu yang menyentil hatinya. Adiknya yang dulu selalu berlindung dibalik badannya, tapi kini justru kini ia yang membuat gadis itu merasa tidak aman dan ketakutan. Dua kali ia melihat wajah tertekan Safna, malam itu dan sekarang. Edgar menarik kedua lengannya–menjauh dari Safna. Ia mengambil kunci mobil yang ada di ranjang lalu keluar kamar Safna sambil membanting pintu hingga membuat sang adik terlonjak. Edgar menuruni anak tangga menggunakan kaki panjangnya mengabaikan panggilan dari sang papa. Begitu tiba di halaman, ia langsung masuk mobil dan mengemudikannya. Edgar bahkan tidak tahu kemana tujuannya saat ini. Ia hanya ingin melampiaskan amar
Safna menatap sebal pada pria yang ada di seberang sana, lebih tepatnya berjarak satu meja darinya. Malam ini ia hanya ingin beristirahat di rumah saja. Namun, Edgar memintanya untuk datang ke pesta perusahaan Vantera Grup yang dipenuhi klien-klien besar. Lampu-lampu kristal membuat ballroom terlihat megah, tetapi tidak dengan suasana hatinya. Safna menarik napas lalu dikeluarkan secara perlahan. Ia tidak pernah suka dengan pesta semacam itu karena menurutnya membosankan. Safna mengedarkan pandangannya dan menemukan keberadaan Albert– papanya sedang menyapa klien. Selain tidak suka dengan pesta seperti itu, Safna juga takut jika identitasnya terbongkar karena banyak media. Saat sedang mengamati sekelilingnya, netra hazel gadis itu menangkap siluet perempuan yang entah kenapa membuat hatinya berdenyut. “Tentu saja Maya ada di sini. Dia, kan, tunangan Kak Ega,” gumam Safna dengan sedikit ketus. Bukan karena cemburu, tetapi saat melihat paras cantiknya mengingatkan Safna pada sebuah
Jantung Safna, yang tadinya sudah berdegup kencang karena pelariannya dari rumah, kini seolah berhenti berdetak selama sedetik. Ahh, mungkin itu sepatu milik adik perempuan Leo yang datang berkunjung? Atau mungkin sepatu pemotretan yang terbawa pulang? Namun, begitu pintu kamar itu sedikit terbuka, terdengar suara-suara yang membuat darah Safna mendidih sekaligus membeku di saat yang bersamaan. “Ahh, Leo, iya di situ. Pacarmu Safna ga bisa ngasih goyangan kayak gini, kan?” “Diam, Maya! Jangan pernah bahas Safna waktu kita sedang bercinta. Nama itu membuatku mual, aku tidak mau mendengarnya saat aku sedang menikmati semua tubuhmu!” “Bagus, itu baru Leo yang aku kenal.” “Sayang, sekarang gantian, biar aku yang di atas. Aku udah tidak tahan lagi, sebentar lagi aku udah keluar ini. Desah yang keras ya, buat aku benar-benar terbang ke langit!” Sekujur tubuh Safna gemetar hebat saat dia mendengar percakapan itu. Dia tidak ingin melihat siapa yang ada di dalam kamar. Namun, rasa ingi
Edgar tidak menggubris teriakan Safna. Dia melangkah masuk dengan tenang, lalu menutup pintu di belakangnya. Klik. Dia menguncinya dari dalam, lalu memasukkan kunci itu ke saku celananya. Safna mundur, merangkak naik ke atas kasur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang king size itu. "Kak, pliss, jangan gila ya! Ini kamar aku, atau aku aduin ke keamanan. Cepat keluar, Kaaaakkk!?" Edgar berjalan mendekat dan berhenti tepat di tepi ranjang, menatap Safna yang meringkuk ketakutan. "Kenapa dikunci, hm? Apa kamu takut ada nyamuk yang masuk lagi?" "Kak Ega, please..." Air mata Safna mulai menggenang. "Jangan kayak gini. Kita saudara, Kak." Edgar tertawa kecil, lalu meletakkan satu lututnya di atas kasur. "Saudara? Kalau kita saudara, kenapa tubuhmu bereaksi begitu jujur pada sentuhanku semalam, Safna?" Darah Safna berdesir hebat. Pengakuan itu. "Jadi kemarin malam, itu benar kamu, Kak?" Safna menatap Edgar dengan pandangan jijik dan tidak percaya. "Kamu yang lakuin ini? Aku ng












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.