LOGINDavid melirik Savan lewat ekor matanya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanyanya.Savana mengangguk kecil. Tak berminat sebab pikirannya sedang berada di tempat lain.“Savana fokus!” tegur David. “Kakek Hans bukan orang sembaranga. Kita berdua tahu betapa liciknya dia.” Ujarnya.Savana melirik malas. “Lalu kenapa kakak masih percaya pada ucapannya?” tanyanya merujuk pada keyakinan Hans tentang siapa pembunuh kakek mereka.Sejujurnya Savana mulai goyah. Dia menolak kenyataan tentang surat terakhir di atas meja kakeknya beberapa tahun yang lalu.“Itu hal yang berbeda!”“Apanya? Bisa saja kakek Hans memanipulasi semuanya, Kak.”David menatap sang adik dengan tajam. “Kau benar-benar telah terpengaruh oleh keturunan Smith itu.” kesalnya.Mata Savana memicing sebal. “Tunggu hasil penyelidikkanku, Kak. Aku yakin ada yang keliru,” ucapnya.Seringai tipis muncul di antara sudut bibir David. Ada yang tidak Savana ketahui tentang pertemuan ini. Mereka tak hanya datang berkunjung, t
Hans Thompson sebenarnya terlalu tua untuk menjadi selingkuhan seorang Clara yang usianya belum menginjak Empat Puluh tahun. Jika ingin berselingkuh dari Benjamin Smith, kenapa dia tak mencari daun muda? Namun, begitulah keadaannya. Pria rahasia yang selama ini berada di belakang Clara adalah adik dari Kakek David dan Savana, mendiang Jordan Thompson.Hans merasa iri pada apa yang Jordan miliki, sehingga sanggup menghalalkan segala cara untuk menguasai hartanya. Termasuk mengadu domba antara Jordan dan Benjamin Smith. Dua sahabat karib itu berakhir menyedihkan. Mereka salah paham hingga tragedi besar tak terelakan.Jordan tewas. Hans adalah pelakunya, namun dengan penuh drama pria yang menangisi jasad Jordan itu menuduh Benjamin Smith adalah dalangnya.Hanya dengan selembar surat yang David Thompson temukan di atas meja mendiang Jordan, Hans berhasil melayangkan fitnah besar kepada keluarga Smith. David membenci Smith dengan sepenuh hati. Bukan tanpa alasan, karena David tahu kakeknya
Savana menggigit bibirnya setelah melihat postingan terbaru dari Mia. Hatinya berkedut nyeri karena mengenali punggung pria yang sedang bersama wanita itu.“Leon?”Mulutnya membeo, menyebut nama pria yang sejak beberapa waktu ini menjadi pemilik hatinya. “Kenapa Leon bersama Mia?” tanyanya pada diri sendiri.Kecurigaan mulai memenuhi hatinya. Mungkinkah Leon tak menginginkannya lagi? Atau Leon hanya sedang menguji perasaannya?“Nana, ada apa?” Dyana yang baru saja membelikannya makan siang bertany setelah melihat wajah Savana yang tiba-tiba berubah pucat. “Apa kau benar-benar lapar hingga wajahmu memucat seperti itu?” tanyanya memastikan.Namun, Savana benar-benar membungkam mulutnya. Matanya yang tertuju pada layar ponsel membuat Dyana penasaran. Dyana ikut memperhatikan.Hanya saja, reaksinya berbeda dengan Savana. “Mia?” Dahinya berkerut dalam sebab tak mengenali punggung pria yang ada di postingan Mia.“Siapa dia?”Melihat reaksi Savana yang tampak berlebihan membuat Dyana semakin
Sementara itu, Mia tak pernah benar-benar menyerah dalam mendapatkan Leon. Mia selalu memiliki strategi untuk mendekati pria itu. Seperti sekarang, ketika mendengar hubungan Savana dan Leon kembali retak dari driver yang diam-diam menjadi kata-kata yang dikirim bibinya, Mia bersiap dengan rencana liciknya. Wanita itu dengan percaya diri datang menemui Leon. Mencoba untuk kembali merayu di tengah gundah yang sedang Leon rasakan. “Apa aku bilang? Savana bukan wanita yang setia.” Mia datang dengan dress yang seksi. Gaunnya memang menggantung indah, tetapi tali yang menahan potongan sifon berwarna biru tersebut tak lebih besar dari spagetti. Benar-benar kecil. Sengaja dia memakainya untuk menggoda Leon. Kerah yang menyerupai huruf ‘V' membuat belahan dadanya terlihat. Namun, tak sedikitpun Leon tertarik untuk melirik. Pria itu mendengus kasar melihat Mia datang dengan tekat yang kuat untuk memisahkannya dari Savana. “Kau sebaiknya bercerai saja. Pilih aku seperti yang pernah kita re
Leon menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Tangannya menggenggam remote, tetapi sejak lima menit lalu dia tak benar-benar memperhatikan apa pun yang sedang diputar.Aneh.Rumah itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Ia bangkit dari sofa, berjalan ke dapur hanya untuk mengambil segelas air. Baru menyesap seteguk, dia kembali meletakkan gelas itu. Tidak haus.Leon menghela napas pelan. Kakinya melangkah menuju balkon lantai dua. Dari sana, halaman mansion terlihat begitu luas.Entah mengapa, pandangannya beberapa kali mengarah ke gerbang utama, seolah berharap sebuah mobil akan masuk.Kesadarannya membuat Leon mengerutkan kening."Apa yang sebenarnya kutunggu?" gumamnya lirih.Pria itu menggeleng, lalu berbalik masuk. Mungkin hanya karena rumah itu terlalu sepi. Leon meninggalkan dapur dengan langkah tenang. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.Layar menyala.Tak ada pemberitahuan apa pun.
Leon berdiri membelakangi rumah, menatap sedan hitam milik David yang terparkir di halaman. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya begitu tajam hingga membuat udara di sekitar terasa menyesakkan.Beberapa langkah di belakangnya, David berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajahnya tenang, sama sekali tidak mencerminkan gejolak yang sedang berusaha ia redam."Ada yang ingin Anda sampaikan, Pak?" tanyanya sopan.Leon menyunggingkan senyum tipis tanpa menoleh."Kau harus lebih berhati-hati, David."David mengernyit tipis."Dalam hal apa, Pak?""Aku tidak ingin media... atau siapa pun..." Leon berhenti sejenak sebelum akhirnya menoleh. Tatapannya menusuk lurus ke mata David. "...mengira kau menyukai istriku."Ucapan itu membuat rahang David mengeras.Namun hanya sesaat.Ia segera memasang kembali ekspresi profesionalnya."Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud Anda."Leon melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah."Kau pria cerdas. Jangan memaksaku m







