LOGIN***“Kak, terima kasih,” ucap Savana kepada David setelah keduanya berada di dalam mobil yang David kendarai.David menoleh singkat. “Karena membelamu dari si brengsek itu?” tanyanya.“Iya.”Tck!David berdecak. “Seharusnya kau bisa lebih tegas kepadanya. Tendang tulang keringnya jika perlu!” ujarnya.“Kakak serius?” tanya Savana tidak percaya.“Kenapa tidak?”Kemudian mereka terkekeh bersama. Rasanya sudah cukup lama keduanya tak merasakan perasaan semacam ini. David lebih sering bersikap dingin, sedangkan Savana lebih suka menghindarinya.“Aku senang kita bisa tertawa bersama,” ucap Savana jujur dari hatinya.David tak tahu harus menanggapi ucapan Savana dengan cara seperti apa. Pada akhirnya dia memilih diam. Keadaan menjadi canggung dalam sekejab.Savana melirik sekilas, namun bibirnya kelu untuk melanjutkan obrolan.“Kak, aku mengantuk. Tolong bangunkan aku setelah kita tiba di tempat tujuan.” Dan, Savana pun memilih untuk memejakan matanya.David menghela napas dengan berat begi
***Bukan ini yang David inginkan meski tujuannya memang menahan Savana agar tetap berada di rumah lama. Memaksa sang adik menikahi pria seperti Kael, tentu bukan keinginannya. Dia hanya ingin Savana jauh dari Leon agar tidak terjerumus terlalu dalam.“Maaf, Kakek Hans, aku tidak setuju adikku menikahi cucumu.”Savana menoleh pada kakaknya. Tak menyangka David akan membelanya.“Apa maksudmu, David?” Kael terdengar tidak suka dengan penolakan David.David tersenyum sinis. Memandang Kael dengan tatapan hina. “Kau yakin sanggup menikahi adikku, Kael? Jujur, kau tak pantas.” Katanya.Terang saja kata-kata itu membuat David murka. “Memangnya apa kurangku hingga kau menghinaku seperti itu, David?” tanyanya kesal.“Serius kau tak menyadari kekuranganmu?”“Sialan! Aku terlalu sabar padamu.” Kael hampir saja melayangkan gelas di depannya andai Hans tak kembali menegurnya.“Tak bisakah kau tenang, Kael?”“Tapi Kek …”“Itulah kenapa David menganggapmu tak pantas untuk adiknya.” Potong Hans denga
David melirik Savan lewat ekor matanya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanyanya.Savana mengangguk kecil. Tak berminat sebab pikirannya sedang berada di tempat lain.“Savana fokus!” tegur David. “Kakek Hans bukan orang sembaranga. Kita berdua tahu betapa liciknya dia.” Ujarnya.Savana melirik malas. “Lalu kenapa kakak masih percaya pada ucapannya?” tanyanya merujuk pada keyakinan Hans tentang siapa pembunuh kakek mereka.Sejujurnya Savana mulai goyah. Dia menolak kenyataan tentang surat terakhir di atas meja kakeknya beberapa tahun yang lalu.“Itu hal yang berbeda!”“Apanya? Bisa saja kakek Hans memanipulasi semuanya, Kak.”David menatap sang adik dengan tajam. “Kau benar-benar telah terpengaruh oleh keturunan Smith itu.” kesalnya.Mata Savana memicing sebal. “Tunggu hasil penyelidikkanku, Kak. Aku yakin ada yang keliru,” ucapnya.Seringai tipis muncul di antara sudut bibir David. Ada yang tidak Savana ketahui tentang pertemuan ini. Mereka tak hanya datang berkunjung, t
Hans Thompson sebenarnya terlalu tua untuk menjadi selingkuhan seorang Clara yang usianya belum menginjak Empat Puluh tahun. Jika ingin berselingkuh dari Benjamin Smith, kenapa dia tak mencari daun muda? Namun, begitulah keadaannya. Pria rahasia yang selama ini berada di belakang Clara adalah adik dari Kakek David dan Savana, mendiang Jordan Thompson.Hans merasa iri pada apa yang Jordan miliki, sehingga sanggup menghalalkan segala cara untuk menguasai hartanya. Termasuk mengadu domba antara Jordan dan Benjamin Smith. Dua sahabat karib itu berakhir menyedihkan. Mereka salah paham hingga tragedi besar tak terelakan.Jordan tewas. Hans adalah pelakunya, namun dengan penuh drama pria yang menangisi jasad Jordan itu menuduh Benjamin Smith adalah dalangnya.Hanya dengan selembar surat yang David Thompson temukan di atas meja mendiang Jordan, Hans berhasil melayangkan fitnah besar kepada keluarga Smith. David membenci Smith dengan sepenuh hati. Bukan tanpa alasan, karena David tahu kakeknya
Savana menggigit bibirnya setelah melihat postingan terbaru dari Mia. Hatinya berkedut nyeri karena mengenali punggung pria yang sedang bersama wanita itu.“Leon?”Mulutnya membeo, menyebut nama pria yang sejak beberapa waktu ini menjadi pemilik hatinya. “Kenapa Leon bersama Mia?” tanyanya pada diri sendiri.Kecurigaan mulai memenuhi hatinya. Mungkinkah Leon tak menginginkannya lagi? Atau Leon hanya sedang menguji perasaannya?“Nana, ada apa?” Dyana yang baru saja membelikannya makan siang bertany setelah melihat wajah Savana yang tiba-tiba berubah pucat. “Apa kau benar-benar lapar hingga wajahmu memucat seperti itu?” tanyanya memastikan.Namun, Savana benar-benar membungkam mulutnya. Matanya yang tertuju pada layar ponsel membuat Dyana penasaran. Dyana ikut memperhatikan.Hanya saja, reaksinya berbeda dengan Savana. “Mia?” Dahinya berkerut dalam sebab tak mengenali punggung pria yang ada di postingan Mia.“Siapa dia?”Melihat reaksi Savana yang tampak berlebihan membuat Dyana semakin
Sementara itu, Mia tak pernah benar-benar menyerah dalam mendapatkan Leon. Mia selalu memiliki strategi untuk mendekati pria itu. Seperti sekarang, ketika mendengar hubungan Savana dan Leon kembali retak dari driver yang diam-diam menjadi kata-kata yang dikirim bibinya, Mia bersiap dengan rencana liciknya. Wanita itu dengan percaya diri datang menemui Leon. Mencoba untuk kembali merayu di tengah gundah yang sedang Leon rasakan. “Apa aku bilang? Savana bukan wanita yang setia.” Mia datang dengan dress yang seksi. Gaunnya memang menggantung indah, tetapi tali yang menahan potongan sifon berwarna biru tersebut tak lebih besar dari spagetti. Benar-benar kecil. Sengaja dia memakainya untuk menggoda Leon. Kerah yang menyerupai huruf ‘V' membuat belahan dadanya terlihat. Namun, tak sedikitpun Leon tertarik untuk melirik. Pria itu mendengus kasar melihat Mia datang dengan tekat yang kuat untuk memisahkannya dari Savana. “Kau sebaiknya bercerai saja. Pilih aku seperti yang pernah kita re







