Home / Lainnya / Dendam Wanita Teraniaya / Bab 6 Ibu telah pergi

Share

Bab 6 Ibu telah pergi

Author: Hapyhapy
last update Last Updated: 2025-09-22 18:23:27

Setelah satu hari satu malam berada dalam sel, polisi akhirnya membebaskan Kirana dan Kinasih, tapi dengan syarat harus menandatangani surat perjanjian kalau mereka tidak akan membuat masalah lagi.

Mereka dengan  terpaksa menandatangani surat itu dari pada harus terus menginap dalam sel.

Kirana baru sampai ke rumahnya saat ada sms masuk ke nomornya, pihak kampus menyuruh Kirana untuk datang.

__

Saat Kirana datang ke ruangan rektor, tanpa basa-basi rektor kampus yang bernama  Pak Jacky itu langsung menyodorkan sebuah kertas ke hadapan Kirana.

Dia mengambil kertas itu dan membaca isinya, kesimpulannya adalah itu surat pernyataan   kalau beasiswa Kirana dicabut dan dia dikeluarkan dari kampus. 

 Tangan yang memegang kertas langsung gemetar setelah selesai membaca surat itu. Kirana menatap sang rektor dengan ekspresi tak percaya.

“Maaf, kami harus melakukan hal itu pada anda, ini sudah merupakan keputusan semua pihak.” Hanya itu yang dikatakan Pak Jacky. Tanpa memberi keterangan yang lain.

Dengan tubuh lemas dan kaki yang seolah tak menapak, Kirana melangkah menyusuri koridor. Tatapannya kosong, dia hampir menabrak orang yang tiba-tiba saja menghalangi jalannya.

Kirana mendongkak, tatapannya menajam, rahangnya mengeras saat tahu siapa    orang yang ada di hadapannya.

“Mahesa.” Kirana menggeram.

Mahesa malah menyeringai menyebalkan, membuat Kirana muak. 

Mahesa bersedekap, menatap Kirana remeh,    “Itulah akibatnya kamu macam-macam dengan seorang Mahesa Affandra, kamu sendiri yang rugi.”

Napas  Kirana mulai memburu, wajahnya memerah, “Dasar laki-laki ba**ngan!” 

Kirana mengangkat tangannya ingin melayangkan satu puk*lan pada wajah menj**ijan itu, tapi sayang, Mahesa dengan sigap mencekal tangan Kirana di udara.

Mahesa melotot, “Tanganmu ini ringan sekali, sedikit-sedikit main tampar saja, apa kamu belum kapok, hm, apa kamu ingin aku me****kosamu lagi. 

Mahesa mendekatkan wajahnya, membuat Kirana mundur, dia menghempaskan tangan Mahesa. Terus terang dia masih trauma, kejadian mengerikan itu kembali terbayang. 

Kirana buru-buru melangkah pergi meninggalkan Mahesa.

Mahesa mendengkus, memandangi punggung yang semakin menjauh itu.

__

“Ibu!” Kirana terkejut saat pulang ke rumah mendapati Kinasih yang tergeletak di lantai dapur tak sadarkan diri.

Dia buru-buru menghampiri. 

“Ibu! Ibu!” Kirana berteriak berharap mendapat respon, tapi nihil.

__

Kirana tidak bisa duduk, dia mondar-mandir di depan pintu IGD. Ekspresi wajahnya kusut, dia terus-terusan menggosok kedua telapak tangannya. 

“Kiran!”

Kirana mendongkak ke arah asal suara, Arumi dan Dipta melangkah cepat menuju ke arahnya.

Arumi langsung merangkul Kirana dan berbisik, ,”Sabar ya, Kiran.   Ibumu pasti akan baik-baik saja.

Kirana hanya bisa terdiam, dia hanya bisa memeluk sahabatnya erat sebagai sandaran. Saat ini dia takut dan bingung. Semua emosi bercampur membuat kepalanya pening.

Dipta menatap temannya iba, dia menepuk-nepuk bahu Kirana lembut untuk menenangkannya.

Tak lama seorang Dokter keluar memanggil, “Keluarga Bu Kinasih!” 

Kirana bergegas menghampiri. Menatap Dokter penuh harap.

Dokter menghela nafas  panjang, “Maaf, saya turut menyesal, Ibu anda tidak bisa diselamatkan. Pasien mengalami serangan jantung.”

Sekujur tubuh Kirana mendadak terasa dingin, lututnya melemas. Dia limbung, tapi untunglah Dipta dan Arumi menopangnya, sehingga Kirana tidak ambruk.

Ibunya, keluarga satu-satunya,penopang dan penyemangat hidupnya  telah pergi untuk selamanya.

Sekarang apa yang harus Kirana lakukan tanpa dia. Dada Kirana terasa sesak, sakit sekali.

Air mata luruh setitik demi setitik.

__

“Untuk kali ini masalah sudah terselesaikan, ingat. Kalian jangan membuat ulah lagi.” Gauri menatap tajam pada tiga pemuda yang duduk di seberangnya.

Mahesa, Arga dan Nicholas hanya diam sambil menunduk.

“Hampir saja reputasi keluarga kita tercoreng karena ulah kalian! Dari dulu selalu seperti  ini, kapan kalian berubahnya.” Gauri masih asyik ngomel-ngomel.

“Tuh, dengerin apa yang dikatakan Tante Gauri, jangan hanya manggut-manggut melulu.” Nita, Ibu dari Arga ikut nimbrung untuk memberi nasihat pada para    pemuda bebal ini.

Lastri, Ibunya Nicholas hanya mendesah lelah sambil geleng-geleng, “Ada-ada saja tingkah kalian ini.” Gumamnya pelan.

Para golongan orang kaya ini tengah berada di ruang VIP di restoran mewah. Mereka sengaja mengajak putra masing-masing ke sini bukan  hanya untuk diberi makan saja, tapi juga untuk diomeli.

“Kami tidak akan mengulanginya, kami janji,” ucap Mahesa 

“Dulu kamu juga bilangnya seperti itu.” Gauri mencebik, masih kesal dengan Mahesa.

“Kalian dengar, kalian itu harus bisa jaga sikap, kalian juga harus bisa menjaga nama baik keluarga.” Kali ini Lastri yang ceramah.

Tiga pemuda itu tak merespon apa-apa hanya diam menunduk, seperti anak yang patuh, padahal di hati mereka menganggap nasihat orang tua  itu seperti kicauan burung.

__

   

Sudah lima puluh hari sejak kepergian ibu tercinta, Kirana menjalani hari-harinya seperti robot tanpa emosi. 

Hatinya hampa, tatapannya kosong, tak ada lagi cahaya semangat yang biasa terlihat dari mata itu.

Dipta dan Arumi selalu berkunjung menemui Kirana, sekedar ingin tahu keadaan sahabat mereka.

Arumi merasa prihatin melihat keadaan Kirana yang semakin hari semakin layu. Tak ada semangat hidup, tubuhnya semakin kurus.

Tak jauh beda dengan Arumi, Dipta juga merasakan hal yang sama, dia ikut merasakan sakit melihat wanita yang diam-diam dicintainya begitu rapuh.

Dengan pelan Dipta menyentuh bahu Kirana, “Kiran, kamu harus kuat, kamu jangan terpuruk terus seperti ini.”

Arumi mengangguk, mengelus kepala Kirana, “Aku yakin kamu pasti bisa menghadapi semua ini, aku tahu kamu itu bukan wanita yang lemah.”

Kirana memandangi kedua temannya, tatapannya sayu, binar-binar kehidupan yang selama ini mereka lihat di mata itu kini meredup.

Hati mereka sakit melihat temannya dalam keadaan seperti ini.

Apakah dia bisa menghadapi semua ini? Entahlah Kirana sendiri tidak tahu, yang jelas saat ini Kirana merasa lelah.

“Terimakasih, kalian selalu berada di sisiku saat aku terpuruk,  maaf merepotkan.”

“Hei, jangan berkata begitu kita ini ‘kan teman, sudah sepatutnya saling mendukung di kala susah.” Arumi merangkul temannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Kirana.

Kirana tersenyum kecil, dia pun menempelkan kepalanya pada Arumi.

Dipta tersenyum kecil melihat dua  gadis yang saling berpelukkan itu.

__

  

Kirana ingin menyerah, tapi dia ingat perkataan teman-temannya kalau dia harus kuat tidak boleh kalah. Karena itu dia harus menata kembali hidupnya.

 Kirana berpikir dia tidak bisa tinggal diam di rumah terus, dia juga butuh uang untuk kehidupan sehari-hari, dulu sewaktu kuliah, Kirana pernah bekerja paruh waktu sebagai waitress di sebuah restoran.

Karena kejadian itu, Kirana berhenti bekerja, mungkin dia bisa mencoba melamar lagi ke sana siapa tahu ada lowongan.

__

“Maaf, Kiran untuk saat ini belum ada lowongan, malahan sekarang penuh oleh siswa yang PKL.” 

Kirana menghela nafas,   sudah dia duga.

Kirana tersenyum pada wanita yang menjabat sebagai manajer itu, yang bersikap selalu ramah padanya.

“Terimakasih Bu Intan, maaf mengganggu waktunya.” Kirana berdiri dan menyalami wanita bernama Intan itu.

Intan tersenyum,“Sama-sama, Kiran, tidak mengganggu, kok.”

Terik matahari langsung menerpa wajah Kirana saat dia baru keluar dari gedung restoran. Cuaca hari ini cukup panas dan cerah.

Lagi-lagi Kirana mendesah, tenggorokannya terasa kering. Dia melangkah untuk mencari penjual air mineral.

Tiba-tiba perutnya terasa bergolak,  kepalanya pusing, dunia terasa berputar lalu pandangannya menggelap.

  

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 30 Sebuah keputusan

    Bab 30__Wira hanya dapat memperhatikan Kirana dalam diam. Wanita muda itu tampaknya sedang dalam mood yang jelek, wajahnya selalu cemberut dan kusut.__“Tuan, saya sudah mengirim dokumen tentang Kirana ke email anda. Semua datanya lengkap tertulis disana.”Itu adalah Bagas, berbicara dari balik telpon.“Hm.”Wira merespon singkat dan pembicaraan pun berakhir.Edy yang sedari tadi berdiri di depan Wira, langsung menyerahkan laptop yang dipegangnya.Laptop sudah menyala, Wira memeriksa email masuk dan membacanya.Tingkah Kirana yang murung akhir-akhir ini, mengusik rasa penasarannya. Dia ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan wanita muda itu. Wira hanya tahu identitas Kirana saat dia melamar kerja. Sama sekali tidak tahu tentang kisah hidupnya.Setelah membaca detail kisah hidup Kirana, Wira hanya bisa tercenung, lalu menghela napas panjang.Pantas saja.__Lagi-lagi Kirana berdiri di deck kapal, memandang lautan yang tak berujung. Tatapannya menerawang.“Masih merenungkan tentang

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 29 Sakit

    Bab 29__“Sepertinya kamu punya penyakit insomnia. Kamu sering tidak bisa tidur di malam hari.”Kirana berbalik, memandang ke arah asal suara,Wira tiba-tiba muncul, bersama Pak Edy yang mendorong kursi rodanya.Kirana menstabilkan napasnya yang tidak beraturan. Mencoba mengendalikan emosinya yang tak karuan.“Tuan juga sepertinya sama seperti saya, sering tidak bisa tidur di malam hari.” Kirana menimpali. Raut wajahnya cemberut.Wira menelisik wajah itu. “Siapa atau apa yang membuat ekspresi wajahmu cemberut seperti itu,” tanyanya.“Bukan apa-apa, Tuan. Jangan pedulikan saya. Anda sendiri, untuk apa berada di sini?” Kirana balik bertanya.Wira berdecak sambil geleng-geleng. Gadis ini, ditanya malah balik bertanya.“Untuk siapa wajah kesalmu itu, hm?”“Saya sendiri tidak tahu, Tuan.”“Lalu, pada siapa kamu marah?”“Memangnya saya marah? Kenapa anda mengira saya marah?”Wira terkekeh. “Ekspresimu itu jelas sekali.”Kirana menunduk, bergumam. Memangnya terlihat jelas, ya?“Ada apa? Sia

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 28 Hati yang dirundung duka

    Bab 28__Kirana melotot mendengar perkataan Wira. “Anda tidak pantas berkata seperti itu, Tuan. Jangan merendahkan diri sendiri.”Wira menghela napas panjang, “Tapi memang benar ‘kan aku pria cacat.”“Walaupun anda cacat, anda tetap terlihat tampan dan berwibawa.” Kirana mengatakan hal itu dengan entengnya, disertai raut wajah biasa-biasa saja. Seolah yang diucapkan adalah hal normal. Wira menyeringai nakal, “Jadi menurutmu aku tampan?”Kirana merengut, “Anda memang tampan, Tuan.” Raut wajahnya tetap normal saat dia mengatakan itu. “Tanyakan saja pada para pelayan di mansion ini, mereka juga pasti akan bilang anda tampan.Wira terkekeh, mendengar ucapan jujur Kirana, perasaannya yang tak karuan sedikit lebih baik.__Wira mengganti nama hotel Sekar Asih, menjadi Hotel Cakrabuana. Itu adalah nama ibu kandungnya. Mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi untuk apa mengabadikan nama wanita yang sudah berkhianat itu. Peresmian ulang diadakan lagi, tapi kali ini tidak mewah da

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 27 Resmi berpisah.

    Kirana menatap Wira dengan mata membulat sempurna, tapi dia tidak berkata apa-apa.Mendengar kata gaji lima kali lipat, rasa dingin dan sunyi sel tahanan, serta rasa sakit hatinya seolah menjauh. Ya, walaupun masih ada sedikit rasa sakit itu, tapi ya sudahlah. Toh, sekarang namanya sudah dibersihkan. “Jadi, bagaimana? Apa kamu masih marah?” Wira bertanya dengan nada menggoda.Sekar menjawab, “Sudah saya katakan, saya ini hanya orang kecil say_”“Apakah kamu masih marah?” Wira mengulangi, memotong ucapan Sekar. Kali ini nada dan ekspresinya tegas.Melihat raut wajah Wira yang mulai galak, Kirana merapatkan mulutnya.“Tidak, Tuan. Saya tidak marah.”Wira tersenyum puas mendengar jawaban Kirana kali ini.__Keesokan harinya, Wira pergi ke lapas untuk menemui Sekar. Tak lupa dia juga mengajak Kirana untuk ikut.Mereka menunggu di ruang kunjungan. Tak butuh waktu lama sampai Sekar datang. Dia datang didampingi petugas wanita. Petugas pamit setelah mengantar Sekar.Sekar duduk bersebran

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 26 Topeng yang retak

    Bab 26__“Apa yang kamu katakan, Mas. Apa maksud semua ini?” Suara Sekar lirih dan bergetar.Seringai Wira semakin lebar, “Ini adalah hadiah istimewa khusus untukmu, bagaimana? Apa kamu suka?”Kedua telapak tangan Sekar terkepal erat. Napasnya semakin tak beraturan.“Kamu keterlaluan, Mas! Hentikan video itu!” Dia berteriak. Keanggunan dan kecantikannya telah hilang.“Tak tahu malu!”“Dasar wanita rendahan!”Beberapa tamu wanita mulai menghardik.“Benar-benar wanita yang tak bersyukur.”“Ya, benar. Padahal Tuan Wira begitu mencintainya.”Bisik-bisik itu terus berlanjut. Tapi Sekar tak mempedulikannya, dia fokus menatap Wira dengan penuh amarah dan kebencian.Ravi mendekat dan berdiri di samping Sekar. “Tuan Wira, anda sungguh keterlaluan, mempermalukan istri sendiri di depan umum.”Tiba-tiba Wira tertawa sarkas, “Dokter Ravi, kamu memang seorang pria sejati. Tak merasa malu membela kekasih gelapmu di depan tamu-tamuku.” Tatapannya meremehkan dan ada rasa jijik. “Kalian memang pasanga

  • Dendam Wanita Teraniaya   Bab 25 Hadiah ulang tahun pernikahan

    Bab 25 __ Sudah hampir satu minggu lebih Kirana mendekam di sel tahanan. Dalam sel ini dia sendirian tak ada penghuni lain, yang membuatnya heran selama Kirana tinggal disini tak ada satupun petugas polisi yang datang untuk membawanya ke ruang interogasi. Sampai saat ini dia belum ditanyai tentang kasus peracunan Sekar. Kirana bertanya-tanya entah sampai kapan dia harus menunggu. Dia sudah pasrah pada keadaan, dapat dipastikan Kirana akan divonis bersalah. Walau sebenarnya dia sama sekali tidak bersalah dan tidak melakukan hal yang dituduhkan. __ Kini keadaan Sekar sudah membaik dan hampir sembuh total. Dia sudah kembali ke mansion, dan tengah sibuk memilih gaun-gaun mewah untuk pesta anniversary pernikahannya yang ke sepuluh. Mary yang berdiri di belakangnya tersenyum lega melihat majikannya sudah terlihat lincah lagi. Sekar mengerutkan keningnya tampak kebingungan. Gaun-gaun yang ada di hadapannya ini semuanya bagus-bagus, dia jadi bingung mau memilih yang mana. Di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status