Share

5. Suami yang Baik

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2025-05-28 03:00:00

"Nah, suamiku udah ganteng ...." Intan tertawa saat dia selesai membantu merapikan dasi dan jas suaminya.

Bima mengernyit. "Memangnya biasanya nggak ganteng?"

Lagi, Intan tertawa. "Ganteng, kok. Suamiku selalu ganteng." Intan mencubit pipi suaminya dengan gemas.

"Masak, sih. Jago gombal, deh, kamu." Bima mencubit hidung mungil istrinya.

"Iya. Dan bagiku suamiku yang paling ganteng." Intan tersenyum menatap suaminya. "Dan makin ganteng sekarang."

"Iya deh iya aku percaya."

Intan masih tertawa lebar hingga giginya nampak.

"Senang deh aku bisa lihat kamu tertawa kayak gini, tersenyum kayak gini," ucap Bima kemudian. Karena jujur saja Intan jarang tersenyum. Apalagi jika sudah di depan ibu mertuanya. Yang ada wajahnya sering terlihat murung dan sedih.

Intan terdiam mendengar ucapan itu. Wajahnya kembali netral.

"Senyum lagi, dong," pinta Bima.

Intan pun memasang senyum terbaiknya di depan lelaki yang paling dia cintai.

"Maafin aku, ya, Sayang. Aku nggak bisa buat kamu selalu tersenyum." Wajah Bima terlihat sedih.

"Kenapa harus bahas masalah itu lagi, sih, Mas. Bagi aku apa pun itu keadaannya, selama kamu di samping aku, aku akan kuat dan bahagia. Jadi jangan ngomong gitu lagi, ya."

Bima tersenyum. "Makasih, ya, Sayang."

Intan tertawa. "Iya." Yang bisa Intan syukuri saat ini adalah meski belum mempunyai anak, hubungannya dengan suami selalu romantis seperti pengantin baru meski mereka sudah bertahun-tahun menikah. Intan sangat bersyukur mempunyai suami sebaik Bima. "Ya udah boleh pergi sekarang nanti telat. Aku antar, ya."

Setelah memastikan tidak ada barang kerjaan suaminya yang tertinggal, mereka keluar kamar. Intan mengantar suaminya hingga ke teras. Seperti biasa sebelum masuk ke mobil, Bima mencium kening istrinya. Dan Intan berdada ria seiring dengan mobil itu pergi meninggalkan halaman hingga tak tampak lagi.

Intan tersenyum melepas kepergiannya. Dia terdiam beberapa saat. Tiba-tiba ada banyak hal yang dia pikirkan. Sampai dia dikejutkan dengan suara ibu mertuanya.

"Intaann!!"

Intan terkejut mendengarnya. Wanita itu pun buru-buru masuk ke dalam rumah dan mendatangi ibu mertuanya yang tengah duduk santai di depan televisi.. "Iya, ada apa, Ma?"

Mira mendongak menatap tajam Intan. "Masalah semalam belum selesai," ucapnya kemudian.

Intan terdiam mendengarnya. Kali ini apalagi yang ingin mamanya lakukan terhadapnya?

"Kamu beruntung tadi malam dibelain sama suamimu," ucap Mira lagi. "Tapi saya masih dendam kesumat sama kamu."

Intan langsung bertanya. "Mama mau aku melakukan apa, Ma?"

Dan pertanyaan itu membuat Mira menatap menantunya tak percaya. "Bagus kalau kamu paham kesalahan kamu. Kamu harus menebus kesalahan kamu karena kamu udah mempermalukan saya di depan kolega penting saya tadi malam. Mumpung sekarang suamimu lagi nggak ada, saya mau kasih kamu hukuman."

Intan tertegun mendengarnya. "Hukuman apa, Ma?"

"Ikut saya." Mira berdiri dari duduknya lalu berjalan, dan Intan mengikutinya. Ternyata Mira membawa Intan ke tempat pencucian baju. Di sana terlihat banyak ember-ember besar berisi pakaian.

Intan lantas menatap ibu mertuanya tak mengerti.

"Pakaiannya banyak sekali, Ma."

Mira lalu menghadap Intan sambil bersidekap dada. "Iya, tugas kamu sekarang kerjakan semua ini. Cuci semua pakaian kotor ini dan nggak usah pakai mesin cuci."

Intan terkejut tak menyangka. "Tapi ini banyak banget, Ma."

"Iya memang banyak. Ini hukuman buat kamu. Jadi kamu harus terima."

Intan malah terdiam memandangi tumpukan pakaian dalam ember-ember itu.

"Kenapa? Nggak terima?"

Intan kembali menatap ibu mertuanya. "Ma aku nggak sanggup, aku nggak yakin bisa, Ma."

"Jadi kamu mau bantah?" Belum sempat Intan menjawab, Mira menambahkan. "Kalau kamu membantah saya punya tugas lain yang lebih berat dari ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   189. Kabar Tak Terduga

    Kabar Duka, Seorang Pengusaha Sukses, Fara Wijayanti, Dikabarkan Meninggal Dunia karena Lompat dari Ketinggian Gedung Lima Lantai. Bima membaca judul artikel online pagi itu berkali-kali. Bolak-balik dia membaca judul hingga isi artikel, lalu balik lagi ke judul. Memastikan bahwa sosok yang diberitakan itu adalah orang yang dia kenal. Bahkan dalam artikel tersebut terdapat foto sosok yang bunuh diri, dia sudah tampak meregang nyawa. Bima mengernyit. "Tante Fara meninggal karena bunuh diri? Ini benar nggak sih?" Bima bergumam seorang diri.Bima sebenarnya baru saja bangun, dan seperti biasa, rutinitasnya di pagi hari libur membaca berita, baik online maupun offline di koran. Tapi berita yang kali ini sungguh tak dia duga. "Kenapa, Mas, mukanya tegang gitu." Intan yang mengantarkan camilan dan minuman untuk suaminya melihat ekspresi suaminya yang begitu tegang, apalagi yang pria itu pikirkan? Intan meletakkan makanan itu di atas meja. Bima langsung mendongak menatap istrinya. Wajahn

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   188. Kembalinya Sang Ibu Mertua (2)

    "Mama lagi istirahat di kamar, lagi dimandiin sama Bi Iyem," jawab Intan yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan. Bima dan Risyad menatap ke arah Intan sekilas lalu mereka terdiam. Tasya pun menatap Intan. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan. Lalu dengan angkuh dia berjalan melewati Intan menuju kamar mamanya. Intan menatap kepergian Tasya sekilas, sikap Tasya barusan sedikit banyak membuatnya kepikiran, tapi dia tak mau terlalu memikirkannya. "Ini, Mas, Risyad, silakan diminum." Intan meletakkan minuman di atas meja. "Makasih, Sayang," jawab Bima. "Sama-sama, Mas," jawab Intan sembari tersenyum simpul. "Hmm kalau gitu aku ke dapur lagi, ya, Mas. Itu kuenya jangan lupa di makan." Intan pamit memandangi suami dan Risyad bergantian sebelum akhirnya pergi dari sana. Sepeninggal Intan, Risyad menatap iparnya sambil tersenyum simpul. "Bahagia ya, Bim, punya istri rajin kayak Intan. Udah ada ART masih nyempetin buat minuman." Risyad bisa melihat b

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   187. Kembalinya Sang Ibu Mertua

    "Mama!" Adalah Intan orang pertama yang berlari menyambut Mira ke halaman saat dilihatnya ibu mertuanya itu dipapah oleh Risyad turun dari mobil. Intan langsung mengambil alih Mira dari Risyad, dan mendorong kursi roda ibu mertuanya pelan menuju teras. "Mama, Mama baik-baik aja, kan, Ma? Aku senang dan lega banget Mama akhirnya bisa pulang ke rumah," sambut Bima yang sejak tadi berdiri di teras. Pria itu lantas berjongkok memeluk mamanya. Dia bahkan sampai menangis penuh penyesalan. "Maafin Bima, Ma, maafin Bima yang nggak jagain Mama." Bima sungguh-sungguh menyesal terlebih ketika dia teringat mamanya yang mengejarnya hingga terjadi kecelakaan yang membuat mamanya jadi seperti ini. Sementara Mira di kursi rodanya hanya diam, diam-diam dia mengeluarkan air mata. Dia teringat dengan cerita Fara bahwa Bima sempat datang untuk menyelamatkannya, tapi gagal. Mira lalu menatap anaknya lekat-lekat. Lebam di wajah Bima masih terlihat samar. Itu pasti lebam bekas habis dipukuli. Sa

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   186. Ketahuan

    Maya terus memainkan kursi roda itu di pinggir kolam renang, memiringkannya, nyaris menjatuhkannya. Membuat Mira menjerit ketakutan, sesekali Maya tertawa. "Ups, Tante takut, ya?" Maya mengejek di belakangnya. "Tenang aja aku ada di sini jadi Tante nggak perlu takut." Mira ingin bicara tapi tidak bisa hingga dia hanya bergumam tidak jelas sembari menggelengkan kepalanya. Matanya terus tertuju pada air kolam renang, dia sungguh ketakutan. "Tante pengen belajar berenang nggak?" tanya Maya di belakangnya. "Kalau mau aku bisa ajarin." Mira hanya bisa menggeleng-geleng. "Diam di tempat!" Tiba-tiba saja sebuah suara memberi perintah. Maya yang kini membelakangi pintu tak berani bergerak, gadis itu mematung di tempatnya, dan matanya membelalak menatap ke depan. Dia tahu itu suara polisi. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba masuk ke sini? "Anda jangan bergerak, diam di tempat!" perintah suara itu lagi. Lalu suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Detik itu, Maya langsung mele

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   185. Muslihat Maya

    Maya masuk ke ruangan Mira sambil mengucapkan permisi. Gadis itu juga membawa kursi roda yang sepertinya untuk Mira. "Halo, permisi, Tante." Gadis itu lalu menutup pintu. Lantas dia berjalan mendekati Mira sambil tersenyum, mendorong kursi rodanya. "Hai, Tante, apa kabar? Ketemu lagi kita di sini." Mira melotot menatap ke arah Maya. Tapi Maya tetap tenang melihatnya, gadis itu lalu tersenyum saja. "Tante kenapa liatin aku kayak gitu? Tadi Mama cerita katanya Tante ada di sini, jadi ya udah aku samperin aja ke sini. Aku kangen loh sama, Tante. Udah lama, ya, kita nggak ketemu?" Mira lagi lagi hanya bisa terdiam. Dia tak mengerti maksud sikap gadis itu. Sementara Maya senantiasa tersenyum. Gadis itu lalu melirik piring berisi makanan yang ada di meja, lantas dia menatap Mira kembali. "Mama bilang Tante nggak mau makan, ya? Ya udah sekarang biar aku suapin, ya?" Maya lalu mengambil piring itu, menyedokkannya dan mengarahkan sendok itu pada Mira. "Buka dong mulutnya, Tante. Tante ha

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   184. Bantuan

    "Ayok makan, dong, saya sudah berbaik hati, ya, ini mau suapin kamu makan, kamu jangan memancing emosi saya begini!" Emosi Fara makin tersulut melihat Mira yang tak mau membuka mulutnya. "Kamu mau mati kelaparan hah? Udah tahu nggak bisa makan sendiri, nggak mau juga disuapin. Kamu ini udah sakit aja masih belagu ya, Mira." Fara menggeleng seakan tak habis pikir. "Ya sudah kalau kamu memang nggak mau makan. Saya nggak mau pusing-pusing mikirin kamu. Kamu makan aja sendiri kalau bisa ini?" Fara meletakkan piring itu di atas meja dengan agak kasar. Lantas dia keluar dari ruangan itu dengan kesal. Namun, begitu dia membuka pintu ruang, terkejut lah dia dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Buru-buru dia keluar dan segera menutup pintu lantas menguncinya. Dia menatap orang itu tajam. "Ngapain kamu berdiri di sini, Imas?! Kamu nguping, ya?!" tanyanya sambil melotot tajam. Sementara ART yang sejak tadi berdiri di depan ruang itu terlihat takut-takut. Sambil menunduk dan suara gem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status