Share

4. Mimpi Buruk Masa Lalu

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2025-04-13 19:07:54

"Sayang, kamu belum tidur?"

Intan yang menangis sambil duduk di kasur sejak tadi, tersentak mendengar suara suaminya. Cepat dia mengusap air matanya dan menoleh.

"Belum, dong, Mas." Intan memaksakan senyum.

Bima berjalan mendekatinya. Pria itu memperhatikan wajahnya lamat-lamat. Lalu memegangi pipi Intan. "Kamu nangis?"

Intan diam saja. Lalu mengalihkan pandangannya ke lain arah.

Bima tahu tak seharusnya dia bertanya demikian. "Maafin Mama, ya, Sayang."

Intan menatap Bima. "Kamu kenapa gitu, sih, sama Mama, Mas? Kamu nggak perlu sampai melawan mamamu segitunya cuman buat belain aku."

"Cuman itu yang bisa aku lakukan, Sayang. Aku nggak mungkin diam aja lihat istriku disakitin. Mama terlalu kejam sama kamu. Harusnya Mama bisa perlakuan kamu layaknya anak sendiri." Bima lalu memeluk istrinya.

"Aku nggak pa-pa, Mas," ucap Intan dalam pelukan. "Makasih, ya, kamu selalu stand up buat aku."

"Sebagai suami yang sangat mencintai kamu, udah seharusnya aku begitu. Malah aku merasa apa yang aku lakukan ini belum ada apa-apanya. Maafin aku, ya, Sayang."

Intan menghela napas. Lalu melepas pelukannya dan menatap suaminya lekat-lekat. "Kenapa sih, kamu senang ngomong gitu. Kamu selalu merasa nggak ngelakuin apa-apa buat aku. Padahal itu udah lebih dari cukup buat aku. Aku nggak akan mampu bertahan sampai sejauh ini, Mas, kalau nggak ada kamu."

Bima tersenyum. "Makasih, ya, udah bertahan demi cinta kita. Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak bisa tanpa kamu." Bima lalu mengecup kening istrinya itu.

Sikap Bima yang seperti inilah yang mampu membuat Intan bertahan.

***

"Sampai mati pun Mama nggak akan sudi kamu menikah dengan perempuan nggak jelas itu!"

"Dia bukan perempuan nggak jelas, Ma. Dia perempuan baik-baik. Dia bahkan sangat baik dibanding perempuan lain yang aku kenal selama ini."

"Bima, kamu sadar, dong. Jangankan pekerjaan bapaknya, bapaknya siapa dan di mana aja kamu nggak tahu, kan? Jadi bagaimana bisa kamu begitu yakin kalau dia perempuan baik-baik? Bibitnya bisa aja bibit nggak bener."

Pertengkaran itu terdengar jelas di pendengaran Intan meski mungkin mereka sudah berusaha meredamnya. Dan itu membuat hati Intan bagai dihantam palu bertubi-tubi sampai dia tak mampu lagi membendung tangisnya.

"Kita sama-sama nggak tahu, Ma. Jadi gimana Mama bisa yakin kalau bibitnya nggak bener? Lagian aku udah kenal sama ibunya dan ibunya orang baik. Intan sendiri orangnya juga baik, Ma. Dan yang paling penting aku bahagia sama dia."

"Jadi kamu tetap kekeh mau menikahi perempuan nggak jelas itu?!"

"Udah, Ma. Stop bilang kalau Intan perempuan nggak jelas! Aku nggak suka Mama menghardik calon istriku."

"Jadi kamu tetap lebih memilih menikahi dia dari pada memikirkan perasaan Mama? Mama nggak akan pernah merestui hubungan kalian. Ingat itu, Bima!"

"Aku akan tetap menikahi Intan dengan atau nggak ada restu Mama."

"Kurang ajar sekali kamu, Bima!"

Selanjutnya tak terdengar lagi sahutan dari Bima. Hanya suara Mira yang teriak-teriak berang. Sampai Intan mendapati Bima sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan. Intan yang terkejut refleks mengusap air mata di pipinya.

"Kamu kenapa nangis?" tanya Bima tampak terkejut.

Intan yang tak kalah terkejut berusaha menetralkan wajahnya seolah semua baik-baik saja. Lantas perempuan itu menggeleng.

"Ayo, kita pergi dari sini." Bima sudah memegang tangan Intan, tapi Intan tetap berdiri di tempatnya, membuat Bima menoleh padanya. "Apalagi?"

"Mama kamu gimana?"

"Kenapa Mama?"

"Aku tahu Mama kamu nggak setuju dengan pernikahan kita. Mama kamu nggak suka sama aku."

Bima terdiam mendengar kalimat itu terlebih kesedihan di wajah calon istrinya tak dapat disembunyikan. Detik itu pun Bima mengerti kalau Intan sudah mendengar semuanya.

"Kita akan tetap menikah," jawab Bima akhirnya.

Namun, Intan malah menggeleng. "Aku nggak bisa menikah sama kamu tanpa restu Mama kamu."

"Tapi, Intan ...."

"Aku mohon, jangan abaikan restu orang tua. Aku nggak mau nikah sama kamu tanpa restu orang tua kamu!"

Mata Intan seketika membuka lebar. Napasnya tersengal dengan keringat telah membanjiri pelipisnya. Saat dia menatap plafon kamarnya yang sangat dia kenali hingga beberapa detik kemudian, barulah dia tersadar, tragedi itu ternyata hanya mimpi.

Tragedi masa lalu itu, kejadian awal mula perjuangan dirinya dan Bima untuk mendapatkan restu Mira. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, entah kenapa selalu muncul di dalam mimpinya. Selama ini Intan sering memimpikan kejadian-kejadian masa lalu bagaimana keluarga suaminya dari awal memang tidak menyetujui pernikahan mereka. Mimpi itu menjadi mimpi buruk yang selalu menghantui hidup Intan. Membuatnya tidak tenang.

Intan bangun dari pembaringan, menarik napas lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan dirinya.

"Sayang, kamu kenapa bangun?" Gumaman Bima yang tidak jelas terdengar.

Intan menoleh mendapati suaminya memandanginya dalam keadaan berbaring dan mata memicing. Pria itu lantas ikut bangun dan masih menanyakan hal yang sama.

"Mas aku mimpi buruk," adunya.

"Mimpi buruk apa?" tanya Bima lembut seraya mengusap puncak kepala istrinya. Rambut hitam nan panjang Intan terlihat berantakan. Lalu dia mengusap dahi istrinya yang mengkilap.

"Mimpi itu, Mas. Mimpi kejadian itu, yang biasa ...."

Bima pun mulai mengerti apa yang barusan istrinya mimpikan. Intan selalu bercerita jika dia memimpikan masa lalu buruk itu.

Bima menghela napas. "Kamu bisa mimpi kejadian itu lagi mungkin karena kamu memikirkannya terus. Apalagi tadi Mama habis marah-marah sama kamu, kan? Maafin Mama, ya?"

Intan hanya diam. Bosan rasanya dia mendengar kalimat itu. Tanpa Bima meminta pun dia selalu memaafkan, berusaha ikhlas dan terima semuanya.

"Ya udah kita lanjut tidur aja. Jangan dipikirkan lagi, ya." Bima lantas memeluk istrinya.

Dalam pelukan sang suami, Intan berkata. "Mas, mau sampai kapan begini? Aku kangen sama sikap Mama yang dulu," bisiknya sambil terisak mengenang bagaimana baiknya mama mertuanya dulu. Dan dia rindu akan masa-masa itu.

Kapan masa-masa itu bisa kembali lagi? Dan apakah mungkin itu bisa terjadi? Entah sampai kapan dia mampu bertahan dalam pernikahan yang penuh tekanan ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   189. Kabar Tak Terduga

    Kabar Duka, Seorang Pengusaha Sukses, Fara Wijayanti, Dikabarkan Meninggal Dunia karena Lompat dari Ketinggian Gedung Lima Lantai. Bima membaca judul artikel online pagi itu berkali-kali. Bolak-balik dia membaca judul hingga isi artikel, lalu balik lagi ke judul. Memastikan bahwa sosok yang diberitakan itu adalah orang yang dia kenal. Bahkan dalam artikel tersebut terdapat foto sosok yang bunuh diri, dia sudah tampak meregang nyawa. Bima mengernyit. "Tante Fara meninggal karena bunuh diri? Ini benar nggak sih?" Bima bergumam seorang diri.Bima sebenarnya baru saja bangun, dan seperti biasa, rutinitasnya di pagi hari libur membaca berita, baik online maupun offline di koran. Tapi berita yang kali ini sungguh tak dia duga. "Kenapa, Mas, mukanya tegang gitu." Intan yang mengantarkan camilan dan minuman untuk suaminya melihat ekspresi suaminya yang begitu tegang, apalagi yang pria itu pikirkan? Intan meletakkan makanan itu di atas meja. Bima langsung mendongak menatap istrinya. Wajahn

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   188. Kembalinya Sang Ibu Mertua (2)

    "Mama lagi istirahat di kamar, lagi dimandiin sama Bi Iyem," jawab Intan yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan. Bima dan Risyad menatap ke arah Intan sekilas lalu mereka terdiam. Tasya pun menatap Intan. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan. Lalu dengan angkuh dia berjalan melewati Intan menuju kamar mamanya. Intan menatap kepergian Tasya sekilas, sikap Tasya barusan sedikit banyak membuatnya kepikiran, tapi dia tak mau terlalu memikirkannya. "Ini, Mas, Risyad, silakan diminum." Intan meletakkan minuman di atas meja. "Makasih, Sayang," jawab Bima. "Sama-sama, Mas," jawab Intan sembari tersenyum simpul. "Hmm kalau gitu aku ke dapur lagi, ya, Mas. Itu kuenya jangan lupa di makan." Intan pamit memandangi suami dan Risyad bergantian sebelum akhirnya pergi dari sana. Sepeninggal Intan, Risyad menatap iparnya sambil tersenyum simpul. "Bahagia ya, Bim, punya istri rajin kayak Intan. Udah ada ART masih nyempetin buat minuman." Risyad bisa melihat b

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   187. Kembalinya Sang Ibu Mertua

    "Mama!" Adalah Intan orang pertama yang berlari menyambut Mira ke halaman saat dilihatnya ibu mertuanya itu dipapah oleh Risyad turun dari mobil. Intan langsung mengambil alih Mira dari Risyad, dan mendorong kursi roda ibu mertuanya pelan menuju teras. "Mama, Mama baik-baik aja, kan, Ma? Aku senang dan lega banget Mama akhirnya bisa pulang ke rumah," sambut Bima yang sejak tadi berdiri di teras. Pria itu lantas berjongkok memeluk mamanya. Dia bahkan sampai menangis penuh penyesalan. "Maafin Bima, Ma, maafin Bima yang nggak jagain Mama." Bima sungguh-sungguh menyesal terlebih ketika dia teringat mamanya yang mengejarnya hingga terjadi kecelakaan yang membuat mamanya jadi seperti ini. Sementara Mira di kursi rodanya hanya diam, diam-diam dia mengeluarkan air mata. Dia teringat dengan cerita Fara bahwa Bima sempat datang untuk menyelamatkannya, tapi gagal. Mira lalu menatap anaknya lekat-lekat. Lebam di wajah Bima masih terlihat samar. Itu pasti lebam bekas habis dipukuli. Sa

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   186. Ketahuan

    Maya terus memainkan kursi roda itu di pinggir kolam renang, memiringkannya, nyaris menjatuhkannya. Membuat Mira menjerit ketakutan, sesekali Maya tertawa. "Ups, Tante takut, ya?" Maya mengejek di belakangnya. "Tenang aja aku ada di sini jadi Tante nggak perlu takut." Mira ingin bicara tapi tidak bisa hingga dia hanya bergumam tidak jelas sembari menggelengkan kepalanya. Matanya terus tertuju pada air kolam renang, dia sungguh ketakutan. "Tante pengen belajar berenang nggak?" tanya Maya di belakangnya. "Kalau mau aku bisa ajarin." Mira hanya bisa menggeleng-geleng. "Diam di tempat!" Tiba-tiba saja sebuah suara memberi perintah. Maya yang kini membelakangi pintu tak berani bergerak, gadis itu mematung di tempatnya, dan matanya membelalak menatap ke depan. Dia tahu itu suara polisi. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba masuk ke sini? "Anda jangan bergerak, diam di tempat!" perintah suara itu lagi. Lalu suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Detik itu, Maya langsung mele

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   185. Muslihat Maya

    Maya masuk ke ruangan Mira sambil mengucapkan permisi. Gadis itu juga membawa kursi roda yang sepertinya untuk Mira. "Halo, permisi, Tante." Gadis itu lalu menutup pintu. Lantas dia berjalan mendekati Mira sambil tersenyum, mendorong kursi rodanya. "Hai, Tante, apa kabar? Ketemu lagi kita di sini." Mira melotot menatap ke arah Maya. Tapi Maya tetap tenang melihatnya, gadis itu lalu tersenyum saja. "Tante kenapa liatin aku kayak gitu? Tadi Mama cerita katanya Tante ada di sini, jadi ya udah aku samperin aja ke sini. Aku kangen loh sama, Tante. Udah lama, ya, kita nggak ketemu?" Mira lagi lagi hanya bisa terdiam. Dia tak mengerti maksud sikap gadis itu. Sementara Maya senantiasa tersenyum. Gadis itu lalu melirik piring berisi makanan yang ada di meja, lantas dia menatap Mira kembali. "Mama bilang Tante nggak mau makan, ya? Ya udah sekarang biar aku suapin, ya?" Maya lalu mengambil piring itu, menyedokkannya dan mengarahkan sendok itu pada Mira. "Buka dong mulutnya, Tante. Tante ha

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   184. Bantuan

    "Ayok makan, dong, saya sudah berbaik hati, ya, ini mau suapin kamu makan, kamu jangan memancing emosi saya begini!" Emosi Fara makin tersulut melihat Mira yang tak mau membuka mulutnya. "Kamu mau mati kelaparan hah? Udah tahu nggak bisa makan sendiri, nggak mau juga disuapin. Kamu ini udah sakit aja masih belagu ya, Mira." Fara menggeleng seakan tak habis pikir. "Ya sudah kalau kamu memang nggak mau makan. Saya nggak mau pusing-pusing mikirin kamu. Kamu makan aja sendiri kalau bisa ini?" Fara meletakkan piring itu di atas meja dengan agak kasar. Lantas dia keluar dari ruangan itu dengan kesal. Namun, begitu dia membuka pintu ruang, terkejut lah dia dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Buru-buru dia keluar dan segera menutup pintu lantas menguncinya. Dia menatap orang itu tajam. "Ngapain kamu berdiri di sini, Imas?! Kamu nguping, ya?!" tanyanya sambil melotot tajam. Sementara ART yang sejak tadi berdiri di depan ruang itu terlihat takut-takut. Sambil menunduk dan suara gem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status