MasukMayang terdiam lama setelah pengakuan itu meluncur dari bibir Bara. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira semua yang Bara lakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada anak-anak. Tapi cinta? Itu di luar perhitungannya.“Bara…” lirih Mayang, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?”Bara mengangguk tanpa ragu. “Yakin, Ma. Dari dulu mungkin aku sudah peduli, cuma tertutup ego dan kesalahpahaman. Sekarang aku nggak mau lari lagi.”Mayang memalingkan wajah ke jendela mobil. Lampu jalanan malam berkelebat cepat, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu, melawan Bara sekarang hanya akan membuat putranya semakin menjauh. Dalam hati, ia memaki Indira habis-habisan. Wanita itu, bagaimanapun caranya, tidak boleh menjadi istri Bara.Tenang, Mayang. Kamu masih punya banyak cara, batinnya dingin.***Di tempat lain, malam terasa lebih sunyi bagi Indira. Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia akhirnya merebah
Indira berdiri tegak di ambang pintu, sorot matanya dingin. Tangannya refleks merangkul bahu Nala dan Nathan yang berdiri di belakangnya, seolah menjadi perisai.“Mau apa kalian ke sini?” ulang Indira, nadanya datar tapi tegas.Bara menelan ludah. Ia tahu, kedatangannya bersama Mayang bukan hal yang mudah diterima. “Aku… aku mau ketemu kamu, Indira. Dan anak-anak,” jawabnya jujur. “Mama juga… ingin ikut.”Mayang akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Pandangannya tak bisa lepas dari wajah Nathan, wajah kecil itu seperti potongan masa lalu yang hidup. Hidung, alis, bahkan sorot mata anak itu, terlalu mirip dengan Bara saat kecil. Dadanya berdesir aneh.“Assalamu’alaikum,” sapa Mayang akhirnya, suaranya dibuat selembut mungkin. “Indira…”Indira hanya mengangguk singkat. Tidak ada balasan hangat. Tidak ada senyum. Tatapannya jelas mengatakan satu hal: ia tidak menyambut Mayang dengan tulus.“Silakan masuk,” ucap Indira akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Anak-anak, masuk dulu.”Nala d
"Kamu bilang apa barusan?" Mayang menatap Bara dengan intens. Ditengah keterkejutannya mendengar ucapan putranya barusan."Anak-anak kami, masih hidup. Cucu-cucu Mama."Bara memperjelas ucapannya, hingga membuat Mayang terdiam. Ia menutup mulutnya sendiri, seolah tak percaya."Bagaimana mungkin masih hidup? Bukankah dokter itu sudah mengaborsinya? Di pernyataan itu ...dia sudah menandatanganinya juga," gumam Mayang pelan. Ia tidak percaya.Pasalnya, enam tahun lalu, ia sudah memastikan dokter itu mengaborsi kandungan Indira."Mama bilang apa barusan?"Mayang tersentak kaget. "Mama nggak bilang apa-apa kok. Mama cuma kaget. Ta-tapi, a-apa kamu yakin mereka anak-anakmu?" ucap Mayang membalikkan topik pembicaraan. Ia lega karena Bara tak mendengar ucapannya barusan."Mama tidak akan bertanya seperti ini, kalau Mama melihat mereka secara langsung," ucap Bara yang membuat Mayang berpikir.Tangannya gemetar, bibirnya juga. Ia berusaha menahan perasaan gugup ini. "Mama mau lihat mereka, Bara
Butuh waktu sekitar 15 menit, hingga Bara akhirnya sampai di supermarket tersebut, karena jaraknya lumayan dari kantornya. Bara turun dari mobilnya yang sudah rapi berada di parkiran. Ia tidak pergi bersama Rudi, melainkan pergi sendiri. Ia mencari-cari keberadaan Indira di dalam sana. Hingga matanya menangkap Indira yang duduk di atas kursi panjang, bersama dengan ibunya dan petugas keamanan. "Apa yang terjadi?" gumam Bara bingung dan sedikit terkejut, lantaran mamanya juga ada di sini. Lantas, Bara pun mendekati Indira dan mamanya yang terlihat tidak baik-baik saja. Terutama Indira yang pakaian dan rambutnya acak-acakan. Wajahnya kusut. Bara tersenyum melihat ke arah Indira. "Ada apa ini? Dira, kamu—" Perkataan Bara terpotong kala Mayang berbicara kepadanya. "Bara? Kamu kenapa bisa ada di sini?" Indira berdiri dari tempat duduknya dan menatap Bara dengan dingin. "Pak Bara, tolong urus Ibu anda. Sebelum saya menuntutnya atas tindakan ketidak nyamanan ini." Nada bicara wani
"Kenapa si Wati harus cuti segala sih? Jadi repot kan, aku harus belanja sendiri! Ngeselin banget," gerutu Mayang sambil mendorong troli belanjaannya.Wajahnya tampak ditekuk, bibirnya dingin tanpa senyuman, membuat beberapa orang yang mendekat kepadanya menjadi takut. Itu semua gara-gara Wati, pembantu rumah tangga di rumahnya yang cuti mendadak dan ia harus mengerjakan semuanya sendiri. Wati, adalah pembantu rumah tangga yang pernah bekerja di rumah Bara dan sekarang wanita itu bekerja di rumahnya.Mayang memilah-milah makanan di bagian sayur dan daging di supermarket itu. Hingga tak sengaja matanya menetap sosok yang paling tidak mau ia temui lagi selamanya. Jantungnya berdegup kencang, matanya membulat, ia seperti terkena serangan jantung saat melihat wanita itu lagi."Itu dia, kan? Tapi kenapa penampilannya berbeda seperti itu?" gumam Mayang pelan. Ia yakin tak yakin, kalau wanita yang ada di sampingnya itu adalah Indira.Wanita yang pernah menjadi asisten rumah tangga di rumah p
Bara dan Rudi duduk di kursi yang ada di bandara, menunggu keberangkatan mereka yang tinggal sebentar lagi. Terlihat Bara senyum-senyum sendiri, setelah menerima telpon dari Harold dan memikirkan pertemuannya dan Nala tadi, di rumah. Ia berpamitan pada Nala, tapi ia juga mengatakan kalau Nala akan kembali bertemu dengannya nanti."Pak, anda seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta," celetuk Rudi sambil tersenyum.Lelaki itu tersenyum lembut. Berbeda dari biasanya. Bara sudah menemukan kembali hidupnya sejak ia kembali bertemu Indira dan kedua anaknya."Dia menelepon," gumam Bara seraya tersenyum miring, saat melihat seseorang yang ia tunggu menelponnya juga. Bara dengan cepat mengangkat telpon itu"Kamu kan yang buat pak Harold mindahin aku ke Indonesia?" tanya Indira dari sebrang sana, terdengar marah. Namun, Bara malah tersenyum mendengarnya."So, kamu jadi ke Jakarta, kan?""Jadi benar ini ulah kamu?""Aku nunggu kamu dan anak-anak. Sebentar lagi aku mau pulang ke Jakarta,"







