MasukLiora Louis (32), seorang perancang busana yang sedang naik daun, hidup sepenuhnya untuk kariernya. Ia menolak semua bentuk hubungan romantis karena trauma masa lalu. Steven Theodore (32), pria yang dulu membuatnya merasa dikhianati. Ia tak pernah benar-benar pulih dari hubungan itu. Suatu hari, orang tuanya mengabarkan bahwa ia dijodohkan dengan seorang CEO perusahaan teknologi besar dan ternyata pria itu adalah Steven, cinta sekaligus luka terbesar dalam hidupnya. Yang lebih buruk, keluarga kedua belah pihak memberi tekanan jika mereka menolak, keluarga akan menghentikan dukungan finansial dan menimbulkan skandal yang bisa menghancurkan reputasi Liora maupun perusahaan Steven. Apakah mereka akan menerima perjodohan itu? Akan kah benih-benih cinta lama bersemi kembali?
Lihat lebih banyakLiora mendorong pintu kafe The Cozy Finch dengan napas tersengal karena terburu-buru.
Ia hanya ingin secangkir cappuccino caramel dan duduk manis sebelum bertemu pria yang dijodohkan oleh ayahnya. Namun, begitu ia melangkah mendekati meja yang sudah dipesan, langkahnya mendadak berhenti. Ia membeku. Otaknya seperti tersengat listrik 120 volt. Itu bukan pria asing. Itu Steven Theodore, mantan pacarnya sepuluh tahun yang lalu. Rambut hitam lelaki itu kini lebih pendek, rahangnya lebih tegas, jasnya terlalu rapi, dan … oh, tentu saja. Dia makin tampan. Liora spontan ingin berbalik, pura-pura salah kafe, salah negara, atau salah planet, tetapi suara itu memanggil. “Liora?" Langkah Liora terhenti seketika. "Liora, anak Tuan Smith Luis dari Court Boutique?” Liora terkejut. Ia berbalik perlahan, memasang senyum palsu terbaik yang ia miliki. “Dan … apa kau Steven dari Theodore Technology?” Steven menyandarkan punggungnya, wajahnya kaku, tetapi matanya jelas menunjukkan keterkejutan yang sama. "Wah ... aku tak menyangka akan bertemu dengan mantan sepuluh tahun lalu di sini.” Nada suaranya ketus, seperti sedang meneguk kopi pahit tanpa gula. Liora mengerjap. Luar biasa. Dia masih ahli membuat suasana jadi awkward. Steven menatapnya lagi, kali ini dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Kau tampak … makin cantik.” Nada itu datar, tetapi cukup untuk membuat darah Liora naik ke pipi, bukan karena tersanjung, lebih karena jengkel. Dalam hati, ia mendesah panjang. "Kalau aku tahu ayah akan menjodohkanku dengan dia, aku sudah pindah ke Islandia seminggu lalu." Ia bahkan sempat mengutuk ayahnya dalam hati, "Thanks, Dad. Great job." Tanpa basa-basi, Liora langsung duduk dan bertanya. “Kau … tahu kita akan dijodohkan?” Matanya menyipit, suaranya jelas menahan ledakan emosi. Steven menghela napas pendek. “Tidak. Sama sekali tidak tahu … kalau itu adalah kau.” Keheningan menggantung. Canggung. Tegang. Konyol. Dua mantan yang dulu berjanji tidak akan bertemu lagi seumur hidup, kini duduk berhadapan sebagai calon pasangan yang diatur keluarga. Steven mengerjap pelan, lalu merapikan posisi duduknya. Tatapannya kembali datar, profesional, seolah ini rapat bisnis, bukan reuni mantan terburuk abad ini. “Kalau begitu,” katanya datar, “apa kau mau pesan minuman dulu?” Liora hampir tertawa. Tawanya pahit. “Tidak. Aku tidak ingin berlama-lama di sini.” Ia meraih tasnya, hendak berdiri. “Sebaiknya kita akhiri ini sekarang, Steven. Karena aku tidak ingin menikah denganmu.” Ucapan itu jatuh seperti palu. Berat, tegas, dan tanpa ruang revisi. Steven terdiam sejenak. Ia menghela napas, bersandar dengan lelah, lalu berkata, “Sejujurnya aku tidak peduli siapa yang akan aku nikahi. Bahkan jika itu mantanku sepuluh tahun lalu.” Nada suaranya sinis, nyaris menyengat. “Tapi kalau kau tidak mau, itu bagus. Karena aku punya alasan yang sangat jelas untuk kukatakan kepada orang tuaku.” Liora tersentak. Matanya menyipit. “Kenapa kau terus membawa-bawa sepuluh tahun yang lalu?” Steven menegakkan tubuhnya. Perubahan ekspresinya cepat, ketus berganti tajam, datar berubah panas. “Apa kau benar-benar lupa kejadian sepuluh tahun lalu, Liora?” Kata-kata itu bergetar bukan karena romantis, tetapi karena amarah lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat. Liora menelan ludah, jantungnya memukul keras. Kenangan itu muncul seperti bayangan gelap yang selama ini ia hindari. Sepuluh tahun yang lalu, kenangan itu terbuka begitu jelas, seakan waktu sengaja kembali menoreh luka yang belum sembuh. Liora saat itu masih berusia dua puluh satu, duduk di lantai kamarnya dengan rambut berantakan dan mata bengkak. Tangannya gemetar memegang ponselnya yang terus bergetar, menampilkan pesan-pesan Steven yang belum ia buka. Ia tidak sanggup. Hatinya terasa seperti direnggut paksa. Perpisahan itu … terlalu tiba-tiba, terlalu menyakitkan, seolah dunia yang ia bangun bersama Steven runtuh begitu saja. Ia terisak tanpa suara, menutup wajah dengan kedua tangan. Kalimat terakhir Steven menghantamnya berkali-kali hingga ia tidak bisa bernapas tanpa merasa sakit. Malam itu ia merasa ditinggalkan, dikhianati, tak layak dicintai. Liora menatap ponselnya, perlahan ia memblokir nomor Steven untuk selamanya. Kembali ke masa kini, Liora menutup kenangan pahit itu seketika. Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan kembali memasang wajah datarnya. Tatapan Steven yang menuntut jawaban hanya ia balas dengan ekspresi hambar. Baginya, masa lalu itu sudah mati. Ia sudah menguburnya dalam-dalam, jauh sebelum kariernya menanjak, jauh sebelum hidupnya kembali stabil tanpa kehadiran pria itu. “Kalau kau ingin membahas sepuluh tahun lalu,” batinnya dingin, “kau terlambat. Sangat terlambat.” Liora bangkit berdiri perlahan, merapikan tasnya tanpa satu pun emosi yang tersisa di wajahnya. Ia tidak mau terlihat rapuh. Bagi dunia, ia Liora Louis, perancang busana profesional, wanita dewasa yang tidak dikendalikan kenangan murahan. Baginya Steven bukan siapa-siapa lagi. “Sudahlah,” pikirnya, menatapnya singkat. “Aku tidak punya kewajiban mengingat apa pun.” Ia memalingkan tubuh. Tidak ada salam perpisahan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kesempatan kedua. Hanya satu kalimat dalam hati yang ia ucapkan seperti pukulan terakhir. "Selamat tinggal, Steven." Dan selamat tinggal untuk semua yang pernah terjadi. Di luar kafe, Liora mendesah panjang. Ia tidak mengerti, dari semua pria, kenapa harus Steven. “Liora!” Liora mendengar suara yang paling ia benci memanggil namanya. Akan tetapi, ia tidak ingin berhubungan lagi. Karena itu ia berpura-pura tidak dengar dan memilih terus berjalan. “Liora, ponselmu!” Namun, tepat sebelum ia berhasil mendekat, suara mesin meraung keras. Sebuah motor melaju liar dari tikungan jalan sempit di depan kafe. Terlalu cepat. Terlalu dekat. Dan Liora yang bahkan tidak sadar dirinya berada di posisi berbahaya, melangkah tepat ke jalur motor itu. “Liora—” Belum sempat Steven berpikir, nalurinya mengambil alih. Ia berlari dan menarik tangan Liora dengan keras, menarik tubuhnya menjauh dari bahaya. Seketika, dunia seperti berhenti. Tubuh Liora terayun ke arahnya, dan mereka jatuh saling menabrak dengan keras, mendadak, dan kacau. Lengan Steven melingkar di pinggangnya, menstabilkan posisi keduanya, sementara wajah mereka berhenti hanya beberapa sentimeter. Napas mereka bertaut. Mata bertemu mata. Wajah mereka begitu dekat hingga Steven bisa merasakan napas Liora menyentuh kulitnya. Liora terpaku, terkejut bukan hanya karena hampir tertabrak, tetapi juga karena berada dalam jarak sedekat itu dengan pria yang berusaha ia jauhkan dari hidupnya. Tiba-tiba kemarahan memenuhi Liora, ia mendorong dada Steven dengan kedua tangan, seolah kejadian nyaris tertabrak itu adalah salahnya. “Lepaskan! Berani sekali kau memelukku!” geramnya. Steven yang masih melingkarkan satu lengannya di pinggang Liora, refleks protektif yang belum sempat ia lepaskan. Dorongan spontan itu membuat keseimbangan keduanya terlepas dalam hitungan detik. Tubuh mereka terjerembab ke aspal kasar. Benturan itu sangat keras. Punggung Liora mendarat lebih ringan karena Steven secara refleks memutar tubuhnya, mencoba menahan jatuhnya dengan tangan kanan. Namun, justru itulah kesalahan fatalnya. Tangan Steven patah. “Liora kau … benar-benar bencana.”Satu tahun kemudianSore itu, sebuah gedung mewah di pusat kota tampak begitu megah dan bercahaya. Dinding kaca tinggi memantulkan sinar matahari senja yang keemasan, sementara lampu kristal besar di dalamnya sudah dinyalakan, menciptakan suasana elegan yang memukau siapa pun yang datang.Di depan pintu masuk, karpet merah terbentang panjang. Para tamu berdatangan dengan gaun dan setelan terbaik mereka, disambut oleh pelayan yang berdiri rapi di kedua sisi pintu. Nama besar acara itu terpampang jelas, peluncuran kolaborasi teknologi Theodore Technology dan koleksi terbaru dari Liora.Namun hari itu juga memiliki arti yang lebih dalam.Hari itu adalah ulang tahun pertama Alex Theodore.Di dalam ballroom utama, dekorasi mewah berpadu dengan nuansa hangat keluarga. Bunga-bunga segar tersusun indah di setiap sudut, lampu gantung kristal berkilauan di atas, dan panggung runway dibangun memanjang di tengah ruangan dengan pencahayaan profesional yang menyorot setiap langkah model.Liora berd
Hari itu akhirnya tiba.Setelah beberapa hari di rumah sakit, Liora sudah diperbolehkan pulang.Mobil berhenti perlahan di depan rumah mereka, rumah yang kini terasa berbeda. Bukan lagi hanya milik Steven dan Liora.Tapi juga milik seseorang yang baru. Steven turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Liora.“Hati-hati,” katanya lembut.Liora mengangguk pelan.Di pelukannya, bayi kecil itu terbungkus selimut lembut, tertidur dengan damai. Wajahnya begitu tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya.Steven memperhatikan sejenak, lalu tersenyum.“Mari masuk,” katanya.Dengan langkah perlahan, mereka memasuki rumah. Suasana terasa hangat, tenang, dan penuh makna.Liora tidak langsung berhenti di ruang tamu. Langkahnya justru menuju satu tempat yang sudah lama mereka siapkan.Kamar bayi.Pintu itu terbuka perlahan.Cat putih yang dulu mereka lukis bersama masih terlihat bersih dan lembut. Hiasan kecil di dinding, tirai tipis, serta perabotan yang sudah mereka pilih denga
Siang itu rumah terasa tenang. Liora duduk di ruang kerjanya, beberapa lembar sketsa gaun tersebar di meja. Pensil di tangannya bergerak perlahan, membentuk detail demi detail desain yang ia bayangkan. Chelsea duduk tidak jauh darinya, menikmati camilan sambil sesekali melirik. “Kau tidak pernah berhenti ya,” gumam Chelsea. Liora tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau ide datang, aku tidak bisa menundanya.” Namun beberapa detik kemudian gerakan tangannya terhenti.bAlisnya sedikit berkerut. Tangannya perlahan berpindah ke perutnya. Chelsea langsung menyadari perubahan itu. “Liora?” Liora menarik napas pelan. “Sepertinya… perutku agak mules.” Chelsea langsung duduk tegak. “Mules biasa atau—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Liora kembali meringis. Kali ini lebih jelas. “Ah…” Liora memejamkan mata sejenak. Chelsea langsung berdiri. “Sejak kapan?” “Sejak malam… tapi…” Liora menggenggam meja, “rasanya… lebih kuat dari biasanya.” Beberapa detik
Pagi itu terasa tenang.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menyinari meja yang sudah tertata rapi dengan sarapan hangat. Liora duduk di salah satu kursi, perlahan memotong roti di piringnya, sementara Steven menuangkan segelas susu untuknya.“Kau harus minum ini,” katanya.Liora tersenyum kecil. “Aku tahu.”Steven duduk di seberangnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya makan dalam diam, menikmati suasana pagi yang damai setelah hari penuh kebahagiaan kemarin.Namun ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiran Liora.Ia menatap Steven sejenak sebelum akhirnya membuka suara.“Steven…”Steven mengangkat pandangannya. “Ya?”Liora ragu sebentar, lalu berkata pelan, “Sampai kapan kau akan menjaga jarak dengan orang tuamu?”Sendok di tangan Steven berhenti. Beberapa detik hening. Ia tidak langsung menjawab.Liora tidak mendesak, hanya menunggu.Akhirnya Steven menarik napas pelan, lalu meletakkan sendoknya.“Mereka tidak berhak masuk ke dalam hidup kita lagi,” katanya da
John akhirnya tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk dan mengarahkan mobil ke jalan utama.Lampu-lampu kota mulai menyala, menghiasi jalanan yang mereka lewati. Mobil melaju membelah malam, menuju satu tempat yang mungkin akan menentukan banyak hal.Di dalam mobil, Liora menutup matanya pe
Ia mengingat kembali perkataan John semalam. Kedua orang tuanya, Lucian dan Vivienne akan hadir. Bahkan kemungkinan besar orang tua Liora juga akan datang. Itu berarti makan malam keluarga yang cukup besar, sesuatu yang jarang terjadi sejak pernikahan mereka.Steven menatap Liora lagi, k
Pagi berikutnya dimulai dengan cara yang tidak menyenangkan bagi Liora. Baru saja matahari naik dan cahaya lembut menembus tirai kamar, Liora sudah berlari menuju kamar mandi.Suara muntah terdengar dari dalam.Steven yang terbangun karena suara itu langsung bangkit dari tempat
“Baiklah,” katanya. “Kalau melihat kalian sekarang… sepertinya semuanya memang berakhir dengan baik.”Steven lalu menatap Chelsea dengan serius namun lembut.“Dan kau tidak perlu khawatir.”Chelsea mengangkat alis. “Apa maksudmu?”Steven berkata dengan tenang,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak