INICIAR SESIÓN"Tu-tuan… ini masih pagi," bisik Indira pelan, tubuhnya menegang saat merasakan pelukan Bara dari belakang. Jantungnya berdegup cepat, ia tahu apa yang diinginkan majikannya itu. "Kenapa kalau masih pagi?" Bara menunduk, suaranya berat di telinganya. "Aku merindukanmu, Indira." Kehidupan Indira yang sulit memaksanya menerima keadaan—menjadi pelayan sekaligus tempat pelarian Bara dari kesepiannya. Bella, istri Bara, terlalu sibuk dengan dunia dan ambisinya sendiri, hingga tak lagi memperhatikan suaminya. Namun, sampai kapan hubungan terlarang ini akan bertahan? Bagaimana jika Bella akhirnya mengetahui rahasia besar yang mereka sembunyikan? (MATURE 21+)
Ver más"Tu-tuan, tolong le-lepaskan saya. Saya bukan nyonya Bella. Saya Indira, Tuan. Sa-saya hanya pelayan baru di rumah ini. Tu-tuan salah orang."
Indira terlihat ketakutan, wajahnya pucat, tubuhnya gemetaran saat majikannya, Bara Rahadian memeluknya dengan erat. Aroma menyengat alkohol bisa Indira cium dari tubuh majikannya itu. Setelah majikannya bertengkar dengan istrinya, satu jam yang lalu. Bara yang frustasi, malah mabuk-mabukkan dan tanpa sengaja ia melihat Indira sedang beres-beres di kamarnya. Sekarang, inilah yang terjadi. Bara mengira, Indira adalah istrinya. "Kamu istriku, Bella. Tugasmu melayaniku, suamimu! Bukan kelayapan terus setiap hari!" Suara Bara terdengar keras, sehingga membuat Indira terkejut mendengarnya. Belum lagi, pelukan Bara malah makin erat padanya. "Aku juga butuh kamu, Bella. Aku butuh kamu di sampingku," ucap Bara lirih seraya mendekatkan bibirnya pada pipi Indira. Gadis polos itu langsung meremang saat cambang tipis di hidung Bara mengenai kulit pipinya. Deru napas hangat Bara, membuatnya semakin merinding. "Tuan, saya bukan nyonya Bella. Tolong lepaskan saya, Tuan!" ujar Indira dengan suara yang sedikit meninggi. Ia juga tidak diam saja, melainkan mencoba melakukan perlawanan. Tangan Indira berusaha keras mendorong lelaki bertubuh jangkung dan kekar itu. Akan tetapi, tenaganya tentu tak sebanding dengan tenaga Bara. Gadis yang tubuhnya kecil dan pendek itu. "Tu-tuan! Tolong jangan seperti ini. Kalau nona Bella tahu. Dia bisa—" Indira terkesiap, manakala ada sesuatu yang menyerang bibirnya untuk pertama kali. Sebuah benda kenyal milik Bara, melumatnya dengan kasar. "Hmphh ... Tuan ..." Ini pertama kalinya Indira merasakan sentuhan pria yang bahkan ia sendiri tak tahu apa namanya. Jantungnya berdegup kencang, kedua matanya pun mulai berembun. Ia tak tahan dengan pemaksaan ini. Terutama ketika tekanan bibir Bara semakin mendesak agar ia membuka bibirnya. Kedua tangan Bara, mencengkram tubuh Indira cukup kuat. Sangat kuat, sampai Indira meringis kesakitan. Ciuman sepihak itu pun terlepas, ketika Indira memalingkan wajahnya sekuat tenaga. "Tuan. Hentikan!" Tegas Indira. "Saya mohon, Tuan—aahh!" Kedua mata Indira yang berkaca-kaca itu menatap Bara dengan tatapan yang tajam. Berharap Bara akan melepaskan tubuhnya. "Hentikan apa Sayang? Kenapa kamu selalu memintaku berhenti saat aku akan menyentuhmu? Kamu itu istriku!" Kalimat Bara yang terdengar keras, tapi penuh kekecewaan, sampai membuat Indira tercengang. Indira sadar, kalau pria ini sudah kehilangan akal sehat dan menganggapnya sebagai Bella, majikannya. "Malam ini, aku tidak akan melepaskanmu." Tatapan Bara menggelap, ia gelap mata. Bara menarik Indira dengan paksa, kasar, sampai Indira jatuh ke atas ranjang empuk berukuran king size. Tempat Bara dan istrinya tidur di atas sana. Gadis itu berusaha bangkit dan kalau bisa, ia ingin pergi dari sini sekarang juga. "Tuan, saya mohon jangan lakukan ini. Saya bukan istri, Tuan. Saya bukan—" "Aaakhh!" Indira berteriak, kala Bara menarik kedua kakinya dan membuatnya kembali terbaring di atas ranjang. Tanpa sempat menghindar, Bara langsung menindih tubuh Indira. Wajah mereka berdekatan, tubuh mereka menempel dan Indira, gadis yang memakai seragam maid itu terlihat ketakutan. "Tuan, anda jangan—" Belum sempat Indira menggunakan kedua tangannya untuk memukul atau mendorong Bara. Kedua tangan Indira, sudah lebih dulu dikunci oleh satu tangan Bara di atas kepalanya sendiri. "Suaramu sangat merdu sayang. Tapi alangkah baiknya, kalau suaramu ... kamu gunakan saat mendesahkan namaku saja. Karena kita sudah lama sekali tidak melakukannya, kan?" ucap Bara seraya mengecup pipi Indira dengan napas menderu, penuh kabut gairah dari pengaruh minuman dan rasa kesepian yang selama ini ia rasakan. "Aku rindu kamu, Bella." Kedua mata Indira terbelalak, ketika majikannya itu mulai melucuti pakaiannya sendiri. Sedangkan dia, tidak berdaya dibawah kuasanya. "Tuan, tidak! Jangan! Saya hanya seorang pelayan, saya—" Hmpphh, aahh.... Bibir Indira terkunci, manakala Bara meraup bibir mungil berwarna merah milik gadis itu dengan kasar. Indira berusaha memberontak, air matanya yang tadi hanya tersimpan dibawah mata, akhirnya turun juga. Ia benar-benar tak berdaya. Tubuhnya lemas, apa lagi saat Bara melepaskan satu persatu pakaian dari tubuhnya dengan cara instan dan cepat. Yaitu dirobek secara sembarang. Hingga saat ini, Indira tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. "Tuan, jangan lakukan ini. Tuan, saya cuma pelayan." Suara Indira gemetaran, berkali-kali ia mencoba melakukan perlawanan. Tapi ia tetap kalah. Bara terlalu dominan, terlalu kuat untuk dilawannya. Bara yang sudah gelap mata, langsung menindih Indira dan semakin memperkecil ruang geraknya. Indira menggigit bibir, mencoba menahan jeritan yang hampir keluar. Bibir Indira terkunci, manakala Bara meraup kembali bibir mungil berwarna merah milik gadis itu dengan kasar. Indira berusaha memberontak, air matanya yang tadi hanya tersimpan dibawah mata, akhirnya turun juga. Ia benar-benar tak berdaya. Tubuhnya lemas, apa lagi saat lelaki itu sudah membuatnya tanpa sehelai benang. "Tuan, jangan lakukan ini. Tuan, saya cuma pelayan." Bara yang sudah gelap mata, langsung menyatukan miliknya yang sudah menegang pada milik Indira. Bibir dan tangannya juga asyik mencumbu bagian tubuh lain dari gadis itu. Tidak peduli Indira mengerang kesakitan akibat perbuatannya, Bara tetap menikmati milik Indira yang sempit dan kian menjepitnya itu. Indira tersentak kaget, manakala ia merasakan cairan hangat menyerang tubuhnya. Usai kegiatan panas itu, Indira tiba-tiba teringat kata-kata ibunya, sebelum ia pergi ke kota dan sekarang ia malah melakukan hal ini bersama majikannya. Melanggar larangan ibunya. Larangan untuk menjaga diri. Naasnya, belum dua puluh empat jam ia bekerja di sini dan sudah terjadi hal mengerikan kepadanya. Sesuatu miliknya yang berharga telah direnggut paksa. "Ibu, maafin aku. Maafin Indi yang udah ngelanggar janji. Maaf." Setelah melakukan kegiatannya, Bara langsung tertidur. Sementara Indira langsung keluar dari kamar itu dengan keadaan kacau. TBCHelena terpekik kesakitan. Rambutnya yang pendek tak cukup untuk dijadikan pegangan, namun jari-jari Eva tetap mencengkeram kuat, membuat kulit kepalanya perih. Radit dan Reina cepat bertindak. Radit menarik tangan Eva dengan lembut tapi tegas."Tante, tolong! Lepaskan dulu. Saya mengerti kemarahan Tante, tapi kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah."Reina ikut memegang bahu Eva. "Tante sudah. Biarkan dia bicara sampai selesai."Eva melepaskan pegangannya dengan kasar. Dadanya naik turun. Air matanya sudah jatuh, membasahi pipi yang mulai keriput karena usia dan duka yang tak pernah benar-benar sembuh. "Apa gunanya dia bicara sekarang? Putriku sudah meninggal! Celine tumbuh tanpa ibunya! Dan kalian..." Ia menunjuk Radit, "...kalian semua hanya diam saja bertahun-tahun!"Helena bersandar di kursinya, tangannya gemetar hebat. "Saya ... saya tidak bermaksud sampai separah itu. Saya pikir Bu Amara hanya akan marah pada Pak Radit, mungkin mereka bertengkar sebentar, lalu saya bisa ...
Indira memutuskan untuk tidak masuk kerja hari itu. Ia menghubungi kantornya dan meminta cuti mendadak. Untunglah jadwalnya tidak terlalu padat. Tidak ada agenda yang penting. Sepanjang hari, ia hanya diam di kamar. Memandangi langit-langit kamar. Mengingat-ingat di mana letak kesalahannya. Apakah ia terlalu sibuk bekerja? Apakah ia kurang perhatian pada Bara? Apakah ia seharusnya tidak bertemu Dewa sama sekali meskipun untuk alasan menyelamatkan diri? Tapi kan itu kebetulan. Dewa. Nama itu kembali menghantui. Mantan tunangannya yang dulu hampir dinikahinya sebelum akhirnya ia sadar bahwa cinta sejatinya adalah Bara. Pertemuan mereka semalam benar-benar kebetulan dan itu membuat Bara cemburu.Indira menggeleng. Ia tidak boleh paranoid. Dewa tidak mungkin terlibat dalam semua ini. Dewa sudah memiliki kehidupan sendiri. Dewa bahkan sudah menikah dan memiliki anak.Tapi benarkah?***Di rumah, Nathan dan Nala duduk di teras belakang. Mereka melihat Yuli yang sedang menyiram tanaman sam
Bara membanting pintu kamar. Suara keras itu bergema di seluruh rumah, membuat Nathan yang sedang belajar di kamarnya tersentak. Nala yang baru saja bangun dari tidur siang langsung menangis mendengar suara keras itu.Yuli, pengasuh kedua anak itu, muncul dari dapur dengan wajah kalem. Terlalu kalem. Matanya mengamati Indira yang masih berdiri di ruang tamu dengan air mata mengalir di pipi."Bu Indira... tidak apa-apa?" tanya Yuli dengan nada penuh kepedulian. Tapi ada sesuatu di balik suaranya. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang jika Indira tidak sedang terlalu hancur, mungkin akan bisa ia rasakan.Indira menggeleng pelan. "Tolong jaga Nala dan Nathan ya, Mbak Yuli. Aku mau ke kamar mandi."Ia berjalan lemas menuju kamar mandi. Di balik pintu tertutup, ia membiarkan dirinya menangis sekencang-kencangnya. Air keran ia nyalakan agar suara tangisnya tak terdengar. Tapi hatinya hancur. Benar-benar hancur.Bagaimana mungkin Bara tidak percaya padanya? Bukankah mereka sudah melewati begitu
Hari-hari berikutnya, Indira berusaha tak memikirkan semua itu. Ia tetap bekerja seperti biasa. Begitu pula Bara. Mereka tetap saling mengabari di sela-sela kesibukan masing-masing. Mereka bergantian menjemput Nathan dan Nala.Namun, ada yang berbeda. Indira merasa lebih waspada. Ia mulai memperhatikan setiap detail kecil di rumahnya. Posisi gelas yang berubah. Pintu dapur yang terkadang tidak terkunci. Aroma parfum asing yang samar-samar tercium di ruang tamu.Tapi ia tak mau terobsesi. Ia tak mau menjadi istri paranoid yang mencurigai segalanya. Ia percaya pada Bara. Ia percaya pada pernikahannya.Sampai pada suatu hari...Indira pulang kerja lebih malam dari biasanya. Proyek barunya menuntut lembur. Langit sudah benar-benar gelap saat ia berjalan menuju tempat parkir. Hanya beberapa mobil yang tersisa di area parkir gedungnya."Sebentar lagi sampai rumah, Nala, Nathan," gumamnya sambil membuka kunci mobil.Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka pintu mobil, tiga orang pria muncul d
Malam semakin larut, namun kantuk tak juga menghampiri Dewa. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara pikirannya berisik oleh bayangan yang tak ia undang. Wajah Safira muncul berulang kali ,bukan sebagai wanita yang ia cintai dulu, melainkan sebagai sosok asing yang
Bara tidak langsung memercayai ucapan mamanya. Ia masih terdiam dan menatap Mayang dengan tajam."Mama nggak bohong Bara. Itu rencana Bella aja. Mama nggak ikut-ikutan. Mama nggak setega itu membunuh adik-adik Indira. Mama masih punya hati," ucap Mayang dengan berlinang air mata. Bibirnya gemetaran
Tiga orang pria berseragam cokelat itu melangkah masuk dengan sikap profesional namun tegas. Ruangan rumah sakit yang semula sunyi mendadak terasa sempit bagi Mayang. Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya berdenging.“Ada apa ini?” suaranya bergetar, berusaha terdengar berwibawa meski
Sore itu, Indira dan Tuti duduk di sofa teras belakang rumah Indira sambil ditemani dua cangkir teh dan camilan ringan yang disediakan oleh Bik Rumi. Indira menceritakan apa yang terjadi padanya enam tahun lalu, apa yang ia lakukan dan di mana ia berada selama ini. Tuti menangis sedih, mendengar k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás