Home / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 23. Rumah Sakit (Obgyn)

Share

Bab 23. Rumah Sakit (Obgyn)

Author: Davian
last update Last Updated: 2025-10-12 23:12:27

"Saya tidak mengerti, apa maksud Tuan?" ucapnya dengan suara gemetar, karena air matanya jatuh.

Tanpa bicara apa-apa, bibir Bara langsung melumat bibir Indira dengan pagutan yang kasar. Ia membawa Indira ke atas ranjang di sana, yang ukurannya jauh lebih kecil dari ranjang di kamar Bara.

Indira kelabakan dalam mengimbangi ciuman Bara yang memabukkan. Kepalanya seakan dibuat melayang dan sentuhan lelaki itu membuat ia tidak berdaya di atas ranjang.

"Eunggh—"

"Buka bajumu, Indira dan naik ke atasku. Malam ini kamu harus melayaniku!" ujar Bara tegas, setelah ia melepas pagutan mereka berdua yang panas. Indira yang masih amatir, tidak bisa seperti yang diharapkan Bara. Akan tetapi, Bara selalu puas bercinta dengannya.

Malam itu terasa panjang. Udara di kamar Indira begitu dingin, tapi tubuhnya terasa panas oleh rasa sakit dan perih yang belum juga reda. Bibirnya pecah, kulitnya memar, dan air matanya mengalir tanpa suara. Ia menatap langit-langit kamarnya, berharap ada keajaiban yang mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Davian
Berikan dukungan komen dan gems agar author semangat update:)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 110. Kemarahan Bara

    Bara dan Dewa saling menatap tajam. Udara di antara mereka seolah menegang, penuh tekanan yang siap meledak kapan saja. Rahang Dewa mengeras, napasnya sedikit memburu, sementara Bara tampak seperti singa yang wilayahnya diganggu, penuh amarah dan posesif tanpa kendali. Seolah Indira adalah miliknya. “Apa katamu?” suara Dewa rendah, namun sarat peringatan. “Jangan pernah bilang Indira milik siapa pun.”Bara tertawa pendek, sinis. “Kamu pikir dengan sedikit perhatian dan drama sakit-sakitan, kamu bisa merebutnya dari saya? Dia mencintai saya!" katanya dengan percaya diri yang tinggi.Indira tercekat mendengar betapa percaya dirinya Bara. Dewa maju satu langkah. “Saya nggak merebut siapa pun dan Indira bukan barang. Dia yang memilih saya!" “Cukup!” Indira akhirnya berteriak. Suaranya bergetar, namun keras. Tangannya terangkat, seolah menjadi pembatas di antara dua pria itu. “Aku capek. Aku benar-benar capek dengan ini semua! Terutama kamu

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 109. Memaksa!

    "Om mau jemput Mama? Kenapa Om?" tanya Nala dengan wajah polosnya yang menggemaskan itu.Bara terdiam sejenak, sebelum ia menjawab. "Em, pengen aja. Sekalian Om ada urusan sama Mama kalian.""Tapi pasti Mama lagi sama Papih. Mending gak usah dijemput, Om. Mama pasti baik-baik aja, nanti juga pulang," celetuk Nathan dengan santainya. Seolah-olah Indira memang aman bersama dengan 'papihnya' itu.Entah kenapa Bara tak senang mendengarnya. Anak sulungnya ini, dari tadi terdengar memuji-muji Dewa dihadapannya. Papih yang sangat disayanginya."Kamu sesuka itu sama Dewa?" tanya Bara dengan tatapan datarnya."Suka. Papih baik sama Mama, sama aku dan Nala. Sama semua orang. Waktu kami sakit, Papih jagain kami," jawab Nathan jelas dengan santai. Tanpa memikirkan kalau ada hati yang membara, terbakar oleh rasa cemburu saat mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Bara."Mulai sekarang, Om juga akan jaga kalian. Lebih baik dari si Dewa itu," cetus Bara yang tak mau kalah.Nathan hanya tersenyum tipis

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Tidak Akan Menyerah

    Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya.“Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?”Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Serius, Mas.”Reina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya!” Ia hampir meloncat kegirangan sebelum memeluk Indira erat. “Aku nggak salah kan bilang ke Kak Dewa, Kak Dira itu cuma nunggu waktu dan keyakinan buat perasaannya."Dewa tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Kalau begitu…” Ia menarik napas dalam, menatap Indira penuh makna. “Aku akan melamar kamu lagi. Dengan cara yang nggak akan pernah kamu bayangkan.”Indira terkesiap kecil, pipinya merona. “Mas…”Reina langsung bersorak pelan. “Fix! Aku siap jadi tim sukses lamaran Kak Dewa!” katanya riang, lalu buru-buru pamit keluar kamar. “Aku ke dapur dulu, pura-pura nggak dengar apa-apa. Kalian romantis rom

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Secepatnya

    Senyum Indira memudar, kala ia melihat wanita yang membukakan pintu rumah Dewa untuknya. Kedua matanya melebar melihat wanita itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum. Menatap wanita cantik itu dengan lekat."Oh my god! Kak Dira! Ini beneran kakak?"Wanita cantik itu memeluk Indira, layaknya seorang adik memeluk kakaknya. Ia terlihat senang melihat Indira."I miss you so much Kak," kata wanita itu dengan senyuman di bibirnya."Kakak juga kangen sama kamu Rei. Udah lama ya kita nggak ketemu? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu udah ada di Indonesia, hem? Apa kamu menetap di sini sekarang?" tanya Indira lembut. Ia juga merasakan kerinduan yang sama pada Reina, adik dari Dewa.Ia dan Reina juga cukup dekat, selama dua tahun, Reina dan Indira pernah hidup satu rumah. Reina yang membantunya mengurus si kembar, sebelum Reina pergi ke New York untuk menggapai cita-citanya menjadi chef terkenal.Reina sudah seperti adik sendiri."Iya Kak. Aku udah sebulan lalu di sini dan aku akan m

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 106. Masa Lalu

    Pintu terbuka perlahan.Seorang wanita melangkah masuk. Wajahnya lebih kurus dari yang Dewa ingat, tapi matanya, mata itu masih sama. Menatapnya dengan tatapan yang sendu dan penuh perasaan.“Dewa,” ucap Safira pelan.Dewa menatapnya lama, dadanya sesak. Tak bisa dipungkiri kalau jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok bernama Safira itu. Wanita cantik berkulit putih dengan tinggi semampai, bak model papan atas. “Kenapa sekarang?” tanyanya lirih. “Setelah semua yang terjadi. Ada apa kamu menemui saya?" tanya Dewa dingin.Safira menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mengepal disamping tubuh mencengkram sisi dress berwarna merah yang dikenakannya. Memperlihatkan kegugupannya."Kalau kamu diam saja, silahkan pergi—"Belum sempat Dewa melanjutkan ucapannya, wanita itu sudah lebih dulu memeluknya dan membuat Dewa tersentak kaget. "Kamu apa-apaan? Kamu—"Saat Dewa akan melepaskan pelukan Safira, wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Safira!" bentak Dewa."Maafin aku D

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 105. Video Call

    Mayang terdiam lama setelah pengakuan itu meluncur dari bibir Bara. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira semua yang Bara lakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada anak-anak. Tapi cinta? Itu di luar perhitungannya.“Bara…” lirih Mayang, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?”Bara mengangguk tanpa ragu. “Yakin, Ma. Dari dulu mungkin aku sudah peduli, cuma tertutup ego dan kesalahpahaman. Sekarang aku nggak mau lari lagi.”Mayang memalingkan wajah ke jendela mobil. Lampu jalanan malam berkelebat cepat, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu, melawan Bara sekarang hanya akan membuat putranya semakin menjauh. Dalam hati, ia memaki Indira habis-habisan. Wanita itu, bagaimanapun caranya, tidak boleh menjadi istri Bara.Tenang, Mayang. Kamu masih punya banyak cara, batinnya dingin.***Di tempat lain, malam terasa lebih sunyi bagi Indira. Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia akhirnya merebah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status