Home / Romansa / Desember Ke-30 / Menulis Kenangan

Share

Menulis Kenangan

Author: Aeza
last update publish date: 2021-11-07 12:31:09

“Tidak mungkin tidak ada apa-apa kalau seperti ini,” keluhku di depan Laptop.

Meskipun Aroon tidak mengatakan tidak ada apa-apa, kurasa dia tetap tersinggung dengan pemberianku. Hampir dua minggu kami tidak bertemu, aku kembali mengalami insomnia.

Seperti malam ini, mataku kembali sudah diajak beristirahat, jadi aku memutuskan untuk menambah beberapa bab untuk novel terbaruku.

Aroon mengatakan kalau dia ada jadwal menemani wisatawan asing ke beberapa tempat wi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Desember Ke-30   Wajah dari Masa Lalu

    "Kana?"Langkah kakiku terhenti seketika di trotoar Malioboro yang dipadati lampu-lampu kuning temaram. Suara itu begitu akrab, namun rasanya mustahil terdengar di jantung kota Yogyakarta. Aku membalikkan badan dengan cepat, mengerjap pelan untuk memastikan bahwa bayangan di depanku bukanlah halusinasi akibat kelelahan pasca-acara bedah buku.Seorang pria jangkung dengan jaket denim belel berdiri beberapa langkah dariku. Rambutnya sedikit lebih pendek dibanding terakhir kali aku melihatnya, tetapi senyum simpul di bibirnya tidak pernah berubah."Julian?" kataku tertahan, nyaris berbisik. Tenggorokanku mendadak terasa kering. "Kamu... sedang apa di sini?"Julian melangkah mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya menatapku lekat-lekat, memindai setiap inci perubahan pada penampilanku. "Pertanyaan yang sama harusnya aku tujukan buat kamu, Kana. Penulis best-seller Indonesia yan

  • Desember Ke-30   Panggung Bernama Kana

    "Kana, antusiasme penonton di luar sana luar biasa banget. Kursi auditorium yang kapasitasnya ratusan itu sudah terisi penuh sejak setengah jam yang lalu, bahkan banyak yang berdiri di bagian belakang!" bisik Mbak Rini, editor dari penerbit, dengan napas sedikit terengah-engah saat ia mendorong pintu ruang tunggu panitia di lantai dua gedung pusat kebudayaan Yogyakarta itu.Aku mendongak dari meja rias kecil, merapikan letak syal rajut tipis yang melingkar di leherku, lalu tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan di dadaku. "Serius, Mbak? Aku pikir karena hari kerja, peminatnya bakal agak sepi seperti diskusi-diskusi buku pada umumnya.""Mana ada sepi? Novel kamu itu sedang jadi bahan perbincangan hangat di media sosial, terutama karena pembaca merasa relate banget sama cara kamu menggambarkan proses penyembuhan luka batin dan fisik," balas Mbak Rini sambil menepuk pundakku pelan, memberikan suntikan keberanian yang sangat kubutuhkan saat

  • Desember Ke-30   Perjalanan ke Yogyakarta

    "Kana, kalau kepalamu mulai pusing selama acara di Jogja nanti, jangan sok kuat ya. Langsung cari kursi, minum air putih, dan abaikan saja kalau ada pembaca yang masih mau minta tanda tangan," pesan Kak Dinah lewat sambungan telepon, nadanya terdengar seperti seorang ibu yang melepas anaknya tamasya sendirian untuk pertama kalinya.Aku terkekeh kecil sambil menarik kopor kecil berwarna hitam dari atas tempat tidur, memastikannya tertutup rapat sebelum menyeretnya perlahan menuju pintu kamar. "Iya, Kak Dinah sayang. Aku bukan anak kecil lagi. Ini perjalanan bisnis pertamaku setelah operasi, bukan mau mendaki gunung Semeru.""Justru karena ini perjalanan pertamaku setelah kamu operasi kepala, aku jadi waswas!" balas Kak Dinah tidak mau kalah. "Ingat pesanku, obat merah, vitamin, sama surat kontrol dari Dokter Acha jangan sampai lupa taruh di tas kabin. Awas kalau ketinggalan!""Sudah beres semua di dalam tas selempang. Ten

  • Desember Ke-30   Undangan Diskusi Buku

    "Cuma dilihat doang? Nggak mau bikin perayaan kecil gitu di Semarang, atau minimal traktir Kakak makan kepiting saus Padang waktu Kakak cuti nanti?" desak Kak Dinah di ujung telepon, nada suaranya penuh tuntutan manja yang sudah sangat kuhafal di luar kepala.Aku terkekeh pelan sambil menarik kursi kayu di dekat jendela ruang tamu, membiarkan cahaya matahari sore menyinari sampul novel terbaruku yang berkilat lembut. "Iya, nanti kalau Kakak cuti ke Semarang, aku traktir kepiting paling mahal sekota. Puas?""Nah, gitu dong! Jangan kerja mulu kayak kuda delman. Oh ya, omong-omong soal promosi buku, pihak penerbit tadi sempat nge-chat aku nanyain jadwal kamu. Katanya mereka mau ngajuin kamu buat roadshow tipis-tipis. Mau ambil nggak?" suara Kak Dinah berubah serius, menyiratkan rasa penasaran yang dibalut kekhawatiran seorang kakak.Aku terdiam sejenak, jemariku mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca. Pikiranku langsung melaya

  • Desember Ke-30   Terbitnya Buku Baru

    "Tuh kan, apa kubilang! Novel kamu masuk jajaran bestseller gramedia dalam waktu kurang dari seminggu, Kana!" teriak Kak Dinah dari ujung sambungan telepon, suaranya nyaris memekakkan telinga ponselku saking antusiasnya.Aku mengerjapkan mata, menatap tumpukan kardus berisi eksemplar cetakan pertama novel terbaruku yang baru saja diantar oleh kurir ekspedisi ke ruang tamu rumahku di Semarang. Jemariku meraba sampul buku bertekstur matte dengan ilustrasi siluet seorang perempuan menatap jendela kereta. Judulnya terpampang elegan dalam balutan huruf emas: Titik Temu yang Tertunda."Iya, Kak. Aku sudah lihat laporan dari pihak penerbit tadi pagi lewat email," jawabku tenang, berusaha meredam debar jantung yang mendadak bergemuruh bukan karena cemas, melainkan karena rasa lega yang teramat sangat. Perjuangan berbulan-bulan di atas meja operasi dan malam-malam panjang menatap layar kosong akhirnya terbayar lunas."Cuma diliha

  • Desember Ke-30   Keputusan untuk Melangkah

    "Kana, saya serius." Suara Dokter Acha memotong cepat, nadanya mengeras di ruang periksa yang berbau antiseptik. "Operasi otak bukanlah prosedur cabut gigi. Jaringan di kepala Anda baru saja pulih dari trauma besar. Kalau Anda terus memaksa memori yang hilang itu kembali dengan cara merusak pola istirahat, yang hancur bukan cuma naskah novelmu, tapi kewarasanmu sendiri."Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Aku tidak sedang merusak diri sendiri, Dok. Aku hanya... mencoba mencari bagian dari diriku yang tertinggal.""Bagian yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan?" Dokter Acha menatapku tajam, melemparkan pertanyaan telak yang langsung menghantam ulu hatiku. Ia melipat berkas rekam medis di depannya dengan suara deheman keras. "Dengar, Kana. Otak manusia punya mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Kalau ada memori atau nama yang terasa kabur, itu artinya tubuhmu sendiri yang menolak untuk mengin

  • Desember Ke-30   Kepura-puraan Aroon

    “Matamu jeli sekali, Kana. Bagaimana kamu menyadari wajah tokoh sejarah tersebut, menurutku fotonya tidak banyak.”Setelah situasi kikuk tadi pagi, aku dan Aroon kembali berinteraksi seperti biasa. Seolah pelukan kami tadi hanya sesuatu yang lewat saja.“Entahlah, ak

  • Desember Ke-30   Mantra Sederhana dari Aroon

    “Apa ini cukup?” tanya Aroon yang duduk di sampingku.Aku mengangguk cepat dengan wajah senang yang tidak bisa kusembunyikan. Tangan Aroon menggenggam tangangku hangat. Pesawat yang kami tumpangi baru saja lepas landas.Aku memang perlu tangan Aroon agar bisa terlelap deng

  • Desember Ke-30   Bunga Tidur

    Stasiun Kereta Hua Lamphong penuh, gerbong kereta yang akan membawaku ke Chiang Mai sudah terparkir, beberapa menit lagi akan bergerak meninggalkan Bangkok. Setelah proses penukaran dan pemeriksaan tiket selesai, aku mengambil langkah untuk segera meletakkan barangku yang lumayan banyak karena su

  • Desember Ke-30   Rahasia

    Coksa menjemputku di hotel dan kami berangkat bersama ke Gare du Nord. Dua jam kemudian aku dan Coksa sampai di Brussels.Kota Brussels menawarkan pemandangan yang tidak kalah cantik dari kota-kota lain di Eropa. Misteriusnya gaya gotik berpadu dengan detail keagungan suatu bangunan dari ci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status