LOGIN"Jadilah egois sesekali, Kana. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan selagi itu memungkinkan. Aku akan selalu mendukungmu.” Kana memiliki orang-orang yang mendukungnya untuk sembuh, tetapi api semangat dalam diri Kana makin meredup. Pada batas akhir kemampuan Kana melawan penyakit dalam otaknya, Kana hanya berharap memiliki kesempatan bertemu dengan Desember ketiga puluhnya.
View More"Aroon," bisikku pelan, menyebut nama itu tanpa ada rasa sakit yang menyayat atau rasa rindu yang membakar dada seperti beberapa bulan lalu.Ponsel di tanganku bergetar sekali lagi, memaksa jariku yang sempat membeku untuk bergerak membuka aplikasi pesan singkat. Di dalam layar yang berpendar terang, sebuah foto berukuran sedang terkirim langsung dari Chiang Mai, menampilkan secangkir teh panas dengan kepulan uap tipis di atas meja kayu tempat kami pernah duduk berdampingan, disusul oleh sebuah teks singkat yang diketik rapi.“Teh sore ini rasanya agak hambar karena diminum sendirian, Kana. Tapi buku memoarmu berhasil membuatku tersenyum bangga di kedai ini. Selamat atas terbitnya babak baru dalam hidupmu.”Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik, merasakan kehangatan yang menjalar di dada, bukan lagi karena sisa-sisa asmara masa lalu, melainkan karena sebuah pengakuan bahwa kami berdua telah berhasil b
"Dunia terus berputar dengan indahnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar menjadi bagian darinya tanpa ada rasa tertinggal," bisikku pelan pada diri sendiri sambil menyesap kopi hitam yang mulai mendingin di tangan kananku.Angin sore berembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambutku ke depan wajah. Aku merapikannya dengan punggung tangan, lalu merogoh saku mantel untuk mengambil ponsel pintar yang sejak tadi bergetar pelan di dalam sana. Sebuah notifikasi layar kunci menyala terang di tengah redupnya cahaya senja taman kota.Nama yang tertera di sana membuat jantungku sempat berdetak satu ketukan lebih cepat, sekadar refleks dari masa lalu yang belum sepenuhnya menguap dari memori.Aroon.Hanya satu kata itu, tetapi cukup untuk membuat duniaku mendadak berhenti berputar selama beberapa detik. Jariku ragu-ragu di atas layar kaca yang licin. Napas tertahan di ten
"Hasil evaluasi terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa, Kana. Tidak ada lagi sisa inflamasi, jaringan parut di area pembedahan merespons dengan sangat baik, dan dari segi memori jangka pendek, grafik pemulihanmu sudah mencapai titik stabil seratus persen," ucap Dokter Acha mantap sambil menutup map rekam medis berwarna biru di atas meja praktiknya, lalu tersenyum lebar menatapku.Aku menghela napas panjang, merasakan beban tak kasat mata yang selama berbulan-bulan bersemayam di pundakku seketika menguap begitu saja ke udara. "Jadi, artinya saya benar-benar bebas sekarang, Dok? Tidak perlu lagi minum obat penenang atau datang ke sini setiap dua minggu sekali?""Secara medis, kamu sudah resmi dinyatakan bebas tugas dari pengawasan ketatku," jawab Dokter Acha tertawa kecil, melepas stetoskopnya dan menggantungkannya di kursi. "Tetapi ingat, bebas bukan berarti boleh begadang menulis sampai subuh setiap hari. Pola tidur tetap h
"Baiklah, Kak, aku mengaku salah. Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung datang ke klinik Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan terakhir sesuai jadwal," kataku cepat, mencoba meredam omelan panjang Kak Dinah yang sudah siap melebar ke mana-mana."Bukan cuma besok pagi, Kana. Kirimkan pesan padaku begitu kamu keluar dari ruangan dokter, atau aku akan menelepon Bang Ridwan untuk terbang langsung ke Semarang sekarang juga!" ancam Kak Dinah setengah bercanda, meskipun sorot matanya menunjukkan keseriusan mutlak."Iya, bosku yang paling cerewet. Aku pasti kabari. Titip cium untuk keponakan-keponakanku di sana ya," balasku sebelum akhirnya melambaikan tangan dan mengakhiri sambungan video call tersebut.Keesokan paginya, suasana di klinik Dokter Acha terasa jauh lebih tenang dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Tidak ada lagi debar jantung yang mencemaskan atau ketakutan setengah mati menghadapi pisau bedah. Langka
Vancouver adalah kota yang bisa memberikanku dua pemandangan sekaligus, laut dan pegunungan. Aku sangat suka laut, mungkin karena aku tinggal di daerah pesisir, laut selalu membuatku rindu. Saat menyapa laut, aku bisa berubah menjadi anak kecil yang kegirangan mengejar dan berlari bersama ombak y
Aku melirik penunjuk waktu pada ponsel, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bang Nanda minta ditemani minum kopi sekitar jam setengah sepuluh malam, setelah dia selesai kerja. Aku segera mengirim pesan padanya kalau aku sudah tiba di kafe tempat kami janjian.Beberapa menit kemudia
Aku bertemu dengan Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan ulang di Semarang. Sesuai saran Dokter Tanto, aku bisa memercayakan proses pengobatanku pada dokter cantik di depanku ini.“Diameternya masih tidak terlalu besar, tapi dari letaknya bisa saja mengganggu fungsi kelenjar pineal
Tidak ke Yogyakarta namanya kalau tidak menelusuri jalanan Malioboro. Bang Ridwan membawa kami ke jantung Kota Yogyakarta itu untuk menikmati makan malam di warung lesehan, mencicipi gudeg yang kata Kak Puspa bikin kangen. Makin malam, jalan makin ramai, karena jalan makin penuh dengan pengunjung












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews