เข้าสู่ระบบAncaman pembunuhan dari sahabatnya membuat Amaya terpaksa memilih jatuh pada pelukan si pria pemaksa yang dingin. Dialah Brian Aksara, pria berwajah tampan dengan senyum mahal. Pria dewasa yang nir empati. Dia tidak segan menyakiti dengan kebenaran versinya. Pria itu penyebab dirinya dalam masalah sekaligus menariknya dari sang sahabat yang berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana awal kisah rumit itu dimulai?
ดูเพิ่มเติม“Betul, Bos,” jawab Fandi tenang. “Setelah apa yang terjadi di dermaga semalam, dia tidak punya posisi tawar lagi. Dengan pembagian ini, operasional dan kendali penuh pelabuhan resmi berada di bawah bendera Aksara Group.” Brian menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Senyum seorang pemenang yang baru saja menelan mangsanya bulat-bulat. “Dia juga tidak akan berani melanggar satu poin pun dalam perjanjian ini, Bos. Saya sudah menyisipkan klausul khusus; sekali saja dia bermain di belakang atau mencoba melakukan kontak dengan pihak luar tanpa izin, seluruh aset dan harta pribadi keluarga Sidarta akan langsung diakuisisi oleh Aksara Group tanpa proses pengadilan yang berbelit-belit. Kita sudah mengunci lubang napas mereka,” jelas Fandi mendetail. Brian mengangguk puas, jemarinya mengetuk meja kayu mahoni itu dengan ritme yang teratur. “Bagus. Aku ingin Sidarta tahu bahwa setiap napas yang dia ambil sekarang adalah atas izin dariku. Jangan biarkan dia merasa tenang sedikit pun.” P
Sesilia seperti tersambar petir dengan kata-kata Bobi itu. Pria yang membuatnya luluh dengan kelembutan dan cinta tulus yang ia rasakan seakan terganti dengan pria jahat, kasar dan satu lagi Sesilia tahu, yaitu bodoh. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya ada detak jam dinding yang terdengar seperti lonceng kematian. Keheningan itu bagi Bobi adalah sebuah pengakuan yang paling menyakitkan. "Jawab aku! Kamu seorang dokter, Ses! Sumpahmu adalah menyelamatkan nyawa, tapi kamu justru membuang darah dagingmu sendiri demi status?!" suara Bobi meledak, menggetarkan kaca-kaca jendela apartemen. Sesilia menatap Bobi dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka, kekecewaan, dan kehampaan di sana. Ia menghapus air matanya dengan gerakan perlahan, seolah semua teriakan Bobi barusan hanyalah angin lalu. "Lusa kita akan menikah, tapi ternyata kamu belum memahami aku keseluruhan ya, Bob?" ucap Sesilia dengan suara yang sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat Bobi merasa semakin kec
Malam semakin larut, Bobbi pulang dengan langkah gontai. Bukan karena mabuk, namun kelelahannya sangat begitu diambang batas kemampuannya. Sebenarnya, dia dalam masa cuti. Namun, karena situasi sang bos dalam ancaman besar maka ia mengerahkan timnya yang tergabung sebagian masih aktif menjadi aparat, sebagian lagi orang-orang yang bekerja di bawah permukaan. Biasa melakukan pekerjaan yang berat.“Siap!” umpatnya saat kakinya tersandung lantai yang lebih tinggi di lobby.“Malam, Pak,” sapa petugas keamanan yang sudah mengenalnya dengan baik. Bobi memaksa senyum beratnya untuk membalas sapaan itu. Jika bebannya terlihat, mungkin ia akan menendangnya segera agar terbebas segera.Ting Saat ia akan memasuki lift, seorang wanita berpakaian minim tersenyum menggodanya. Namun, di belakangnya seorang pria justru mengumpatnya.“Dia istri saya, jangan coba-coba!” maki pria itu. “Jika kamu masih ingin melihat matahari besok, pergi sekarang! Atau aku
“Bobi, segera kluar. Bawa ponsel Amaya. Pengganti bawa ke sana. Sudah aman. Ada beberapa petugas polisi yang berjaga malam ini di rumah, jadi kamu juga bawa tim yang sudah kamu siapkan untuk hal ini. Kali ini, pria picik itu tidak akan bisa bernafas dengan tenang!” ujar Brian merujuk pada Gevani. Brian menutup pintu usai Bobi segera turun dan melaksanakan instruksi Brian tentu bersama Fandi. Brian masuk kamar yang lebih dulu Amaya masuk sebelumnya. Brian dengan rahang yang masih mengeras. Aura predator yang tadi menyelimuti tempat di sekitarnya perlahan memudar saat ia berbalik menatap Amaya yang masih mematung di ambang pintu. Brian melangkah mendekat, sepasang matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi kegelisahan istrinya. Tanpa sepatah kata pun, Brian menarik Amaya ke dalam dekapan yang sangat posesif. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Amaya, menghirup aroma vanila dan dalam keadaan yang selalu menjadi candu baginya. "Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi apapun
Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan
“Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu
Amran berdiri mematung di tengah keheningan ruang perawatan yang kaku. Tatapannya lurus, menghujam langsung ke dalam manik mata Brian Aksara dengan sorot yang menuntut kejujuran tanpa celah. Sebagai kakak sepersusuan yang tumbuh besar bersama Amaya, ia merasakan tanggung jawab yang berat di pundakny
Di dalam mobil, Brian tak henti-hentinya mendekap tubuh Amaya yang semakin dingin. Kemeja putihnya yang basah kini terasa seperti es, namun ia tak peduli. Tangannya terus menggosok lengan Amaya, mencoba menciptakan friksi agar suhu tubuh istrinya tidak semakin anjlok. "Sedikit lagi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น