로그인Ancaman pembunuhan dari sahabatnya membuat Amaya terpaksa memilih jatuh pada pelukan si pria pemaksa yang dingin. Dialah Brian Aksara, pria berwajah tampan dengan senyum mahal. Pria dewasa yang nir empati. Dia tidak segan menyakiti dengan kebenaran versinya. Pria itu penyebab dirinya dalam masalah sekaligus menariknya dari sang sahabat yang berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana awal kisah rumit itu dimulai?
더 보기Suara itu memecah kesunyian ruangan seperti petir yang jatuh tanpa peringatan. Tubuhku tersentak di kursi dingin, nafasku tercekat dan dadaku terasa sesak sekali. Pergelangan tanganku terikat kuat hingga kulitku perih dan berdenyut. Lampu di ruangan ini temaram membuat bayangan di dinding bergerak seolah hidup. Aku mencium aroma logam dan dingin yang membuat perutku mual. Pria di hadapanku berdiri terlalu dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya.
“KATAKAN!” perintahnya. Aku menelan ludah dengan susah payah, lidahku terasa kelu dan kaku. Jantungku berdetak terlalu kencang sampai telingaku berdengung. Mataku perlahan naik menatap wajah pria itu yang keras dan tak berperasaan. Iris matanya berwarna madu, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ku akui, fitur wajahnya memang salah satu deretan pria tampan yang pernah aku temui. Sepertinya, pria ini tidak terbiasa ditolak. “Aku tidak tahu apa apa,” jawabku pelan. Dia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menenangkan. Rahangnya mengeras, menandakan kesabarannya menipis. Tangannya terlipat di dada, memperlihatkan tubuh tinggi dan kokoh yang membuatku semakin terintimidasi. Ruangan ini terasa semakin sempit karena keberadaannya. Aku ingin menarik tubuhku menjauh, tapi kursi ini menahanku. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. “Kamu yakin dengan jawabanmu?” tanyanya. Aku mengangguk kecil, meski ketakutan membuat kepalaku berdenyut. Sejak pagi hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan. Aku hanya pergi ke kampus dengan niat mengikuti kelas seperti biasa. Lalu tangan asing menarikku, mulutku dibekap, dan dunia menjadi gelap. Kini aku terikat di sini, di depan pria entah berantah dari mana. Bahkan, ia tahu namaku. Dia beberapa kali memanggilku seolah kita telah bertemu di hari yang telah lalu. Tidak ada satupun yang terasa nyata. Namun, kebenarannya aku di sini sedang bertaruh pada ujung nyawaku. “Aku sungguh tidak tahu,” ulangku. Pria itu mendengus pelan dan meraih ponsel dari saku celananya. Jarinya bergerak cepat di layar sebelum mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Cahaya layar menyilaukan mataku yang masih basah oleh air mata. Detik berikutnya, sebuah video mulai diputar. Aku langsung mengenali tempat itu bahkan sebelum suara muncul. Nafasku terhenti seketika. “Itu panti asuhan,” bisikku panik. Di layar, adik-adikku di panti sedang duduk di ruang tamu sambil belajar. Ibu Rahmi, ibu panti berdiri di dekat pintu dengan wajah lelah namun lembut. Wajah yang selama hidupku memberikan kasih dan sayang tulus. Kamera kemudian bergeser memperlihatkan seorang pria bersenjata berdiri tak jauh dari mereka. Dunia seakan runtuh tepat di atas kepalaku. Tangan terikat ku bergetar hebat. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. “Kamu kenal mereka, bukan?” katanya datar. Tentu, mereka keluargaku. Rumah tempatku dibesarkan. Bagaimana aku tidak mengenalnya. “Aku mohon,” suaraku pecah. “Jangan lakukan apapun pada mereka.” Pria itu menurunkan ponselnya perlahan dan menatapku dengan ekspresi dingin. Tidak ada rasa kasihan di sana, hanya kontrol penuh atas situasi. Aku menyadari satu hal, betapa kecil dan tidak berdayanya diriku saat ini. Nafasku seakan sulit untuk berhembus, dadaku terasa sesak seperti diremas. Mereka adalah keluargaku satu satunya di dunia ini. Jika mereka disakiti, aku tidak tahu bagaimana harus hidup. “Satu perintah dariku,” ucapnya tenang, “semuanya berakhir.” Aku menggeleng keras, air mata membasahi pipiku. Ketakutan menguasai seluruh tubuhku sampai aku gemetar. Aku ingin berteriak, tapi suaraku nyaris tidak keluar. Semua keberanian yang kupunya runtuh seketika. Aku tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupku. “Jangan,” pintaku. “Tolong jangan.” Dia melangkah lebih dekat hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dariku. Aku bisa melihat garis halus di sekitar matanya dan ketegangan di rahangnya. Tangannya bertumpu di sandaran kursiku, menjebakku tanpa jalan keluar. Suaranya merendah, namun justru setingkat terasa lebih menakutkan. Aku terperangkap sepenuhnya. “Kalau begitu,” bisiknya, “katakan yang aku mau.” Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Nama itu terngiang di kepalaku, membawa serta semua masalah yang menjeratku. Aku tidak pernah menyangka persahabatan bisa menyeretku sejauh ini. Lidahku terasa berat untuk bergerak. Tapi aku tahu, diam bukan lagi pilihan. “Apa yang kamu sembunyikan tentang sahabatmu, Bela?” tanyanya. Aku membuka mata dan menatapnya dengan putus asa nafasku keluar terbata. Aku ingin melindungi sahabatku, akan tetapi tidak dengan mengorbankan keluargaku. Pilihan itu terlalu kejam untuk diberikan padaku. Dadaku terasa sakit menahan konflik yang menghancurkan. Aku tahu, setelah ini tidak akan ada jalan kembali. “Panggil aku Brian,” katanya tiba tiba. “Bukan tuan.” Sebelumnya, aku memanggilnya dengan sebutan itu. Tentu, dia terlihat bukan seperti teman sebayaku. Tidak sama sekali. Bahkan, sepertinya dia lebih cocok dipanggil om. “Baik,” jawabku lirih. “Brian.” Dia mengangguk pelan, matanya mengawasi setiap reaksiku. Tekanan di ruangan ini semakin mencekik. Aku merasa seperti berada di ujung jurang tanpa pegangan. Kata kata berikutnya terasa seperti mengiris tenggorokanku sendiri. Namun, aku tidak punya pilihan lain lagi. “Sekarang bicara!” perintahnya. “Bela tidak hamil,” ucapku akhirnya. Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Brian menatapku tanpa berkedip, seolah menimbang kebenaran ucapanku. Jantungku berdetak liar menunggu reaksinya. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya. Setiap detik terasa sungguh menyiksa dengan kejam. Aku sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. “Kamu yakin?” tanyanya dingin. “Aku yakin,” jawabku. “Aku yang mengedit hasil medisnya.” Brian tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapannya tidak lagi sekadar marah, melainkan tertarik dengan cara yang menakutkan. Aku menyesal telah membuka rahasia itu, tapi semuanya sudah terlambat. Aku bisa merasakan hidupku berubah arah dalam sekejap. Pria ini tidak akan melepaskanku begitu saja. Dan firasatku mengatakan, ini baru permulaan. Kata katanya masih menggema di kepalaku saat aku didorong berdiri dari kursi. Kakiku terasa lemas hingga aku hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh tangan kasar di lenganku. Pergelangan tanganku masih terikat, membuat setiap gerakan terasa menyakitkan. Ruangan ini tidak lagi terasa seperti tempat interogasi, melainkan penjara. Aku menatap Brian dengan dada berdebar, mencoba mencari celah dari sikap tenangnya. Namun wajah itu tetap datar, seolah semua yang terjadi bukan apa apa baginya. “Apa yang akan kamu lakukan padaku sekarang?” tanyaku dengan suara bergetar. Brian menatapku singkat sebelum mengalihkan pandangan ke ponselnya. Jarinya bergerak cepat, lalu ia menempelkan benda itu ke telinganya. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang sedang mengendalikan hidup orang lain. Aku berdiri terpaku, menunggu dengan perasaan tidak menentu. Setiap detik berlalu terasa seperti hukuman yang diperpanjang. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ketakutan atau ketidakpastian ini. “Batalkan semuanya,” ucap Brian singkat ke arah ponsel. Ia memutus sambungan dan kembali menatapku. Tatapannya kini sulit kuterjemahkan, tidak sepenuhnya dingin namun juga tidak hangat. Aku mencoba membaca maksud di balik sorot matanya, tapi gagal. Pria ini seperti dinding tertutup yang tidak bisa kutembus. Aku menahan napas, menunggu kalimat berikutnya. Jantungku berdetak semakin cepat. “Mereka aman,” katanya akhirnya. “Apa?” aku tersentak. “Ibu panti dan adikku di panti itu?” Brian mengangguk pelan. Untuk sesaat, beban berat di dadaku sedikit terangkat. Nafasku terlepas begitu saja, diikuti air mata yang mengalir tanpa bisa kutahan. Lututku hampir menyerah, membuat tubuhku limbung. Rasa lega itu begitu kuat sampai membuatku hampir lupa pada keadaanku sendiri. Namun kesadaran itu kembali menghantamku dengan cepat. “Terima kasih,” ucapku lirih. “Tapi jangan salah paham,” lanjut Brian tenang. “Itu tidak berarti kamu bebas.” “Kamu gadis yang menarik,” katanya. “Dan sekarang, kamu milikku.” Detik ini juga duniaku terasa hancur seketika.Brian dapat merasakan dengan jelas bahwa bagian intim sang istri kini telah sepenuhnya basah dan siap menerima dirinya. Ia tahu betul bahwa inilah waktunya yang tepat untuk memasuki liang kenikmatan hangat yang selalu sukses membuatnya kecanduan setiap malam. Tangannya dengan gerakan cepat membuka kancing celananya sendiri, membebaskan miliknya yang sudah sepenuhnya mengeras tegang dan berdenyut menuntut pelepasan. Amaya menatap gerakan maskulin sang suami dengan sepasang mata yang sayu berair karena gairah yang sudah memuncak di ubun-ubun. Sesaat, dalam pandangannya yang mengabur, milik pria itu terlihat begitu perkasa dan tampan menantang di bawah temaram lampu. Brian kemudian menyingkap dress katun milik sang istri semakin tinggi ke atas sebatas dada, membiarkan tubuh polos bagian bawah Amaya terekspos sepenuhnya. “Hhhh,” desis pria itu dengan desahan berat yang sarat akan rasa lega yang luar biasa, tepat di saat ia berhasil menyatukan dan melesakkan miliknya masuk secara perlah
“Taruh saja kopernya di dalam kamar yang pintu kamarnya berwarna coklat di sebelah sana, Pak,” kata Ibu Rahmi memberikan petunjuk arah seraya mengajak Amaya untuk duduk menenangkan diri di atas sofa ruang tamu.Setelah sang sopir meletakkan koper dan berpamitan, Ibu Rahmi kembali menatap lekat wajah sembab Amaya. “Gimana keadaan kandungan kamu saat ini, Nak?”Amaya mengusap pelan sisa air matanya, mencoba menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Ibu Rahmi. “Alhamdulillah, janinnya sehat kok, Bu. Maya sengaja pulang ke sini karena Maya mau—”Seperti sudah sangat paham dengan arah maksud penuturan Amaya yang sedang dirundung masalah rumah tangga, Ibu Rahmi dengan cepat memotong kalimat Amaya dengan senyuman keibuan yang menenangkan. “Sudah, sebaiknya kamu segera istirahatlah sekarang, ini sudah teramat larut malam. Kamar tidur lamamu juga sudah siap dan rapi sejak sore tadi.”Amaya hanya bisa menurut pasrah. Ibu Rahmi kemu
“Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Amay. Foto itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” bela Brian mencoba meluruskan kesalahpahaman yang ada.“Kamu kira aku ini anak kecil yang bisa dengan sangat mudah kamu bohongi dan kamu bodohi dengan kalimat penolakanmu itu, Brian!” seru Amaya dengan suara yang melengking tajam karena dikuasai oleh rasa cemburu dan sakit hati.“Aku tidak sedang berbohong kepadamu, Amay!” tegas Brian, melangkah mendekat untuk meraih bahu istrinya, namun Amaya dengan cepat menepis tangan kekar itu.“Oh ya? Oke, kalau memang begitu kenyataannya, artinya dengan tindakanmu ini kamu sudah jauh lebih memilih Greta daripada aku yang berstatus sebagai istrimu. Baik, kalau itu maumu, kita bercerai saja!” ucap Amaya lantang, melontarkan kalimat sakral yang seketika membuat atmosfer di dalam ruangan itu mendingin.“Jangan bicara sembarangan kamu, Amay! Jaga batasanmu!” bentak Brian dengan urat leher yang menonjol tegang, ti
Yesa menatap kekasihnya dengan pandangan yang semakin bingung sekaligus terkejut. “Terus, kalau itu memang milikmu yang sempat hilang dulu, dari mana kamu bisa mendapatkan foto benda ini sekarang?”“Aku mendapatkan foto ini dari kamar Amaya, Yesa! Dialah orang yang selama ini menyimpan dan memiliki liontin kunci ini! Dia yang memegangnya selama bertahun-tahun, Yesa. Benda itu melekat pada bajunya saat dia pertama kali ditinggalkan di panti asuhan dulu. Dia kemungkinan besar adalah anak kandung kita yang selama ini kita kira sudah tiada, Yesa! Amaya adalah anak kandung kita yang hilang!” seru Paulina dengan suara yang pecah tak tertahan lagi, menumpahkan segala kebenaran yang baru saja ia temukan.Yesa tercengang, tubuhnya mendadak kaku di atas sofa. Pria paruh baya itu mencoba mencerna semua penuturan emosional dari sang kekasih dengan baik di dalam kepalanya, namun akal sehatnya masih menolak untuk percaya begitu saja. Pria itu setengah tidak percaya dengan k
Ruangan itu seakan menyimpan ribuan duri yang siap menusuk siapa saja yang lengah. Udara di ruang tamu masih terasa panas, sisa-sisa konfrontasi antara Brian dan Abram belum juga menguap meski jarum jam sudah merambat ke angka yang lebih tinggi. “Aku serius, Ma
Panti asuhan yang biasanya teduh dan penuh kedamaian, seketika seakan berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Udara di ruang tamu yang sempit itu terasa bergetar, seolah molekul oksigen di sana perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh karbon dioksida yang menyesakkan paru-paru.
Brian tidak langsung menjawab. Pria itu mengikis jarak diantara mereka. Ia menatap mata Amaya yang masih terlihat jelas bengkak di sana. "Kenapa kamu tidak bilang kalau ke sini?" tanya Brian. "Apa urusannya denganmu. Buk
Pagi itu, Brian yang tertidur di ruang kerja terkejut saat Fares mengetuk pintu. Pria itu membuka mata dan mengusap matanya agar lebih segar. "Masuk," katanya dengan berdehem menetralkan su






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰