ANMELDENAncaman pembunuhan dari sahabatnya membuat Amaya terpaksa memilih jatuh pada pelukan si pria pemaksa yang dingin. Dialah Brian Aksara, pria berwajah tampan dengan senyum mahal. Pria dewasa yang nir empati. Dia tidak segan menyakiti dengan kebenaran versinya. Pria itu penyebab dirinya dalam masalah sekaligus menariknya dari sang sahabat yang berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana awal kisah rumit itu dimulai?
Mehr anzeigenMonday morning came all too soon. Victoria Morgan contemplated whether to get up and go to work or stay back in bed. The truth she really had no option, if she didn't go to work she could lose her job.
She stole a glance at her fiance who was stretched out beside her on the bed. He was still asleep and she took a moment to admire his body in the light. They had spent the weekend together in his apartment, that was after he had asked her to marry him.Nelson Brown was the right man for her, she thought as she smiled at herself contentedly. They've been dating for four years now, but despite so many problems they've had in the relationship she was assured of his love for her and she loved him as well.Victoria braced one hand against the blanket, about to get to her feet when Nelson's hand closed around her wrist. "Where are you going? " he murmured, sounding still half asleep."It's a Monday morning my love, I have a job to go to. " Toria gave a little shrug, "though I really wish I could just stay back and spend the whole day with you. ""What says the time? " he asked, his thumb rubbing absently back and forth across her skin sending tiny sensual thrills through her. Victoria gazed at the hand on her arm and wished nothing more than to join him back in bed, he really knew how to seduce her. "It's half past seven, I have a presentation at work by nine. " she said sadly.Nelson chuckled softly, "Well, I don't have any urgent meeting to attend to and I can make you feel real goooooooood in less than ten minutes." He winked at her.Nelson Brown was his own boss, he owned and runs a transport company. He was a possessive kind and is keen to sexual pleasures.Victoria blushed, she was still sore from last night and wasn't sure she could take the pain the pleasure he promises will bring, but she couldn't tell him that. She had learnt in their years in relationship that it was a wrong move to outrightly refuse him sex. So she tried getting up again but his hand around her wrist grew firm as he pulled her back down beside him."Don't hurry away my love, " he whispered as his head came over to nestle against her neck. "Are you turning down my offer? " Nelson's arm draped casually across her as she could feel the warmth of his breath on her cheek. "Last night was perfect, " he continued softly, "you did so well and lasted longer than ever before. " He kissed her softly on her cheek, "I love you Toria. " She sighed softly, "I love you too. "In that instance he pulled her over onto her back with his entire body pressed against hers as he bent his head and kissed her deeply, shoving his tongue down her mouth. Their tongues intertwined as they kissed passionately. Still naked and now fully aroused, Nelson slid his hot and ready member inside her pulsating clit. As Nelson was about three strokes in, Victoria's phone began to ring. He moaned as she attempted to pull out and firmly held her hands with his above her head as he slammed back into her with more force than before and she squealed in pleasure. Their moans bounced off the walls of the room for the next thirty minutes of sex before they exhausted themselves.Her phone rang again, she mustered the little strength she had left and answered it. "Toria! Why are you running late again? Everyone is here for the meeting except you and the boss is very angry." Kate her colleague said over the phone. Victoria opened her half sleepy eyes wide as she just realized she had been dreaming of Nelson again and has slept longer and now was late for work. "I will be there in five minutes." She said and hung up as she hurriedly got up from bed and ran to the shower.It's been eight months since she broke up with Nelson but the memories of their relationship was still fresh and she couldn't seem to shake it off. It felt like he was still here with her despite she had changed her state of residence just to make sure they never cross path again.Brian dapat merasakan dengan jelas bahwa bagian intim sang istri kini telah sepenuhnya basah dan siap menerima dirinya. Ia tahu betul bahwa inilah waktunya yang tepat untuk memasuki liang kenikmatan hangat yang selalu sukses membuatnya kecanduan setiap malam. Tangannya dengan gerakan cepat membuka kancing celananya sendiri, membebaskan miliknya yang sudah sepenuhnya mengeras tegang dan berdenyut menuntut pelepasan. Amaya menatap gerakan maskulin sang suami dengan sepasang mata yang sayu berair karena gairah yang sudah memuncak di ubun-ubun. Sesaat, dalam pandangannya yang mengabur, milik pria itu terlihat begitu perkasa dan tampan menantang di bawah temaram lampu. Brian kemudian menyingkap dress katun milik sang istri semakin tinggi ke atas sebatas dada, membiarkan tubuh polos bagian bawah Amaya terekspos sepenuhnya. “Hhhh,” desis pria itu dengan desahan berat yang sarat akan rasa lega yang luar biasa, tepat di saat ia berhasil menyatukan dan melesakkan miliknya masuk secara perlah
“Taruh saja kopernya di dalam kamar yang pintu kamarnya berwarna coklat di sebelah sana, Pak,” kata Ibu Rahmi memberikan petunjuk arah seraya mengajak Amaya untuk duduk menenangkan diri di atas sofa ruang tamu.Setelah sang sopir meletakkan koper dan berpamitan, Ibu Rahmi kembali menatap lekat wajah sembab Amaya. “Gimana keadaan kandungan kamu saat ini, Nak?”Amaya mengusap pelan sisa air matanya, mencoba menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Ibu Rahmi. “Alhamdulillah, janinnya sehat kok, Bu. Maya sengaja pulang ke sini karena Maya mau—”Seperti sudah sangat paham dengan arah maksud penuturan Amaya yang sedang dirundung masalah rumah tangga, Ibu Rahmi dengan cepat memotong kalimat Amaya dengan senyuman keibuan yang menenangkan. “Sudah, sebaiknya kamu segera istirahatlah sekarang, ini sudah teramat larut malam. Kamar tidur lamamu juga sudah siap dan rapi sejak sore tadi.”Amaya hanya bisa menurut pasrah. Ibu Rahmi kemu
“Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Amay. Foto itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” bela Brian mencoba meluruskan kesalahpahaman yang ada.“Kamu kira aku ini anak kecil yang bisa dengan sangat mudah kamu bohongi dan kamu bodohi dengan kalimat penolakanmu itu, Brian!” seru Amaya dengan suara yang melengking tajam karena dikuasai oleh rasa cemburu dan sakit hati.“Aku tidak sedang berbohong kepadamu, Amay!” tegas Brian, melangkah mendekat untuk meraih bahu istrinya, namun Amaya dengan cepat menepis tangan kekar itu.“Oh ya? Oke, kalau memang begitu kenyataannya, artinya dengan tindakanmu ini kamu sudah jauh lebih memilih Greta daripada aku yang berstatus sebagai istrimu. Baik, kalau itu maumu, kita bercerai saja!” ucap Amaya lantang, melontarkan kalimat sakral yang seketika membuat atmosfer di dalam ruangan itu mendingin.“Jangan bicara sembarangan kamu, Amay! Jaga batasanmu!” bentak Brian dengan urat leher yang menonjol tegang, ti
Yesa menatap kekasihnya dengan pandangan yang semakin bingung sekaligus terkejut. “Terus, kalau itu memang milikmu yang sempat hilang dulu, dari mana kamu bisa mendapatkan foto benda ini sekarang?”“Aku mendapatkan foto ini dari kamar Amaya, Yesa! Dialah orang yang selama ini menyimpan dan memiliki liontin kunci ini! Dia yang memegangnya selama bertahun-tahun, Yesa. Benda itu melekat pada bajunya saat dia pertama kali ditinggalkan di panti asuhan dulu. Dia kemungkinan besar adalah anak kandung kita yang selama ini kita kira sudah tiada, Yesa! Amaya adalah anak kandung kita yang hilang!” seru Paulina dengan suara yang pecah tak tertahan lagi, menumpahkan segala kebenaran yang baru saja ia temukan.Yesa tercengang, tubuhnya mendadak kaku di atas sofa. Pria paruh baya itu mencoba mencerna semua penuturan emosional dari sang kekasih dengan baik di dalam kepalanya, namun akal sehatnya masih menolak untuk percaya begitu saja. Pria itu setengah tidak percaya dengan k
“Jaga bicaramu, Nura!” ancam Yesa, suaranya merendah menjadi desisan yang amat tajam, memperingatkan sang istri untuk tidak melintasi batas aman. “Katakan padaku kalau semua ucapanku tadi salah, Yesa! Katakan!” tantang Nura dengan mata yang menyala-nyala.
Amaya tersentak kecil, sebuah gerakan refleks yang membuat jemarinya segera menarik diri dari sentuhan Brian. Di ruang perawatan yang beraroma antiseptik kuat, ia menatap sang suami yang masih mematung, menunggu jawaban atas kegelisahan yang terpancar dari wajah pucatnya.“Aku... aku lagi haus. Mau
Wangi parfum mahal khas Eropa memenuhi ruangan kantor berukuran luas dengan desain interior klasik itu. Di balik meja kerja mahoni yang megah, Paulina duduk dengan anggun, menopang dagunya dengan jemari yang dihiasi berlian berkilau. Tatapan matanya lurus menghunus ke arah pintu ganda yang baru saj
Kejadian itu berlangsung begitu cepat, seolah waktu melambat dalam satu fragmen yang mengerikan. Amaya yang tidak siap dan masih merasakan nyeri di perutnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan dalam satu momen yang mematikan, bagian perut bawahnya membentur ujung meja marme


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rezensionen