LOGIN"Suaramu saat menyapa penumpang di kabin sangat merdu, Sasqia. Tapi saya lebih penasaran, apakah suara desahanmu akan seindah itu saat kamu berada di bawah kungkunganku malam ini?" Sasqia Adhisty, seorang pramugari cantik yang tidak pernah bisa memilih. Ia terjebak di antara tiga bersaudara. Tubuhnya terikat skandal dengan Kaelix sang CEO maskapai EBA, hatinya luluh pada Tristan sang Pilot, sementara jiwanya terpasung hutang budi pada Jevier sang Dokter. Satu wanita untuk tiga pria berkuasa. Di balik pintu tertutup, mereka adalah predator yang tak mau berbagi mangsa. "Jadi, Sasqia ... ranjang siapa yang akan kamu pilih untuk mendesah malam ini?”
View MoreHari itu, halaman luas tempat pernikahan Tristan dan Viona dipenuhi bunga-bunga putih yang ditata elegan. Udara terasa hangat, langit cerah, dan suara musik mengalun pelan di antara para tamu yang mulai memenuhi tempat acara. Sasqia datang bersama Kaelix dan Kaelyn. Seperti biasa, Kaelix berjalan di sisi istrinya dengan satu tangan sesekali menyentuh punggung Sasqia, memastikan perempuan itu tetap berada di dekatnya. Sementara Kaelyn sibuk memandangi seluruh tempat dengan mata berbinar. Gaun kecil yang dikenakannya bergerak setiap kali gadis itu berlari kecil. Tak lama kemudian, Sana dan Sherly menghampirinya. Tiga anak itu langsung menghilang dari sisi orang dewasa, berlarian ke area taman yang sudah disiapkan khusus untuk para tamu anak-anak. Sasqia hanya tersenyum melihat putrinya. Lima tahun berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menggendong bayi m
Tristan menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Viona.” Hening. Untuk beberapa saat, Miriam hanya berdiri sambil memandangi putranya. Seolah belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Viona?” ulangnya. “Iya, Bu.” “Viona anak teman Ibu? Tante Tari?” Tristan mengangguk. “Perempuan yang lima tahun terakhir sering menemani kamu?” “Orangnya sama.” Miriam menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ya Tuhan … kamu serius?” “Saya tidak mungkin datang ke sini hanya untuk bercanda soal pernikahan.” Miriam menatap putranya cukup lama. Kemudian, tanpa diduga, kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa malah menangis?” tanya Tristan. “Karena Ibu senang.” Tristan terdiam. Miriam tersenyum di balik air mata yang mulai menggenang. “Setelah sekian lama … akhirnya kamu mau menikah.” “Bu, jangan berlebihan.” Tristan menghela napas pelan. “Bagaimana Ibu tidak berlebihan?” Miriam kembali duduk. “Selama ini Ibu selalu khawatir.” Tristan menundukkan pa
Kaelyn melirik Sasqia. “Mama.” “Iya, sayang?” Sasqia mengangkat kedua alis. “Papa sayang siapa?” tanya Kaelyn sambil memiringkan kepala. Sasqia langsung menahan senyum. “Nah, tanyain sendiri sama orangnya langsung.” Ia melirik sang suami. Kaelyn kembali menatap sang ayah. “Papa.” “Hm?” sahut Kaelix singkat. “Papa lebih sayang Mama atau Elyn?” suara Kaelyn terdengar manja, seolah berharap sang ayah akan memilihnya. Sasqia menatap suaminya dengan penuh rasa ingin tahu. Kaelix justru tersenyum. “Pertanyaan sulit.” “Enggak sulit,” sahut Kaelyn cepat. “Pilih Elyn.” Ia menekan dadanya, meminta di pilih. “Kenapa harus Elyn?” Kaelix mengangkat sebelah alisnya tipis. “Karena Elyn cantik.” Ucap Kaelyn penuh percaya diri. Sasqia kembali tertawa. Kaelix menggelengkan kepala pelan. “Kamu memang cantik.” “Nah!” “Tapi ….” Senyum Kaelyn perlahan memudar. “Tapi apa?” Kaelix melirik Sasqia. “Mama juga cantik.” Kaelyn langsung memanyunkan bibir. “Papa harus pilih satu.
“Mama dulu pramugari, ya?” Kaelyn bertanya sambil membuka lembar demi lembar album foto yang berada di pangkuannya. Matanya berbinar melihat deretan potret lama sang ibu dalam balutan seragam pramugari. Ada foto Sasqia sedang berdiri di dalam kabin pesawat, tersenyum di dekat pintu pesawat, hingga beberapa potret bersama rekan-rekan kerjanya. Sasqia yang duduk di samping putrinya tersenyum kecil. Tangannya terulur, membelai rambut panjang Kaelyn. “Iya, sayang. Dulu Mama bekerja sebagai pramugari.” “Mama cantik banget.” Kaelyn menatap sebuah foto Sasqia cukup lama. Namun, beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah dan membandingkan foto itu dengan wajah sang ibu yang kini berada di hadapannya. “Tapi ….” Sasqia mengangkat sebelah alis. “Tapi apa?” “Masih cantikan Elyn.” Sontak
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore