LOGIN"Suaramu saat menyapa penumpang di kabin sangat merdu, Sasqia. Tapi saya lebih penasaran, apakah suara desahanmu akan seindah itu saat kamu berada di bawah kungkunganku malam ini?" Sasqia Adhisty, seorang pramugari cantik yang tidak pernah bisa memilih. Ia terjebak di antara tiga bersaudara. Tubuhnya terikat skandal dengan Kaelix sang CEO maskapai EBA, hatinya luluh pada Tristan sang Pilot, sementara jiwanya terpasung hutang budi pada Jevier sang Dokter. Satu wanita untuk tiga pria berkuasa. Di balik pintu tertutup, mereka adalah predator yang tak mau berbagi mangsa. "Jadi, Sasqia ... ranjang siapa yang akan kamu pilih untuk mendesah malam ini?”
View More“Naik dua kilogram, Sasqia?!”
Sasqia berjengit saat suara Jessie, purser senior Enver Blue Airways (EBA), membelah ruang briefing seperti cambukan. Beberapa kepala langsung menoleh. Beberapa bibir melengkung tipis, menahan senyum sinis yang sudah biasa lahir di ruangan ini. Jessie melangkah mendekat. Tangannya yang terawat dengan kuku diwarnai kutek merah itu mencengkeram lengan Sasqia, memutarnya setengah lingkaran seolah gadis itu hanyalah manekin pajangan. “Putar badan,” perintahnya singkat. Belum sempat Sasqia sepenuhnya sadar, jari Jessie mencubit keras pinggangnya, tepat di balik seragam biru navy yang membungkus tubuhnya terlalu ketat hari ini. Sasqia menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa perih menjalar, bukan hanya di kulit, tapi juga di dadanya. Ia menolak mengeluarkan suara. Menangis di sini hanya akan membuat segalanya lebih buruk. “Lihat ini,” dengus Jessie jengah. “Seragammu kelihatan sesak. Kamu pikir standar EBA itu main-main?” Ia mencubit lagi, kali ini lebih lama, lebih kuat. “Kamu kira Enver Blue Airways ini tempat penampungan pengungsi, hah?” Beberapa pramugari lain saling bertukar pandang. Ada yang menutup mulut menahan tawa, ada pula yang sengaja menatap Sasqia dari ujung kepala sampai kaki, menikmati setiap detik kehancurannya. “Kami hanya menerima pramugari berkelas,” lanjut Jessie, nada suaranya merendah namun semakin mematikan, “Bukan wanita yang tidak bisa mengendalikan nafsu makannya.” Tatapan Jessie menyapu tubuh Sasqia dengan jijik, berhenti di perutnya, lalu naik ke wajahnya. “Kebanyakan makan mie instan, ya?” sindirnya. Jessie kemudian menarik kasar kerah seragam Sasqia, memastikan kancing yang tampak menegang itu benar-benar terkunci. Jari-jarinya berhenti sesaat di logo EBA yang tersemat di dada kiri Sasqia, seolah logo itu telah ikut ternodai. Sasqia berdiri gemetar di atas timbangan digital. Angka di layar menyala tanpa belas kasihan. Membuat dadanya terasa sesak. “Maaf, Kak,” suaranya hampir tak terdengar. “Saya akan diet ketat minggu ini. Saya janji.” Jessie tertawa pendek. Sinis. “Tidak ada minggu ini.” Ia menatap Sasqia lurus, tanpa emosi. “Aturannya jelas. Kelebihan berat badan berarti diskors.” Nada suara Jessie mengeras. “Kamu dilarang terbang untuk jadwal Paris malam ini.” Dunia Sasqia runtuh seketika. Paris. Penerbangan internasional. Honor besar. Bonus tambahan. Kalau dia diskors, artinya potong gaji. Dan potongan gaji berarti satu hal, biaya rumah sakit ayahnya terancam tak terbayar. Karena tidak cukup dengan biaya untuknya pribadi. Ia bahkan terpaksa bertahan hidup dengan mie instan, menekan kebutuhan pribadinya sebisanya, agar sebagian besar gajinya bisa disisihkan untuk biaya pengobatan sang ayah yang mengidap gagal ginjal kronis dan harus dirawat di rumah sakit besar dengan biaya yang tak murah. Belum lagi tuntutan ibunya yang rutin menagih uang bulanan, seolah Sasqia tak pernah punya lelah. Ditambah biaya sewa kos yang harus dibayar tepat waktu setiap bulan. Jika bukan dari gaji pekerjaan ini, dari mana lagi Sasqia bisa membayar itu semua? Tangan gadis itu terangkat, jemarinya saling mengatup di depan wajahnya. “Kak, saya mohon …,” suaranya bergetar. “Jangan skors saya. Saya sangat butuh pekerjaan ini.” Matanya berkaca-kaca, nyaris tumpah. Jessie menggeleng tegas. Tidak ada sedikit pun empati di sana. “Lepas seragammu sekarang.” Ucapnya dengan nada perintah. “Kamu tidak layak menggunakan logo EBA di dadamu.” Tanpa menunggu reaksi, Jessie berbalik pergi, meninggalkan ruang briefing tanpa melakukan Grooming Inspection rutin pada pramugari lain. Seolah penghinaan Sasqia sudah cukup menjadi tontonan hari ini. Sasqia berdiri terpaku beberapa detik. Dadanya naik turun. Ia tahu, permohonannya tidak akan pernah didengar. Namun bukan Sasqia namanya jika menyerah begitu saja. Selama masih ada satu celah untuk bertahan, selama masih ada harapan agar ia tetap bekerja dan gajinya tidak terpotong bahkan satu sen pun, ia akan memperjuangkannya—apa pun resikonya. “Kak.” Sasqia mempercepat langkah, mengejar Jessie yang hendak keluar dari ruang briefing. Tubuhnya menghadang, napasnya belum sepenuhnya stabil, tetapi matanya menatap penuh tekad. “Kak, please … saya mohon banget,” ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan panik. “Jangan skors saya. Saya akan lakukan apa saja asal tetap bisa kerja.” Jessie berhenti. Perlahan, ia memutar badan. Tatapannya menyipit tajam, menelanjangi Sasqia dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang membuat bulu kuduk meremang. “Apa saja?” ulang Jessie, satu alisnya terangkat tipis, penuh makna. Sasqia mengangguk cepat, tanpa ragu. Kepalanya menunduk sedikit, seolah siap menerima apa pun yang akan dijatuhkan padanya. Jari telunjuk Jessie terangkat, lalu menunjuk lantai tepat di hadapannya. “Berlutut,” katanya ringan, seolah sedang memberi instruksi sepele. “Dan cium kaki saya.” Dunia Sasqia seakan berhenti berputar. “Be-berlutut?” bibirnya bergetar, tenggorokannya terasa kering. Ludahnya ditelan susah payah. Jessie mendengus pelan. “Tidak mau?” Ia berbalik, melangkah pergi. “Kalau begitu, urusan kita selesai.” “Tunggu!” Sasqia refleks meraih lengan Jessie, membuat langkah perempuan itu terhenti. “Saya … saya mau,” katanya pelan, hampir tak terdengar. Jessie menoleh. “Ragu?” tanyanya sinis. “Saya mau,” ulang Sasqia, kali ini lebih tegas, meski matanya mulai memerah. Senyum Jessie mengembang lebar, puas, menang. “Bagus.” Lalu ia menoleh ke sekeliling. “Kalian semua,” perintahnya pada pramugari lain, “Buka kamera. Sayang sekali kalau momen cantik ini tidak diabadikan.” Beberapa ponsel terangkat. Layar menyala. Rekaman dimulai. Sasqia menarik napas panjang. Dadanya sesak, hatinya perih. Tapi bayangan tagihan rumah sakit ayahnya jauh lebih menyakitkan daripada rasa malu ini. Ia menurunkan tubuhnya perlahan. Lututnya menyentuh lantai dingin. Bersimpuh. Tatapannya jatuh pada kaki Jessie yang terbalut high heels merah menyala, simbol kekuasaan kecil yang kini menginjak harga dirinya. Tangan Sasqia bergetar saat menyentuh kaki kanan sang senior. Kamera-kamera itu merekam tanpa ampun. Kepalanya mulai menunduk, perlahan, semakin dekat dengan kaki Jessie. Dan tiba-tiba— BRAK! Pintu ruang briefing terbuka keras. Semua kepala menoleh. Seorang pria berdiri di ambang pintu, tegap, berwibawa, dengan seragam pilot rapi dan empat bar di pundaknya berkilau elegan. Kapten pilot. Aura tekanannya memenuhi ruangan dalam sekejap. Tristan Enver Valerio. Jessie tersentak, refleks menarik kakinya menjauh. Ia mundur beberapa langkah, sementara ponsel-ponsel yang tadi merekam buru-buru diturunkan dan disembunyikan. “Apa-apaan ini?” Suara Tristan berat, dingin, dan menusuk. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Sasqia yang masih bersimpuh di lantai—rapuh, terhina. “Bangun,” perintahnya tegas. Sasqia tak bergerak, seolah kakinya membeku. “Saya bilang bangun.” Nada suaranya meninggi, tak memberi ruang untuk dibantah. Sasqia tersentak, segera berdiri dengan kaki dan tangan gemetar. Tatapan Tristan beralih ke Jessie. Dingin. Tajam. Menghukum. “Mulai hari ini, kamu dipecat.”Hari itu, halaman luas tempat pernikahan Tristan dan Viona dipenuhi bunga-bunga putih yang ditata elegan. Udara terasa hangat, langit cerah, dan suara musik mengalun pelan di antara para tamu yang mulai memenuhi tempat acara. Sasqia datang bersama Kaelix dan Kaelyn. Seperti biasa, Kaelix berjalan di sisi istrinya dengan satu tangan sesekali menyentuh punggung Sasqia, memastikan perempuan itu tetap berada di dekatnya. Sementara Kaelyn sibuk memandangi seluruh tempat dengan mata berbinar. Gaun kecil yang dikenakannya bergerak setiap kali gadis itu berlari kecil. Tak lama kemudian, Sana dan Sherly menghampirinya. Tiga anak itu langsung menghilang dari sisi orang dewasa, berlarian ke area taman yang sudah disiapkan khusus untuk para tamu anak-anak. Sasqia hanya tersenyum melihat putrinya. Lima tahun berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menggendong bayi m
Tristan menatap kedua orang tuanya secara bergantian. “Viona.” Hening. Untuk beberapa saat, Miriam hanya berdiri sambil memandangi putranya. Seolah belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Viona?” ulangnya. “Iya, Bu.” “Viona anak teman Ibu? Tante Tari?” Tristan mengangguk. “Perempuan yang lima tahun terakhir sering menemani kamu?” “Orangnya sama.” Miriam menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ya Tuhan … kamu serius?” “Saya tidak mungkin datang ke sini hanya untuk bercanda soal pernikahan.” Miriam menatap putranya cukup lama. Kemudian, tanpa diduga, kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Kenapa malah menangis?” tanya Tristan. “Karena Ibu senang.” Tristan terdiam. Miriam tersenyum di balik air mata yang mulai menggenang. “Setelah sekian lama … akhirnya kamu mau menikah.” “Bu, jangan berlebihan.” Tristan menghela napas pelan. “Bagaimana Ibu tidak berlebihan?” Miriam kembali duduk. “Selama ini Ibu selalu khawatir.” Tristan menundukkan pa
Kaelyn melirik Sasqia. “Mama.” “Iya, sayang?” Sasqia mengangkat kedua alis. “Papa sayang siapa?” tanya Kaelyn sambil memiringkan kepala. Sasqia langsung menahan senyum. “Nah, tanyain sendiri sama orangnya langsung.” Ia melirik sang suami. Kaelyn kembali menatap sang ayah. “Papa.” “Hm?” sahut Kaelix singkat. “Papa lebih sayang Mama atau Elyn?” suara Kaelyn terdengar manja, seolah berharap sang ayah akan memilihnya. Sasqia menatap suaminya dengan penuh rasa ingin tahu. Kaelix justru tersenyum. “Pertanyaan sulit.” “Enggak sulit,” sahut Kaelyn cepat. “Pilih Elyn.” Ia menekan dadanya, meminta di pilih. “Kenapa harus Elyn?” Kaelix mengangkat sebelah alisnya tipis. “Karena Elyn cantik.” Ucap Kaelyn penuh percaya diri. Sasqia kembali tertawa. Kaelix menggelengkan kepala pelan. “Kamu memang cantik.” “Nah!” “Tapi ….” Senyum Kaelyn perlahan memudar. “Tapi apa?” Kaelix melirik Sasqia. “Mama juga cantik.” Kaelyn langsung memanyunkan bibir. “Papa harus pilih satu.
“Mama dulu pramugari, ya?” Kaelyn bertanya sambil membuka lembar demi lembar album foto yang berada di pangkuannya. Matanya berbinar melihat deretan potret lama sang ibu dalam balutan seragam pramugari. Ada foto Sasqia sedang berdiri di dalam kabin pesawat, tersenyum di dekat pintu pesawat, hingga beberapa potret bersama rekan-rekan kerjanya. Sasqia yang duduk di samping putrinya tersenyum kecil. Tangannya terulur, membelai rambut panjang Kaelyn. “Iya, sayang. Dulu Mama bekerja sebagai pramugari.” “Mama cantik banget.” Kaelyn menatap sebuah foto Sasqia cukup lama. Namun, beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajah dan membandingkan foto itu dengan wajah sang ibu yang kini berada di hadapannya. “Tapi ….” Sasqia mengangkat sebelah alis. “Tapi apa?” “Masih cantikan Elyn.” Sontak
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Makan malam berlangsung di meja makan besar dengan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mahendra duduk di ujung meja, diikuti Soraya di sampingnya. Di sisi lain ada Raka dan Shiren, sementara Sasqia duduk berhadapan dengan mereka. Sherly kecil juga ikut duduk, sibuk memainkan sendoknya sendiri. Su
“Papa ke mana, Ma?” Raka berdiri di ambang ruang tengah sambil melonggarkan kerah bajunya. Tatapannya jatuh pada ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa, kaki menyilang anggun sambil membaca majalah. Soraya hanya mengangkat pandangan sekilas dari halaman yang ia baca. “Lagi istirahat di
Sasqia menatap paper bag itu beberapa saat. Tatapannya turun pada tali paper bag yang masih terulur di tangan Kaelix, sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali menatap pria itu. “Tidak perlu,” ucapnya halus. “Terima kasih.” Kaelix menyunggingkan senyum miring. Ia menurunkan tangannya perla






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore