Home / Romansa / Desember Ke-30 / Perlu Bantuan

Share

Perlu Bantuan

Author: Aeza
last update publish date: 2021-06-27 20:00:25

Aku bertemu dengan Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan ulang di Semarang. Sesuai saran Dokter Tanto, aku bisa memercayakan proses pengobatanku pada dokter cantik di depanku ini.

“Diameternya masih tidak terlalu besar, tapi dari letaknya bisa saja mengganggu fungsi kelenjar pineal-mu. Apa kamu punya gangguan susah tidur?” tanyanya saat menunjukkan hasil CT Scan otakku.

Aku mengangguk, membenarkan ucapan Dokter Acha tentang gangguan tidurku.

“Aku belum bisa mengambil tindakan lebih lanjut, kamu masih perlu melakukan biopsi. Operasi kecil untuk mengambil bagian tumor di otakmu, untuk memastikan jenis tumor dan stadiumnya. Bagaimana? Mau segera aku buatkan jadwalnya?” usul Dokter Acha.

Aku terdiam sebentar, mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginanku, aku sedikit gugup, takut dia akan menolaknya. Sebenarnya, kalaupun Dokter Acha tidak bersedia, aku masih bisa memeriksakan diri ke dokter lain di Semarang, hanya saja aku tidak mau membuang waktu hanya untuk mencari dokter yang bisa memberikan surat keterangan dokter untuk keperluan perjalananku nanti.

“Dok, saya bisa minta resep obat saja, enggak?” pintaku.

“Saya ingin jalan-jalan dulu, Dok. Saya tidak menolak saran Dokter untuk melakukan biopsi, saya hanya ingin menundanya sedikit. Saya ingin pergi ke beberapa tempat sebelum saya melakukan pengobatan,” ungkapku.

Dokter Acha terdiam cukup lama, dia memandangku dengan tatapan ragu, sudut bibirnya membuat lengkungan keprihatinan.

“Dokter Tanto juga sudah bilang kalau kamu ingin dibuatkan rujukan ke dokter gizi.”

Aku mengangguk.

“Baiklah, Kana. Saya buatkan rujukan untuk konsultasi besok, ya. Saya juga akan resepkan obat untuk mengurangi nyeri kepalamu. Perlu diingat kondisimu tidak bisa dipaksa untuk kerja terlalu berat, terutama kerja otakmu.”

Aku mengangguk lagi dan keluar dari ruangan Dokter Acha menuju antrean pengambilan obat dan administrasi rumah sakit. Saat melakukan pembayaran, aku juga meminta informasi kepada petugas tentang perkiraan biaya pemeriksaan awal, pengobatan, dan penanganan penyakitku pada pihak rumah sakit. 

***

Pembicaraan tentang pola makan sehat memang seru, tetapi saat menjalaninya akan sangat menantang. Aku sudah biasa membuat artikel tentang pola hidup dan makanan sehat saat mengelola blog Mbak Erika. Namun, untuk mencoba mempraktikan apa yang aku tulis sendiri tidak mudah. Begitu juga saat aku mulai berkonsultasi dengan Dokter Olivia, dokter ahli gizi yang disarankan Dokter Acha kepadaku.

“Untuk sementara kurangi konsumsi dagingnya, ya. Kalaupun mau banget makan daging merah, bisa kok makan sebulan sekali,” saran Dokter Olivia.

“Saya enggak terlalu suka makan daging merah, Dok. Tapi kalau konsumsi ikan perlu dibatasi juga, enggak?” tanyaku, karena aku suka makan ikan, terutama ikan laut dan seafood seperti udang dan cumi.

“Kurangin dulu deh, ya. Tapi kamu enggak harus stop makan. Ikannya dikukus, jangan digoreng atau dibakar. Perbanyak konsumsi sayur dan buah dulu, bagus lagi kalau kamu mau rutin untuk konsumsi buah beri.”

Dokter Olivia memberikan beberapa daftar bahan makanan yang perlu dimasukkan dalam menu makanan harianku, serta saran cara pengolahan bahan makanan. Pola makan ini akan sangat bermanfaat untuk menghadapi gejala-gejala kanker otak yang menghampiriku. Jadilah, setelah pulang dari rumah sakit aku langsung membeli beberapa sayuran hijau dan buah-buahan dengan warna gelap. Aku juga membeli sedikit karbohidrat non-olahan, dan kacang-kacangan. 

Saat mengantre di kasir, aku mengamati setiap bahan makanan yang aku beli, serasa sedang melakukan program penurunan berat badan. Padahal berat badanku sendiri sudah turun drastis selama setengah tahun ini, sejak aku sering merasa sakit kepala, hingga akhirnya aku tahu ada tumor yang tumbuh pada otakku. Aku segera pulang ke apartemen setelah membeli stok makanan paling sehat dalam setahun terakhir ini.

***

Aku sempat beristirahat sebentar sebelum pergi menemui Dila. Aku ingin memeriksa perkembangan tulisannya, aku juga ingin membicarakan tentang penyakitku dan meminta persetujuannya membantuku bekerja selama aku pergi jalan-jalan.

Pada pertemuan malam ini kami bertemu di salah satu kafe di Jalan Singosari, terlebih Bang Nanda juga ingin ditemani minum kopi malam itu. Aku membuat janji dengan Dila lebih awal, karena aku tidak mau Bang Nanda tahu tentang sesuatu yang akan aku katakan pada Dila.

“Dila, aku punya beberapa ide konten untuk blognya Mbak Erika,” ucapku setelah kami memesan minuman.

Dila segera mengeluarkan catatannya.

“Kamu biasa nyatat di kertas, ya?” tanyaku.

“Lebih enak nyatat di buku, Mbak. Biar bisa dicoret-coret kalau ada yang kurang.”

“Emmm, oke. Langsung aja, ya. Aku mau Dila nyari keyword tentang pola makanan khusus bagi penderita penyakit tertentu. Nanti kumpulin jadi satu aja dulu, kalo sudah, aku atau Dila bisa langsung minta pendapatnya Mbak Erika. Kalau Mbak Erika sudah setuju baru Dila bikin artikelnya.”

“Siap, Mbak,” sahut Dila tanpa mengalihkan pandangan dari catatannya.

“Untuk artikel pertama aku punya ide mau bikin pola makan untuk penderita tumor dan kanker otak. Nanti jangan langsung to do point ke pola makannya, bikin pembukaan tentang penyakitnya dulu juga boleh, jadi artikelnya bisa lebih lengkap,” sambungku.

Dila mengangguk, tangannya masih sibuk menulis di buku kecil di hadapannya. Aku menjeda ucapanku, memberikan Dila sedikit waktu untuk menyelesaikan poin yang ingin dia catat.

“Lalu, Mbak?”

“Nanti Dila bisa cari info penyakit-penyakit yang paling banyak diderita saat ini,” usulku lagi.

“Siap.”

“Udah, itu dulu untuk tugas artikelnya. Minggu ini aku akan kirim 15 artikel untuk disunting, ya.”

“Iya, Mbak.”

“Oh iya, untuk freelance bagaimana?”

“Kontennya udah siap, Mbak. Tinggal aku post pekan depan,” lapor Dila.

“Thanks, Dila. Kalau enggak kamu bantu, aku bisa makin susah tidur.”

“Makasih juga, Mbak. Aku sudah dikasih kesempatan dan wadah untuk belajar.”

“Dila, aku mau ngomong sesuatu. Semoga ini enggak memberatkan Dila, aku lagi perlu bantuan,” ucapku dengan nada bicara serius.

Dila mengangguk, “Perlu bantuan apa, Mbak? Kalau Dila bisa, aku enggak bakalan nolak kok.”

“Dila mau enggak jadi asisten pribadi aku untuk menulis. Jadi gini, untuk minggu depan Dila handle blog Mbak Erika dulu. Nanti kita belajar sama-sama gimana caranya agar Dila bisa lebih jago nulis topik lain dengan cepat tanpa terpengaruh dengan gaya bahasa artikel yang Dila suka dan bisa. Biar Dila bisa bantu aku untuk bikin artikel blog lain, jadi sekarang kerjaannya dibalik, Dila yang bikin tulisannya, untuk swasunting dan finishing-nya aku yang kerjakan.”

Aku menghentikan permintaanku pada Dila saat pelayan mengantarkan pesanan kami.

“Kalau bisa untuk bulan depan Dila sudah bisa aku percaya untuk membuat artikel. Untuk pengelolaan akun media sosial nanti akan segera aku arahkan ke freelance baru,” sambungku.

Dila terdiam sejenak, dia mengalihkan pandangan pada segelas matcha latte pesanannya.

“Aku bisa enggak ya, Mbak. Aku takut  kalau nanti mengecewakan Mbak Kana,” ucap Dila dengan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajahnya.

“Dalam proses kita bisa bertemu dengan banyak kekecewaan, Dila. Itu yang aku tahu dan pernah alami, kalau Dila mau berkomitmen untuk belajar bersamaku, itu sudah lebih dari cukup untuk memperluas zona nyaman Dila.”

Dila mengembuskan napas, masih ada rasa kurang percaya diri dari sorot matanya.

“Aku coba ya, Mbak.” Dila akhirnya menyambut permintaanku.

“Terima kasih, Dila. Keputusanmu sangat-sangat membantuku untuk berjuang sembuh dari penyakitku,” ungkapku, mengarahkan pembicaraan inti kedua malam ini.

“Penyakit? Mbak Kana lagi sakit?” tanya Dila dengan wajah terkejut.

Aku mengangguk.

“Sakit apa …. Mbak?” tanya Dila tersendat.

“Tumor otak,” jawabku, setelah memberi jeda pada pertanyaan Dila.

Dila hanya terdiam, memandangku seperti orang-orang yang sudah tahu tentang penyakitku. Pandangan prihatin.

“Aku mau jalan-jalan, Dila. mau menikmati waktuku untuk mewujudkan sedikit impianku dahulu. Oleh karena itulah waktu kerjaku perlu sedikit dikurangi, dan karena itu juga aku perlu bantuan Dila untuk bertukar tugas,” ungkapku jujur dengan memaksakan sedikit senyum di wajah. 

“Mbak akan sembuh, kan?”

“Aku mau sembuh, akan aku usahakan.”

“Mbak akan sembuh, insyaallah. Mbak Kana orang baik yang pernah aku kenal. Aku akan selalu doakan untuk kesembuhan Mbak Kana.” Respons dari Dila cukup memberikan suntikan semangat padaku malam ini.

“Aamiin, terima kasih, Dila.” 

Dila segera menuntaskan minumannya, kemudian dia pamit pulang. Sebelum pergi, dia mengungkapkan sesuatu yang membuatku merasa senang karena dapat membuat orang lain senang.

“Oh iya, Mbak. Kok fee Dila minggu ini udah nambah?”

“Kan Dila udah bikin artikel sendiri bulan lalu, jadi fee-nya udah kehitung per bulan,” jelasku.

“Oh … udah kehitung ya ternyata. Aku kaget lho, Mbak. Terus aku langsung kasihkan ke Ibu. Fee mingguan sebelum-sebelumnya sudah alhamdulillah banget, pas dapat yang bulanan kemarin aku jadi senang, akhirnya bisa ngerasain gaji bulanan kayak orang-orang juga,” ungkap Dila dengan wajah yang sedikit malu.

“Iya, nanti salam buat ibu Dila, ya. Pulangnya hati-hati, chat kalo sudah sampai,” pintaku.

“Siap, Bos. Dila pamit, ya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Desember Ke-30   Halaman Kosong yang Menanti

    "Aroon," bisikku pelan, menyebut nama itu tanpa ada rasa sakit yang menyayat atau rasa rindu yang membakar dada seperti beberapa bulan lalu.Ponsel di tanganku bergetar sekali lagi, memaksa jariku yang sempat membeku untuk bergerak membuka aplikasi pesan singkat. Di dalam layar yang berpendar terang, sebuah foto berukuran sedang terkirim langsung dari Chiang Mai, menampilkan secangkir teh panas dengan kepulan uap tipis di atas meja kayu tempat kami pernah duduk berdampingan, disusul oleh sebuah teks singkat yang diketik rapi.“Teh sore ini rasanya agak hambar karena diminum sendirian, Kana. Tapi buku memoarmu berhasil membuatku tersenyum bangga di kedai ini. Selamat atas terbitnya babak baru dalam hidupmu.”Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik, merasakan kehangatan yang menjalar di dada, bukan lagi karena sisa-sisa asmara masa lalu, melainkan karena sebuah pengakuan bahwa kami berdua telah berhasil b

  • Desember Ke-30   Menutup Layar

    "Dunia terus berputar dengan indahnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar menjadi bagian darinya tanpa ada rasa tertinggal," bisikku pelan pada diri sendiri sambil menyesap kopi hitam yang mulai mendingin di tangan kananku.Angin sore berembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambutku ke depan wajah. Aku merapikannya dengan punggung tangan, lalu merogoh saku mantel untuk mengambil ponsel pintar yang sejak tadi bergetar pelan di dalam sana. Sebuah notifikasi layar kunci menyala terang di tengah redupnya cahaya senja taman kota.Nama yang tertera di sana membuat jantungku sempat berdetak satu ketukan lebih cepat, sekadar refleks dari masa lalu yang belum sepenuhnya menguap dari memori.Aroon.Hanya satu kata itu, tetapi cukup untuk membuat duniaku mendadak berhenti berputar selama beberapa detik. Jariku ragu-ragu di atas layar kaca yang licin. Napas tertahan di ten

  • Desember Ke-30   Pesan Terakhir dari Chiang Mai

    "Hasil evaluasi terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa, Kana. Tidak ada lagi sisa inflamasi, jaringan parut di area pembedahan merespons dengan sangat baik, dan dari segi memori jangka pendek, grafik pemulihanmu sudah mencapai titik stabil seratus persen," ucap Dokter Acha mantap sambil menutup map rekam medis berwarna biru di atas meja praktiknya, lalu tersenyum lebar menatapku.Aku menghela napas panjang, merasakan beban tak kasat mata yang selama berbulan-bulan bersemayam di pundakku seketika menguap begitu saja ke udara. "Jadi, artinya saya benar-benar bebas sekarang, Dok? Tidak perlu lagi minum obat penenang atau datang ke sini setiap dua minggu sekali?""Secara medis, kamu sudah resmi dinyatakan bebas tugas dari pengawasan ketatku," jawab Dokter Acha tertawa kecil, melepas stetoskopnya dan menggantungkannya di kursi. "Tetapi ingat, bebas bukan berarti boleh begadang menulis sampai subuh setiap hari. Pola tidur tetap h

  • Desember Ke-30   Peluncuran Memoar

    "Baiklah, Kak, aku mengaku salah. Besok pagi-pagi sekali aku akan langsung datang ke klinik Dokter Acha untuk melakukan pemeriksaan terakhir sesuai jadwal," kataku cepat, mencoba meredam omelan panjang Kak Dinah yang sudah siap melebar ke mana-mana."Bukan cuma besok pagi, Kana. Kirimkan pesan padaku begitu kamu keluar dari ruangan dokter, atau aku akan menelepon Bang Ridwan untuk terbang langsung ke Semarang sekarang juga!" ancam Kak Dinah setengah bercanda, meskipun sorot matanya menunjukkan keseriusan mutlak."Iya, bosku yang paling cerewet. Aku pasti kabari. Titip cium untuk keponakan-keponakanku di sana ya," balasku sebelum akhirnya melambaikan tangan dan mengakhiri sambungan video call tersebut.Keesokan paginya, suasana di klinik Dokter Acha terasa jauh lebih tenang dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Tidak ada lagi debar jantung yang mencemaskan atau ketakutan setengah mati menghadapi pisau bedah. Langka

  • Desember Ke-30   Kunjungan Keluarga Besar

    Layar ponsel di atas meja kerja bergetar sekali lagi, menampilkan panggilan video masuk dari Kak Dinah. Tanpa ragu, aku langsung menggeser ikon hijau di layar untuk mengangkatnya, menyambut wajah kakak perempuanku yang kini terpampang jelas dengan latar belakang ruang keluarga mereka di Kalimantan. Suara riuh rendah keponakanku terdengar bersahut-sahutan di belakang, menciptakan suasana rumah yang hidup dan hangat meskipun terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer."Kana! Akhirnya kamu angkat telepon juga! Kamu ini dari mana saja, hah? Baru sampai rumah langsung menghilang seperti hantu!" seru Kak Dinah langsung memberondongku dengan nada khasnya yang selalu terdengar panik sekaligus penuh perhatian.Aku tersenyum lebar sambil merapikan helaian rambutku yang sedikit berantakan akibat perjalanan udara yang panjang. "Aku baru saja meletakkan koper, Kak. Belum sempat melepas sepatu, ponselku sudah bergetar karena panggilan dariku ini. Kenapa waja

  • Desember Ke-30   Lembaran Baru di Meja Kerja

    Begitu pintu utama tertutup rapat di belakangku, aku langsung meletakkan koper hitam di sudut ruangan dan berjalan menuju ruang kerja. Aroma kayu tua dan kertas buku yang khas langsung menyapa indra penciumanku, seolah menyambut kepulanganku setelah sekian lama berkelana mencari jawaban. Layar laptop di atas meja tampak mati, berdebu tipis, menunggu disentuh kembali oleh jemariku yang kini terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.Tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk di kepala, tidak ada lagi bayangan-bayangan samar tentang masa lalu yang menghantui setiap malam panjangku. Operasi itu telah mengambil beberapa potongan kenangan, tetapi membiarkan ruang yang jauh lebih luas bagi kedamaian untuk tumbuh. Aku duduk di kursi kerjanya, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol daya pada laptop. Layar menyala terang, menampilkan draf-draf kosong yang siap diisi dengan lembaran baru kehidupan.Ponsel di samping meja bergetar pelan, memecah keh

  • Desember Ke-30   Menelusuri Jejak Kenangan

    Kami hanya menaruh barang-barang di kamar ketika sampai di hotel, karena keinginan ketiga keponakanku tidak bisa ditolak lagi, mereka sudah ingin cepat-cepat diajak jalan. Setelah dibujuk agar lebih tenang untuk ukuran anak-anak dan remaja, barulah kami melanjutkan perjalanan.Bang R

  • Desember Ke-30   Memilih Hunian Baru

    Keesokan harinya seperti janji Bang Nanda kemarin, pukul delapan pagi dia sudah sampai di hotel tempatku dan Bang Ridwan menginap. Bang Ridwan masih duduk menikmati kopi paginya bersama sepotong roti di restoran hotel. Aku menghampiri Bang Nanda di tempat parkir dan mengajaknya untuk sarapan.&nbs

  • Desember Ke-30   Jangan Nangis Lagi, Ya

    Kurang lebih dua jam kemudian aku dan Bang Ridwan sampai di Semarang. Banyak perubahan pada bandara ini, dahulu saat pertama kali melangkahkan kaki di Semarang, bandara ini masih kecil. Saat menunggu antrean bagasi, aku segera menghubungi Bang Nanda–teman yang aku kenal dari dunia maya kare

  • Desember Ke-30   Pamit

    Isakan Kak Maya belum reda, ia bicara dengan suaminya melalui ponsel. Aku sudah di kamarku, bersama si kecil Mega yang telah terlelap.Setelah makan malam yang sempat tertunda atas pengumuman rencana kepindahanku ke Semarang, kami kembali memutuskan untuk menyelesaikan acara makan malam ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status