Mag-log in**“Orion, sebentar. Lepas dulu … aku tidak bisa bernapas ….”“Tidak. Kau akan meninggalkanku lagi jika aku melepaskanmu. Aku tidak mau melakukannya.”Vega menghela napas. Jujur saja ia takut. Terakhir kali ia bertemu dengan pria ini, ia sudah membuat masalah yang tidak bisa dibilang sederhana.Maka bukankah seharusnya Orion marah? Bukankah seharusnya pria itu murka, merantainya, bahkan memukulnya, mengingat betapa ia adalah pria berdarah dingin. Bukan respon seperti ini yang Vega bayangkan.Sikapnya yang berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini sungguh membuat Vega ngeri.“Ti-tidak ….” kata perempuan itu akhirnya. “Tidak, aku tidak akan ke mana-mana. Lepaskan dulu.”Menelan saliva, dari balik bahu Orion, Vega mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan itu. Kamar itu bagus, luas dengan perabotan mahal seperti biasanya. Namun satu hal yang Vega rasa agak aneh, tidak ada jendela di sana. Tidak ada dinding kaca seperti kamar-kamar lain yang pernah ia lihat di dalam mansion ini
**“Kumohon, Tuan … kumohon … majikanku akan mencekikku sampai mati jika tahu aku berbuat kesalahan seperti ini. Aku mohon jangan hukum aku juga ….”Antares berdecak kesal. Pria tambun gila ini sudah menyita terlalu banyak waktunya bersama Vega. Padahal Antares berencana menghabiskan seharian ini untuk menuruti ke manapun perempuannya ingin pergi. Tapi mengapa malah terjebak dengan anomali aneh seperti ini?“Sial, kau! Menjauh dariku, bajingan! Pergi sana, jangan ganggu aku lagi!”“Tuan, tapi Tuan ….”“Tapi apa lagi? Jika aku masih melihatmu berkeliaran di sekitar sini, aku akan membakar mobil majikanmu. Dan kau sekalian! Pergi sana, jangan sentuh aku!”Si pria tambun yang awalnya masih bersimpuh di trotoar sembari memeluk satu kaki Antares, mendadak beranjak berdiri.Dengan ketakutan ia berlari pergi memasuki mobilnya, lalu membawanya menjauh dari sana. Suara rem berdecit-decit kala Audi hitam itu menjauh dari pandangan.“Sialan keparat itu!”Antares mengibaskan fabrik celananya yang
**“Wah, mobil siapa yang dipakai Tuan Muda Kedua itu? Apakah sekarang Tuan Muda baru saja bangkrut sampai mengendarai besi rombeng seperti itu?”Pertanyaan bernada gurau terlontar dari salah satu pria yang sedang berada di dalam sedan hitam, di seberang toko es krim bernuansa merah muda.“Tuan Muda yang tolol itu sepertinya menghabiskan seluruh harta bendanya untuk seorang perempuan payah semacam Nona Vega,” sambung yang lain. “Kalau aku tidak sudi. Bahkan aku bisa membeli macam-macam perempuan yang aku mau jika aku menjadi putra Reagan. Nona Vega memang cantik dan punya ukuran dada lumayan. Tapi masih kurang seksi, menurutku.”“Otakmu memang isinya hanya wanita saja. Dasar sampah!”Tiga pria dewasa yang mengintai dari dalam mobil masih saling berdebat satu sama lain. Mempertengkarkan hal-hal tidak penting, sementara menunggu kesempatan untuk menyerang.Sampai salah seorang dari mereka menengahi.“Jadi, bagaimana caranya menyergap Nona Vega dan membawanya kabur? Kau lihat tidak, Tuan
**Meski di luar langit cerah dan matahari bersinar terik, namun di dalam area pemakaman, udara tetap dingin menusuk.Seperti yang Vega ingat pada kedatangan sebelumnya saat pemakaman paman dan bibinya, kabut tipis masih mengambang di antara batu-batu nisan seperti hantu tak kasat mata. Sunyi senyap di sekitar sana. Namun Vega justru senang, sebab ia bisa leluasa berziarah. Tak perlu dipandang aneh oleh orang lain yang datang.Masing-masing satu ikat bunga segar Vega letakkan di pusara paman, bibi, dan yang terakhir, kuburan dengan batu nisan marmer seperti monumen.Arcas Capella terkubur di bawah batu nisan itu.Vega meletakkan ikatan bunganya, lalu mundur. Ia menunduk, memandang dalam-dalam ukiran nama emas di atas batu marmer hitam itu.“Terimakasih ….” ucapnya parau setelah beberapa lama terdiam. “Sudah memberiku kesempatan untuk keluar dari kehidupan yang tidak bisa diharapkan. Jika kau ada di sini, Kakek, aku akan memberimu sebuah pelukan.”Di belakangnya, Antares diam-diam men
**Vega mengerling kepada Antares, seolah meminta persetujuan secara nonverbal kepada pria itu. Antares menangkap maksudnya dengan sangat baik. Pria rupawan itu lantas meraih pinggang Vega dan mendekapnya. Dengan sengaja menunjukkan kepada Regulus bahwa sekarang ia adalah pemilik sah perempuan itu. Bukan Orion.Tak nyaman, namun tak punya pilihan lain. Vega tida bisa menolak. Saat ini, satu-satunya yang bisa diandalkan penuh oleh Vega untuk tempat berlindung hanyalah Antares seorang.“Duduklah.” Pria bersurai cokelat itu berkata pelan seraya menunjuk kursi. Ia membiarkan Vega melangkah lebih dulu dan menyamankan diri.“Selamat siang, Tuan.” Antares menyapa tanpa senyuman. Hanya mengangguk sopan kepada pria separuh baya berkacamata di hadapannya."Selamat siang, Tuan dan Nona!" Regulus duduk menegakkan tubuh. Kedua tangannya terjalin di atas meja. Seperti Antares, ia juga berubah menjadi serius. Tahu bahwa kliennya seperti sedang terburu-buru, atau bersembunyi dari sesuatu. Ditinjau d
**Setelah berhari-hari diguyur hujan, akhirnya pagi ini Vega bisa melihat sinar matahari yang cemerlang, menerobos celah tirai kamar dan membentuk garis bias lurus yang jatuh tepat pada wajahnya.Perempuan itu mengerjapkan mata. Ia geser posisinya sehingga tidak lagi tepat di bawah guyuran cahaya.Selama beberapa saat, Vega masih termangu. Pandangan matanya kosong, menatap sedikit pemandangan di luar jendela kamar yang tampak melalui celah tirai.Sepertinya hari ini akan cerah.“Selamat pagi, Sayang.”Sebuah kecupan manis mendarat di pelipis Vega, bersama dengan aroma wangi parfum yang menguar lembut.Antares meletakkan nampan di atas nakas, berisi segelas jus jeruk dan piring berisi panini.Vega hanya memandangnya dengan kosong.“Bangunlah dan makan sarapanmu. Kau tidak lupa hari ini, kan?”Menggeleng lirih. Tentu saja Vega ingat. Hari ini ia dan Antares sudah membuat janji temu bersama Regulus Skye.Vega sudah mengambil keputusan yang akan mengubah total haluan hidupnya. Ia akan me
**Pertanyaan itu membuat Orion bungkam.Ia masih menatap Vega dalam-dalam. Tepat lurus pada iris birunya yang indah. Tapi sekian waktu berlalu, tetap tidak ada jawaban yang Vega dapatkan. Hingga gadis itu mengangkat bahu dan tertawa pelan.“Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Aku tahu, rasa suka ti
**“Kau memukulnya, Orion? Kalian berkelahi?”Orion memutar bola mata setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya--yang kedengaran kaget sekali.“Kalian benar-benar saling memukul?”“Ya.”“Kenapa harus berkelahi segala? Tidak bisakah bicara baik-baik saja? Aku tidak senang melihat kalian saling meluk
**“Wah?” Senyum lebar menghiasi bibir Antares. Pria itu segera melangkah mendekat, meninggalkan Bentley di belakangnya. “Benarkah? Aku mau! Kau tahu, Sayang? Ini sakit sekali ….”Vega mendesis muak saat Antares mendekatkan wajah, menunjukkan lukanya dan pura-pura meringis kesakitan. “Sudah kulihat
**Pria bersurai hitam itu tidak mengatakan apapun kendati bara api seperti berkobar di kedua mata kelabunya. Ia melangkah masuk dan mengarah lurus kepada Antares. Lalu pada jarak setengah meter jauhnya, ia mendadak melayangkan tinju tepat ke wajah sang saudara kembar.Vega menjerit, mengira akan a







