LOGIN(18+) Vega Capella menikah dengan dua laki-laki! Di hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru, Vega Capella justru terjebak dalam takdir yang tak pernah ia bayangkan. Dijodohkan dengan Orion Reagan—putra konglomerat yang dingin dan penuh misteri—Vega sudah menyiapkan diri untuk menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun saat janji suci terucap di depan altar, pria yang menggenggam tangannya bukanlah Orion. Melainkan Antares Reagan, saudara kembarnya. Kesalahan yang seharusnya bisa dibatalkan berubah menjadi ikatan yang tak bisa diputus. Sebuah janji telah diucapkan, dan dalam dunia keluarga Reagan, janji adalah hukum. Kini, Vega bukan hanya istri dari satu pria—melainkan dua. Di antara Orion yang penuh rahasia dan Antares yang tak terduga, Vega harus bertahan dalam permainan emosi, kekuasaan, dan cinta yang rumit. Tapi semakin lama ia berada di antara mereka, semakin ia menyadari, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua pria itu. Sesuatu yang mungkin akan menghancurkan semuanya. Atau justru menghancurkan dirinya terlebih dulu.
View More**
“Kami adalah utusan dari Tuan Besar Draco Reagan. Kami datang melamar Nona Vega Capella untuk Tuan Muda Orion Reagan, cucu Tuan Besar. Jika anda menerima, pernikahan akan dilaksanakan segera. Tentu saja kami mengharap anda menerima.”
Vega duduk tegak di atas kursinya. Punggungnya menegang seketika ketika para pria berjas hitam di hadapannya menyampaikan kabar mengejutkan itu.
Tamu-tamu dengan gaya perlente ini baru saja datang, memenuhi ruang tamu kecil tempat tinggal Vega yang begitu kontras dengan penampilan mereka. Lalu tanpa hujan tanpa angin mengatakan hal-hal aneh seperti itu.
Siapa yang tidak kaget?
“Me-melamar Vega?” Pria separuh baya yang duduk di samping Vega, pamannya, Hamal Mesakh, menimpali dengan terbata-bata. Ia bergantian menggulirkan pandang dari sang keponakan ke tamu-tamunya yang asing dengan terkejut. Sepasang matanya membola. “Astaga, ini benar-benar sebuah kehormatan besar! Vega, mengapa tidak pernah mengatakan kepada kami jika kau memiliki hubungan dengan Tuan Muda Reagan?”
“Tidak, paman ….” Vega menyela lirih. Gadis itu menampakkan sedikit raut ketakutan saat memandang sang paman yang lebih antusias ketimbang dirinya. “Paman, aku sama sekali tidak pernah mengenal mereka ataupun si tuan muda itu. Aku juga tidak tahu mengapa tuan-tuan ini tiba-tiba datang.”
“Ha! Terserahlah kau kenal tuan muda itu atau tidak. Yang jelas, kami menerima dengan senang hati, tuan-tuan! Dengan senang hati! Benar kan, istriku?”
Hamal beralih kepada wanita di sampingnya yang juga terlihat terkejut. Istrinya, Aquila Mesakh pun mengiyakan, mengangguk dengan penuh semangat.
“Vega sungguh beruntung. Kami merasa sangat terhormat tuan-tuan!”
Sementara itu Vega sendiri diam menahan napas. Ini sungguh tidak baik. Bagaimana mungkin ia tiba-tiba akan menikah dengan seseorang yang asing seperti ini?
Sebenarnya, tidak bisa dibilang tidak mengenal sama sekali. Keluarga Reagan adalah salah satu old money di kota Metropole. Mereka memiliki banyak cabang bisnis turun temurun dan hampir semuanya menguasai sektor masing-masing. Kekayaan mereka seperti tidak akan habis bahkan sampai generasi ketujuh. Vega tentu saja sudah sering melihat orang-orang ini di dalam layar kaca, meski belum pernah bertemu langsung.
Dan Vega seperti kebanyakan penduduk biasa kota Metropole, hanya tahu hal itu saja. Ia tidak tahu bahwa keluarga itu memiliki cucu seumuran dirinya.
Vega yang gadis yatim piatu dan sejak bayi hingga saat ini tinggal bersama keluarga pamannya, bahkan tidak pernah berani bermimpi menjadi bagian dari keluarga prestisius namun misterius itu.
Lalu jika sekarang tiba-tiba saja datang utusan mereka dan mengatakan akan melamar Vega untuk cucu keluarga itu, apakah itu masuk akal?
Jelas tidak sama sekali.
“Saya benar-benar tidak mengenal tuan muda anda. Barangkali anda salah orang?” Vega kembali berujar. Ia merasa harus meluruskan hal ini. “Tuan-tuan, saya hanya–”
“Nona adalah cucu dari Tuan Arcas Capella, benar kan?”
Vega terkesiap. Ia tanpa sadar bertemu pandang dengan sang paman, yang juga tampak terkejut. Tapi terkejutnya pria itu, lebih seperti terkejut karena menemukan harta karun.
“Ba-bagaimana anda tahu? Kakek saya sudah lama sekali meninggal. Kedua orang tua saya juga sudah meninggal. Tidak ada yang mengenal keluarga saya sebelum ini.”
“Nona ….” salah satu pria berjas hitam itu berkata dengan sangat serius kepada Vega dan Hamal. “Tuan Arcas adalah satu-satunya sahabat Tuan Besar kami. Beliau berdua memiliki janji di masa lalu untuk membentuk keluarga dengan menjodohkan para cucu. Setelah Tuan Besar kehilangan kontak bertahun-tahun yang lalu, beliau berusaha mencari kembali informasi mengenai Tuan Arcas. Dan kami menemukan anda.”
Vega menggeleng pelan. Ini masih kedengaran tidak masuk akal baginya. Gadis 24 tahun itu menghela napas sekali lagi. Ia tidak bisa menerima semudah itu.
Namun sebelum Vega bisa menyuarakan penolakan lebih lanjut, Hamal buru-buru menyela. Ia mendelik penuh ancaman kepada Vega, lalu berkata dengan suara manis kepada tamu-tamunya.
“Astaga, kami sangat terharu dengan kebaikan Tuan Draco. Tolong sampaikan kepadanya, Vega menerima perjodohan ini dengan senang hati. Kami siap kapanpun acara pernikahannya akan dilaksanakan. Tapi tentu saja ….”
Hamal menggosokkan kedua telapak tangan. Senyumnya melebar, namun sepasang matanya berbinar licik. “Bukankah seharusnya ada … ini atau itu?”
“Oh ….” Salah satu pria berjas hitam mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah koper yang dari tadi digenggam erat di tangannya. Ia membukanya di atas meja kayu yang sudah berlubang-lubang, memperlihatkan isinya yang membuat Vega, Aquila, dan Hamal sakit mata sebab terlampau silau.
“Hadiah dari Tuan Besar jika anda menerima lamaran kami. Ini kunci villa di tepi pantai kota, kunci sebuah toko bunga yang siap dikelola, dan uang tunai lima ratus ribu dollar. Semuanya untuk Nona Vega.”
Vega merasa jantungnya meloncat ke tenggorokan setelah mendengar hal itu. Tapi Hamal dan Aquila, jelas tersenyum lebar.
*
“Paman, Bibi, haruskah kita melakukan ini? Aku sama sekali tidak mengenal pria yang mereka katakan itu ….” Vega berujar dengan lirih untuk entah ke berapa kalinya. Membuat dua orang dewasa mendesis karena muak.
“Kalian sudah berkenalan kemarin, apa kau lupa?” tukas Aquila dengan ketus. “Menurut sajalah, Vega! Kau bakal hidup enak. Dan lagi, calon suamimu tampan seperti dewa. Apalagi yang membuatmu keberatan, ha?”
“Benar sekali.” Hamal menambahkan. “Bukankah ini adalah waktumu balas budi? Kami sudah merawatmu dengan sukarela sejak kau bayi, tahu.”
Vega menggigit ujung bibir. Tidak punya pilihan lain, dan tidak punya kuasa apapun untuk menolak.
Pada akhirnya, Vega memang harus menerima lamaran itu. Para utusan datang lagi setelah beberapa hari. Pada pertemuan kedua itu, mereka datang bersama putra kandung Draco Reagan, Altair Reagan, serta cucu yang akan mereka jodohkan, Orion Reagan.
Pria 28 tahun itu sangat diam, dingin dan terlihat menjaga jarak. Walau ia juga tampan sekali seperti patung dewa. Vega tidak tahu bagaimana bisa menjalani pernikahan dengan sosok macam itu. Bahkan memandang wajahnya saja Vega takut.
Tapi janji masa lalu, memang menuntut untuk ditepati. Sekalipun tak pernah mengenal kakeknya, ia memang sungguh tidak bisa menolak. Sebab keluarga Reagan terlalu berkuasa.
*
Vega menghela napas panjang. Saat ini, di ruang ganti gereja. Ia meremas gaun pengantin putih yang dikenakannya. Membayangkan satu langkah lagi, ia akan gadaikan masa depan dan sisa hidupnya untuk menikahi orang yang sama sekali tidak dirinya kenal.
Berapa lama lagi?
Nyaris satu jam berlalu, bisik-bisik hadirin di dalam gereja mulai terdengar hingga ke dalam ruang ganti. Vega mendengarnya dengan jelas.
“Pengantin prianya tidak datang? Mungkin dia kabur. Sepertinya pernikahannya tidak jadi dilaksanakan ….”
***
**Satu Tahun Kemudian“Please, bertahan. Kau bisa, Sayang. Aku di sini, kau bersamaku ….”Sepasang mata kelabu milik Antares itu basah. Jemarinya yang panjang gemetaran, menggenggam tangan pucat dan lemah milik Vega.Sebenarnya, ini adalah kali pertama Vega melihat Antares begitu emosional sampai menangis sepanjang ia mengenal pria itu.Namun, keadaan membuatnya tak mampu mencerna informasi nonverbal apapun yang ada di sekelilingnya saat ini.“Ssh … sakit sekali, Ares. Aku rasanya mau mati ….”“Tidak! Tidak, ayo berjuang sedikit lagi. Kau bisa, kau pasti bisa!”Vega memejamkan mata sesaat kala tekanan kencang seperti nyaris merobek bagian bawahnya. Selang oksigen yang membantu napasnya seperti tidak berguna. Ia merasa tercekik.“Dokter, tolong istriku! Lakukan sesuatu!” Antares berseru kepada wanita yang mengenakan pakaian steril biru muda di sampingnya. Yang anehnya, perempuan itu justru tersenyum.“Tidak bisa terburu-buru, Tuan. Kita harus mengikuti alur. Pembukaan masih belum leng
**"Apa kau yakin ini adalah keputusan yang paling tepat, Vega? Kau sudah memikirkan dengan sebaik-baiknya?"Vega mengangguk. Ia tersenyum, membalas genggaman tangan ibu mertuanya yang hangat."Keputusan yang tepat adalah membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, Ibu. Segalanya sudah tertata dengan sangat baik. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang salah. Perubahan hanya akan membuatnya rusak.""Kau sangat bijaksana." Lyra mengusap pipi menantunya yang bersemu kemerahan. "Aku dan ayahmu tidak akan melakukan apapun. Kami hanya akan meneruskan dan merawat perusahaan. Kelak jika anak-anak kalian sudah cukup mampu, kami akan kembalikan semuanya kepada mereka. Kepada kalian, yang memang berhak.""Aku sangat berterima kasih."Vega menjatuhkan diri ke dalam pelukan Lyra, dan wanita itu membalas dengan hangat. Kedua perempuan itu berpelukan lama. Lyra menambahkan tepukan-tepukan lembut di punggung Vega."Harus kau tahu, aku dan ayahmu sebenarnya keberatan jika kau meninggalkan mansi
**DARR!Suara letusan itu datang tepat bersamaan dengan ketika Draco menarik pelatuk pistolnya hingga memuntahkan peluru yang bersarang tepat di dada sang cucu pertama.Lalu bersamaan pula dengan rebahnya tubuh Orion, tubuh Draco pun demikian.Pistol yang masih berasap terjatuh dari tangannya, seiring dengan tubuh tua yang terkulai pelan. Tidak seperti Orion yang masih sempat mengucapakan kata perpisahan terbata-bata kepada Vega, Draco tidak sempat sama sekali.Ia bahkan tidak tahu siapa yang menembakkan peluru hingga menembus belakang kepalanya. Hanya dalam waktu kurang dari tiga detik, hidup Draco Reagan berakhir dengan tragis.Sudah benar-benar berakhir. Darah menetes menuruni lehernya, matanya separuh memejam, dan ekspresi wajah terakhirnya kosong tak ada apapun.Tapi Antares melihatnya dengan sangat jelas. Pria itu kebingungan harus bereaksi bagaiamana. Sebab bersamaan dengan saudara kembarnya yang sekarat, kenyataan yang mencengangkan jelas terpampang di depan kedua matanya."S
**Jantung Vega rasanya seperti berhenti berdetak.Sepasang iris birunya melebar panik, kala melihat ujung pistol milik Draco yang sama sekali tidak bergerak. Lurus mengarah ke jantungnya.Perempuan itu memejamkan mata sejenak.Jika aku mati hari ini … Ya, sepertinya aku akan mati hari ini ....“Kau akan berakhir sama seperti kakekmu, Vega Capella. Pria bodoh yang percaya bahwa semua makhluk di dunia ini memiliki hati yang baik.”Vega tercekat mendengar kata-kata itu. Matanya kembali terbuka.“Ka-kau ….”“Kau sama bodohnya seperti kakekmu. Dan pada akhirnya, kau pun akan berakhir sama seperti dia. Mati di tanganku.”“Apa yang kau katakan?” Bibir Vega bergetar, membuat suaranya ikut parau. "Ja-jangan bercanda ...."Ia tidak mau mempercayai pendengarannya. Namun kata-kata itu terucap dengan sangat jelas.“Aku yang membunuh Kakekmu. Ayah dan ibumu, yang adalah ahli waris sah. Juga paman dan bibimu yang keberadaannya sempat mengancam kedudukanku. Sekarang tiba giliranmu. Kau juga akan ber
**“Seseorang pasti sudah memberikan informasi kepada Regulus Skye, bahwa Vega sudah kita dapatkan. Dia datang ke sini dan terus mendesak.” Draco Reagan menjelaskan kepada cucu sulung dan putranya siang ini, di dalam ruang kerjanya yang sejuk. Aroma musk lembut menguar dari pengharum ruangan di sud
**“Kakek ….” Vega memandang dua lembar kertas tebal di atas meja itu, lalu beralih kepada pria tua di hadapannya. Dahinya berkerut, ragu-ragu hendak menanyakan hal ini. Kendati begitu, perempuan itu tetap bersuara. “Tiketnya hanya ada dua lembar saja?”“Kau benar.” Senyum lebar Draco menghiasi waj
**Duduk di tepi ranjang, Orion menatap kosong pada sosok yang meringkuk di bawah hamparan selimut itu. Sesekali tubuh kecilnya bergerak pelan, disertai gumam lirih tanpa makna. Barangkali sedang merangkai kata-kata dalam tidurnya. Entahlah.Pria rupawan itu menghela napas. Ia bangkit dari atas ran
**Metropole Royal Hospital, ruang VVIP.Pria bersurai putih itu menyesap chamomile tea hangat yang baru saja ditinggalkan suster untuknya. Mulutnya mencecap rasa manis lembut dan aroma wangi yang menguar bersama uap panas di permukaan gelas, sementara sepasang mata gelapnya lurus memandang layar l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.