Share

Bab 4

Author: Liam
Perlahan, inci demi inci, dia meraba ke bawah dengan ujung jarinya hingga menyentuh tepi area yang sedikit melengkung karena malu.

Aku merasa seperti ada semut yang tak terhitung jumlahnya merayap di perut bagian bawahku, terasa gatal dan mati rasa. Panasnya juga makin terasa menyengat.

Habislah aku.

Tak disangka, aku akan menunjukkan reaksi memalukan seperti ini terhadap bosku.

"Rileks, jangan melawan." Suaranya dalam dan serak, dengan daya magis yang menghipnotis.

Aku merasa tekadku perlahan-lahan terkikis olehnya.

Naluri tubuhku mengalahkan pergumulan akal sehatku. Aku berhenti melawan dan membiarkannya mengendalikan tubuhku, membimbingku untuk melakukan berbagai gerakan peregangan yang sulit.

Dia bagaikan seorang pemahat ulung, sedangkan aku adalah tanah liat terlembut di tangannya, diuleni dan dibentuk menjadi berbagai macam bentuk yang memalukan.

Tanpa disadari siapa pun, suasana di studio tari menjadi sangat ambigu dan tegang.

"Lakukan gerakan backbend."

Kakiku lemas dan nyaris tidak bisa berdiri, tetapi aku tetap dengan patuh berdiri dengan benar di depannya.

"Aku ... aku butuh bantuan." Biasanya, kita perlu menggunakan dinding atau pasangan untuk melakukan gerakan ini.

"Akan kubantu," katanya dengan nada santai.

Dia berjalan di belakangku dan meletakkan tangannya dengan kuat di pinggangku.

Tangan-tangannya yang besar itu seolah membawa stempel, meninggalkan sensasi terbakar di mana pun yang disentuhnya. Dia meremas daging lembut pinggangku, seolah mencari titik yang tepat untuk mengerahkan tenaga.

Aku menarik napas dalam-dalam dan tubuhku perlahan condong ke belakang.

Saat tubuhku condong ke belakang, lekuk dadaku terlihat sepenuhnya. Tanpa bra, kedua gundukan putih itu menampilkan lengkungan yang menakjubkan di bawah pakaian latihan ketat, yang sedikit bergetar mengikuti napasku.

Pinggangku sangat lentur. Itu adalah bakatku sebagai seorang penari. Namun, Vincent sepertinya tidak puas.

Tepat ketika tubuhku membungkuk seperti busur dan hampir mencapai batas, tangannya yang berada di pinggangku tiba-tiba menekan dengan keras!

"Ah!" teriakku dengan kaget karena tidak siap.

Tubuhku terdorong secara paksa ke sudut yang belum pernah kucapai sebelumnya. Sensasi tajam dan geli menjalar di tulang belakangku, seolah-olah akan patah kapan saja.

"Kalau makin ke bawah lagi, pinggangku akan patah ...." pintaku dengan suara bergetar karena air mata.

Dia sepertinya tidak peduli sama sekali. Dia menunduk, dadanya yang panas menempel di punggungku.

"Nggak bakal patah." Tawanya yang dalam menggema di telingaku, membuat gendang telingaku terasa gatal. "Itu hanya akan membuatmu makin lentur."

Jari-jarinya menyusuri tulang punggungku ruas demi ruas, seolah mengagumi sebuah karya seni. Sentuhannya dipenuhi rasa agresif dan posesif yang kuat.

Akhirnya, tangannya berhenti di tulang ekorku, ujung jarinya memijat tonjolan kecil itu dengan gerakan melingkar yang ambigu dan kuat.

"Ugh ....!" Aku bergidik, kenikmatan yang tak terlukiskan menjalar dari tulang ekorku langsung ke puncak kepalaku, seketika menutupi semua rasa sakit dan mati rasa.

Aku merasa kakiku lemas, dan seluruh tubuhku nyaris ambruk.

Dia mendukungku tepat waktu, mengangkatku dari posisi bawah, dan membawaku ke dalam pelukannya.

Aku merasa seolah tidak punya tulang, ambruk ke pelukannya, sambil terengah-engah. Keringat telah membasahi pakaian latihanku yang menempel erat di tubuhku, dan menonjolkan setiap lekukan yang memalukan.

"Sepertinya kekuatan fisikmu juga nggak terlalu bagus." Dia menatapku dari atas, matanya dalam dan tak terduga, seperti danau tanpa dasar.

Tatapannya menyapu pipiku yang berkeringat dan telingaku yang memerah. Terakhir, tertuju pada pakaian latihanku yang basah kuyup oleh keringat dan menempel ketat di tubuhku.

Dia tiba-tiba mengangkatku dan membawaku ke cermin besar itu.

Aku tersentak dan secara naluriah melingkarkan lenganku di lehernya, tetapi dia menekan tubuhku ke cermin yang dingin. Tubuhnya yang panas mengikuti di belakangku.

"Nggak apa-apa kalau kekuatan fisikmu nggak bagus," bisiknya di telingaku. Tubuh bagian bawahnya yang mengeras menekan bokongku yang berisi.

"Kita bisa ... mulai dari bagian yang paling sederhana, yaitu kaki, melenturkannya sedikit demi sedikit."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 14

    "Sudah, kamu boleh keluar sekarang," kata Vincent kepada Pengacara Arvin.Pengacara Arvin mengangguk, mengambil dokumen-dokumen itu, lalu keluar.Sekali lagi, hanya kami berdua yang tersisa di kantor.Suasana seketika menjadi ambigu.Vincent berjalan mendekatiku, mengulurkan tangan, dan dengan lembut mengusap pipiku."Kalau begitu, Pelatih Natasha." Dia sengaja menekankan kata 'pelatih'. "Sekarang, bisakah kamu mulai 'pekerjaanmu'?"Jantungku berdebar kencang, dan secara naluriah mundur selangkah."Sekarang? Di ... di sini?""Kalau nggak?" balasnya. "Apa kantorku nggak cukup untuk kamu gunakan?"Sambil berbicara, dia mengangkatku dan menempatkanku di atas meja besar itu."Ah!"Aku tersentak dan refleks mengulurkan tangan untuk memeluk lehernya.Dalam posisi ini, aku duduk di atas meja, sementara dia berdiri di depanku.Garis pandangku tepat sejajar dengan garis pandangnya.Dia menopang tubuhnya di atas meja dengan kedua tangan, menjebakku dalam pelukannya."Katakan padaku, kamu ingin a

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 13

    Pihak Pertama perlu membayar Pihak Kedua 'gaji' sebesar satu miliar per bulan.Satu miliar!Di sepanjang hidupku, aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak 100 juta.Dia justru memberiku gaji sebanyak satu miliar sebagai tunjangan bulanan.Ironis sekali."Bagaimana?" Vincent menatapku, ada sedikit nada mengejek dalam suaranya. "Harga ini cukup untuk membeli 'jasamu', 'kan?"Saat melihat kontrak itu, aku merasakan berbagai macam emosi.Kemarahan, penghinaan, ketidakengganan ....Dan juga ada sedikit rasa tergoda, yang bahkan tidak berani kuakui sendiri.Satu miliar per bulan? Aku tidak akan pernah bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam hidupku.Dengan uang ini, aku bisa membeli rumah yang lebih besar untuk orang tuaku di kampung, membayar biaya kuliah adik laki-lakiku, juga ....Hidupku akan berubah total.Namun, harga yang harus kubayar adalah menjual tubuh dan harga diriku.Apa itu layak?Aku tidak tahu.Yang kutahu hanyalah pria ini telah mendorong hidupku ke ambang jurang.Ma

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 12

    "Ada masalah apa?" tanyanya. Nadanya dingin, seolah-olah sedang berbicara dengan orang asing.Aku sangat marah sampai sekujur tubuhku gemetaran.Aku berjalan ke depan mejanya, meletakkan tanganku di permukaan meja, dan mencondongkan tubuh untuk menatapnya."Vincent, apa maksudmu?""Apa maksudku?" tanyanya, berpura-pura tidak tahu."Kenapa memecatku?" tanyaku dengan nada menuntut."Oh, itu?" katanya dengan santai. "Menurutku, kemampuanmu nggak memenuhi persyaratan perusahaan kami.""Kemampuan?" Aku tertawa kesal. "Kemampuan profesionalku adalah yang terbaik di antara semua pekerja magang! Kamu bilang aku nggak memenuhi persyaratan?""Yang kubicarakan adalah aspek lain." Dia menatapku, senyum mengejek tersungging di bibirnya. "Sebagai pekerja di industri jasa, kalau kamu bahkan nggak punya kesadaran dasar tentang 'menyenangkan' pelanggan, katakan padaku, apa gunanya mempertahankanmu?""Kamu!"Kata-katanya bagaikan pisau beracun, menusuk di hatiku.Ternyata, baginya, aku bahkan bukan seor

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 11

    Saat ini, aku tidak bisa menahan diri lagi dan menangis tersedu-sedu.Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Sampai suaraku menjadi serak, aku baru berhenti.Aku menyeret tubuhku yang kelelahan, mandi, dan berganti pakaian.Saat aku keluar dari ruang ganti, seluruh lantai masih kosong.Suasana di sekitar kolam renang juga tenang.Dia sudah pergi.Bagus juga.Aku terkekeh sendiri dan masuk ke dalam lift.Aku tidak masuk kerja keesokan harinya.Aku mengirim pesan kepada atasanku untuk mengatakan bahwa aku tidak enak badan dan perlu mengambil cuti beberapa hari.Kemudian, aku mengunci diri di kamar kost-ku dan tidur selama dua hari berturut-turut.Aku mencoba melupakan semua yang terjadi malam itu dengan tidur, berusaha melupakan pria bernama Vincent itu.Namun, aku tidak bisa melakukannya.Begitu memejamkan mata, yang terbayang adalah dirinya yang 'membimbingku' di studio tari dengan telapak tangannya yang panas.Di adegan kolam renang itu, dia menggunakan ciuman yang mendominasi dan t

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 10

    Astaga ....Ini ....Sebelum aku sempat pulih dari keterkejutan, dia meraih tanganku, melingkarkannya di benda besar itu, dan mulai menggerakkannya perlahan ke atas dan ke bawah."Kamu suka 'peralatan latihanku' nggak?" tanyanya sambil tertawa kecil. "Ini disiapkan khusus untukmu."Wajahku terasa sangat panas, seperti hampir berdarah.Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa jika benda ini benar-benar masuk ke dalam tubuhku.Saat aku sedang melamun, dia tiba-tiba dia meraih pinggangku dan mengangkatku dengan paksa!Aku tersentak kaget, tubuhku terangkat ke atas tanpa terkendali.Dan benda besar itu, memanfaatkan situasi tersebut, menempel erat pada bagian terlembut dan paling basah dari lubang masukku.Tinggal sedikit lagi ....Tinggal sedikit lagi akan masuk!"Jangan!"Akhirnya aku kembali sadar sepenuhnya setelah kenikmatan yang luar biasa itu dan berteriak ketakutan.Kami belum mengambil tindakan pencegahan apa pun, dan ... dan aku bahkan tidak tahu orang seperti apa dia!A

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 9

    Aku terpaksa mendongak dan menahan serangan brutalnya.Tangannya yang satunya lagi pun tidak tinggal diam.Tangan besar itu menelusuri perutku yang rata dan masuk ke dalam air.Kemudian, dengan tepat menemukan tepi baju renangku.Jari-jarinya yang ramping dengan mudah menyingkirkan kain tipis itu dan menyelip ke dalamnya."!"Kontras antara ujung jari yang dingin dan area sensitif yang sangat panas membuatku merinding.Secara naluriah aku ingin mencoba merapatkan kakiku, tetapi kakiku masih bertumpu di pundaknya, dan aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali.Aku hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat dia melakukan apa pun yang dia inginkan padaku.Jari-jarinya begitu terampil.Dia tidak terburu-buru untuk masuk lebih dalam, tetapi dengan lembut memijat dan memainkan bagian luarnya.Setiap sentuhan tepat mengenai titik paling sensitifku.Dia sudah hampir membuatku gila.Panas di dalam tubuhku makin kuat, nyaris menelanku hidup-hidup."Mau?" tanyanya dengan suara serak, menggigit bibir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status