Short
Dosa Bersama Kakak Ipar

Dosa Bersama Kakak Ipar

By:  Pelan-pelan SajaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Jangan, jangan pakai lidah….” Di dalam kursi penumpang depan yang sempit, pergelangan kakiku dicengkeram erat oleh seorang pria kekar yang bertenaga besar. Tubuhku diangkat dengan mudahnya, memperlihatkan area intimku yang sudah basah terangsang. Pria itu terengah-engah, napas hangatnya yang menerpa membuat seluruh tubuhku merinding. “Kumohon… jangan, kamu itu kakak iparku….” Namun, pria yang sudah dikuasai gairah itu tak mungkin mendengarku. Dia langsung menjilat sudut bibirnya dan menundukkan kepalanya….

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku adalah seorang wanita muda yang sudah menikah selama tiga tahun, tapi tanda-tanda kehamilan masih belum juga ada.

Ibu mertua memang sudah sejak awal meremehkan latar belakang keluargaku. Melihat aku yang belum juga melahirkan anak laki-laki, dia pun tiada hari tanpa menghinaku dengan berbagai kata-kata kasar.

“Apa gunanya punya wajah cantik? Bahkan bertelur saja nggak bisa!”

“Kamu nggak bisa merayu suamimu biar bermain lebih sering? Pantatmu itu hanya dipajang buat jadi hiasan saja?”

Kata-kata vulgar dan menyakitkan itu terus-menerus menusuk telingaku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, selain menunduk pasrah.

Bukannya aku tak mau merayu suamiku agar bermain lebih sering, tapi masalahnya… dia tak tertarik padaku sama sekali.

Aku sudah mencoba beberapa kali dan memikirkan berbagai cara, tapi sikapnya tetap saja dingin dan acuh tak acuh.

Lama-kelamaan… ibu mertuaku pun tak tahan lagi melihatnya. Dia berinisiatif memberikan sebuah resep rahasia padaku.

“Campurkan ini ke dalam teh saat menyeduhnya nanti malam, paham nggak?”

Aku mengangguk dan malam itu juga memakai gaun sexy yang tak berani kupakai sebelumnya. Dengan membawa secangkir teh yang sudah diseduh, aku berjalan ke lantai atas.

Siapa sangka, ternyata suamiku tak ada di ruang kerja dan teh itu malah diminum oleh kakak iparku, Hendra yang tak tahu apa-apa.

Melihat kakak ipar meneguk habis secangkir penuh teh itu, aku langsung membeku.

“Kak… kamu….”

Sangking gugupnya, aku sampai tak bisa berkata-kata. Mataku tanpa sadar melirik ke arah pinggangnya yang tegap dan kekar.

Di balik celana bahan yang rapi itu, seolah-olah ada seekor binatang buas yang mengerikan dan siap menerjang keluar kapan saja.

Hendra meletakkan cangkir tehnya, jakunnya bergerak naik turun menelan ludah dan langsung merasa tenggorokannya sangat kering.

“Lusy, rasa teh ini… sepertinya agak aneh….”

Melihat Hendra yang mulai merasa tak nyaman dan mengulurkan tangan untuk melonggarkan dasinya, jantungku rasanya menegang.

Aku bergegas menghampiri untuk memapahnya, lalu menjelaskan dengan suara pelan sambil menundukkan kepala.

“Kak, sebenarnya… teh ini untuk Hendi, aku nggak tahu kalau kamu malah meminumnya….”

“Aku langsung antar kamu ke rumah sakit sekarang….”

Mendengar itu, Hendra langsung mengerti.

Tatapannya ke arahku perlahan berubah menjadi rumit. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia hanya bergumam pelan menyetujuiku.

Aku memapahnya turun ke lantai bawah, segera membuka pintu kursi penumpang depan agar dia bisa masuk. Aku sendiri berputar menuju kursi pengemudi untuk menyetir.

Mungkin karena terlalu panik, tanganku gemetar hebat sampai-sampai kunci mobil pun tak bisa masuk ke lubangnya.

Hendra memijat alisnya dan suara beratnya terdengar dari samping,

“Jangan panik, aku masih bisa menahannya….”

Entah apa yang merasukiku, setelah mendengar ucapan itu, aku malah melirik ke bawah sekali lagi.

Lirikan itu benar-benar membuat napasku tercekat dan dalam hati berteriak panik, “Besar sekali!”

Jika dibandingkan dengan suamiku… ini benar-benar bagaikan langit dan bumi.

Wajahku langsung merona. Aku segera menggelengkan kepala untuk membuang semua pikiran kacau itu.

Setelah mobil menyala, aku langsung melajukannya ke arah rumah sakit.

Namun, belum lama mobil melaju di jalanan, Hendra di sebelah sudah mulai mengerang tertahan berulang kali.

Di dalam ruang mobil yang sempit itu, hembusan napasnya yang panas terus-menerus menerpa kulitku, membuat wajahku semakin terasa terbakar.

“Kak… kamu… kamu baik-baik saja?”

Aku mencengkeram setir dengan erat, lalu segera menepikan mobil dan berhenti untuk memeriksa keadaan Hendra dengan seksama.

Pipi Hendra tampak merah merona, dadanya bergerak naik turun dengan cepat karena napas yang memburu dan di dalam matanya terpancar gejolak gairah yang membara.

Aku baru saja berniat mengeluarkan ponsel untuk menelepon rumah sakit, tapi detik berikutnya, sebuah telapak tangan yang besar langsung mencengkeram pergelangan tanganku. Sentakan pelan darinya membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan langsung tersungkur ke arahnya.

“Ah….”

Setelah jeritan kaget itu, seluruh tubuhku sudah berada dalam dekapan kakak ipar.

Kedua tangannya bergerak cepat, yang satu menopang bokongku, sementara yang lain melingkar erat di pinggangku.

Seketika itu juga, aroma maskulin pria yang sangat pekat langsung menyerang indra penciumanku.

“Lusy, aku sudah nggak tahan lagi, tolong bantu aku….”

Belum sempat aku bereaksi, Hendra sudah menuntun pergelangan tanganku dan perlahan mengarahkannya ke ikat pinggang bermerek miliknya.

Bunyi klik dari gesper logam yang terbuka membuat seluruh tubuhku tersentak kaget.

Aku langsung tersadar, lalu buru-buru mendorong tubuh Hendra yang kesadarannya sudah mulai hilang.

“Kak… sadarlah, aku akan segera menelepon rumah sakit….”

Satu tanganku sekuat tenaga mendorong dada Hendra yang sangat keras, sementara tangan yang lain meraba-raba kursi untuk mencari ponsel yang terjatuh tadi.

Namun, Hendra sama sekali tak ada bedanya dengan binatang buas yang sedang mengamuk sekarang. Caranya memandangku persis seperti seorang predator yang sedang mengunci mangsanya.

Baru saja aku menyentuh ponsel, dia langsung menekan tubuhku ke bawah dengan sangat kuat.

“Uh….”

Menyadari ada yang tak beres, aku spontan menutup mulutku sendiri, tapi seluruh tubuhku tak bisa berhenti gemetar.

Hari ini, aku sengaja memakai gaun sexy dan di baliknya hanya memakai celana dalam thong yang sangat tipis.

Begitu tubuhku ditekan seperti ini, ukuran yang begitu luar biasa dan megah itu langsung terbayang jelas di benakku.

Aku bahkan merasa bagian bawah gaunku sudah terdesak dalam… oleh sesuatu yang sangat besar….

“Kak….” Napasku rasanya semakin sesak, kedua lengan mulusku bergetar hebat saat menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, sambil memohon, “Kumohon jangan… sadarlah….”

Hendra tampaknya masih memiliki sedikit sisa kesadaran. Dia menegakkan tubuhnya, lalu memelukku erat-erat.

“Lusy, aku bisa menahan diri untuk nggak masuk. Tapi, diriku benar-benar tersiksa sekarang, bolehkah… aku menyentuhnya saja?”

Menyentuhnya? Menyentuh bagian mana….

Aku sangat malu, sama sekali tak berani berpikir lebih jauh.

Namun, bagaimanapun juga, masalah ini timbul karena ulahku dan kakak ipar hanyalah korban yang tak bersalah.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status