Mag-log inCelin tiba-tiba di ceraikan suaminya yaitu Arka dengan alasan kontrak pernikahannya telah usai dan kekasih lamanya sudah kembali. Tak ada pilihan bagi Celin selain menerimanya meski hatinya hancur berantakan. Dalam kesendiriannya, Celin di pertemukan seorang Dokter Muda yang tampan. Di saat hubungan mereka dekat Arka kembali setelah menyadari cintanya pada Celin.
view more"Celine, ayo kita bercerai ...!" ucap Arka seraya menyerahkan selembar kertas itu di atas meja.
Degh! Celine benar-benar terkejut. Tak ada angin ataupun hujan mengapa tiba-tiba Arka mengajukan perceraian. Wanita itu membeku di tempat. Dia masih berusaha mencerna apakah permintaan Arka ini sebuah mimpi. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk, ingin dia segera membantahnya karena selama ini sebagai seorang istri dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. "Katakan ... apa kesalahanku, Mas?" tanya Celine dengan suara getir terbata-bata. Batinnya masih ingin mengelak yang baru saja dia dengar. Tapi ini nyata, ia berusaha bangkit dari kesadarannya. "Kamu lupa pernikahan kita hanya sekedar kontrak. Dan aku terpaksa memenuhinya karena wasiat dari Kakek. Sekarang Natasha sudah kembali dari luar negeri. Kakek juga sudah meninggal. Jadi, aku tidak perlu meneruskan pernikahan ini," terang Arka. Celine terdiam sejenak. Ia baru sadar rupanya perjuangannya selama ini membuat Arka jatuh cinta padanya sia-sia. Tiga tahun bersama baginya cuma butiran debu tak berbekas. Tetap saja cinta Arka tersemat hanya untuk Natasha. Ia sadar pernikahan yang di bangun tanpa dasar cinta sangat rapuh pondasinya. Tapi Celine berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang di harapkan Arka. Meski sebenarnya selama ini tidak ada kehangatan ataupun keharmonisan rumah tangga. Karena dirinya hanya sebagai pengganti Natasha. Tapi tidak bisa menggantikan posisi Natasha di hati Arka. Selalu saja Natasha yang menjadi ratunya. "Jangan bercanda Mas. Ini tidak lucu," ucap Celine berusaha mengaburkan suasana. Ia masih berharap ini tidak betulan. Mungkin Arka lagi nge prank dirinya. "Untuk apa aku bercanda. Ambil berkas ini dan pelajari semuanya. Jangan khawatir aku tetap akan memberikannya harta yang aku janjikan," kata Arka. "Besok kita bisa membicarakannya lagi. Yang jelas aku ingin perceraian secepatnya. Karena aku tidak mau hubunganku dengan Natasha menjadi rumit kalau dia pulang nanti," pungkas Arka menambahkan. Ia pergi begitu saja seolah baru saja menyerahkan berkas biasa. Celine masih berdiri di tempatnya. Selalu saja Natasha yang jadi prioritas. Apa dia tidak tahu betapa sakit dan perihnya hati Celin saat ini. Ia merasa oksigen yang biasa dia hirup di rumah itu makin menipis. Kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dengan mudahnya Arka menyingkirkannya dirinya. Seolah dirinya hanya sampah tak berguna. Habis manis sepah di buang. Dulu dia begitu bahagia ketika di jodohkan dengan Arka. Sudah selama sepuluh tahun lebih diam-diam Celine memuja Arka. Ia masih ingat betul bagaimana dulu Arka begitu baik padanya. Bahkan menyelamatkan nyawanya ketika kecelakaan menimpanya. Arka merawatnya sepenuh hati. Celine pikir hati Arka mulai terbuka hingga menerima pernikahan itu. Tak tahunya karena Natasha kekasihnya tidak bisa menjadi pengantinnya karena sedang dapat tawaran kontrak jadi model di luar negeri. Kakeknya terkena serangan jantung karena mendadak pengantin wanita tidak datang. Padah acara pernikahan di gelar mewah. Untuk menyelamatkan nama baik keluarga Arka meminta Celin sebagai penggantinya. Celine pikir berjalannya waktu Arka bisa menerima dirinya sebagai istri sesungguhnya. Nyatanya sekarang keinginannya tetap bulat menceraikan dirinya. Ia lalu membuka berkasnya sekali lagi. Melihatnya sekilas, senyum getir tersungging di bibirnya. "Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan Mas. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." Celine akhirnya membubuhkan tanda tangannya tanpa menunggu besok. Untuk apa? Baginya besok atau sekarang hasilnya sama saja. Ia baru sadar pantas selama ini Arka selalu menyuruhnya meminum pil kontrasepsi. Celin kembali tersenyum pahit. Arka tidak pernah menginginkan anak dari rahimnya. Sekarang ia justru bersyukur tidak memiliki anak dari Arka. Karena kehadiran seorang anak akan mempersulit dirinya. Dan beban batinnya. Tanpa komando air matanya meleleh di pipi. Perceraiannya justru terjadi di hari penting. Yaitu peringatan ulang tahun pernikahannya yang telah genap memasuki usia tiga tahun. Ironis memang, tapi inilah yang terjadi. Semenjak meninggalnya ibunya, Celine sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Arka. Dia merasa punya kehidupan baru semenjak menikah dengan Arka. Melayani semua kebutuhan suami adalah semangat hidupnya. Rasanya dia memiliki harapan hidup lagi dan rencana ke depan yang begitu indah. Hingga pada hari ini Arka kembali mengingatkannya kalau pernikahannya sebatas kontrak. Dan harus di akhiri. Berbagi peluh selama tiga tahun ini, melayaninya sepenuh hati ternyata tidak cukup menggugah hati seorang Arka Dwinata. Celine mengusap air matanya dan menatap ke sekeliling rumah yang tiga tahun menjadi pelengkap cerita rumah tangganya. Tak lama lagi rumah ini hanya akan menjadi ilusi. Dan kenyataan pahit menamparnya kembali dalam kesendiriannya. "Kenapa harus sekarang, Mas? Setelah kupikir semua baik-baik saja," lirih Celine. Ia pun melangkah perlahan menaiki anak tangga satu persatu menuju dimana Arka berada. Tangannya gemetar memegang hendel pintu. Lalu pintu itu terbuka, terlihat Arka istirahat merebahkan diri. Matanya terpejam masih memakai sepatunya. Biasanya Celine kalau melihat keadaan seperti ini dia duduk jongkok di bawah lalu melepas sepatunya satu persatu. Dan mengarahkan kaki Arka agar lurus di atas tempat tidur. Ia selalu memperhatikan hal sedetil apapun mencakup kenyamanan Arka. Tapi kali ini dia harus menahan diri. Surat perceraian sudah di tanda tangani, tak ada alasan dirinya peduli. Apalagi tidur bersebelahan dengan Arka lagi. Ia harus memilih tidur di kamar lain. Sampai hari berpamitan dengan Arka. Celine perlahan keluar dari kamar. Karena dia pikir Arka sudah tertidur lelap. Ia enggan berbicara pada pria itu dalam keadaan capek. Bisa-bisa yang di dapatnya hanya amarah. Di kamar sebelah, Celin menutup pintu kamar itu rapat. Menguncinya, karena sungguh dia butuh ketenangan. Celine pun menangis sejadi-jadinya. Menyesali semua yang telah dia lakukan selama ini ternyata sia-sia. Jika perpisahan ini yang di inginkan Arka mengapa harus menunggu selama tiga tahun. Sampai perasaan itu sudah menjamur dalam dirinya. Semalaman Celin menangis hingga bantalnya menjadi lembab. Karena kelelahan memikirkan semuanya ia pun terlelap dengan sendirinya. Sementara di kamar Arka meraba kain seprei di sampingnya. Kosong. Tak ada Celin. Ia langsung bangun dan mengucek matanya. Benar tak ada Celin. Namun matanya tertuju pada kakinya yang masih pakai sepatu, biasanya Celin lah yang selalu melepaskan sepatu itu. Akhirnya dia pun melepaskan sepatunya sendiri dan keluar sebentar mencari keberadaan Celin. Menurut para pelayan yang melihatnya Celin masuk ke kamar lainnya dan tidak keluar lagi. Arka memahami mungkin Celin butuh waktu untuk menyendiri. Ia pun melangkah kembali menuju kamarnya. Sesaat kemudian ponselnya berbunyi, dari Natasha. Arka pun mengangkatnya. "Ya, Sayang ada apa?" tanyanya lembut. "Kamu sudah menceraikan istrimu?" tanya Natasha tanpa basa basi. "Sudah, seperti yang kau minta," sahut Arka. "Baguslah, aku tidak sabar menikah denganmu nanti kalau sudah pulang ke tanah air," ucap Natasha manja. Arka tersenyum, mimpinya untuk menikahi Natasha sebentar lagi tercapai. Namun sesaat dia melirik ke arah sampingnya yang biasa di isi Celin. Tiba-tiba ada rasa kekosongan yang tak di mengertinya."Apa kamu bilang? Kamu ceraikan Celin?" Axella tidak habis pikir mengapa putranya begitu bodoh menceraikan perempuan sebaik Celin. "Ma, aku sudah menunggu tiga tahun bersama Natasha. Aku sudah menuruti keinginan Papa Mama. Sekarang berilah aku kesempatan hidup bahagia bersama cinta pertamaku," ucap Arka. Damian menatap tajam pada putra semata wayangnya. Ia beranjak dari tempat duduknya. "Biarkan dia memilih sesukanya. Nanti dia akan tahu sendiri mana yang batu permata mana yang sampah tak berharga," sinis Damian. "Papa!" Tangan Arka mengepal erat. Ia tidak mau bertengkar dengan kedua orang tuanya lebih lama lagi. Di mata mereka dirinya selalu di anggap salah. Axella yang masih menangis terisak-isak di rengkuh Damian. "Sudah, jangan menangis Sayang. Arka sudah dewasa tidak perlu kita mengingatkannya lagi." "Aku menangis bukan karena Arka. Tapi Celin... dimana dia tinggal sekarang? Dia hidup sebatang kara. Hanya punya kita," isak Axella. "Iya, nanti kita akan suruh orang mencari
"Perkenalkan ini Celin, dia Ibu baru Sabrina. Kalian perlakukan dia dengan baik," kata Adrian.Celine terkejut dengan pernyataan Dokter Adrian. Ini tidak ada di rencana awal. Dia bekerja sebagai pengasuh bukan Ibu buat Sabrina. Ia menoleh tajam kepada Adrian. Tatapannya seolah meminta penjelasan."Dokter Adrian..." bisiknya tertahan.Adrian sepertinya memahami kebingungan Celin namun dia bersikap biasa saja. Seolah tidak tahu sudah menimbulkan keonaran di hati Celin.Dokter tampan itu melangkah mendekat dan berkata pelan, cukup untuk didengar olehnya."Ikuti saja untuk sementara," bisik Adrian.Celin pun terpaksa memasang senyum termanisnya pada semua pelayan. "Kalian patuhi perintah Nyonya. Apapun yang dia minta kalian siapkan," ujar Adrian."Baik Tuan," sahut para pelayan hampir berbarengan."Baiklah sekarang kalian boleh pergi lanjutkan pekerjaan," kata Adrian.Mereka pun langsung bubar, tinggallah Adrian, Celin dan Sabrina."Sabrina Sayang, kamu bisa beristirahat di kamar sebent
"Apa Anda tidak ingin mencari keberadaan Nyonya, Tuan?" tanya kepala pelayan turut khawatir. Arka tersenyum sinis. Ia tidak akan pernah melakukan itu. Dia tahu benar ini adalah salah satu trik Celine agar dirinya kembali peduli padanya. "Dia hanya mencari perhatian. Biarkan saja, nanti juga pulang sendiri kalau uangnya habis," jawab Arka sombong. "Tapi bagaimana kalau Nyonya Axella menanyakan Nyonya Celine?" tanya Kepala Pelayan. "Sejak kapan kamu jadi cerewet sekali. Lakukan pekerjaanmu, tentang orang tuaku itu bukan urusanmu," sahut Arka kesal. "Maaf Tuan, saya lancang." Kepala pelayan itu pun akhirnya pamit melakukan tugasnya kembali. Sebenarnya di hati Arka ada semacam kekosongan karena kepergian Celin. Tapi ia terus mengatakan pada dirinya sendiri hal itu wajar karena dulu Celin pernah ada di rumahnya. Lambat laun setelah dia menikahi Natasha perasaan itu pasti hilang dengan sendirinya. ** Sudah dua hari Celin menginap di hotel. Ia belum menemukan kosan yang cocok. Hari
Arka bingung karena laporan yang di buatnya semalam tertinggal di ruang kerjanya. Biasanya Celin yang selalu mengurusnya. Semenjak urusan perceraian itu di bahas ke permukaan Arka selalu saja ketiban masalah. Tanpa menunggu lama, dia langsung menghubungi nomor telepon Celin. Sayangnya nomor telepon Celin tidak dapat di hubungi. "Sial, kenapa dia mematikan ponselnya!" Arka yakin kalau Celin tengah merajuk. Berusaha membuat masalah agar di perhatikan. "Kamu pikir bisa mempersulitku!" gerutu Arka. Ia pun menelepon pelayan rumah dan menanyakan keberadaan Celin. Pelayan itu mengatakan kalau Nyonya Celin pergi berkunjung ke rumah mertuanya dan hendak menginap di sana. Arka pun segera mengakhiri teleponnya. Dugaannya benar tentang Celin. Wanita itu pasti berusaha mempengaruhi kedua orang tuanya. Mencari pembela agar tidak jadi bercerai. Brak! Arka memukul meja di depannya. Bukannya mengomeli asistennya tapi pada sikap Celin yang suka berbuat ulah. "Dasar perempuan licik, kamu pikir bisa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.