LOGIN"Selamat, Yang mulia! Permaisuri melahirkan seorang pangeran." Teriakan tabib terdengar dari luar bilik bersalin. Musim semi tahun berikutnya, Shu Yi bersalin. Mukanya yang kuyu dan pucat tersenyum memandang pangeran kecil yang baru dibersihkan bidan. Putra kedua ini sangat serius, persis ayahnya. Tangisannya keras tetapi tidak lama. Setelah bersih dan dibungkus selimut hangat, dia kembali terlelap. Pintu kamar bersalin terbuka. Tang Rui masuk dengan senyum sumringah dan mengusap dahi Shu Yi yang basah oleh keringat. "Terima kasih, istriku. Kau sudah banyak menderita." Shu Yi menggenggam tangan sang suami. "Menderita apanya? Lihat putraku yang tampan. Wajahnya yang damai bikin semua penderitaan hilang."
"Lancang! Apa cuma itu yang bisa kalian pikirkan?" Suara Tang Rui menggelegar memenuhi aula. Semua pejabat ketakutan namun itu tidak menyurutkan niat untuk kasih saran yang sama pada kaisar. Menerima selir baru. Alasannya juga klasik. Permaisuri sedang hamil dan di istana cuma ada selir An. "Yang mulia, belum pernah sejarahnya kaisar cuma punya satu selir." Kanselir Wu mendebat dengan kepercayaan diri tinggi. Hampir semua pejabat mendukung gagasannya. " "Aku mau buat sejarah." Balairung agung sunyi senyap. Kecuali tuan Xie dan Qiao, semua pejabat menuntut kaisar mengambil selir lagi. Di tengah perdebatan sengit, seorang dayang istana datang tergesa menyampaikan pesan permaisuri Zhanghua. Setelah membaca pesan itu, raut muka Tang Rui makin buruk. Meski demikian masih harus menuruti saran sang istri. Dia membiarkan pejabat berdebat untuk beberapa waktu sebelum mengeluarkan keputusan yang pada dasarnya gagasan Shu Yi. "Memasukkan selir ke istana, boleh saja. Tetapi
Tempat peristirahatan kerajaan terletak di lembah yang sejuk, tidak terlalu jauh dari ibu kota. Tempat itu indah dengan pemandian air panas. Saat Tang Rui menjejak di sana, nyanyian samar dari pendopo utama menyapa telinganya. Lagu anak kecil tetapi dinyanyikan pria dewasa. Rasa penasaran membawa langkah Tang Rui ke sana. Tampak mantan kaisar sedang bernyanyi sambil mengatur letak patung-patung kecil menyerupai pria bangsawan dalam dua baris. Suasananya mirip sidang istana. "Dasar pengkhianat! Beraninya menentang Zhen."Mantan kaisar memukulkan tongkatnya berkali-kali ke kepala boneka kayu. "Mau melengserkan Zhen, hmm? Kalian tak tahu aku ini putra sah kaisar? Dasar sekelompok pecundang."Selesai marah-marah mantan kaisar mulai bernyanyi. [Anak kecil ermimpi besar, menggenggam dunia dalam kepalan tangan. Ikutilah dia kaisar kecil berjiwa besar]Ketika Tang Rui mengamati semua keanehan mantan kaisar dari samping, langkah kaki teratur mendekat dari belakang. Ternyata mantan perm
Pada bulan kelima, tahun keempat pemerintahan kaisar Qinzhong, utusan suku Xianbei akhirnya datang ke ibu kota. Sejak perang besar di perbatasan Utara empat tahun silam, empat suku barbar tidak diizinkan lagi datang sama-sama untuk menghindari terjadinya perkomplotan. "Dimana tamu-tamu kita menginap?" ujar Shu Yi ketika suaminya mampir ke istana Kunning. Setiap hari, Tang Rui selalu menyempatkan diri datang ke sana. Berbincang dengan istri anak-anaknya. "Masih di tempat biasa. Bekas kediaman keluarga Wang."Shu Yi meletakkan jahitan yang separuh siap. Tubuhnya yang membesar bersandar di kursi Arhat. "Entah kenapa aku punya firasat buruk soal Kunjungan mereka kali ini. Minta pengawal bayanganmu siaga.""Yi'er jangan terlalu risau. Nanti kandunganmu bermasalah."Memasuki musim gugur, Shu Yi hamil lagi. Usia kandungannya sekarang masuk tiga bulan. Masih terbilang rentan. "Aku baik-baik saja. Anak ini kuat sepe
Wilayah Xianbei yang berbatasan dengan provinsi Selatan dikenal subur dari zaman dulu. Namun belakangan sesuatu yang besar terjadi di sana. Sosok misterius datang entah dari mana dan membuka bisnis. Dia menampung hasil utama Xianbei seperti teh, belerang, dan buah-buahan lalu menjualnya ke berbagai wilayah. Biarpun orang ini membeli dengan harga wajar, para pemain lama merasa terganggu. Mereka mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan usahanya. Semua upaya akhirnya sia-sia. Sosok misterius itu punya dukungan kuat dari keluarga kerajaan. Mau tak mau, harus jadi rekan bisnis orang baru itu. Di sebuah ruang pribadi restoran paling mewah di Xianbei, dua orang bersulang dengan ekspresi puas. "Shi Zhen benar-benar hebat. Saya tak salah pilih rekan bisnis.""Semuanya karena Yaoyao juga." Shi Zhen meletakkan cangkirnya. "Kalau bukan dukunganmu, aku belum tentu bisa sejauh ini. Di luar jendela, bentang alam yang luas dan hija
Selir Ping alias nyonya Li akhirnya dibawa ke markas rahasia Tang Rui. Demi mendapat keterangan, dia sampai ikut selama proses interogasi. Begitu pulang ke istana, dia segera mandi dan mengganti jubahnya yang berlumuran darah lalu mengunjungi Shu Yi dan kedua putri mereka di istana Kunning. "Ada perkembangan terbaru?" ujar Shu Yi saat melihat kedatangannya. "Tidak peduli seberat apa siksaan, mulutnya terkunci rapat."Ada kekalahan dalam suara Tang Rui. Ini pertama kali bertemu lawan setangguh nyonya Li. Buronan biasa sudah menyerah pada siksaan ketiga. "Dugaan sementara, dia menculik Changzi untuk mengancam kita. Tetapi karena kota keburu disegel, komplotannya tak berhasil membawa putri kita kabur. Akhirnya dia pura-pura ketemu Changzi secara tak sengaja.""Kalau begitu biarkan saja mulutnya tetap terkunci," cetus Shu Yi. Kemudian dia meminta perawat basah menjaga si kembar lalu mengambil sehelai kertas dan kuas. Me
Shu Yi tak repot-repot meladeni permintaan maaf Gui momo yang setengah hati. Dia berjalan lebih dulu bersama kedua pelayannya. Gerakannya dibuat selambat mungkin hingga Gui momo nyaris tersandung. Begitu sampai di paviliun Rongyu, semua orang menoleh padanya. Mata adiknya terkasih sudah bengk
Belum sempat terjadi, teriakan seseorang terdengar nyaring. "Apa yang kau lakukan? Beraninya menghukum pelayanku!" Cambuk berhenti di udara. Semua orang menoleh dan mendapati Shu Yan mendekat diiringi kedua dayangnya. Melihat bantuan datang, pelayan tadi menangis dan bersujud. Dengan cepat l
Kaisar mendengkus. Suaranya mendadak dingin dan kejam. "Nona Zheng, apa yang kau maksud? Masalah pernikahan bukan mainan." Shu Yi jelas tahu penyebabnya. Membatalkan pertunangan akan mencoreng martabat kerajaan. Apa lagi janji ini dibuat oleh kaisar terdahulu karena mendiang ibunya berhasil meny
"Kenapa... kalian tega padaku?" Suara itu lemah, hampir sekarat. Pemiliknya merangkak memohon belas kasih tetapi yang menyambut adalah sepasang wajah dingin. "Selama ini ... aku begitu baik tapi kenapa jadi begini?" Dia adalah Zheng Shu Yi, wanita paling mulia di muka bumi. Ratu dinasti Jin







