LOGINSaat Sienna melakukan kesalahan dalam tugas pertamanya jadi pelayan, Duke dingin nan kejam yang sudah menduda selama lima tahun itu memecatnya tanpa ampun. Namun, Sienna memohon dan akan melakukan apa saja asalkan jangan dipecat karena takut dibunuh oleh prajurit kerajaan yang sedang mencarinya akibat kesalahan ayahnya. Menjadi pengasuh anaknya di siang hari, di malam hari Sienna harus menjadi penghangat ranjang Duke Lucien, tanpa terkecuali!
View MoreLumatan Lucien di bibir Sienna terasa kasar, menuntut, dan penuh dengan rasa lapar yang tertahan selama bertahun-tahun.Sienna sempat membeku, tangannya yang kecil mencengkeram bahu kokoh sang Duke dengan kaku.Oksigen seolah tersedot keluar dari paru-parunya saat lidah Lucien menyapu paksa, mengklaim setiap sudut mulutnya tanpa ampun.Namun, aroma kayu cendana yang maskulin dan hawa panas yang memancar dari tubuh Lucien mulai meruntuhkan pertahanan Sienna.Perlahan, kekakuan itu mencair. Sentuhan kasar Lucien di tengkuknya berubah menjadi elusan posesif yang membuat bulu kuduk Sienna meremang.Lucien melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk memberikan ruang bagi napas mereka yang menderu pendek.Matanya yang kelabu tampak gelap, hampir hitam oleh gairah yang menyala. “Jangan menahan diri, Sienna. Kau sudah menandatangani kontrak ini dengan bibirmu sendiri,” bisik Lucien parau.Wajahnya kemudian turun, membenamkan hidungnya di ceruk leher Sienna.Ia menghirup aroma lavender dari kuli
Di pagi harinya, Sienna terbangun dengan posisi terduduk di kursi kayu samping tempat tidur Edward, tangannya masih setia menggenggam jemari mungil bocah itu.Semalam adalah malam paling tenang sekaligus paling menegangkan dalam hidupnya. Setiap kali Edward merintih dalam tidurnya, Sienna akan sigap mengusap keningnya dengan air hangat, membisikkan doa-doa yang dulu sering ibunya ucapkan.Suara langkah bot yang berat dan berirama di koridor luar seketika memacu adrenalin Sienna. Dia segera berdiri, merapikan gaun pelayannya yang sudah agak kusut.Pintu terbuka, menampilkan sosok Duke Lucien yang sudah berpakaian rapi dengan jubah kebesarannya. Wajahnya tampak lebih segar, namun sorot matanya tetap tajam, memindai seisi ruangan sebelum mendarat pada putranya.“Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah benar-benar sehat?” tanya Lucien tanpa basa-basi.Sienna menunduk hormat, mencoba menyembunyikan rasa lelah di matanya. “Sudah jauh lebih baik, Tuan Duke. Demamnya sudah turun total sejak fa
“Be-belum, Tuan. Saya masih gadis. Hanya kebetulan sering menggendong adik dan saudara saya saja,” jawab Sienna dengan cepat.Dia menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau prasangka buruk yang mungkin melintas di benak sang Duke.Pipinya merona merah, bukan karena malu yang manis, melainkan karena merasa terhina ditanya hal semacam itu dalam situasi di mana harga dirinya sedang dipertaruhkan.Lucien memiringkan kepalanya sedikit, menatap Sienna dengan tatapan penuh selidik yang seolah mampu menembus lapisan rahasia di balik mata gadis itu.Ada keheningan panjang yang menyiksa, di mana hanya terdengar deru napas teratur Edward yang baru saja terlelap.Lucien seolah sedang menimbang-nimbang nilai baru yang baru saja ditemukan pada sosok Sienna, bahwa dia bukan sekadar tubuh cantik yang bisa digunakan, tapi juga memiliki “sihir” yang tidak dimiliki pelayan lain di kastil ini.“Keluar. Semuanya keluar,” perintah Lucien tiba-tiba kepada para pelayan yang masih mematung di sudut ruangan.S
“Buka bajuku.”Perintah itu meluncur begitu datar, namun efeknya seperti hantaman godam bagi Sienna. Dia mendongakkan kepalanya, dan menatap wajah Lucien yang terpahat kaku dalam temaram lampu dinding kamar pribadi sang Duke.Sienna menelan salivanya dengan susah payah, karena kerongkongannya terasa kering dan mencekik. Dengan langkah yang sangat ragu, nyaris terseret, dia menghampiri pria itu.Jarak mereka kini tak lebih dari satu jengkal. Sienna bisa mencium aroma kayu cendana dan sisa kafein yang melekat pada tubuh Lucien. Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh kancing kemeja sutra hitam yang dikenakan Lucien.Satu kancing terlepas, lalu yang kedua. Mata Lucien tidak sedetik pun beralih dari wajah Sienna; dia mengawasi setiap perubahan ekspresi, setiap tarikan napas pendek yang diambil gadis itu.Saat kemeja itu akhirnya terlepas dan merosot dari bahu lebar Lucien, Sienna tak kuasa menahan matanya untuk tidak terpaku pada tubuh atletis di hadapannya.Dada bidang yang kokoh, ot
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.