LOGINSaat Sienna melakukan kesalahan dalam tugas pertamanya jadi pelayan, Duke dingin nan kejam yang sudah menduda selama lima tahun itu memecatnya tanpa ampun. Namun, Sienna memohon dan akan melakukan apa saja asalkan jangan dipecat karena takut dibunuh oleh prajurit kerajaan yang sedang mencarinya akibat kesalahan ayahnya. Menjadi pengasuh anaknya di siang hari, di malam hari Sienna harus menjadi penghangat ranjang Duke Lucien, tanpa terkecuali!
View More“Sienna, tugas pertamamu adalah mengantarkan kopi ke dalam ruang kerja Tuan Duke. Jangan melakukan kesalahan jika tidak ingin dipecat di hari pertamamu bekerja!”
Suara pelayan senior terus terngiang di telinga Sienna Dawson. Dia tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun agar tidak dipecat.
Sienna menarik napas panjang, tengah mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar. Dia tahu siapa yang ada di balik pintu kayu ek raksasa di depannya.
Duke Lucien. Pria yang rumornya memiliki hati sedingin salju abadi di puncak pegunungan utara. Pria yang memberinya izin tinggal, namun belum sekalipun menemuinya secara langsung sejak malam badai itu.
“Masuk,” suara berat dan rendah dari dalam ruangan terdengar bahkan sebelum Sienna sempat mengetuk.
Sienna lantas membuka pintu tersebut dengan mendorongnya dengan bahu yang begitu terasa berat bagi tubuh mungilnya.
Di balik meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen, seorang pria duduk dengan tegak. Rambutnya hitam legam, senada dengan pakaian yang dikenakannya.
Matanya yang tajam tidak beralih dari kertas di tangannya saat Sienna melangkah mendekat.
“Letakkan di sana,” perintah Lucien singkat tanpa menoleh.
Sienna lantas menelan ludah. Jarak antara dirinya dan meja itu hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Dia mencoba berjalan seanggun mungkin, namun pikirannya terus terbayang wajah-wajah pria yang mengejar keluarganya minggu lalu. Bayangan darah dan teriakan ayahnya tiba-tiba melintas, membuat fokusnya pecah.
Tepat saat Sienna hendak menurunkan nampan ke sudut meja, ujung gaunnya yang agak kepanjangan tersangkut di kaki kursi, hingga akhirnya tubuhnya limbung ke depan.
Prang!
Dunia seakan berhenti berputar. Cangkir porselen itu pecah berkeping-keping.
Cairan hitam pekat menyebar dengan cepat, melahap permukaan meja dan yang paling buruknya adalah, kopi tersebut meresap ke dalam perkamen besar yang penuh dengan segel lilin merah dan peta wilayah.
“Apa yang kau lakukan?!”
Suara Lucien menggelegar seperti guntur. Pria itu langsung berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjungkal ke belakang.
Dia lalu menyambar perkamen yang basah kuyup itu, lalu mencoba mengibas-ngibaskan sisa kopi tersebut, namun tinta di atasnya sudah mulai luntur dan mengabur.
“Maaf. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja,” cicit Sienna ketakutan.
“Tidak sengaja?” Lucien menatap Sienna dengan tatapan yang seolah bisa menguliti kulitnya hidup-hidup.
“Kau tahu apa ini? Ini adalah perjanjian aliansi perdagangan yang baru saja tiba pagi ini! Kau menghancurkannya dalam sekejap karena kecerobohan bodohmu!”
Sienna sontak mematung seraya menatap urat-urat di leher Lucien yang menegang. Amarah pria itu nyata dan sangat mengintimidasi dirinya yang kecil itu.
“Keluar. Pergi dari kastilku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke penjara bawah tanah,” desis Lucien dingin.
Mendengar kata 'keluar', Sienna seolah melihat hukuman mati di depan matanya.
Jika dia melangkah keluar dari gerbang kastil ini sekarang, tentara bayaran yang mengincarnya pasti sudah menunggu di balik semak-semak. Dia tidak punya uang, tidak punya kerabat, dan tidak punya tujuan.
Tanpa pikir panjang, Sienna menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersujud di depan sepatu bot Lucien yang mengilat, bahkan mengabaikan serpihan porselen yang mungkin melukai lututnya.
“Tolong, Tuan! Saya mohon, jangan usir saya,” isak Sienna lirih. “Saya tidak punya tempat tinggal lagi. Saya sebatang kara di dunia ini. Jika Anda mengusir saya, itu sama saja dengan membunuh saya.”
“Itu bukan urusanku. Aku bukan pengelola rumah yatim piatu yang menampung tunawisma sepertimu!” raung Lucien tak peduli dengan isakan Sienna di bawah sana.
“Saya akan melakukan apa saja! Saya akan bekerja dua kali lebih keras, saya akan membersihkan seluruh kastil ini sendirian,” Sienna meracau dalam tangisnya, dengan kepala yang masih menempel di lantai.
“Tolong jangan lempar saya kembali ke orang-orang itu. Mereka sudah membunuh ayah saya karena fitnah kerajaan, saya tidak mau berakhir sama seperti dia—"
Hening seketika.
Sienna membeku dengan jantung yang berhenti berdetak sesaat dan tangannya menutup mulutnya sendiri karena terkejut bukan main. Dia baru saja menyadari apa yang baru saja lolos dari bibirnya.
Informasi tentang kematian ayahnya di tangan pihak kerajaan adalah rahasia yang seharusnya dia simpan rapat-rapat agar tidak dicurigai sebagai pengkhianat.
Dia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Lucien yang kini terdiam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kilatan amarah di mata pria itu berganti dengan sesuatu yang jauh lebih gelap dan penuh perhitungan.
“Dibunuh oleh kerajaan?” Lucien mengulang kalimat itu dengan nada lambat.
Sienna mencoba menarik kembali kata-katanya. “Maksud saya ... saya hanya ... itu tidak seperti yang Anda pikirkan—”
“Cukup!”
Lucien melangkah maju yang memaksa Sienna untuk mundur dalam posisi berlutut hingga punggungnya membentur kaki meja. Pria itu lalu membungkuk, dan menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Sienna, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit.
“Jadi, kau bukan sekadar gadis malang yang tersesat,” ucap Lucien dengan nada yang tenang namun penuh ancaman.
“Kau adalah putri dari buronan kerajaan. Membiarkanmu tinggal di sini berarti aku sedang menyembunyikan musuh negara. Kau tahu risikonya bagiku, bukan?”
Sienna menggeleng dengan cepat. “Ta-tapi, saya tidak bersalah, ayah saya juga tidak bersalah. Kami difitnah, Tuan.”
Lucien terseyum miring, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. “Benar atau salah tidak ada gunanya bagiku. Yang aku lihat sekarang adalah sebuah kesempatan. Kau sudah memberikan alasan yang sempurna bagiku untuk memilikimu seutuhnya tanpa ada yang berani mencari.”
Lucien menjangkau dagu Sienna, dan memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya yang tajam. Jempolnya mengusap bibir bawah Sienna yang gemetar.
“Aku bisa melindungimu dari kerajaan. Aku bisa menjamin tidak ada satu pun pedang yang akan menyentuh lehermu selama kau berada di bawah atapku,” bisik Lucien. “Tapi perlindungan itu punya harga yang sangat mahal, Sienna Dawson.”
Sienna menahan napas, merasakan hawa panas dari tubuh Lucien yang begitu dekat dengannya. Ketakutannya kini bercampur dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang membuatnya merasa sangat kecil dan tak berdaya di bawah kuasa pria ini.
“Kau tahu aku sudah menduda selama lima tahun, kan?” Lucien mendekatkan wajahnya ke telinga Sienna hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. “Jadi, seharusnya kau tahu apa yang aku inginkan sebagai imbalannya.”
Bisikan Lucien yang sarat akan kelembutan intens itu masih menggantung di udara, menciptakan getaran yang melumpuhkan akal sehat Sienna. Jemari sang Duke yang hangat masih menyentuh tipis daun telinganya, menuntut janji yang nyatanya tak mampu Sienna ucapkan lewat kata-kata.Detak jantung mereka berpadu dalam ritme yang tenang, sebuah momen sakral yang membuat tembok batu kastil Blackwood terasa seperti tempat paling aman di seluruh kerajaan.Namun, kedamaian semu itu hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.BRAK!Pintu ruang kerja didorong kasar hingga membentur dinding penopang. Harry melangkah masuk tanpa mengetuk, melanggar seluruh protokol etiket bangsawan yang biasanya ia patuhi dengan ketat.Napas penjaga setia itu memburu, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya hingga membasahi kerah seragam militer yang belum sempat ia lepas sejak patroli fajar.Lucien langsung menegakkan tubuh, menjauhkan tangannya dari Sienna. Matanya yang beberapa saat lalu melunak, seketika menge
Gema tawa Lucien memantul di dinding-dinding batu ruang kerja yang tinggi, memecah keheningan pagi dengan cara yang tak terduga.Itu bukan tawa sinis bernada meremehkan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi musuh politiknya, bukan pula tawa kering palsu seperti milik Albert.Itu adalah tawa murni yang lepas dan berat, sebuah luapan emosi spontan yang keluar dari lubuk hatinya karena mendengar kejujuran ekstrem dari bibir Sienna.Sienna menganga perlahan, penanya tertahan beberapa inci di atas kertas perkamen. Ia terpaku, matanya membelalak lebar melihat bagaimana garis-garis kaku di wajah sang Duke Utara mendadak melunak.Sudut matanya berkerut halus, dan binar mata kelabunya yang biasanya sedingin es kini tampak berkilau hangat diterpa cahaya matahari pagi.Dalam beberapa detik yang berharga itu, Lucien Blackwood tidak lagi tampak seperti patung es tanpa perasaan atau tiran yang ditakuti; ia terlihat sangat tampan, menawan, dan sepenuhnya manusiawi.“Kau... kau tertawa?” bisik S
Tatapan kelabu Lucien menembus benteng pertahanan Sienna, tidak memberikan ruang sedikit pun bagi wanita itu untuk berpaling.Asap tembakau yang tipis mengambang di antara mereka, mempertegas jarak emosional yang mendadak membentang luas.Lucien mengetukkan jemarinya di atas meja mahogani dengan ritme yang lambat namun penuh tekanan, menanti kejujuran yang enggan keluar dari bibir Sienna.“Bicaralah, Sienna,” desak Lucien, suaranya parau namun mematikan. “Aku tidak suka menebak-nebak teka-teki di dalam rumahku sendiri.”Sienna memaksakan sebuah senyuman kaku, meski sudut bibirnya bergetar hebat. Ia menggeleng perlahan, mencoba merapikan tumpukan kertas di depannya untuk menyembunyikan tangannya yang gemetar.“Anda terlalu curiga, Tuan Duke. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku hanya... terkejut melihat namanya di baris paling atas proyek Anda.”Lucien memicingkan mata. Ia tahu betul wanita di hadapannya sedang berbohong; detak nadi di leher Sienna yang berpacu liar tidak bisa menipu
Telapak tangan Lucien yang hangat perlahan bergeser turun dari bibir Sienna, meninggalkan sensasi panas yang menggelitik kulit wajah wanita itu.Pria itu mundur selangkah, memberi ruang bagi oksigen untuk kembali mengisi paru-paru Sienna yang sempat sesak. Ketegangan yang tadinya meledak-ledak di antara mereka kini mengendap menjadi keheningan yang dingin namun lebih tenang.Lucien menyugarkan rambutnya yang berantakan, lalu membuang muka ke arah jendela. “Kau terlalu berisik untuk seorang wanita yang statusnya masih kasta pelayan, Sienna.”Sienna merapikan kerah gaun paginya, napasnya masih memburu namun matanya tetap menuntut jawaban. “Aku hanya menyuarakan apa yang tidak berani dikatakan oleh Harry atau Rose.”“Aku tidak membantah argumenmu,” gumam Lucien tiba-tiba, suaranya rendah dan terdengar lelah. Ia kembali berjalan ke balik meja kerjanya, menduduki kursi kulit kebesarannya tanpa memandang Sienna. “Tentang Edward... aku akan memikirkan caraku menghadapinya. Tapi sekarang, ada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews