LOGIN"Kau akan menjadi istrinya." Kalimat itu menjadi hukuman bagi Elara Valerius ketika keluarganya menjualnya demi melunasi utang kepada Duke paling ditakuti di kerajaan—Kaelen Blackthorn. Enam wanita telah dinikahinya sebelumnya. Tak satupun pernah terlihat lagi. Di malam pernikahan mereka, Elara menemukan kebenaran yang lebih mengerikan dari rumor mana pun. Cincin kawin yang melingkar di jarinya bukan simbol cinta, melainkan kutukan kuno yang mengikat nyawanya pada ritual darah terlarang. Setiap detik cincin Thanatros yang terpasang di jari manis Elara itu menambah energi Kaelen. Dan energinya yang terkuras. Setiap hari yang berlalu mendekatkannya pada kematian. Namun Kaelen tidak tahu satu hal. Di dalam diri gadis yang dianggap lemah itu mengalir darah Sang Pemecah Ramalan dan ia satu-satunya keturunan yang mampu menghancurkan atau justru menguasai kekuatan gelap yang selama ini menopang kerajaan. Ketika konspirasi para bangsawan, rahasia enam istri yang menjadi misteri tentang hilangnya, dan ramalan kuno mulai terungkap, Elara dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Membunuh suaminya dan menyelamatkan dunia. Atau jatuh cinta pada pria yang seharusnya menjadi monster... lalu memerintah kegelapan bersamanya.
View More“Kau akan menjadi istrinya…”
Ucapan Ayahnya bagai pedang yang menusuk jantungnya. Ini adalah perintah mutlak Lord Cedric Valerius yang tak bisa ia tolak.
Ibu tirinya, Lady Seraphina Valerius, menyerahkan surat kontrak ke Elara. Jari wanita itu dingin, dan segel lilin darah di atas surat itu masih terasa hangat.
Elara membuka surat tersebut. Di dalamnya tertulis nominal 2 juta koin.
“Ternyata hanya 2 juta koin harga nyawaku,” Elara tertawa pelan. Suaranya serak.
Dua juta koin. Begitu murah harga seorang anak perempuan di mata keluarga Valerius. Bahkan kuda perang milik bangsawan bisa bernilai lebih tinggi.
Di bawah angka itu terdapat nama Kaelen Blackthorn. Duke Iblis. Monster. Nama itu tertulis dengan tinta hitam dan terlihat mengerikan di mata Elara.
“Kita tidak punya pilihan, Elara. Demi menyelamatkan nama Valerius, hanya solusi ini yang paling ampuh,” ucap Lady Seraphina sambil memegang pipi Elara. Tangannya sedingin hatinya.
Sebelum Elara sempat berbicara, pengawal yang membawa surat itu berkata dengan tegas.
“Kau beruntung, Nona. Bisa menjadi istri ketujuh yang dipilih oleh Duke.”
Wajah Elara kaku seperti batu nisan. Tidak ada emosi yang tampak. “Beruntung? Enam istri sebelumnya meninggal tanpa jejak. Setiap lima tahun sekali. Menikah dengannya sama saja menuju kematian. Di mana letak keberuntungan itu?”
“Tandatangani saja, Nona Valerius. Duke Blackthorn tidak suka menunggu. Pilihanmu hanya tanda tangan.”
Elara menatap tajam pengawal itu. Semenjak ibunya meninggal, pilihan memang tidak pernah ada dalam hidupnya. Setiap keputusan keluarga Valerius adalah perintah mutlak yang harus dituruti.
Setelah menandatangani surat tersebut, Elara dibawa oleh pengawal Kerajaan Blackthorn.
Roda kereta menelan kegelapan yang sunyi. Angin malam menggigit sampai ke tulang, meski ada selimut tebal yang melindunginya dari dingin malam.
Elara menggenggam erat kalung Solvaneira di dadanya—satu-satunya barang peninggalan mendiang ibunya, sekaligus satu-satunya saksi betapa malangnya hidup Elara sejak ibu kandungnya bertukar napas dengan kematian.
Sejak hari kelam itu, Elara Valerius tak lebih dari sekadar bayangan di rumahnya sendiri. Anak perempuan yang ditiadakan, dinjak hak-haknya, dan kini dijadikan domba persembahan untuk melunasi kebangkrutan keluarga Valerius. Mereka menganggapnya lemah, sia-sia, dan mudah dibuang.
Tetapi mereka tidak tahu. Di balik sikap diam dan kepasrahannya, Elara menyimpan daya tahan yang ditempa oleh penderitaan bertahun-tahun. Ia bukan sekadar putri terbuang yang pasrah pada takdir buruknya; ia adalah wanita yang rela merayap dari neraka demi mencari celah untuk bertahan hidup.
Ia mengingat kembali detik-detik terakhir sebelum ibunya mengembuskan napas terakhir.
“Jagalah dengan baik kalung Solvaneira ini,” jari dingin ibunya memakaikan kalung di leher Elara kecil. “Jangan pernah dilepas, Elara. Dia akan menjagamu saat semua orang pergi dan kau berada di ambang kematian.”
“Tujuan ke Sayap Barat, Nona?” tanya kusir kereta, memecah lamunannya. “Saya hanya mengantar, tapi tidak pernah menjemput untuk kembali ke tempat asal.”
Mendengar perkataan kusir, Elara hanya menyandarkan dahinya ke kaca. Matanya kosong, seperti sumur tua tanpa dasar.
Di kejauhan ia melihat atap Kerajaan Blackthorn. Tinggi, gelap, dan misterius. Seperti pemakaman yang berlapis sutra.
Aroma kematian seolah menyambut kedatangannya. Wangi darah kering bercampur bunga mawar.
Aula itu hening. Saat Elara melewati koridor, satu per satu obor padam dengan sendirinya.
Di singgasana, Kaelen Blackthorn duduk. Matanya menatap Elara dengan sorot yang membekukan hingga Elara lupa cara bernapas dengan benar.
Begitu sampai di depan singgasana, punggung Elara terdorong kuat oleh pengawal.
“Tunduk. Berikan penghormatan dengan benar, Nona Blackthorn.”
Lutut Elara tergores lantai obsidian hitam legam. Rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dingin lantai yang merambat ke tulang dan mencekik napasnya. Darah merahnya kontras dengan warna lantai hitam, seperti nasibnya malam ini.
Kaelen berdiri di atasnya. Dia tidak tersenyum, hanya menatap dengan mata sedingin salju. Bayangannya bergerak sendiri, seolah memiliki nyawa.
“Kau hanya akan melakukan hal yang mudah,” perintahnya dengan suara rendah namun tajam. “Ulangi apa yang akan kuucapkan. Ini bukan sumpah pernikahan, ini sumpah pengabdianmu.”
“Aku Kaelen Blackthorn, mengambilmu bukan sebagai istri, tetapi sebagai rantai.”
“Aku bersumpah tidak akan mencintaimu. Tubuh dan nyawamu milik Blackthorn. Darahmu milik ramalan. Mulai sekarang.”
Pendeta hanya membisu di belakang. Tidak ada kata ‘sah’. Tidak ada ciuman. Yang ada hanya cincin Thanatros yang melingkar di jari manis Elara.
Cincin kutukan dengan permata hitam itu membuat energi Elara seolah terkuras separuh.
Kalung Solvaneira di lehernya tiba-tiba bergetar, namun hangat. Kalung itu seolah berusaha menahan agar energi Elara tidak habis.
“Silakan persembahkan darah Anda, Nona, ke dalam api suci,” perintah pendeta.
Pendeta itu buta. Matanya dijahit benang perak. Namun tangannya mantap mengulurkan mangkuk batu hitam berisi cairan merah kental. Bukan air. Itu darah dari keenam istri Duke Blackthorn.
Elara menatap api di altar. Apinya hijau kehitaman. Tidak hangat. Justru menyedot udara di aula sampai paru-parunya sakit. Itu adalah “Api Suci Gorthak”, dewa pemungut jiwa.
Tanpa peringatan, Kaelen menggores telapak tangan kanannya dengan pisau. Darah segera menetes.
Elara berusaha menahan diri. Kalung Solvaneira di lehernya menjadi sedingin es, seolah memperingatkan untuk tidak mencampurkan darahnya.
Namun Kaelen berdiri di belakangnya. Napasnya menerpa tengkuk Elara.
“Jatuhkan,” bisiknya. Bukan perintah, melainkan ancaman. “Atau aku yang menjatuhkan lehermu ke api itu.”
Jari Elara gemetar. Tetes demi tetes darah Valerius jatuh ke dalam api hijau itu.
Ssssttt...
Api tidak padam. Api itu justru menjilat lebih tinggi, lalu meledak membentuk simbol mawar hitam yang tertusuk pedang patah. Lambang Blackthorn.
Lantai obsidian di bawah lutut Elara bergetar. Urat besi menyala dari ujung aula sampai ke singgasana Kaelen. Seolah seluruh Thornspire baru saja dihidupkan oleh darahnya.
Pendeta buta itu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam.
“Sumpah telah disegel, Nona Blackthorn. Mulai detik ini, Valerius mati. Yang lahir adalah rantai untuk Duke kami.”
Kaelen meraih dagu Elara dan memaksanya menatap api itu.
“Lihat? Darahmu, namamu, takdirmu. Semuanya terbakar di sini,” jempolnya mengusap bibir Elara yang pucat. “Selamat datang di neraka, istriku.”
Solvaneira berdenyut sekali, keras, seakan jantung yang baru bangun.
Namun api hijau Gorthak terlalu kuat dan terlalu lapar untuk saat ini.
Dunia Elara menghitam. Lututnya perih, darahnya menipis, dan Thanatros menyesakkan nafasnya.
Lalu...
Sebuah bisikan terdengar. Bukan dari pendeta buta. Bukan dari Kaelen.
Suara itu dingin, tua, dan berasal dari dalam Solvaneira yang menempel di lehernya.
“Pemecah Ramalan... sudah bangun.”
Elara menatap Kaelen dengan tatapan penuh arti, berharap jawaban Kaelen bertentangan dengan segala ucapan Orin. Orin masih berdiri di depan pintu, seringainya penuh ejekan. “Apa maksud Orin ‘aku dan kau pernah melakukan ini’?” tanya Elara kembali. Rahang Kaelen mengeras, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kedua tangannya terkepal kuat, matanya setajam pisau mengarah ke Orin, tapi mata tajam itu selalu menghindari tatapan Elara. Napas Elara memburu. Tatapan Kaelen yang menghindar itu cukup menjadi jawaban. Ada banyak hal yang tidak ia ceritakan. Orin justru tersenyum melihat reaksi itu. “Kau masih menyembunyikannya darinya?” “Diam, atau kupatahkan lehermu,” desis Kaelen. Orin hanya mengangkat bahu, mengabaikan ancaman itu. "Elara, kau pikir ini yang pertama? Dulu, jauh sebelum hari ini tiba, seseorang pernah berdiri di tempat kamu berdiri sekarang." Ia menjeda sejenak, menatap Kaelen. "Kekuatan yang sama. Perasaan yang sama, namun ikatannya belum sesakral sekaran
Beberapa wilayah Velstra justru masih utuh, sementara bagian tertentu dihancurkan secara sengaja. “Dia tidak ingin menghancurkan seluruh kota,” gumam Elara. Matanya beralih menatap simbol Pintu Keenam, lalu simbol ketujuh di peta. “Dia sedang mencari sesuatu.” Solvaneira di tangannya berdenyut, memberikan penglihatan singkat. Elara melihat tujuh kerajaan seperti tujuh lingkaran cahaya. Kerajaan pertama menyimpan bagian pertama. Velstra menyimpan bagian kedua. Lima bagian lainnya masih tersebar di kerajaan-kerajaan lain. Ketika ketujuh bagian pecahan itu disatukan, mereka membentuk sebuah simbol seperti kunci. Namun Elara tidak bisa melihat apa yang ada di balik Pintu Keenam jika kunci itu digunakan. Lalu terdengar suara Orin di dalam penglihatan itu, dingin dan pasti. Suaranya terdengar tak bernurani. “Satu sudah jatuh. Yang kedua sebentar lagi akan menjadi milikku.” Elara tersentak keluar dari penglihatan, napasnya memburu. “Kaelen kita harus turun ke kota. Seka
Kanala menyiapkan bara kecil. Api menyala seadanya, cukup untuk menghangatkan makanan tanpa asap yang terlalu mengepul. Walaupun mereka bertiga masih syok setelah serangan tadi, perut harus tetap diisi. Sementara itu, Elara duduk di samping Kaelen dan kembali memeriksa lukanya. Kain kasa yang tadi berwarna hitam pekat kini sudah diganti, tapi tangan Elara masih dingin karena takut. Kaelen awalnya ingin mengobatinya sendiri. Namun Elara langsung menepis tangannya. “Kau mengajariku bertahan hidup.” Ia mengikat perban di lengan Kaelen dengan kencang, sedikit terlalu kencang. “Tapi satu hal yang perlu kau pelajari.” Kaelen menatapnya. “Apa?” “Menerima bantuan orang lain.” Kaelen diam. Tidak berani membantah. Ia sepertinya lebih takut menghadapi kemarahan Elara daripada luka di lengannya. Kanala yang melihat mereka pura-pura sibuk mengaduk wadah makanan agar tidak mengganggu. Namun matanya sesekali melirik ke perban itu. Setelah perban terpasang rapi, Kanala akhirn
Pagi hari, sebelum matahari terlalu tinggi, Kastel Blackthorn masih dipenuhi kesibukan.Para prajurit bergerak ke sana kemari. Senjata diperiksa. Kuda dipersiapkan. Para pengawal menerima perintah terakhir sebelum keberangkatan.Di salah satu sisi halaman, Kaelen, Elara, dan Kanala telah bersiap dengan tiga ekor kuda.Mereka mengenakan jubah tanpa lambang agar tidak mudah dikenali oleh pasukan Orin.Kaelen membawa pedang utamanya.Elara membawa pedang pendek yang diberikan Kaelen sehari sebelumnya.Sementara Kanala membawa perlengkapan medis, bekal makanan dandan minuman serta beberapa senjata kecil untuk berjaga-jaga.Sebelum berangkat, Kaelen memberikan perintah terakhir kepada kepala pengawal.“Jangan mengikuti kami ataupun mengirim bala bantuan.”Tatapannya tegas.“Prioritas kalian adalah menjaga Kastel Blackthorn.”Salah satu pengawal terlihat ragu.“Apakah Duke yakin hanya bertiga?”Kaelen menaiki kudanya.“Kita tidak pergi untuk memenangkan perang.”Ia menatap ke arah gerbang.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews