LOGINIrene Archellio selalu mendambakan cinta sejati. Sebaliknya, Duke Adrian Dietrich tidak mempercayai apa pun—seorang pemain wanita yang paling ia benci. Namun satu insiden yang memalukan menyeret nama mereka ke dalam skandal yang tak terhindarkan. Kini Irene dihadapkan pada dua pilihan: terjun ke jurang kehancuran sosial… atau melangkah masuk ke dalam sangkar emas Duke Dietrich.
View MoreAlunan cello dan harpa dari orkestra membumbung di udara, mengisi ruangan megah yang temaram. Lampu gantung kristal yang beradu dengan cahaya lilin seolah menaburkan bintang-bintang ke lantai marmer.
Berdiri sendirian di sudut aula, Irene menyesap wine dari gelasnya, mengecap rasa anggur pekat yang menghangatkan tenggorokannya. Menurunkan gelasnya, manik birunya menyapu ruangan. Para bangsawan dalam balutan kain sutra dan mantel mewah memenuhi lantai dansa.
Sosok pria jangkung berambut hitam yang dikelilingi para wanita muda membuat Irene mendecakkan lidah.
Duke Adrian Dietrich—seorang pemain wanita ternama di ibu kota yang gemar bergonta-ganti pasangan. Sebenarnya Irene tidak memiliki urusan pribadi dengannya; hanya saja, ia tidak menyukai cara pria itu memperlakukan wanita seolah sekadar hiburan sesaat.
Dan pria semacam itulah yang paling ia benci.
Irene menghela napas panjang dan memutar gelas di tangannya, memperhatikan bagaimana cairan merah itu bergolak tanpa gairah. Tidak peduli seberapa banyak pesta yang telah ia hadiri, ia tetap tidak pernah bisa menikmati keramaian ini.
“Nona Irene.”
Irene mendongak. Seorang pria berdiri di hadapannya, membungkuk ringan dengan senyum lembut tersungging di bibir.
Ia mengulurkan tangan, “Sudikah Anda berdansa dengan saya?”
Irene segera memasang raut penuh sesal. “Terima kasih atas tawarannya, Tuan. Namun, kaki saya tampaknya sedang butuh istirahat.”
Senyum di wajah pria itu meredup tipis. Ia kemudian menarik kembali tangannya, lalu membungkuk sedikit lebih dalam. “Saya mengerti. Semoga istirahat Anda menyenangkan, Nona.”
“Terima kasih atas pengertiannya.”
Pria itu pun berlalu, kembali menyatu dalam kerumunan.
“…lihat, tidak…?”
“…untuk apa datang ke pesta…?”
“…tidak berdansa…”
Bisikan samar menggelitik pendengaran Irene. Ia melirik dari sudut matanya—sekumpulan wanita bangsawan duduk di meja bundar tak jauh darinya, menatap ke arahnya penuh sinis.
“Jika saya putri seorang Count kaya raya dan berparas cantik,” ujar wanita berambut pirang pucat dengan mata biru muda, “saya tidak hanya akan menolak dua belas lamaran—tapi dua puluh!”
Tawa mengejek meletup di meja itu, begitu tajam hingga menusuk ulu hati Irene. Tentu saja ia tahu; sindiran itu tidak lain dan tidak bukan ditujukan padanya.
Wanita itu, Selena Ottilie, menoleh. Saat pandangan mereka bertemu, Selena mengulas sebuah senyum manis, seolah hinaan itu tidak pernah ia lontarkan.
Rahang Irene mengeras; jemarinya mencengkeram gelas semakin erat. Saat seorang pelayan melintas, ia segera meletakkan gelas wine-nya di atas nampan, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
Begitu pintu di belakangnya tertutup, hiruk-pikuk pesta seketika teredam. Irene mendengus kesal dan mendelik tajam ke arah pintu.
Menyebalkan sekali.
Dari sekian banyak benua di dunia, kenapa Selena harus lahir di kerajaan Lexith?
Mengalihkan pandangannya ke depan, Irene melangkah menyusuri lorong panjang.
Ia tidak pernah mengerti. Meskipun hampir tidak pernah bertutur sapa dengan Selena, ia selalu saja menjadi sasaran si ratu gosip itu. Statusnya sebagai tunangan keponakan sang raja seolah memberinya kebebasan untuk menguliti kehidupan pribadi siapa pun.
Memangnya apa yang salah dengan menolak lamaran sampai dua belas kali?
Ia hanya tidak ingin menghabiskan hidupnya bersama orang yang tidak ia cintai.
“Nona Irene.”
Irene menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah suara. Seorang pria berdiri tidak jauh dari hadapannya—Tuan Fernando, lelaki yang lamarannya ia tolak tempo hari.
“Nona, bisakah kita bicara sebentar?” pintanya pelan, suaranya parau. “Saya… mohon.”
Irene menatap Fernando dalam diam. Sorot matanya sendu namun penuh harap; kantung matanya menggelayut bak orang yang tidak tidur berhari-hari.
“L-lima menit, Nona, hanya lima menit,” tambahnya panik. “Tolong.”
Irene tidak tahu apa yang telah dialami pria itu, namun ada rasa iba melihat keadaannya. Lagipula, lima menit bukanlah waktu yang lama.
“Baik,” jawabnya akhirnya, “lima menit.”
Kelegaan seketika melintas di wajah Fernando. Bahunya yang semula tegang sedikit merosot, seolah beban berat yang ia pikul mendadak berkurang. “Terima kasih, Nona… terima kasih banyak.”
Irene hanya mengangguk, lalu mengikuti Fernando menuju ruang duduk. Ia memastikan pintu dibiarkan terbuka lebar untuk menghindari skandal yang tak diinginkan.
Berdiri di hadapannya, Fernando menghela napas panjang sebelum menatapnya lurus.
“Nona, bisakah… Anda mempertimbangkan kembali lamaran saya?”
Irene mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perasaan iba itu menguap dan rasa pahit memenuhi lidahnya. Ia tidak suka ke mana arah percakapan ini.
“Maafkan saya, Tuan Fernando. Saya tidak bisa.”
Tubuh Fernando menegang. Matanya membulat.
“Nona, saya—”
“Dan saya harap Anda bisa menghormati keputusan saya.”
Tanpa menunggu jawab darinya, Irene berbalik. Namun, sebuah tangan menyambar pergelangannya, menyentaknya menghadap Fernando. Manik cokelat itu menguncinya.
“Sebenarnya apa kurang saya di mata Anda?! Kita sama-sama anak seorang Count!”
“Ini bukan soal kelayakan!” bentak Irene. “Saya hanya tidak mencintai Anda!”
Wajah Fernando memerah padam; giginya bergemeretak. Cengkeraman di pergelangannya semakin mengerat hingga terasa panas dan perih.
“Tuan! Tolong lepaskan!” Irene meringis nyeri, mencoba membuka jemarinya yang melingkar. “Anda menyakiti saya!”
Dalam sekejap, dunia Irene berputar. Tubuhnya dihempas dengan kasar dan jatuh terlentang di sofa. “Ah!”
Baru saja ia akan bangkit, namun Fernando telah mengungkungnya.
Jantung Irene bertalu keras, menggema di kepala. Tubuhnya gemetar hebat. “Apa yang—! Menyingkir!”
Ia mendorong tubuh Fernando yang berusaha menindihnya, namun nihil.
“Jika saya tidak bisa memiliki Anda… tidak ada yang boleh!”
Tangannya dengan kasar merenggut bagian dada gaun yang ia kenakan. Bunyi kain yang koyak terdengar tajam.
“Tolong! Tolong saya!” teriak Irene, sementara tangannya sibuk mempertahankan baju agar tidak terbuka lebar. Air mata menyeruak, mengaburkan pandangannya.
Dengan sisa tenaga, Irene menggulingkan tubuhnya ke samping sekuat mungkin. Keseimbangan Fernando goyah dan mereka jatuh ke lantai.
Irene segera bangkit dan berlari menuju pintu keluar.
Sebuah jambakan di rambut menyentaknya ke belakang hingga jatuh terduduk di lantai. Nyeri menyebar ke seluruh tubuhnya. “Ah!”
“Lepas! Tolong saya!” Irene menjerit sekeras mungkin.
Air mata mengalir deras di pipinya. Ia meronta, mencoba melepaskan cengkeraman di rambutnya; sepatunya terlepas dan terlempar ke lantai.
“Tidak akan ada yang menolongmu!” bentak Fernando. Tangannya menarik rambut Irene, menyeret tubuhnya ke belakang dengan paksa. Rasa panas menjalar di kulit kepalanya.
Pandangan Irene menyapu panik dan berhenti pada vas bunga di meja. Ia menyambarnya dan mengayunkannya ke kepala Fernando.
Benturan keras menggema.
Fernando mengerang dan terhuyung ke samping. Saat cengkeramannya melemah, Irene menarik dirinya hingga jatuh tengkurap di lantai.
Dengan napas tersengal, ia merangkak menjauh, lalu bangkit dengan susah payah. Tubuhnya gemetar hebat saat ia memaksa diri berlari.
Lari! Aku harus lari—
“Ah!” kakinya tersandung.
Ia memejamkan mata, bersiap merasakan sakit, namun sesuatu menahan tubuhnya.
Ia mendongak—
dan membeku.
Sepasang mata hitam menatapnya dingin.
Duke Dietrich berdiri di hadapannya.
Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny
Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar
Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann
Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap
Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibi
Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah b
Derit pintu terdengar pelan, menarik perhatian seluruh pasang mata.Seorang pria jangkung berjalan memasuki ruangan dengan langkah tenang dan percaya diri. Jas hitam yang membalut tubuh tegap dan atletisnya tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut hitam legamnya menari ditiup angin yang me
Irene mengulas senyum tipis. Ia memandang Selena yang juga menatapnya dengan senyum anggun di bibir ranumnya.Wanita itu bahkan bukan tuan rumah pesta teh, namun jelas sekali siapa yang mengendalikan arah percakapan di sini.“Yang membuat Duke Dietrich berbeda adalah…” Irene menjeda sejenak.Para b






Selamat datang di dunia fiksi kami - <a href="https://www.goodnovel.com/id/" >Goodnovel</a>. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Fantasi-novel" >novel fantasi</a>, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.