MasukDemi mendapatkan cinta yang tidak pernah berbalas, Li Xiwu menghancurkan kerajaannya sendiri Keluarga dan rakyatnya gugur dalam ketidakadilan. Saat pedang Pangeran Mahkota Shen Mo merenggut nyawanya, seharusnya semua berakhir. Namun, waktu justru berbalik. Xiwu terlahir kembali, tepat di hari penentuan dekret pernikahannya. Kesempatan kedua. Ia memilih menikahi Shen Mo. Pangeran mahkota yang membunuhnya di kehidupan lalu. Bukan karena cinta, melainkan untuk menghindari kehancuran yang sama. Namun, semakin ia berusaha mengubah takdir, Xiwu malah terseret pada kebenaran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kali ini, tidak akan ada kesempatan ketiga.
Lihat lebih banyak‘Ketika aku kecil, ayahku berkata tidak pernah menyesali kehendak para dewa karena tidak memiliki anak lelaki. Baginya, aku adalah penerus yang dipilih langit. Tidak akan pernah menyengsarakan rakyat.’
*** “Xiwu.” Suara sang kaisar hampir tersapu angin yang menyusup masuk dari celah jendela. Sejak tadi, tatapannya tidak pernah lepas dari Li Xiwu. Putrinya yang keras kepala itu kini hanya diam. Tidak bergerak, bahkan enggan mengangkat kepala. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa. Sebagai penguasa, ia tidak boleh memiliki keraguan. “Yang Mulia.” Kaisar Li Zhenyuan menoleh. Kasim Gao De berdiri tidak jauh darinya, kedua tangan mengangkat gulungan dekret bersegel naga kekaisaran. “Bacakan.” “Hamba patuh, Yang Mulia.” Gao De membungkuk hormat lantas berjalan menghampiri Li Xiwu. Li Xiwu bersimpuh di tengah ruangan. Wajahnya sendu. Tatapannya kosong. Tidak benar-benar tertuju pada apa pun. “Yang Mulia Putri Mahkota, mohon menerima dekret.” Li Xiwu tidak bergerak. Gao De menarik napas dalam-dalam sebelum membuka gulungan tersebut dengan hati-hati. Suara kertas yang terbuka terdengar jelas di dalam keheningan. “Dengan restu langit dan kehendak para dewa. Aku, Kaisar Liyang, menetapkan Putri Mahkota Li Xiwu akan menerima anugerah pernikahan, dan dipersatukan dengan Jenderal Gu—” “Tidak!!” Gao De membeku. Tangannya tertahan di tengah gerakan, suara yang hendak keluar terhenti begitu saja. Kaisar Li Zhenyuan bangkit menatap putrinya. Li Xiwu bangkit. “Tidak! Putri ini tidak akan menikah dengan Jenderal Gu!!” Kalimat itu meluncur tanpa ragu. Gao De terdiam sesaat. “Ulangi,” titah Kaisar Li Zhenyuan. Nada suaranya tidak tinggi. Cukup untuk menekan. Li Xiwu agar mau mengangkat wajahnya. Tatapan putrinya lebih tenang. Tidak ada jejak emosi yang biasanya selalu muncul setiap kali topik ini dibicarakan. “Putri ini menolak dekret tersebut,” ulang Xiwu. Tidak ada getaran. Tidak ada keraguan. Sama persis seperti tekad ketika sebelumnya Xiwu minta dinikahkan dengan Gu Han. “Menolak?” ulang Kaisar Li Zhenyuan pelan. “Bukankah ini yang selama ini kau selalu minta?” Pertanyaan itu tajam tidak berbasa-basi, tetapi Xiwu tidak memalingkan wajahnya. Selama ini, Xiwu sudah melakukan apa saja agar ayahnya mau mengeluarkan dekret pernikahan dengan Jenderal Gu Han. Memohon. Membantah. Bahkan memaksa. Namun, sekarang semuanya berbalik. “Pernikahan putri ini,” ucap Xiwu perlahan, “hamba akan menikah dengan putra mahkota Kerajaan Beishan.” Lagi-lagi kalimat itu keluar begitu jelas. Kasim Gao De sontak menoleh menatap Kaisar Li Zhenyuan yang juga terdiam. Tatapannya menelusuri wajah putrinya, seolah mencoba mencari keraguan, tetapi tidak menemukannya. “Putra Mahkota Shen Mo?” Xiwu mengangguk. “Apakah kau memahami arti dari keputusan itu?” “Putri ini memahami.” “Putra Mahkota Beishan.” Zhenyuan diam sejenak. “Xiwu, pernikahan ini mungkin akan menjadi hal yang tidak bisa kau kendalikan,” lanjut Kaisar, “kau tidak bisa kembali.” Xiwu kembali mengangguk pelan. “Pernikahan ini akan membawa perdamaian. Putri ini mengerti.” Jawaban itu datang cepat. Terlalu pasti. Seolah-olah Xiwu memang sudah menentukan keputusan sejak lama. Sunyi kembali turun. Gao De, menunggu perintah berikutnya dengan tangan menggenggam erat dekret. “Putri Roulan sudah menerima dekret pernikahannya dengan pangeran mahkota Shen Mo. Kasim Gao, teruskan pembacaan dekret pernikahan putriku.” Xiwu mendadak berdiri. “Tidak!!” Gao De tersentak, refleks menundukkan kepala lebih dalam. Kaisar Li Zhenyuan menatap putrinya tajam. Alisnya mengeras, rahangnya menegang. “Apa lagi sekarang?” suaranya turun, jelas menahan amarah. “Bukankah ini yang kau inginkan?” Li Xiwu menggeleng. “Yang Mulia, pernikahan ini adalah satu hal yang seharusnya ditanggung olehku sebagai putri mahkota.” “Kau sendiri tahu, aku sudah mengeluarkan dekret pernikahan Putri Roulan—” “Batalkan!” potong Xiwu. Kaisar Li Zhenyuan menatap Xiwu tanpa berkedip. Dulu, usulan seperti ini akan ditolak tanpa berpikir. Ia tidak pernah berniat mengorbankan putrinya dari permaisuri untuk menikah dengan kerajaan musuh. Situasi kerajaan tidak memberikan banyak pilihan, tetapi ia memiliki satu putri lain dari sang selir. Li Roulan. Semua setuju. Termasuk Li Xiwu sendiri. “Aku sudah menyetujuinya. Dekret telah dikeluarkan.” Kalimat itu jatuh menghantam dada Xiwu. Untuk sesaat, napasnya terasa terhenti. Tatapan ayahnya jelas tidak mudah digoyahkan. “Putri ini tidak bisa menikah dengan Jenderal Gu Han. Putri harus menikahi—” Wajah Kaisar mengeras. “Kau melampaui batas, Xiwu,” potongnya, “dekret kekaisaran bukan sesuatu yang bisa kau tarik dan dorong sesukamu!” Li Xiwu menggigit bibir, menatap ayahnya. “Ayah.” Li Zhenyuan hendak berdiri ketika melihat air mata meluncur di pipi Xiwu. Tangis yang sering ia lihat ketika putrinya merajuk minta dinikahkan dengan Gu Han, tetapi air mata itu berbeda dengan apa yang dilihatnya sekarang. “Ayah, aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak mencintaiku. Ayah sendiri tahu hubungan antara Jenderal Gu Han dan Roulan Meimei.” Kaisar Li Zhenyuan menggebrak meja. Amarahnya naik bersama air mata Xiwu. “Omong kosong!!” “Ayah.” Xiwu menunduk. Kali ini tangisnya terdengar jelas. Tiap isak yang keluar dari bibir menyeret Kaisar Li Zhenyuan ke dalam jurang tanpa ujung. Kaisar Li Zhenyuan bangkit, langkahnya gemetar mendekati Xiwu. Pelan tangannya mengangkat dagu putrinya. “Wu’er.” “Pernikahanku dengan Jenderal Gu Han… tidak boleh terjadi.” ***Guncangan kereta terasa lebih kasar saat roda kayunya menghantam jalan berbatu di perbatasan Beishan.Di dalam ruang sempit itu, aroma besi dari darah yang mengering bercampur dengan sisa wangi cendana dari pakaian Shen Mo.Shen Mo menyandarkan kepala, memejamkan mata dengan napas yang teratur meski pelipisnya berdenyut.Tangan kanannya tergeletak kaku di atas lutut, darah masih merembes dari sela jemari, menetes satu demi satu ke lantai kereta.Xiwu memperhatikannya dalam diam. Setiap tetesan darah itu seolah menghitung detik-detik ketegangan yang belum tuntas. Tanpa suara, ia meraih sapu tangan sutra dari balik lipatan jubahnya, lalu meraih tangan Shen Mo.Kelopak mata Shen Mo terbuka seketika. Refleks, ia hendak menarik tangannya kembali, tetapi cengkeraman Xiwu mengunci pergelangan tangannya.Tatapan mereka beradu di bawah cahaya lentera kereta yang temaram.“Diam.”Suara Xiwu rendah, datar, tetapi mengandung otoritas yang tidak memberi celah untuk dibantah.Shen Mo tertegun sejen
"Kau adalah Jenderal Liyang! Apa yang kau lakukan sudah mencoreng namamu sendiri!"Suara Xiwu bergema, menghantam keheningan medan perang yang mulai surut. Gu Han tidak menyahut. Lelaki itu justru mengangkat pedangnya perlahan, meski ujung bilahnya bergetar tipis di udara."Li Xiwu!"Nama itu diteriakkan dengan lantang, menembus kabut debu yang masih menggantung.Tatapan Gu Han mengunci satu titik. Xiwu. Seolah semua di sekeliling mereka telah lenyap, hanya menyisakan ia dan wanita itu dalam lingkaran takdir yang menyesakkan.Mata Shen Mo menyipit. Tanpa peringatan, tangan kanannya bergerak secepat kilat. Sebuah belati melesat, membelah udara sebelum tertanam dalam di bahu Gu Han.Lelaki itu terhuyung ke belakang. Pedang di tangannya terlepas, menghantam tanah dengan bunyi logam yang berat.Xiwu menoleh sekilas pada Gu Han sebelum beralih sepenuhnya pada Shen Mo yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tidak menunjukkan e
“Gege!”Suara Shen Yuze memecah kebisingan, tetapi Shen Mo tidak menyahut. Lelaki itu bergerak dalam keheningan yang mematikan.Setiap ayunan pedangnya presisi, menjatuhkan lawan dengan satu tebasan tanpa satu pun gerakan sia-sia. Medan pertempuran seolah terbelah secara alami setiap kali ia melangkah maju.Xiwu berdiri mematung. Tatapannya terkunci pada punggung itu. Dingin dan efisien, persis seperti bayangan yang menghantuinya di kehidupan lalu.Sebuah kilatan perak melesat dari arah samping. Xiwu tidak sempat menghindar ketika angin tajam berdesing di dekat pipinya.Saat ia menoleh, seorang penyergap yang baru saja akan bangkit di belakangnya kini ambruk dengan sebuah belati tertancap tepat di dahi.Xiwu hendak mundur, tetapi sebuah tangan kokoh menyentak lengan dan menariknya ke belakang punggung yang lebar. Dalam satu gerakan bersih, Shen Mo menghujamkan pedang pada lawan yang mencoba mendekat.“Diam di belakangku.
Debu halus terangkat ke udara setiap kali roda kereta menyapu tanah tandus perbatasan yang retak.Di belakang, barisan pasukan Liyang berdiri kaku bagai monumen bisu, sementara di sisi lain, bendera Beishan berkibar tajam. Suaranya seperti cambuk yang membelah angin gersang.Kereta Xiwu berhenti. Sunyi menyergap seketika. Seolah dua dunia sedang saling menatap dalam napas yang tertahan, menunggu siapa yang akan melanggar garis batas lebih dulu.Kasim Gao De turun dari kudanya dengan gerakan yang dijaga. Tatapannya menyapu barisan di seberang sebelum akhirnya terpaku pada sosok yang berdiri di baris terdepan.Seorang lelaki muda dengan postur tegap. Zirahnya melambangkan kegagahan sempurna, tetapi senyum di wajahnya tidak menyiratkan bahwa pertemuan diplomatik ini adalah hal yang berbahaya.“Hamba, Kasim Gao De memberi hormat,” ucap Gao De dengan suara yang terdengar bergetar tipis.Lelaki itu menjawab dengan satu anggukan kecil.“Putri Mahkota Liyang telah tiba,” lanjut Gao De.Di dal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.