MasukArash membawa Alana pulang ke hunian mewahnya, kawasan apartment elit di pusat kota.
"Aku tinggal di sini?" Kalau Alana tinggal di sini, lalu Arash tinggal di mana? Seakan bisa membaca pikiran Alana, Arash dengan tegas menjawab, "Aku juga tinggal di sini." "Jangan macam-macam, kak!" Alana menyilangkan kedua tangannya di depan dada, apa Arash sedang memberitahu motifnya sekarang? "Kotor sekali pikiranmu. Aku mengajakmu tinggal di sini agar kita mudah berkomunikasi dan menyusun strategi balas dendam. Apa kamu masih mau tinggal di rumah peyot nenekmu? Sebentar lagi aku yakin rumah itu akan roboh." Jahatnya mulut Arash... "Rumah nenekku gak serapuh itu!" Arash hanya mengangkat bahunya tak acuh, ia mengambil minuman dingin di kulkas lalu meneguknya hingga tersisa setengah. "Kalau haus ambil sendiri." Arash duduk tidak jauh dari Alana, wajahnya terlihat serius. "Kapan ayahmu menikah lagi?" Arash harus tahu ibu kandung Alana terlibat atau tidak atas kematian ibunya, kalau sampai benar terlibat, terpaksa Arash akan menghancurkan gadis itu juga. "Sebulan setelah ibu meninggal. Ibu meninggal karena depresi berat ngelihat ayah selingkuh sama Dewi yang notabene teman dekatnya sendiri." "Apa ibumu ikut andil mengurus perusahaan?" Lagi, Arash mengorek informasi lebih dalam. "Sebelum menikah ibu yang ngurus perusahaan, tapi setelah menikah sama ayah semuanya jadi ayah yang urus. Ibu pure jadi irt, cuma ngurusin aku aja. Awalnya kami bahagia, tapi semenjak Dewi jadi sekretaris ayah, semuanya mulai berubah. Ibu... ngelihat dengan mata kepalanya sendiri mereka ngelakuin hubungan badan di kantor." Alana sudah remaja saat itu, jelas saja ia tahu apa yang di lakukan ayahnya adalah kesalahan besar. Mendengar cerita tersebut, Arash yakin ibu kandung Alana tidak tahu menahu soal kebusukan Suryo yang menjadi dalang di balik kecelakaan ibunya. "Kakak tinggal sendirian di sini? Orangtua kakak, ke mana?" Jujur, Alana tidak ada maksud apapun bertanya begitu, ia hanya ingin tahu Arash lebih dekat saja. "Ibuku sudah meninggal, dan ayahku di rawat di rumah sakit jiwa." Air muka Alana langsung tidak enak setelah mendengar jawaban dari Arash, ia tidak menyangka kalau orang sesempurna Arash pernah merasakan kehilangan seperti dirinya juga. "Ma-maaf kak, aku gak bermaksud ngingetin luka lama kakak." Alana menatap sendu, bukankah di dunia ini banyak yang bernasib sama sepertinya? Jadi kenapa ia harus berpikiran pendek kemarin? Ya, kemarin Lana sudah menyiapkan tali untuk menggantung tubuhnya sendiri di plafon rumahnya. "Jangan menatapku kasihan, meskipun aku tidak punya orangtua tapi setidaknya aku kaya, tidak sepertimu yang miskin." Mata Arash masih tertuju pada Alana, ia juga sempat melihat mata gadis itu yang menatap kasihan padanya walau hanya seperkian detik. "Gak usah diingetin. Lama-lama omongan kamu pedas juga, ya? Aku bukannya miskin, tapi hartaku di rampok semua sama ayah dan nenek lampir itu. Kamu udah janji mau bantuin aku, kak. Jangan sampai ingkar!" Mata Alana melotot saat mengatakannya, berpikir kalau ancaman kecilnya itu akan membuat Arash gentar. "Kalau kamu menurut aku akan bantu. Besok datang ke kantorku, tugasmu sekarang menjadi asisten pribadiku." A-asisten pribadi? Wajah shock tidak bisa di tutupinya, matanya menatap penasaran akan rencana yang Arash susun. "Tenang saja, aku pasti menggajimu. Selesaikan dulu kuliahmu, kalau bisa selesai lebih cepat. Beli semua barang-barang mahal dan bermerk, aku gak mau kamu di hina lagi sama saudari angkatmu itu. Masalah biaya tinggal minta padaku, tapi ingat, kalau mau balas dendam jangan setengah-setengah. Buat hancur ayahmu, jangan pernah menaruh rasa kasihan padanya." Arash menatap serius mata Alana, tidak ada keraguan dalam setiap kalimat yang terucap. "Aku cuma mau ambil hakku aja kak, aku cuma mau mereka jatuh miskin." Alana tidak berniat mencelakai keluarganya, tangannya tidak akan sanggup berbuat jahat meski Suryo sudah membuangnya. "Kalau begitu lupakan, aku tidak akan membantumu. Pergilah, kembali pada mereka karena aku tidak mau menolong orang yang masih ragu akan keputusannya sendiri." Arash beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar, apartemennya ini memiliki dua kamar, rencananya kamar yang lain untuk Alana. "A-aku bukan ragu, buat mereka miskin juga termasuk balas dendam!" Alana bersuara keras sampai urat di lehernya terlihat, sengaja agar Arash mendengar. Benar saja, Arash menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik arah. "Tidurlah. Besok kita bicarakan lagi." Suaranya datar, dan terkesan dingin.A-apa? Apa maksud Arash menyuruhnya cek sendiri? "Gimana cara ngeceknya? Aku mana bisa bedain kamu masih perjaka atau engga." Iyakan? Alana kan bukan dokter. Arash menarik tangan istrinya itu, menuntunnya membelai dada bidangnya yang masih di lapisi pakaian. Napas Alana memburu, batinnya berteriak menyuruh untuk menarik tangannya, tapi otaknya tidak sejalan dengannya. Arash semakin menjadi, ia memasukkan jemari Alana kedalam pakaiannya. Rasa hangat langsung Alana rasakan saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arash tanpa penghalang apapun. Perut kotak-kotak dan keras membuat pikiran Alana semakin gila saja. "A-Arash!" Wajahnya merah padam. "Ish! Mana boleh kayak gini! Mesum banget sih, padahal masih siang! Kamu gak lihat matahari masih tinggi?" Alana menutupi kegugupannya dengan mengomel. Arash terkekeh pelan, tapi tangannya tidak bergerak lebih jauh. Ia justru menahan Alana agar tetap dekat, seolah menikmati kegugupan itu lebih dari apa pu
Dua hari kemudian Arash benar-benar menepati janjinya mengajak sang istri jalan-jalan. "Labuan Bajo? Aku kira kamu bakal ngajak keliling Eropa." "Kamu maunya kesana? It's oke, kita batalin perjalanan ke Labuan Bajo, aku suruh Beni pesan tiket ke Paris. Bagaimana?" Uang bukanlah masalah bagi Arash asal istrinya senang. "E-enggak! Maksudku bukan gitu. Aku suka kok honeymoon kesini. Apalagi banyak tempat wisata yang bisa kita datengin." Alana menyela cepat. Ia sudah bilang kemanapun Arash mengajaknya, ia akan ikut. Arash menahan senyum di sudut bibirnya. Tangannya terangkat, mengusap kepala Alana lembut—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar."Aku tahu," ucapnya pelan. "Makanya aku pilih Labuan Bajo dulu. Kamu butuh tenang setelah menghadapi kejadian akhir-akhir ini " Alana menatapnya, sedikit terkejut."Kamu kepikiran sejauh itu?"Arash mengangguk singkat. "Honeymoon itu bukan soal ke mana, tapi sama siapa."Pesawat mendarat mulus. Begitu mereka keluar dari bandara,
Berita tentang pernikahan megah Arash dan Alana tayang di televisi ruang umum penjara sore itu.Suara pembawa berita terdengar jelas, menyebut nama mereka berdua sambil menampilkan foto Alana dengan gaun putih dan senyum bahagia.Di salah satu sel, Dewi menatap layar itu dengan mata membelalak, napas tersengal.Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram kuat jeruji besi hingga buku jarinya memutih."Anak jalang itu…" desisnya pelan, lalu meningkat menjadi teriakan."PELACUR MURAHAN! Dia gak boleh hidup bahagia! Dia gak pantas!"Teman satu selnya memutar bola mata, bosan."Diam, Dewi! Teriakanmu gak bakal bikin kamu keluar dari sini."Dewi mendengus, rambutnya acak-acakan, matanya menatap liar."Aku akan keluar! Aku akan keluar, dan saat waktu itu datang—aku akan merebut segalanya!" Ia tertawa miring, tapi tawanya terdengar seperti orang yang hampir kehilangan akal.---Sementara itu, di sel berbeda, Suryo duduk diam di ranjang sempitnya.Ia juga mendengar berita yang sama dari televis
"Arash! Jangan ngomong aneh-aneh, masih banyak tamu disini." Bisik Alana sembari menyebut pelan lengan suaminya yang terlapisi jas. "Hahaha. Oke-oke, tapi nanti malam kamu akan ku buat tidak bisa jalan, sayang." Alana memandang Arash dengan sorot ngeri, seolah-olah pria itu adalah predator yang siap memangsanya. Tak lama kemudian beberapa rekan bisnis Arash mendekat mengucapkan selamat pada keduanya. Acara berlangsung meriah dan lancar tanpa hambatan apapun, ada beberapa kamera terpasang dalam acara tersebut. Bukan Arash yang mengundang, tapi para pemburu berita sendiri yang datang."Nanti pasti jadi trending topik lagi acara nikah kita ini." Tukas Alana tepat setelah masuk kedalam kamar. Beberapa jam yang lalu persta berakhir, Arash langsung memboyong Alana ke villa pribadinya. "Biarkan saja. Malam ini jangan pikirkan apapun selain tentang kita." Ia membimbing Alana duduk di tepi ranjang. Lampu kamar temaram, tirai bergoyang pelan tertiup angin malam. Arash menunduk, mengecu
Arash mencium keningnya singkat, lalu menempelkan dahinya ke dahi Alana."Aku tidak akan bangkrut hanya karena memanjakanmu.""I even want to."Lalu ia tersenyum kecil, nada suaranya berubah menggoda."Kalau perlu, kamu suruh aku beli Jakarta pun, aku akan cari cara."Alana memukul dadanya pelan."Ngaco banget! Mana ada orang bisa beli Jakarta.""Ada. Aku."Arash mengedip santai.Alana menunduk, menahan tawa dan malu."Sayang… serius. Aku cuma takut bikin kamu repot."Arash langsung menyanggah pipinya dengan kedua tangannya lagi, menatapnya tanpa kedip."Kamu mau usaha? Aku dukung. Kamu mau modal? Aku kasih.""Dan kalau uangku habis karena kamu…"Ia mengecup ujung hidung Alana lembut."Itu artinya aku menggunakan uangku dengan benar."Alana terdiam. Hatinya mencair begitu saja."Masih takut bikin aku bangkrut?"Tanya Arash sambil menyeringai kecil.Alana menggeleng pelan."Enggak… kalau kamu bangkrut pun, nanti gantian aku yang kerja." Arash tertawa, suara rendahnya memenuhi ruangan.
Alana terkekeh, menampar pelan dada Arash. "Arash… kita mau menikah, bukan transaksi bisnis. Lagipula sudah banyak hadiah yang kamu kasih ke aku." Arash justru menaikkan alisnya, wajahnya serius tetapi ada godaan halus di matanya. "Aku tidak bercanda. Kamu calon istriku. Semuanya harus kamu punya, apa pun yang kamu inginkan selagi aku bisa penuhi pasti aku berikan." Alana mengusap tengkuknya, menunduk malu. "Aku gak butuh yang aneh-aneh, Arash. Kita udah punya rumah, apart, mobil. Aku cuma berharap kerjaan kamu lancar biar bisa nafkahin aku terus. Aku... cuma mau kita bahagia. Itu aja sudah cukup." Arash terdiam sejenak. Wajahnya melembut, tapi matanya memancarkan intensitas yang menusuk. Ia mengangkat dagu Alana dengan dua jarinya. "Oke. Kalau kamu mau apapun langsung bilang, atau langsung beli saja. Aku tidak ingin kamu menahan keinginan selama bersamaku. Beli apapun yang kamu mau." Ia mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir Alana. "Tapi aku tetap akan kas







