로그인Setelah kepergian ibunya, semua hal yang dulu Alana miliki perlahan menghilang. Termasuk Ayahnya yang menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. "Ayah, jangan usir aku... aku gak mau tinggal sama nenek, aku gak mau nyusahin nenek." Tangis Alana pecah saat masuk ke dalam mobil, sementara ibu tirinya tersenyum pongah, bahagia melihat Alana terusir dari rumahnya sendiri.
더 보기Gadis yang terlelap di atas ranjangnya itu menggeliat, ia menggeram kesal saat mendengar bunyi bel flatnya untuk kesekian kali. Sambil menahan kesal Carla bangun dan berjalan keluar dari kamar, tanpa menyadari kalau ia masih mengenakan tank top dan celana gemes. Mulutnya mendumel sepanjang jalan menuju pintu utama, berharap yang datang adalah kurir paket belajaan agar rasa kesalnya sedikit terminimalisir.
"Kamu siapa?"
Carla terdiam ketika suara berat menyapa telinga sementara matanya masih terpesona dengan... ketampanannya. Carla mengerjapkan matanya beberapa saat, sejak kapan kurir ekspedisi setampan ini? Ralat, he is fucking handsome! kalau tau kurir yang datang akan setampan ini, seharusnya tadi ia cuci muka dan menyemprotkan face mist dulu supaya wajahnya glowing dan bersih dari sisa skincare tadi malam.
"Kamu siapa?" Pria asing itu mengulang pertanyaannya dan memaksa Carla untuk berhenti menikmati ketampanannya.
Carla berdehem, mengontrol dirinya yang hampir hilang kendali karena terhipnotis paras tampan milik pria di hadapannya itu.
"Kamu mas kurir yang nganter belanjaan aku, ya?" tanya Carla sambil melempar senyum padanya, bukan senyuman menggoda, melainkan senyum ramah yang selalu ia tampilkan setiap bertemu orang lain. Matanya mengamati pria itu dari atas sampai bawah, kening Carla praktis mengernyit saat tidak menemukan kotak apapun di kedua tangan pria yang ia duga sebagai kurir ekspedisi.
"Kurir?" Ulangnya lalu pria itu mendengus, seakan tak terima dengan tuduhan sang lawan bicara. "Apa tampang saya terlihat seperti kurir?" tanya pria itu dengan nada menahan kesal.
Carla meringis, sepertinya ia akan dapat masalah karena sudah salah menduga. Dalam hatinya Carla mengutuk diri, bisa-bisanya pria setampan Aktor Korea ia kira kurir ekspedisi.
"Bukan, ya?" Carla mengeluarkan cengiran tanpa dosa, mencoba sedikit lebih ramah meski raut wajah pria di hadapannya semakin menunjukkan mimik wajah tak mengenakan.
"Aku kira kurir, he he..." lanjutnya diakhiri kekehan renyah.
Pria dengan tubuh menjulang itu mendengus lagi, ia memutar bola matanya jengah menghadapi gadis urakan yang kalau dilihat dari penampilannya sudah pasti belum mandi pagi. Terlihat jelas dari wajah dan rambut singanya yang berantakan, belum lagi pakaiannya yang kurang bahan sangat menandakan kalau di baru bangun tidur.
"Kamu siapa?"
Untuk ketiga kalinya pria itu mengulangi pertanyaan yang sama. Ia mencoba berpikir jernih, hampir saja kewarasannya tergoyahkan karena terpanah dengan lekuk tubuh Carla yang hanya dibalut tank top hitam dan celana gemas. Manik coklatnya yang jernih dan wajah tanpa ekspresi terpaku lurus menatap Carla, membuat Carla perlahan meredupkan senyumannya, ia merasa diintimidasi oleh tatapan tajam itu.
"Aku Carla," jawab Carla spontan, setelahnya ia menggaruk kepala kebingungan. Kenapa jadi dirinya yang memperkenalkan diri?
"Kamu siapa?" lanjut Carla, pertanyaan seperti itu memang seharusnya dari awal ia yang mengajukan.
"Flat ini masih milik Misel, kan?" jawab pria itu tak seperti yang Carla harapkan. Namun Carla tetap merespon dengan anggukan.
"Terus kenapa kamu yang keluar dari pintu ini?"
"Kamu temannya Kak Misel, ya? Kak Misel gak bilang ke kamu kalau bulan lalu dia pergi ke Manchester?"
Pria itu menggaruk pelipisnya, "Saya tau, yang saya gak tau kenapa kamu bisa keluar dari flat milik sepupu saya?"
"Sepupu?!" Carla terpekik, kedua matanya praktis membulat.
"Ya, saya sepupunya Misel yang akan tinggal flat ini." jawab pria itu dengan tegas.
Rahang Carla jatuh seketika, raut wajahnya menunjukan keterkejutan. Tanpa berkata apapun Carla menggeser tubuhnya yang menghalangi pintu masuk, tangannya bergerak memberi tanda pria itu untuk masuk dan membicarakannya lebih lanjut di dalam flat.
A-apa? Apa maksud Arash menyuruhnya cek sendiri? "Gimana cara ngeceknya? Aku mana bisa bedain kamu masih perjaka atau engga." Iyakan? Alana kan bukan dokter. Arash menarik tangan istrinya itu, menuntunnya membelai dada bidangnya yang masih di lapisi pakaian. Napas Alana memburu, batinnya berteriak menyuruh untuk menarik tangannya, tapi otaknya tidak sejalan dengannya. Arash semakin menjadi, ia memasukkan jemari Alana kedalam pakaiannya. Rasa hangat langsung Alana rasakan saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arash tanpa penghalang apapun. Perut kotak-kotak dan keras membuat pikiran Alana semakin gila saja. "A-Arash!" Wajahnya merah padam. "Ish! Mana boleh kayak gini! Mesum banget sih, padahal masih siang! Kamu gak lihat matahari masih tinggi?" Alana menutupi kegugupannya dengan mengomel. Arash terkekeh pelan, tapi tangannya tidak bergerak lebih jauh. Ia justru menahan Alana agar tetap dekat, seolah menikmati kegugupan itu lebih dari apa pu
Dua hari kemudian Arash benar-benar menepati janjinya mengajak sang istri jalan-jalan. "Labuan Bajo? Aku kira kamu bakal ngajak keliling Eropa." "Kamu maunya kesana? It's oke, kita batalin perjalanan ke Labuan Bajo, aku suruh Beni pesan tiket ke Paris. Bagaimana?" Uang bukanlah masalah bagi Arash asal istrinya senang. "E-enggak! Maksudku bukan gitu. Aku suka kok honeymoon kesini. Apalagi banyak tempat wisata yang bisa kita datengin." Alana menyela cepat. Ia sudah bilang kemanapun Arash mengajaknya, ia akan ikut. Arash menahan senyum di sudut bibirnya. Tangannya terangkat, mengusap kepala Alana lembut—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar."Aku tahu," ucapnya pelan. "Makanya aku pilih Labuan Bajo dulu. Kamu butuh tenang setelah menghadapi kejadian akhir-akhir ini " Alana menatapnya, sedikit terkejut."Kamu kepikiran sejauh itu?"Arash mengangguk singkat. "Honeymoon itu bukan soal ke mana, tapi sama siapa."Pesawat mendarat mulus. Begitu mereka keluar dari bandara,
Berita tentang pernikahan megah Arash dan Alana tayang di televisi ruang umum penjara sore itu.Suara pembawa berita terdengar jelas, menyebut nama mereka berdua sambil menampilkan foto Alana dengan gaun putih dan senyum bahagia.Di salah satu sel, Dewi menatap layar itu dengan mata membelalak, napas tersengal.Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram kuat jeruji besi hingga buku jarinya memutih."Anak jalang itu…" desisnya pelan, lalu meningkat menjadi teriakan."PELACUR MURAHAN! Dia gak boleh hidup bahagia! Dia gak pantas!"Teman satu selnya memutar bola mata, bosan."Diam, Dewi! Teriakanmu gak bakal bikin kamu keluar dari sini."Dewi mendengus, rambutnya acak-acakan, matanya menatap liar."Aku akan keluar! Aku akan keluar, dan saat waktu itu datang—aku akan merebut segalanya!" Ia tertawa miring, tapi tawanya terdengar seperti orang yang hampir kehilangan akal.---Sementara itu, di sel berbeda, Suryo duduk diam di ranjang sempitnya.Ia juga mendengar berita yang sama dari televis
"Arash! Jangan ngomong aneh-aneh, masih banyak tamu disini." Bisik Alana sembari menyebut pelan lengan suaminya yang terlapisi jas. "Hahaha. Oke-oke, tapi nanti malam kamu akan ku buat tidak bisa jalan, sayang." Alana memandang Arash dengan sorot ngeri, seolah-olah pria itu adalah predator yang siap memangsanya. Tak lama kemudian beberapa rekan bisnis Arash mendekat mengucapkan selamat pada keduanya. Acara berlangsung meriah dan lancar tanpa hambatan apapun, ada beberapa kamera terpasang dalam acara tersebut. Bukan Arash yang mengundang, tapi para pemburu berita sendiri yang datang."Nanti pasti jadi trending topik lagi acara nikah kita ini." Tukas Alana tepat setelah masuk kedalam kamar. Beberapa jam yang lalu persta berakhir, Arash langsung memboyong Alana ke villa pribadinya. "Biarkan saja. Malam ini jangan pikirkan apapun selain tentang kita." Ia membimbing Alana duduk di tepi ranjang. Lampu kamar temaram, tirai bergoyang pelan tertiup angin malam. Arash menunduk, mengecu
Diluar ruangan kerja, Alana yang tadinya memang berniat menemui Arash jadi terheran saat melihat Beni berdiri didepan pintu. "Kak Beni? Ngapain berdiri disitu. Gak masuk? Arash ada didalam kok." Beni menoleh dengan cepat, ia menghela napas melihat kehadiran calon istri bossnya tersebut. "Saya su
Alana mengerjap pelan, matanya menatap ke dalam mata Arash yang penuh keyakinan. "Film seumur hidup?" Tanyanya setengah tersenyum malu. Arash melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini nyaris tak ada. "Tentu saja. Dengan satu pemeran utama wanita yang tak akan pernah kuganti." bisiknya re
Arash mencium keningnya singkat, lalu menempelkan dahinya ke dahi Alana."Aku tidak akan bangkrut hanya karena memanjakanmu.""I even want to."Lalu ia tersenyum kecil, nada suaranya berubah menggoda."Kalau perlu, kamu suruh aku beli Jakarta pun, aku akan cari cara."Alana memukul dadanya pelan."
Alana terkekeh, menampar pelan dada Arash. "Arash… kita mau menikah, bukan transaksi bisnis. Lagipula sudah banyak hadiah yang kamu kasih ke aku." Arash justru menaikkan alisnya, wajahnya serius tetapi ada godaan halus di matanya. "Aku tidak bercanda. Kamu calon istriku. Semuanya harus kamu p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰