LOGINKeesokan harinya, pagi-pagi sekali Arash sudah menyambangi rumah Alana. Dia mengetuk pintu cukup keras, berharap Alana cepat membukanya.
"Alana?!" Apa gadis itu melakukan tindakan bodoh semalam? Arash semalaman berpikiran ke sana, khawatir Alana nekat bunuh diri. "Alan-" Kalimatnya terpotong lantaran suara kunci yang terbuka dari dalam, dengan pakaian lusuh dan kantong mata yang terlihat jelas di bagian bawah mata, menandakan kalau Alana tidak tidur semalaman. Wajahnya pun masih sembab. "Aku bawain sarapan, makan dulu habis itu mandi. Kita siap-siap menemui ayahmu." "Sekarang? Aku belum siap ketemu mereka. Kalau tiba-tiba aku nangis gimana? Jujur aja air mataku belum kering, aku masih pingin nangis." Arash masuk ke dalam rumah, melihat ke sekeliling mencari apakah ada hal yang mencurigakan. "Makan." Lagi, Arash memberi titahnya. "Aku gak laper." "Kamu mau nyusul nenekmu? Kalau kamu gak punya tujuan hidup kayak gini gimana aku bisa bantu?" "Tapi kamu keterlaluan, kak. Aku memang mau balas dendam tapi gak secepat ini, kasih aku waktu buat nenangin diri." Neneknya baru saja pergi semalam, Alana belum ada tenaga kalau harus ribut sekarang menghadapi nenek lampir dan ayahnya. "Kamu mau nurut atau aku gak akan bantu. Pilihannya ada di kamu, kamu harus punya power yang besar kalau mau melawan mereka. Aku cuma kasih sekali penawaran, kalau kamu menolak, aku gak akan datang lagi." Ancaman Arash sukses membuat Alana bimbang, dia tidak mungkin melawan ayahnya sendirian. Jangankan mengambil haknya, baru sampai gerbang saja pasti ia sudah di usir. "Fine! Kita pergi sekarang!" Alana kembali masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian, tidak lupa ia cuci wajahnya yang lusuh itu. Polesan tipis di bibirnya membuat wajah Alana terlihat fresh. "Ayo. Kalau bukan karena butuh bantuan, aku gak akan mau dengerin kamu." Untuk sesaat Arash membeku, ini kali pertama dia melihat Alana memakai riasan. Meskipun tipis tapi kecantikan tetap terpancar di wajahnya, Alana memang tidak jelek, hanya kurang di rawat saja. Mungkin karena fokus Alana selama ini hanya di neneknya, jadi dia tidak mementingkan penampilan. Selama di mobil Alana tidak banyak bersuara, pikirannya berkecamuk menyusun kata-kata yang nanti akan di keluarkannya di depan Suryo dan istrinya. "Aku tunggu di sini. Nanti kalau ada apa-apa telpon aku." Bukan saatnya Arash muncul sekarang, "Aku akan mendukungmu dari belakang." "Hmm. Kalau aku gak keluar lagi berarti aku mati di tangan mereka." .... Semuanya sedang duduk berkumpul di teras depan saat Alana datang. "Alana? Ngapain lagi kamu datang ke sini?" Dewi adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya, "Ayah, nenek meninggal." Suryo terdiam mendengarnya, cepat sekali? Bukankah baru kemarin Alana meminta uang untuk operasi Ningsih? "Kenapa gak kabarin, ayah? Sekarang udah di makamin?" "Udah. Aku sempat telpon ayah kemarin tapi gak ayah angkat." Kini Dewi yang gelagapan, sebab ponsel Suryo kemarin ada di tangannya. "Ayah gak tahu kalau kamu telpon." "Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, aku mau tinggal di sini." "Gak bisa! Kamu gak bisa tinggal di sini Alana, kamarmu sudah di pakai sama Bella!" Dengar? Bukankah dua benalu itu sangat tidak tahu malu? Di sini Alana lah yang anak kandung, tapi kenapa Bella yang di jadikan ratu? "Alana, ayah bukannya gak mau kamu tinggal di sini. Tapi kamu gak pernah akur sama Dewi dan Bella, ayah pusing kalau kalian ribut terus. Untuk sekarang kamu tinggal di rumah nenek dulu, ya? Atau kamu bisa jual rumah itu dan cari kos-kosan." Alana tidak kaget lagi mendengar respon ayahnya, dari dulu Suryo selalu menomorsatukan pelakor dan anaknya. Apapun aduan Alana tentang sikap Dewi dan Bella padanya tidak akan di gubris. "Kalau gitu serahin warisan ibu ke aku sekarang. Aku udah besar, bisnis yang ayah kelola sekarang biar aku yang nerusin." "Alana! Kamu jangan keterlaluan! Bisa-bisanya kamu mau kudeta ayahmu sendiri." "Itu punya ibuku! Kamu gak usah ikut campur karena sedikitpun gak ada hak kamu di sana!" "Mas! Lihat tingkah anakmu ini! Kalau kamu biarin dia tinggal di sini, dia bakal jadi ancaman buat kamu!" Pintar sekali Dewi memprovokasi Suryo, dengan kejadian ini pasti suaminya itu akan membenci Alana. "Alana, bisnis itu sudah lama ayah yang jalankan. Kamu gak bisa seenaknya saja mengambilnya. Ayah pastikan bisnis ini untukmu tapi tidak sekarang, karena ayah masih sehat." Alana masih tidak terima dengan keputusan ayahnya. Harus sampai kapan dia menunggu? Sedangkan Suryo juga tidak memperbolehkannya tinggal bersama! "Ipul! Seret dia keluar! Jangan biarin dia masuk sembarangan lagi!" Security itu jelas saja menuruti titah Dewi, di lihat juga tuan besarnya tidak protes. Kembali Ipul menarik paksa gadis yang beberapa hari yang lalu dia usir itu. "Jangan salahin aku kalau nanti ayah hancur! Aku akan ambil semua hakku!" Teriak Alana keras, Suryo dan Dewi mendengar dengan jelas ancaman tersebut. Tapi mereka terlihat tidak ambil pusing karena yakin Alana tidak akan bisa melakukannya, apalagi Alana sendirian sekarang. "Ini terakhir kali aku mengemis ke sini! Kalau sampai ayah nanti bangkrut dan lampir itu gak mau ngurusin ayah, jangan pernah datang mencariku karena aku gak sudi nampung ayah!" Arash yang masih memantau dari mobil menyaksikan semua. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut Alana, ia mendengarnya. Karena memang suara Alana besar, mungkin para tetangga sekitar juga mendengarnya. Hatinya semakin yakin lewat Alana, Suryo akan jatuh. Arash juga berjanji akan membantu Alana untuk mendapatkan haknya kembali. Setelah tidak ada orang, barulah Arash turun dari mobil membantu Alana yang masih tersungkur di atas tanah. "Sakit?" "Sakitlah! Gak lihat lututku berdarah? Udah dua kali satpam gak tahu diri itu nendang aku keluar!" Antek-antek Dewi memang tidak ada yang waras! Arash menggendong Alana menuju mobilnya, ia berujar dengan pelan tapi tegas, "Sudah cukup untuk hari ini. Mulai sekarang kamu tinggal bersamaku."A-apa? Apa maksud Arash menyuruhnya cek sendiri? "Gimana cara ngeceknya? Aku mana bisa bedain kamu masih perjaka atau engga." Iyakan? Alana kan bukan dokter. Arash menarik tangan istrinya itu, menuntunnya membelai dada bidangnya yang masih di lapisi pakaian. Napas Alana memburu, batinnya berteriak menyuruh untuk menarik tangannya, tapi otaknya tidak sejalan dengannya. Arash semakin menjadi, ia memasukkan jemari Alana kedalam pakaiannya. Rasa hangat langsung Alana rasakan saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arash tanpa penghalang apapun. Perut kotak-kotak dan keras membuat pikiran Alana semakin gila saja. "A-Arash!" Wajahnya merah padam. "Ish! Mana boleh kayak gini! Mesum banget sih, padahal masih siang! Kamu gak lihat matahari masih tinggi?" Alana menutupi kegugupannya dengan mengomel. Arash terkekeh pelan, tapi tangannya tidak bergerak lebih jauh. Ia justru menahan Alana agar tetap dekat, seolah menikmati kegugupan itu lebih dari apa pu
Dua hari kemudian Arash benar-benar menepati janjinya mengajak sang istri jalan-jalan. "Labuan Bajo? Aku kira kamu bakal ngajak keliling Eropa." "Kamu maunya kesana? It's oke, kita batalin perjalanan ke Labuan Bajo, aku suruh Beni pesan tiket ke Paris. Bagaimana?" Uang bukanlah masalah bagi Arash asal istrinya senang. "E-enggak! Maksudku bukan gitu. Aku suka kok honeymoon kesini. Apalagi banyak tempat wisata yang bisa kita datengin." Alana menyela cepat. Ia sudah bilang kemanapun Arash mengajaknya, ia akan ikut. Arash menahan senyum di sudut bibirnya. Tangannya terangkat, mengusap kepala Alana lembut—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar."Aku tahu," ucapnya pelan. "Makanya aku pilih Labuan Bajo dulu. Kamu butuh tenang setelah menghadapi kejadian akhir-akhir ini " Alana menatapnya, sedikit terkejut."Kamu kepikiran sejauh itu?"Arash mengangguk singkat. "Honeymoon itu bukan soal ke mana, tapi sama siapa."Pesawat mendarat mulus. Begitu mereka keluar dari bandara,
Berita tentang pernikahan megah Arash dan Alana tayang di televisi ruang umum penjara sore itu.Suara pembawa berita terdengar jelas, menyebut nama mereka berdua sambil menampilkan foto Alana dengan gaun putih dan senyum bahagia.Di salah satu sel, Dewi menatap layar itu dengan mata membelalak, napas tersengal.Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram kuat jeruji besi hingga buku jarinya memutih."Anak jalang itu…" desisnya pelan, lalu meningkat menjadi teriakan."PELACUR MURAHAN! Dia gak boleh hidup bahagia! Dia gak pantas!"Teman satu selnya memutar bola mata, bosan."Diam, Dewi! Teriakanmu gak bakal bikin kamu keluar dari sini."Dewi mendengus, rambutnya acak-acakan, matanya menatap liar."Aku akan keluar! Aku akan keluar, dan saat waktu itu datang—aku akan merebut segalanya!" Ia tertawa miring, tapi tawanya terdengar seperti orang yang hampir kehilangan akal.---Sementara itu, di sel berbeda, Suryo duduk diam di ranjang sempitnya.Ia juga mendengar berita yang sama dari televis
"Arash! Jangan ngomong aneh-aneh, masih banyak tamu disini." Bisik Alana sembari menyebut pelan lengan suaminya yang terlapisi jas. "Hahaha. Oke-oke, tapi nanti malam kamu akan ku buat tidak bisa jalan, sayang." Alana memandang Arash dengan sorot ngeri, seolah-olah pria itu adalah predator yang siap memangsanya. Tak lama kemudian beberapa rekan bisnis Arash mendekat mengucapkan selamat pada keduanya. Acara berlangsung meriah dan lancar tanpa hambatan apapun, ada beberapa kamera terpasang dalam acara tersebut. Bukan Arash yang mengundang, tapi para pemburu berita sendiri yang datang."Nanti pasti jadi trending topik lagi acara nikah kita ini." Tukas Alana tepat setelah masuk kedalam kamar. Beberapa jam yang lalu persta berakhir, Arash langsung memboyong Alana ke villa pribadinya. "Biarkan saja. Malam ini jangan pikirkan apapun selain tentang kita." Ia membimbing Alana duduk di tepi ranjang. Lampu kamar temaram, tirai bergoyang pelan tertiup angin malam. Arash menunduk, mengecu
Arash mencium keningnya singkat, lalu menempelkan dahinya ke dahi Alana."Aku tidak akan bangkrut hanya karena memanjakanmu.""I even want to."Lalu ia tersenyum kecil, nada suaranya berubah menggoda."Kalau perlu, kamu suruh aku beli Jakarta pun, aku akan cari cara."Alana memukul dadanya pelan."Ngaco banget! Mana ada orang bisa beli Jakarta.""Ada. Aku."Arash mengedip santai.Alana menunduk, menahan tawa dan malu."Sayang… serius. Aku cuma takut bikin kamu repot."Arash langsung menyanggah pipinya dengan kedua tangannya lagi, menatapnya tanpa kedip."Kamu mau usaha? Aku dukung. Kamu mau modal? Aku kasih.""Dan kalau uangku habis karena kamu…"Ia mengecup ujung hidung Alana lembut."Itu artinya aku menggunakan uangku dengan benar."Alana terdiam. Hatinya mencair begitu saja."Masih takut bikin aku bangkrut?"Tanya Arash sambil menyeringai kecil.Alana menggeleng pelan."Enggak… kalau kamu bangkrut pun, nanti gantian aku yang kerja." Arash tertawa, suara rendahnya memenuhi ruangan.
Alana terkekeh, menampar pelan dada Arash. "Arash… kita mau menikah, bukan transaksi bisnis. Lagipula sudah banyak hadiah yang kamu kasih ke aku." Arash justru menaikkan alisnya, wajahnya serius tetapi ada godaan halus di matanya. "Aku tidak bercanda. Kamu calon istriku. Semuanya harus kamu punya, apa pun yang kamu inginkan selagi aku bisa penuhi pasti aku berikan." Alana mengusap tengkuknya, menunduk malu. "Aku gak butuh yang aneh-aneh, Arash. Kita udah punya rumah, apart, mobil. Aku cuma berharap kerjaan kamu lancar biar bisa nafkahin aku terus. Aku... cuma mau kita bahagia. Itu aja sudah cukup." Arash terdiam sejenak. Wajahnya melembut, tapi matanya memancarkan intensitas yang menusuk. Ia mengangkat dagu Alana dengan dua jarinya. "Oke. Kalau kamu mau apapun langsung bilang, atau langsung beli saja. Aku tidak ingin kamu menahan keinginan selama bersamaku. Beli apapun yang kamu mau." Ia mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir Alana. "Tapi aku tetap akan kas







