ANMELDENKetika mata Ernest bertemu pandang dengan Evelyn, dia secara refleks menghindar dan mencoba menutupi kegugupannya dengan batuk palsu. Baru saat itulah Ernest merasakan bahwa tenggorokannya sudah kering sejak tadi. Memang, Ernest merasa bahwa hari ini berbicara banyak dengan Alex tentang Evelyn membuat tenggorokannya kering sejak tadi. "Maaf, apakah aku mengganggu?" tanya Evelyn setelah merasa canggung karena menginterupsi perbincangan mereka. "Oh, tentu tidak," sahut Alex dengan cepat. "Justru kami menunggumu sejak tadi. Ayo, masuk kemari!" Evelyn tersenyum canggung saat memasuki kantor Ernest. Dia pikir hanya ada Alex dan Ernest saja, tapi ternyata dokter yang lain juga ada di sini. Bahkan Jack yang biasanya berada di luar kantor pun kini berdiri tak jauh dari mereka. dokter Zia yang sudah banyak menghadapi orang lain tahu bahwa Evelyn merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka yang ramai. Jadi, dokter Zia tersenyum menenangkan sambil melambaikan tangan untuk menyuruh evil
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Ernest seraya bangkit dari duduknya dan mencoba untuk meraih ponsel di tangan Alex. Alex yang sudah siap dari awal itu menghindar dengan cepat dan tanpa diduga, Robby menghalangi Ernest untuk mencapai Alex. Ernest mengurutkan kening dengan kesal, "berikan ponsel itu padaku!" "Diamlah!" ketus Alex dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. "Aku sedang bicara dengan Evelyn. Kamu duduk diam saja di sana." di sisi lain Evelyn juga kebingungan dengan panggilan Ernest yang tiba-tiba titik namun, dia untuk menjadi lebih bingung lagi ketika suara gaduh dan juga suara Ernest yang marah terdengar jauh dari panggilan. Evelyn bahkan melihat kembali ke layar ponselnya untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Ketika Evelyn mendengar suara pria lain yang menyuruh Ernest diam, entah kenapa dia merasakan krisis yang tidak diketahui. Namun, Evelin tidak mau ambil pusing. Toh, seseorang yang berani mengambil ponsel Ernest pastilah orang terdekatnya.
Semua orang akhirnya tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Alex. Meski mereka sedikit terkejut karena Alex bisa melihat kotak makan siang yang sedikit jauh dari Ernest, mereka pada akhirnya saling menatap dan kini masing-masing mendelik ke arah Ernest. "Kamu tidak mau makan sarapanmu hari ini? tanya dokter Ziya sambil mengintip ke arah tempat makan yang kini digeser oleh Ernest. Ernest berdalih tanpa menatap mereka, "Aku belum merasa lapar. " "Oh, jadi kamu berencana menumpuk penyakit lagi?" sergah Alex dengan sengit. "Sebelum kamu makan dengar benar pun, jawabanmu pasti akan selalu seperti itu." Tidak ada yang menghentikan Alex ketika dia mengomel dan menegur ernes dengan sedikit kasar. Baik dia maupun Robby sudah lama mengurus Ernest. Beberapa waktu ini setelah kedatangan Evelyn, mereka bisa bernafas sejenak karena Ernest mau berubah. Setidaknya mereka tidak pusing lagi memikirkan kesehatan dan juga obat atau vitamin yang harus Ernest konsumsi. Alex dan Ernest merupak
"lalu ... siapa yang akan menemanimu ke pesta nanti?" Evelyn terdiam tanpa bisa memikirkan jawaban secara cepat dan tegas. Untuk sesaat, Evelyn merasa bibirnya terkunci rapat. Bukan karena merasa malu, tetapi karena harga dirinya mencegahnya untuk mengatakannya. "Intinya aku sudah punya pasangan. Kalaupun dia tidak bisa, aku akan meminta Mia sebagai temanku di acara pernikahan nanti." Gerald mengangguk-nganggukkan kepalanya tanda mengerti, meski dia agak kecewa karena Evelyn justru memilih teman wanitanya daripada dirinya. Evelyn tetap saja memilih untuk mengajaknya jika ada undangan pernikahan orang lain. Gerald akhirnya mengesampingkan pembicaraan tentang acara pernikahan yang akan mereka datang nantinya, Dia juga sadar diri bahwa Evelyn masih memiliki hubungan buruk dengan Sira. "Kalau begitu kita bisa langsung membicarakan tentang perkembangan cafe ini saja," kata Gerald kembali memusatkan pembicaraan mereka pada topik utama hari ini. Ekspresi Evelyn berubah menjadi
Evelyn masih mematung di tempatnya saat Ernest menjauhkan diri darinya. Mata Ernest yang kini terkesan dingin dan dalam itu menatapnya dengan fokus tak tergoyahkan, "Apa yang kita bicarakan sebelumnya tetap akan berjalan sebagaimana mestinya. Aku harap kamu mengerti."Karena tidak tahan lagi, Ernest kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Evelyn yang masih berdiri di depan pintu. Debaran jantung dan juga rasa kesal menyelimutinya secara bersamaan. Ernest tidak mau perilaku impulsifnya membuat Evelin tidak nyaman. Bahkan saat dia memeluk Evelyn saat itu, itu hanya emosi sesaat karena tidak senang dengan reaksi Evelin yang seperti menolaknya. Dia juga tidak menyangka akan bereaksi keras seperti itu. Tidak pernah sekalipun dia kehilangan kendali. Jadi, dengan sisa kesadaran, Ernest memutuskan untuk menjauh lebih dulu agar tidak menakuti Evelyn Di sisi lain, Evelin juga tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Napasnya memburu tanpa bisa dicegah, tatapannya juga kosong menatap lantai.
Evelyn memalingkan wajahnya agar tersadar dari rasa mabuk yang tiba-tiba menghantam kepalanya. Dia juga mundur selangkah untuk menjaga jarak dari Ernest seraya berkata, “Tuan Ernest pasti bercanda. Bagaimana mungkin saya menjauhi majikan saya sendiri?” Perkataan Evelyn justru membuat Ernest menyempitkan matanya untuk menatap Evelyn dengan seksama. Pilihan kata yang formal dan juga kata majikan itu lebih terdengar seperti sebuah jarak yang Evelyn buat. Jelas bahwa Evelin berniat menjaga jarak darinya lagi titik sama seperti ketika dia menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengannya “Ibuku hanya dalam suasana hati yang buruk hari ini sepertinya. Jadi apapun yang dia katakan jangan dimasukkan di dalam hati,” kata Ernest berusaha menjelaskan sebaik mungkin. Evelyn menundukkan kepalanya dengan kedua tangan di depan perut sambil membalas, “Nyonya tidak melakukan kesalahan apapun pada saya. Itu adalah otoritasnya untuk menegur seorang pelayan yang terlalu dekat dengan majikannya. Bagi







