LOGINLalu dia mendekat ke telinga Amanda dan berbisik pelan, "Dokter bilang aku sudah masuk masa menopause, katanya aku sebentar lagi akan berhenti haid!""Hah? Ini ...." Amanda tampak terkejut.Dalam ingatannya, Nora selalu merupakan wanita yang anggun dan awet muda, seolah tidak pernah menua."Aku nggak terima!" kata Nora. "Tahun ini aku baru 46 tahun. Aku masih merasa diriku ini gadis muda!" Lalu dia melirik Ryan. "Menurutmu, benar nggak, Ryan?""Iya, iya!" Ryan mengangguk cepat. "Seharusnya nggak memanggilmu Bi Nora, tapi Kak Nora!""Hahaha! Lihat, Ryan ini pintar sekali bicara!" Nora tertawa lepas dan lantang. Namun tetap terlihat, di balik alis dan sorot matanya, ada sedikit ketidakberdayaan yang sulit disembunyikan."Bi Nora, jangan dengarkan omongan mereka," kata Amanda. "Hari ini aku bawa Ryan khusus untuk membantu merawat tubuh Bibi.""Oh?" Nora tampak terkejut. "Selain meneliti dan mengembangkan obat, Ryan juga bisa merawat tubuh?""Penelitian obat itu hanya pekerjaan sampinganny
"Terima kasih, Bi Nora," kata Ryan sambil mengambil sebutir permen mint dan memasukkannya ke mulut."Bi Nora, di Distrik Utara Gunung Umara ada orang meninggal. Apa hubungannya dengan Sonya? Kenapa dia ikut menangani kasus ini?" tanya Amanda pada Nora."Dia baru saja naik jabatan. Sekarang dia menjabat sebagai ketua sementara Tim Reserse Kriminal Unit Satu." Nora menghela napas. "Di bawahnya juga ada regu antinarkoba. Jangan ditanya seberapa berbahayanya pekerjaan itu.""Sonya cantik dan juga jago bertarung, bukan orang biasa," hibur Amanda. "Dia punya kemampuan untuk menangani semua itu.""Mana bisa dibandingkan dengan kamu?" Nora menggenggam tangan Amanda. Aura kuatnya seketika melunak dan terlihat seperti seorang orang tua yang penuh kasih. "Suamiku dan ayahmu itu rekan seperjuangan. Dia tiap hari iri sama ayahmu karena punya anak perempuan seperti kamu.""Bibi terlalu memuji," kata Amanda dengan rendah hati."Ryan, jangan sungkan. Makan buah saja," tambah Nora.Melihat Ryan tampak
Perangainya merealisasikan citra seorang wanita dewasa yang matang."Kenapa kamu menatapku begitu?" Amanda mengangkat alis dan bertanya pada Ryan."Menurutku, kamu punya aura model," kata Ryan."Semua orang juga bilang begitu," jawab Amanda dengan nada bercanda."Kenapa tanganmu?" tanya Ryan. Dia melihat jari tangan kanan Amanda ditempeli plester, lalu bertanya."Oh, nggak apa-apa. Tadi pagi nggak sengaja teriris waktu motong buah," jawab Amanda santai.Namun detik berikutnya, tubuhnya sedikit bergetar. Pikirannya langsung meluap deras seperti mata air. Malam itu, untuk pertama kalinya tangannya menyentuh tubuh seorang pria. Untungnya, hanya dia sendiri yang mengetahui hal itu.Saat dia kembali menatap Ryan, pandangannya tanpa sadar selalu melirik ke arah bawah.Ryan malah mengira dirinya lupa menutup ritsleting, sehingga ikut menunduk melihat dirinya sendiri. Gerakan itu membuat mereka berdua sama-sama merasa canggung."Uhuk!" Amanda berdeham dua kali, lalu buru-buru mengalihkan topik
"Marvin?" Ryan memastikan sekali lagi."Sepertinya iya," kata Amanda."Ada yang nggak beres." Ryan merasa ada bagian yang tidak masuk akal. Dia mengerutkan kening dan berkata, "Urusan mereka mengutak-atik EPS itu sangat rahasia. Bagaimana mungkin dia memberitahumu siapa target berikutnya? Itu jelas melanggar pantangan besar."Amanda berpikir sejenak lalu berkata, "Soal itu aku memang nggak memikirkannya terlalu jauh. Lagian, aku sudah memutuskan untuk benar-benar memutus hubungan dengan dia. Aku nggak ingin berurusan lagi dengannya.""Bu Amanda, jangan terburu-buru memutus hubungan," kata Ryan. "Sekarang sudah terjadi sebuah kasus pembunuhan. Aku curiga ada kaitannya dengan mereka.""Hah? Kasus pembunuhan?""Iya! Orang yang kamu sebut tadi, Marvin. Tiga hari lalu dia meninggal di Gunung Umara," kata Ryan. "Dan di wilayah Gunung Umara Kota Shein, sepertinya satu-satunya tempat yang biasa didatangi orang hanyalah Resor Greenlux. Ditambah lagi dengan yang kamu katakan, bahwa mereka menjad
Malam itu benar-benar membekas dalam ingatan Ryan.Saat itu, Lucya sendiri yang turun ke dapur untuk memasak. Namun, saat pergi ke kamar mandi untuk mandi, pergelangan kakinya malah terkilir."Malam itu aku terus berada di rumah, nggak keluar sama sekali," kata Ryan."Ada yang bisa membuktikan?" tanya polisi."Aku bisa membuktikan!" kata Lucya. "Pak Polisi, malam itu dia ....""Kesaksian anggota keluarga nggak berlaku!" ujar polisi. "Suamimu sekarang diduga terlibat pembunuhan. Diperlukan bukti yang cukup untuk membersihkan kecurigaannya!"Begitu mendengar ucapannya, wajah Lucya langsung memerah, lalu dia berkata dengan canggung, "Aku bukan istrinya. Aku hanya rekan serumahnya.""Hah?" Polisi itu pun ikut canggung dan segera berkata, "Maaf, saya lancang. Kalian sudah tinggal bersama berapa lama?""Beberapa bulan, coba aku hitung dulu ya ...."Pada akhirnya, dengan kesaksian Lucya, Ryan membuktikan bahwa malam itu dia memang terus berada di rumah. Namun, hal itu masih belum sepenuhnya m
"Waktu itu kamu berkeringat ya waktu menepuk meridian?" tanya Lucya."Oh, iya!" Ryan buru-buru menimpali dengan mengikuti alurnya. "Begitu bergerak sedikit saja, langsung berkeringat!""Hm!" Alis Lucya sedikit berkerut. Di wajahnya yang cantik sempurna, terlintas seulas raut curiga. "Kalau begitu, kenapa kali ini kamu nggak berkeringat?"Ryan terdiam. Untuk sesaat, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjawabnya."Baiklah, mungkin karena pergantian musim. Cuacanya sudah lebih dingin."Belum sempat Ryan memberi jawaban, Lucya sudah lebih dulu menemukan alasan yang masuk akal untuk dirinya sendiri.Ryan menghela napas lega. "Ah, iya, iya!" Dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi entah mengapa dia merasa sangat takut jika Lucya tahu kalau dia berhubungan dengan wanita lain. Karena setiap kali Lucya tahu dia punya urusan dengan wanita lain, dia pasti akan sangat marah.Kalau sampai Lucya tahu dia benar-benar berhubungan intim dengan wanita lain, Ryan bahkan tidak berani membayangkan sep







