Mag-log inElvario, dokter muda jenius, yang tewas diracun sahabatnya saat misi kemanusiaan. Tapi darahnya membangkitkan cincin giok kuno, segel kutukan yang menjebaknya di dalam ruang terlarang. Di sana, ia menjadi murid Tabib Terkutuk, seorang ahli medis hitam-putih yang dibuang dunia karena terlalu berbahaya. Tiga tahun kemudian, Elvario kembali. Ia kini menguasai seni pengobatan langka, dan sangat ahli dalam teknik pengobatan modern. Hingga, siapapun yang diobatinya, maka akan sembuh. Orang-orang bahkan menjulukinya sebagai 'Dokter tangan emas'. Namun dunia tak lagi mengenalnya. Klinik keluarganya dirampas, tunangannya berkhianat dengan sahabatnya, dan musuh lamanya menguasai dunia medis. Kini, waktunya balas dendam... dengan ilmu yang tak bisa dilawan.
view moreIt really shouldn’t be this hard to find him a woman,” Reese said.
“Seriously? The guy would rather spend an entire day chopping wood than go looking for one,” David replied. “We’ve got to do something. It’s not right for a man to be alone like that. How can he not want a woman he can love, build a life with—maybe even start a family? I know I do,” Brian added. Caleb overheard his pack talking and understood their frustration. As alpha, the ancient wolf laws meant he had to find his mate first. Only then could the rest of the pack discover their own destined partners. Until that happened, no one could start families. And to wolves, having heirs meant everything. The desire to find love and have children was natural for his men. He didn’t blame them. There was a time Caleb longed for the same things. But now? He just wanted to split logs and stay away from the myths and promises of fate. He had recently turned forty. If a mate was meant for him, wouldn’t she have shown up by now? The idea of a “fated” partner felt more like a cruel joke than a blessing. With one strong swing, his axe cleaved a log in two. He didn’t actually need tools. His strength alone could break wood apart. But using the axe made him feel a little more grounded—more human. Caleb wasn’t just strong. He was too strong. People whispered about him, calling him unnatural, even monstrous. In his old pack, they had feared him. Not because he did anything wrong—but because of his size and power. Even as a child, he had been larger and stronger than most. When he first shifted into a wolf, everything changed. Within two months, his pack leader cast him out, calling him a threat. At just eighteen, he found himself alone, trying to make sense of his new life and the overwhelming urges that came with it—hunger, lust, loneliness. He wandered for two years, drifting between towns, doing whatever work he could find, trying to keep himself under control. Eventually, he carved out a place for himself—a small sanctuary where he could be free. Still, some days didn’t feel like freedom at all. It was hard to believe twenty years had passed since then. He wiped the sweat from his brow and turned toward the three men behind him. They were supposed to be patrolling the borders. There had been talk that bears were encroaching on wolf lands. So far, he hadn’t seen any sign of them. A coyote lived a few miles downstream—odd guy, always muttering to himself—but he was friendly enough. “You done watching?” Caleb called over his shoulder. “We heard a storm’s coming, Alpha,” Reese said. “Thought we’d go into town and stock up.” “No storm’s coming,” Caleb replied. “You just want to go where the women are. Hoping I’ll finally meet ‘the one,’ huh?” “What harm would it do?” David asked. “I’ve been to town plenty. I’d know if my mate was there. This is getting ridiculous.” He didn’t mention how complicated relationships could be—or how little patience he had for it lately. Was he becoming bitter? Probably. But he didn’t care. “There are new women arriving every day,” Brian added. “The town’s growing.” “You’re joking,” Caleb said, sighing. “Fine. We’ll go.” He set the axe down by a tree stump and peeled off his gloves. “You gonna clean up first?” Reese asked. “Not a chance,” Caleb said. “If the woman who’s meant to be mine shows up, she’ll have to deal with the dirt. I’m not changing for anyone.” His home wasn’t just a house—it was a lodge, really, with ten rooms. He took the master suite upstairs with a sweeping view of the valley. The rest of the pack had their own rooms. They were a small group, just four strong, but united by their shared pasts as outcasts. Together, they’d built something new. He grabbed his keys and headed for his truck. Despite his dislike of confined spaces, he loved his truck. It had started out as a rusted wreck, but he’d fixed it up himself. Now it purred like a dream. It might seem silly to care so much about a vehicle, but he did. It was one thing in his life he could rely on. As he buckled in, the others scrambled to join him. With only room for two inside, Reese and Brian raced for the passenger seat. David hopped into the truck bed, not bothered in the least. Wolves loved the open air, after all. Out here, they were free. No rules. No one to hold them back. The drive to town took about twenty minutes. Sure, it was faster in wolf form, but shifting near humans was risky. Some towns had hunting parties that scoured the woods for large animals. Caleb wasn’t sure if people knew about werewolves—or just suspected. Either way, he wouldn’t take the chance. Even coyotes played it safe. The last thing they needed was humans discovering the truth and turning their kind into trophies. People feared what they didn’t understand. And if they ever found out that men could turn into beasts under the full moon? That fear would become something far more dangerous. He parked near the diner and as he got out, Caleb paused. He ran his fingers through his hair, trying to hide what he’d already detected. Brian took in a deep breath. “She’s close,” he said. Another little pesky problem—his pack could apparently detect his mate. They could be so fucking irritating. It was why one or more of them insisted on coming with him whenever he went to town. They believed he would purposefully avoid his mate. He wouldn’t dream of doing that. It had just never happened for him. This scent though… It was sugar and cinnamon and all things sweet. His mouth watered, not to mention how his dick reacted to it. He wanted her instantly and he didn’t even know who she was or what she looked like. It didn’t matter. For all he knew, it was a damn good cinnamon roll. “Enough,” he said to his men. He was drawn to the diner. Without waiting for his men, he stepped through the door and found a table right in the back.Dua Tahun Kemudian Ballroom hotel telah dipenuhi cahaya kristal yang berkilauan. Rangkaian bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik mengalun lembut, sementara keluarga, sahabat, serta rekan kerja memenuhi kursi-kursi yang telah disiapkan. Di ujung lorong, Azalea melangkah perlahan. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai anggun hingga lantai. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga-bunga kecil, membuat senyumnya tampak semakin hangat. Bekas luka yang dahulu hampir merenggut hidupnya kini hanya tersisa sebagai kenangan. Hari itu... Ia terlihat begitu sehat dan bersemangat. Di ujung altar, Elvario memandang wanita itu tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak banyak orang mengenalnya... Tatapan dingin dokter pusat trauma itu dipenuhi kelembutan. Azalea berhenti tepat di hadapannya, dan mereka saling tersenyum. Tanpa perlu kata-kata, keduanya sama-sama teringat malam-malam panjang di rumah sakit. Saat Azalea berjuang antara hidup dan mati. Saat
Ruang staf pusat trauma sudah mulai lengang ketika El akhirnya menurunkan tubuhnya di kursi panjang dekat dinding. Satu tangannya masih menggenggam masker operasi yang sudah setengah kusut, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menekan batang hidungnya yang terasa berat. Cahaya putih dari lampu neon di atas kepala membuat kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Kantung matanya samar terlihat, tanda ia sudah terlalu lama tidak tidur. Tapi di wajah itu masih ada ketegasan yang sama — dingin, fokus, dan tidak menunjukkan keluhan sedikit pun. Suara mesin ventilator, langkah kaki perawat yang bergegas, dan panggilan singkat dari interkom menjadi latar belakang yang terus hidup di rumah sakit itu, seolah memberi tahu bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar tidur. El menatap arlojinya. Sudah lewat tengah malam. Itu berarti hampir dua puluh jam ia bekerja tanpa henti — berpindah dari satu ruang operasi ke ruang lainnya, dari IGD ke ruang resusitasi, kembali ke meja operasi, d
Salah satu asisten segera memberikan benang pada El dengan gerakan cepat. Semua tim operasi El kali ini bekerja dengan cepat. El lalu menjahit luka besar itu dengan gerakan cepat namun rapi. Setiap jahitannya terpasang dengan ketegasan luar biasa. Menegaskan sosoknya yang bisa dibilang sempurna dalam urusan medis. Dia benar-benar adalah murid membanggakan dari tabib terkutuk. Dalam ruang operasi yang dingin itu, suara tik-tik-tik alat monitor menjadi satu-satunya musik di ruangan tersebut. Menjadi teman dengar bagi beberapa pasang telinga di sana. Dan ketika El sedang fokus menangani pasiennya, seorang perawat masuk ke dalam ruang operasi dengan tergesa-gesa. Di wajahnya terlihat panik yang kentara. “Dokter, ada dua korban lainnya yang baru tiba. Keduanya tidak sadar, salah satunya dengan luka bakar parah.” El menatap sekilas ke arah pintu, lalu berkata datar, “Beri prioritas lebih dulu pada pasien dengan nadi lemah. Minta Dokter Lina untuk ambil alih triase. Jangan biarkan
Roda brankar berdecit keras saat salah satu pasien didorong masuk ke ruang operasi darurat dua. Bau darah segar, dan campuran antiseptik, langsung memenuhi udara dingin di dalam ruangan tersebut. Lampu operasi yang tergantung di atas meja operasi menyala dengan terang, menyilaukan, dan menyorot tubuh pasien laki-laki yang penuh dengan luka. Wajahnya nyaris tak dikenali, tertutup darah dan serpihan kaca yang menempel di kulitnya. Nafasnya berat, pendek, dan terputus-putus. Elvario kini sedang berdiri di sisi meja operasi, dan mengenakan sarung tangan steril yang baru. Masker telah menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang penuh fokus. Di sampingnya, seorang dokter anestesi sedang memeriksa tekanan darah pasien dan saturasi oksigen yang terus turun drastis. “Tekanan 60 per 30, Dok! Saturasinya 78 persen!” “Buka jalan napasnya sekarang! Ventilator siap?” “Siap, Dok!” El menarik napas dalam, lalu menatap layar monitor. Detak jantung pasien melambat.
Perjalanan menuju rumah orang tuanya terasa begitu sunyi dan juga sangat lama. Ibu pemilik kedai itu duduk di jok belakang motor, menunjukkan arah sambil sesekali menatap punggung Elvario yang membisu. Ia tahu, pemuda itu sedang menahan sesuatu yang dalam, lebih dalam dari sekadar rindu. Motor
Setelah menyelesaikan operasi darurat yang menegangkan, Elvario berjalan keluar dari ruang bedah dengan langkah tenang. Wajahnya tak menunjukkan lelah sedikit pun, meski bajunya bernoda darah dan sarung tangannya baru saja dilepas. Tatapannya tetap tajam, penuh perhitungan. Begitu kembali ke UGD,
Semua menoleh. Elvario sudah berdiri di sana, lengkap dengan sarung tangan dan mata setajam belati. Tatapannya menusuk ke arah Tama. Tama mencibir. “Kau lagi? Aku rasa seharusnya kau tahu tempatmu, Elvario. Kau mungkin baru, tapi semua orang di sini tahu siapa aku. Aku yang menyelamatkan pasien
Tepat saat itu, dari ujung lorong terdengar suara datar dan tenang. “Lucu sekali. Bagaimana mungkin aku Anda? Padahal saya tidak melihat Anda di ruangan pasien semalam.” Semua menoleh. Elvario berdiri di sana, menyandarkan tubuh pada dinding dengan tangan bersilang. Sorot matanya tajam, nyaris m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu