LOGINBagi Ariyan, menikahi Zivanya adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mencintai gadis itu. Dan tidak akan pernah bisa.“Pa, kenapa harus menikah sekarang? Ziva masih kuliah, Pa. Dia lagi sibuk tesis. Biar dia fokus dulu.” Ariyan mencoba mencari alasan yang sekiranya logis demi menunda permintaan Jeandra.“Kuliah bisa diselesaikan sambil menikah. Dan soal tesis, bukannya malah bagus? Kamu bisa membantu dia, memfasilitasinya, kasih dia semangat,” jawab Jeandra tidak memberi celah.“Tapi aku nggak cinta sama dia, Pa!”“Nggak cinta? Buktinya kalian bertahan sampai sekarang. Sepuluh tahun Papa rasa bukan waktu yang sebentar. Zivanya adalah gadis yang baik, pintar, sopan dan yang Papa lihat dia sangat sayang sama kamu. Setelah menikah nanti kalian bisa mengenal lebih dekat lagi. Kadang hubungan fisik bisa mempererat ikatan emosional.”“Kalau aku tetap menolak?” tantang Ariyan.Jeandra tidak langsung menjawab. Ia menatap putranya itu lekat-l
Sejak kejadian malam itu rumah milik Jeandra dan Zelena terasa sepi. Zelena hanya berbaring di kamar. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap dinding dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis. Yang tersisa hanyalah gurat kelelahan yang sangat dalam di wajahnya yang kini tampak pucat dan tirus.Ia juga tidak ingin berbicara pada siapa pun.Jangankan pada Ariyan, bahkan pada Jeandra pun Zelena lebih banyak diam. Jika Jeandra mencoba membujuknya untuk sekadar minum air putih, Zelena hanya akan membalikkan badan membelakangi suaminya, lalu meringkuk di bawah selimut tebal seolah ingin menghilang dari dunia.Jeandra duduk di tepi tempat tidur. Ia mengusap lembut rambut Zelena. "My baby Zelena, makan sedikit ya? Kamu bisa drop kalau begini terus." "Hati aku sudah mati, Jeandra. Untuk apa aku kasih makan tubuhku yang udah nggak ada gunanya ini?""Jangan bicara begitu.”"Anak yang kita banggakan. Anak kita satu-satunya yang–” Zelena tidak s
Suara pecahan kaca yang bunyinya terdengar keras dalam keheningan malam membuat Ariyan dan Aira terkejut bukan kepalang. Aira yang tadi begitu berani dan penuh gairah, kini membeku dengan posisi masih menindih Ariyan. Ia terbelalak memandangi sosok Zelena yang berdiri kaku di ambang pintu.Ariyan dengan napas yang masih memburu dan dada yang terekspos sama terkejutnya seperti Aira. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena gairah, melainkan karena ketakutan yang teramat sangat. Ia melihat ibunya, wanita yang paling ia hormati dan sayangi tengah menatapnya dengan pandangan yang tidak sanggup ia jabarkan.Zelena masih berdiri mematung. Wajahnya pucat-pasi bagaikan mayat. Bibirnya bergetar mencoba mengeluarkan kata-kata, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya yang tadi penuh kasih sayang saat mengenang masa lalu Ariyan, kini memancarkan kengerian, kekecewaan, dan rasa sakit yang tak terperikan.Ariyan mendorong dada Aira dengan kuat hingga perempuan itu terjatuh ke belakang di
Malam itu suasana sepi. Semua penghuni rumah tersebut berada di kamar masing-masing, kecuali Ariyan. Zelena sedang duduk di tepi tempat tidur. Sebuah album foto tebal berada di pangkuannya. Ia sedang memandangi foto-foto lama, lembar demi lembar, mencari ketenangan di masa lalu. Jeandra yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan mendekati Zelena. "Sayang, Ari belum pulang?" tanya Jeandra pelan sambil melirik jam di dinding. Malam sudah larut. Zelena mengesah kecil. Sepasang matanya masih terpaku pada sebuah foto bayi mungil yang sedang tertawa. "Belum, Papa Je. Katanya masih ada berkas proyek yang harus diselesaikan. Akhir-akhir ini dia memang jadi gila kerja." Jeandra duduk di samping Zelena, merangkul bahu istrinya dan ikut melihat album foto itu. "Mungkin dia lagi semangat-semangatnya membuktikan diri. Usia 24 tahun dengan kesuksesan seperti itu nggak semua orang bisa. Dia memang anak yang luar biasa." Zelena tersenyum tipis. Tangannya mengelus foto Ariyan saat bal
Mobil yang dikendarai Ariyan memasuki halaman rumah. Sedangkan di dalam rumah sana Zelena dan Jeandra sudah menunggu. Pintu terbuka. Sosok Aira melangkah masuk dengan aura yang benar-benar berbeda. Zelena sedikit terpaku. Putrinya bukan lagi gadis remaja yang ia kirim ke Brazil empat belas tahun yang lalu. Aira kini adalah wanita dewasa yang memesona, dengan tatapan mata yang seolah bisa membaca setiap pikiran mereka. "Kakak..." Zelena memberi senyum lalu memeluk sang putri, merasakan parfum mahal yang asing dari tubuh wanita itu. "Selamat datang di rumah, Sayang. Mama sama Papa kangen kamu,” ucapnya tulus. "Makasih, Ma. Aku juga kangen sama semua orang di sini," jawab Aira singkat. Ia membalas pelukan Zelena, lalu pindah pada Jeandra. "Papa, apa kabar?" Jeandra membalas pelukan Aira sekenanya karena ia tahu anak gadisnya itu sudah dewasa. “Kabar baik. Gimana penerbangannya?” “Lancar, Pa. Nggak ada masalah.” “Syukurlah.” Zelena merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat cal
Sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata betapa hancurnya hati Zivanya menyaksikan adegan mesra laki-laki yang dicintainya dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.Ia mengusap matanya yang bertelaga sebelum bulir-bulir bening itu jatuh menuruni pipinya.“Ariyan,” panggilnya sambil menyentuh punggung lelaki itu, yang membuat Ariyan segera tersadar dan mengurai pagutan bibirnya dari Aira.“Eh, ada Zivanya.” Aira yang merespons. “Maaf ya, Ziva. Habisnya Ariyan terlalu kangen sama kakaknya,” lanjut Aira dengan nada bicara yang ringan, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah candaan hangat antar keluarga. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.Ariyan memutar tubuh. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia malah menatap Zivana dengan pandangan yang asing, seolah perempuan di depannya hanyalah orang asing yang kebetulan lewat, bukan tunangannya.“Aku nggak bisa ngantar kamu pulang. Aku panggilin taksi,” ucapnya pada Zivanya.Zivanya menggeleng. Ia butuh penj
“Mamaaa!” seru Aira kala melihat wajah cantik Zelena di layar.Zelena tersenyum hangat. “Hai, Sayang.”Jeandra mencondongkan handphonenya pada Aira agar terlihat lebih jelas. “Aku mau tidur tapi nggak bisa.” Aira mulai berceloteh menyampaikan perasaannya. “Kenapa?”“Biasanya ada Mama yang nyanyi
"Zel, dicariin Pak Jeandra."Suara Yuri yang baru masuk ke ruangan membuat Zelena mengangkat wajah dari kubikelnya. Sandra dan Dania tampak bertukar pandang. Dari sorot mata mereka jelas terlihat keduanya sedang menggosipkan Zelena yang sampai saat ini mereka anggap sebagai musuh besar. Bukan han
Beberapa detik Valerie tertegun memandangi Jeandra yang telah melangkah pergi. Hingga perempuan itu tersadar untuk apa dirinya berada di kamar Jeandra jika lelaki itu malah meninggalkannya?Maka ia pun memanggilnya."Je, tunggu dulu!"Jeandra mendengar suara lantang Valerie, tapi tidak menggubris.
Seketika ucapan polos Aira membuat Jeandra membeku dan juga ingin marah di saat yang sama.Bukan. Ia sama sekali tidak marah kepada Aira. Melainkan pada ibunya yang bicara semena-mena sehingga membuat anak sekecil itu merasa tidak nyaman.“Bagus. Memang seharusnya begitu. Lebih baik kamu tinggal sa







