LOGINTiga tahun pernikahan tidak pernah mengubah apa pun bagi Jeandra. Lelaki itu tetap dingin dan tidak mencintai istrinya. Ia menganggap Zelena sebagai perempuan licik yang mau dinikahkan dengannya hanya karena uang dan harta. Namun bagi Zelena, tiga tahun itu adalah perjuangan. Tiga tahun belajar menahan luka dan mencintai tanpa pernah dicintai kembali. Perhatian dan cinta yang ia berikan selalu dianggap sebagai manipulasi. Zelena terus bertahan, sampai suatu hari sebuah kejadian membuka matanya bahwa selama ini ia mencintai orang yang salah. Dan di tahun ketiga pernikahan, ia memutuskan untuk pergi. Bukan karena ia tidak lagi mencintai Jeandra, tetapi karena ia mulai mencintai dirinya sendiri. IG Author:distrakzii
View MoreDugaan Jeandra terbukti tidak salah. Sejak mengetahui kedatangan orang tua Valerie perasaannya tidak enak. Dan kini ketidaknyamanan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih berat.Jeandra akhirnya duduk meski tubuhnya kaku. Ia memilih kursi paling ujung, seolah ingin menjaga jarak dari percakapan yang sejak awal tidak pernah ia kehendaki. Rosalia langsung mengambil alih suasana dan memimpin pembicaraan. “Kita semua sudah sepakat. Usia kamu dan Valerie sudah sangat cukup. Kalian juga sudah mapan. Jadi tidak ada alasan untuk menunda lagi. Apalagi kalian sudah saling mengenal sejak kecil.”Jeandra langsung membalas. “Sepakat yang mana, Ma?” suaranya terdengar tenang, tapi ada tekanan di sana. “Aku belum pernah bilang setuju.”Ruangan mendadak hening untuk sesaat. Maura berhenti menggeser layar ponselnya. Valerie yang sejak tadi sibuk dengan cerminnya kini mendongak, menatap Jeandra dengan senyum yang berusaha dipertahankan. “Je.” Melati membuka suara dengan nada keibuan. “Kami datang ke
Rintik-rintik hujan menemani Jeandra pulang ke rumah. Dalam perjalanannya ia mendengar handphonenya berbunyi. Nama 'Mama' dan 'Maura' bergantian muncul di layar. Tapi Jeandra tidak menggubrisnya. Ia tidak sedang ingin berbicara dengan siapa-siapa saat ini. Pikirannya terlalu penuh oleh Zelena. Jeandra tetap menatap lurus ke depan, membiarkan deru hujan dan suara wiper mengisi kabin mobil yang terasa dingin. Ponselnya kembali bergetar di konsol tengah, kali ini lebih lama, seolah pemiliknya enggan menyerah. Ia tahu tanpa melihat pun, pasti ibunya lagi. Atau Maura, dengan nada yang sama, pertanyaan yang itu-itu juga.Jeandra menghela napas, lalu menurunkan sedikit volume radio yang sedari tadi hanya berfungsi sebagai pengisi keheningan.Ia lelah. Bukan secara fisik, tapi jenis lelah yang mengendap di dada, menumpuk pelan-pelan sejak lama.Lampu merah memaksanya berhenti. Pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca depan, terdistorsi oleh tetesan hujan. Jeandra menatap pantulan it
"Je, kamu di sini juga?" Abi bertanya setelah berhasil meredakan rasa terkejutnya."Iya," jawab Jeandra ringan seakan kehadirannya di sana merupakan sesuatu yang wajar.Tatapan Abi pindah dari Jeandra pada Aira, lalu kembali pada Zelena. Ada jeda yang aneh di antara mereka bertiga.“Jadi … ini?” Abi tidak melanjutkan kalimatnya, tapi terlihat sedang menanti penjelasan."Ini Aira, anakku dan Zelena," jelas Jeandra yang mengerti kebingungan Abi.Seketika mata pria berkacamata itu melebar. Ia semakin bingung dan tidak mengerti karena keterangan yang didapatnya dari Jeandra begitu kontras dengan fakta yang disampaikan Zelena."Bukan anak seperti yang Bapak pikirkan, Pak Abi. Saya dan Pak Jeandra bukan suami istri." Cepat-cepat Zelena meluruskan sebelum Abi berpikir lebih jauh.Jeandra spontan menatap Zelena penuh protes. Kecewa karena jawabannya yang terlalu jujur."Maaf, Zelena, saya nggak ngerti," ujar Abi terus terang.Zelena menarik napas. Ia tahu penjelasannya barusan justru terdenga
Entah hanya perasaan Zelena saja. Tapi Abi tiba lebih cepat dari yang dikatakan lelaki itu padanya. Begitu melihat kemunculan Abi, Zelena langsung berdiri sebagai tanda sopan untuk menyambutnya.“Selamat malam, Pak Abi,” sapanya sopan.Abi membalas senyum Zelena dengan lebih hangat. "Selamat malam, Zelena. Maaf mengganggu kamu malam-malam begini."“Nggak kok, Pak. Silakan duduk dulu.”Zelena kembali duduk di sofa. Abi menempatkan diri di sebelahnya.“Saya mau bahas sedikit soal area komunal di lantai dasar proyek kita." Lelaki itumenyalakan layar iPad. Ia lalu membuka folder. Ibu jarinya sibuk menggulir menu, namun kemudian terhenti tiba-tiba disertai kerutan di dahinya. "Aduh sayang sekali." Pria itu bergumam pelan."Ada apa, Pak Abi?" tanya Zelena yang mendengar gumaman tersebut."Ketinggalan file-nya."Zelena melirik layar i-Pad Abi sekilas. “Kalau begitu mungkin bisa kita bahas detailnya besok, Pak.”"Sepertinya memang begitu." Abi mengembuskan napas. Dan bukannya siap-siap untu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore