LOGINTiga tahun pernikahan tidak pernah mengubah apa pun bagi Jeandra. Lelaki itu tetap dingin dan tidak mencintai istrinya. Ia menganggap Zelena sebagai perempuan licik yang mau dinikahkan dengannya hanya karena uang dan harta. Namun bagi Zelena, tiga tahun itu adalah perjuangan. Tiga tahun belajar menahan luka dan mencintai tanpa pernah dicintai kembali. Perhatian dan cinta yang ia berikan selalu dianggap sebagai manipulasi. Zelena terus bertahan, sampai suatu hari sebuah kejadian membuka matanya bahwa selama ini ia mencintai orang yang salah. Dan di tahun ketiga pernikahan, ia memutuskan untuk pergi. Bukan karena ia tidak lagi mencintai Jeandra, tetapi karena ia mulai mencintai dirinya sendiri. IG Author:distrakzii
View MoreHari ini adalah pagi terakhir Jeandra bersama Aira. Sore nanti anak berkulit sawo matang tersebut akan kembali pada Zelena."Makan yang banyak ya," kata Jeandra pada Aira saat mereka sarapan pagi.Anak itu mengangguk patuh.Ketika Jeandra akan menyuapkan oatmeal dengan sendoknya, Aira langsung menolak."Nggak usah disuapin, Pa. Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil."Celetukan polos putrinya itu membuat Jeandra terkekeh. Ia menarik kembali sendok di tangannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi sambil mengamati Aira yang berusaha menyendok oatmeal sendiri dengan wajah serius.“Baru bisa makan sendiri udah sombong,” godanya. “Ini bukan sombong. Ini mandiri.”Jeandra mengangkat alis. “Oh, jadi sekarang kamu sudah mandiri?”“Iya,” jawab Aira cepat. “Mama juga bilang aku sudah besar.”Nama itu—Mama—membuat gerakan Jeandra terhenti sepersekian detik. Tangannya yang sedang meraih cangkir kopi berhenti di udara, lalu perlahan melanjutkan gerakan seolah tidak terjadi apa-apa.Rosalia menya
Di dalam unitnya, Zelena masih berdiri di tempat yang sama. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya karena baru saja mematahkan hati seseorang. Selama beberapa detik ia hanya bisa berdiri terpaku dengan punggung bersandar ke pintu unitnya tanpa dirinya tahu bahwa di balik pintu tersebut Nayaka juga ada di sana.'Aku nggak salah, kan?' bisik Zelena di dalam hati guna meyakinkan dirinya sendiri.Tapi dadanya tetap sesak.Bayangan wajah Nayaka saat menutup kotak cincin itu terulang. Perasaan kecewa yang begitu dalam terlukis begitu jelas di wajah lelaki itu meskipun Nayaka mencoba menyembunyikannya.Zelena mengusap muka, lalu melangkah pelan menuju sofa. Ia duduk, memeluk lutut, menatap kosong ke arah hujan di balik jendela. Ia tahu penolakannya benar. Ia juga tahu penolakannya menyakitkan.Setelah sekian menit Zelena akhirnya bangkit. Ia melangkah ke kamar dan berbaring di ranjang. Tapi matanya tidak bisa dipejamkan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur setelah mematahkan hati orang?Zele
Zelena menutup laptop. Ia baru saja membalas email dari klien. Tubuhnya terasa pegal. Bahu dan lehernya kaku karena terlalu lama duduk dan menatap layar. Setelah ini ia bermaksud untuk langsung tidur. Apalagi di luar sana hujan yang turun rintik-rintik mengirim udara dingin sangat mendukung untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Ia beranjak dari sofa, mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu lantai di sudut ruang tamu. Hari ini terlalu panjang untuk diingat ulang.Baru saja ia melangkah menuju kamar, bel berbunyi.Zelena langsung memandang ke arah pintu dan mengesahkan napas. Baru juga mau istirahat.Melangkahkan kakinya, pintu Zelena buka dan seketika ia langsung dihadapkan pada presensi Nayaka."Malam, Zel. Aku mengganggu?" ujar lelaki itu."Udah mau tidur sih," jawab Zelena jujur. "Kenapa, Ka?""Oh, kalau gitu besok aja," jawab Nayaka agak kecewa. Sebelah tangannya yang berada di saku celana meremas kotak cincin. Rasa-rasanya ia tidak sanggup menunda sampai
Zelena sedang sibuk di depan laptop ketika ponselnya bergetar di sebelah benda itu.Satu pesan masuk. Melalui bilah notifikasi ia bisa melihat bahwa pesan tersebut adalah dari Jeandra. Yang ada di pikiran Zelena adalah bahwa setiap kali Jeandra menghubunginya itu adalah berkaitan dengan Aira. Jadi ia langsung membukanya.[Zel, kamu udah makan siang?]Zelena menatap layar handphone beberapa detik. Jarinya sempat menggantung sebelum akhirnya membalas.[Belum. Lagi sibuk kerja. Nggak sempat keluar.]Balasannya terkirim. Zelena menghela napas, lalu kembali menatap layar laptop dan memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia harus mengejar deadline seorang kliennya. Ponselnya kembali bergetar tak sampai satu menit kemudian.Masih dari Jeandra.[Kenapa nggak bilang dari tadi?][Buat apa?]Tidak ada lagi balasan dari Jeandra. Zelena mengira percakapan itu sudah selesai. Ia mencoba kembali fokus pada desain di depannya. Tapi pikirannya sudah terlanjur terdistraksi.Tiga puluh menit kemudian,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore