INICIAR SESIÓNZivanya sedang mengetik di kamar ketika pintu kamarnya diketuk yang diikuti oleh suara Seruni. “Ziva, udah tidur?” Tanpa beranjak dari tempatnya Zivanya menoleh ke arah pintu dan menjawab, “Belum, Mi. Masuk aja, pintunya nggak dikunci.” Pintu berwarna coklat itu terbuka perlahan. Tak hanya Seruni, ternyata Abi juga mengekor di belakang istrinya. Pemandangan ini cukup tidak biasa bagi Zivanya. Biasanya, jika hanya sekadar ingin mengecek keadaannya, cukup maminya saja yang datang. Kehadiran papinya menandakan ada sesuatu yang cukup penting untuk dibicarakan. ”Lagi ngerjain tesis?” Abi bertanya sembari melangkah mendekat. Ia menarik sebuah kursi kecil di sudut kamar ke dekat Zivanya dan duduk di sana. Sementara Seruni memilih duduk di tepi tempat tidur Zivanya yang rapi. Zivanya memutar kursinya, menghadap penuh kepada kedua orang tuanya. Ia tersenyum tipis. "Iya nih, Pi. Bab tiga tesis aku bagian analisis data ternyata lebih rumit dari yang aku bayangkan. Ada beberapa variabel y
Bagi Ariyan, menikahi Zivanya adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mencintai gadis itu. Dan tidak akan pernah bisa.“Pa, kenapa harus menikah sekarang? Ziva masih kuliah, Pa. Dia lagi sibuk tesis. Biar dia fokus dulu.” Ariyan mencoba mencari alasan yang sekiranya logis demi menunda permintaan Jeandra.“Kuliah bisa diselesaikan sambil menikah. Dan soal tesis, bukannya malah bagus? Kamu bisa membantu dia, memfasilitasinya, kasih dia semangat,” jawab Jeandra tidak memberi celah.“Tapi aku nggak cinta sama dia, Pa!”“Nggak cinta? Buktinya kalian bertahan sampai sekarang. Sepuluh tahun Papa rasa bukan waktu yang sebentar. Zivanya adalah gadis yang baik, pintar, sopan dan yang Papa lihat dia sangat sayang sama kamu. Setelah menikah nanti kalian bisa mengenal lebih dekat lagi. Kadang hubungan fisik bisa mempererat ikatan emosional.”“Kalau aku tetap menolak?” tantang Ariyan.Jeandra tidak langsung menjawab. Ia menatap putranya itu lekat-l
Sejak kejadian malam itu rumah milik Jeandra dan Zelena terasa sepi. Zelena hanya berbaring di kamar. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap dinding dengan tatapan kosong. Air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis. Yang tersisa hanyalah gurat kelelahan yang sangat dalam di wajahnya yang kini tampak pucat dan tirus.Ia juga tidak ingin berbicara pada siapa pun.Jangankan pada Ariyan, bahkan pada Jeandra pun Zelena lebih banyak diam. Jika Jeandra mencoba membujuknya untuk sekadar minum air putih, Zelena hanya akan membalikkan badan membelakangi suaminya, lalu meringkuk di bawah selimut tebal seolah ingin menghilang dari dunia.Jeandra duduk di tepi tempat tidur. Ia mengusap lembut rambut Zelena. "My baby Zelena, makan sedikit ya? Kamu bisa drop kalau begini terus." "Hati aku sudah mati, Jeandra. Untuk apa aku kasih makan tubuhku yang udah nggak ada gunanya ini?""Jangan bicara begitu.”"Anak yang kita banggakan. Anak kita satu-satunya yang–” Zelena tidak s
Suara pecahan kaca yang bunyinya terdengar keras dalam keheningan malam membuat Ariyan dan Aira terkejut bukan kepalang. Aira yang tadi begitu berani dan penuh gairah, kini membeku dengan posisi masih menindih Ariyan. Ia terbelalak memandangi sosok Zelena yang berdiri kaku di ambang pintu.Ariyan dengan napas yang masih memburu dan dada yang terekspos sama terkejutnya seperti Aira. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena gairah, melainkan karena ketakutan yang teramat sangat. Ia melihat ibunya, wanita yang paling ia hormati dan sayangi tengah menatapnya dengan pandangan yang tidak sanggup ia jabarkan.Zelena masih berdiri mematung. Wajahnya pucat-pasi bagaikan mayat. Bibirnya bergetar mencoba mengeluarkan kata-kata, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya yang tadi penuh kasih sayang saat mengenang masa lalu Ariyan, kini memancarkan kengerian, kekecewaan, dan rasa sakit yang tak terperikan.Ariyan mendorong dada Aira dengan kuat hingga perempuan itu terjatuh ke belakang di
Malam itu suasana sepi. Semua penghuni rumah tersebut berada di kamar masing-masing, kecuali Ariyan. Zelena sedang duduk di tepi tempat tidur. Sebuah album foto tebal berada di pangkuannya. Ia sedang memandangi foto-foto lama, lembar demi lembar, mencari ketenangan di masa lalu. Jeandra yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan mendekati Zelena. "Sayang, Ari belum pulang?" tanya Jeandra pelan sambil melirik jam di dinding. Malam sudah larut. Zelena mengesah kecil. Sepasang matanya masih terpaku pada sebuah foto bayi mungil yang sedang tertawa. "Belum, Papa Je. Katanya masih ada berkas proyek yang harus diselesaikan. Akhir-akhir ini dia memang jadi gila kerja." Jeandra duduk di samping Zelena, merangkul bahu istrinya dan ikut melihat album foto itu. "Mungkin dia lagi semangat-semangatnya membuktikan diri. Usia 24 tahun dengan kesuksesan seperti itu nggak semua orang bisa. Dia memang anak yang luar biasa." Zelena tersenyum tipis. Tangannya mengelus foto Ariyan saat bal
Mobil yang dikendarai Ariyan memasuki halaman rumah. Sedangkan di dalam rumah sana Zelena dan Jeandra sudah menunggu. Pintu terbuka. Sosok Aira melangkah masuk dengan aura yang benar-benar berbeda. Zelena sedikit terpaku. Putrinya bukan lagi gadis remaja yang ia kirim ke Brazil empat belas tahun yang lalu. Aira kini adalah wanita dewasa yang memesona, dengan tatapan mata yang seolah bisa membaca setiap pikiran mereka. "Kakak..." Zelena memberi senyum lalu memeluk sang putri, merasakan parfum mahal yang asing dari tubuh wanita itu. "Selamat datang di rumah, Sayang. Mama sama Papa kangen kamu,” ucapnya tulus. "Makasih, Ma. Aku juga kangen sama semua orang di sini," jawab Aira singkat. Ia membalas pelukan Zelena, lalu pindah pada Jeandra. "Papa, apa kabar?" Jeandra membalas pelukan Aira sekenanya karena ia tahu anak gadisnya itu sudah dewasa. “Kabar baik. Gimana penerbangannya?” “Lancar, Pa. Nggak ada masalah.” “Syukurlah.” Zelena merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat cal
Sedan hitam itu melaju cepat membelah jalan raya. Sesekali sang pengemudi harus mengurangi kecepatan karena antrian yang mengular, membuat dua orang yang berada di dalamnya mengumpat kesal. Rosalia duduk di kursi penumpang. Dalam diam, matanya tajam menatap ke depan. Tidak ada obrolan. Hanya embu
Tidak sama dengan pagi-pagi lainnya, pagi ini terasa berbeda. Jeandra yang biasanya bangun sesukanya dan berangkat ke kantor jam berapa pun yang diinginkannya, kali ini harus bangun pagi karena harus mengurus Aira dan menyiapkannya untuk ke sekolah.Bahkan pagi ini Jeandra terbangun bukan oleh alar
Masih ada waktu cuti tersisa beberapa hari lagi sebelum Zelena kembali bekerja. Jadi ia menggunakannya dengan mengurus segala sesuatunya mengenai Aira sebelum ditinggal kerja nanti. Hari ini Zelena berencana mencari sekolah sekaligus daycare untuk anak itu.Zelena sudah siap-siap pergi ketika pint
Jeandra mematikan mesin mobil, namun tangannya masih berada di setir. Tatapannya tertuju lurus ke arah ibunya dan Valerie yang berdiri di beranda, tertawa dan bercengkerama seperti dua orang sahabat lama.Aira ikut memandang searah sang papa. “Pa, itu siapa?” tanyanya penasaran.Jeandra menghela n







