MasukAngin malam membawa hawa dingin menusuk tulang, menyapu asap pertarungan dan bau darah di rumah Keluarga Brando.Kalani menggendong putranya yang terluka parah dan tak sadarkan diri. Di bawah pengawalan beberapa orang kepercayaannya, dia melarikan diri dengan keadaan compang-camping dari Midyar, lalu sementara bersembunyi di sebuah markas rahasia yang terletak jauh di pegunungan.Tempat itu adalah sebuah kuil tua yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Di antara reruntuhan tembok dan puing-puing, hanya tersisa beberapa kamar yang masih agak utuh.Cahaya bulan menembus kisi-kisi jendela yang rusak, menyinari wajahnya yang pucat dan terdistorsi, membuatnya tampak semakin mengerikan."Ibu ... sakit ...." Lucien meracau dalam ketidaksadaran. Tubuh kecilnya meringkuk karena rasa sakit.Kalani dengan hati-hati membaringkan putranya di ranjang rusak yang dialasi selimut tebal, lalu memeriksa lukanya.Serangan Oppie memang tidak langsung merenggut nyawa Lucien, tetapi energi roh es tela
"Kurang ajar!"Kultivator wanita itu berteriak marah. Kedua tangannya membentuk segel, lalu seberkas petir ungu melesat dari telapak tangannya, membelah udara dan langsung menyambar ke arah Oppie.Oppie tidak menghindar dan tidak pula menangkis. Dia hanya mengangkat tangan kanannya dan di telapak tangannya muncul sebuah perisai cahaya putih.Petir ungu menghantam perisai cahaya itu dengan suara dentuman keras, tetapi sama sekali tidak mampu menggoyahkannya."Nggak mungkin!" Ekspresi kultivator wanita itu berubah drastis. "Kamu jelas-jelas terluka parah, gimana mungkin masih memiliki kekuatan seperti ini?"Oppie tidak menjawab. Tubuhnya berkelebat. Dalam sekejap, dia sudah muncul tepat di hadapan kultivator wanita itu, lalu melayangkan sebuah pukulan.Pukulan itu tampak ringan, tetapi angin yang menerpa mengandung kekuatan spiritual yang sangat dahsyat.Kultivator wanita itu tidak berani menerimanya secara langsung. Dia buru-buru mundur sambil terus mengayunkan kedua tangannya, menembak
"Nggak!"Sebelum jeritan tragis Roxy sempat keluar sepenuhnya, kultivator wanita itu sudah mengangkat tangan dan mengibaskannya.Kilatan cahaya ungu memelesat, lalu kedua pergelangan tangan Roxy pun terputus dan darah menyembur keluar. Dia menjerit dengan nyaring, lalu langsung pingsan begitu saja.Terdengar seruan kaget dan isak yang tertahan di aula, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menangis dengan keras karena takut orang yang bernasib sama dengan Roxy adalah dirinya sendiri."Seret dia pergi," kata kultivator wanita itu sambil melambaikan tangan, seolah-olah sedang mengusir seekor lalat.Dua pelayan Keluarga Brando maju dengan tubuh gemetar, lalu menyeret Roxy yang tidak sadarkan diri keluar sampai meninggalkan jejak darah yang mencolok di lantai."Masih ada yang nggak terima?" tanya kultivator wanita itu sambil melihat ke sekeliling dengan tatapan yang tajam.Semua orang langsung menundukkan kepala dalam-dalam, tidak berani menatap wanita itu.Namun, bocah lelaki itu masih
"Situasi di Kediaman Pangeran Luandi sekarang belum jelas, kamu juga harus menjaga diri," kata Bianca dengan nada yang jarang-jarang menunjukkan kepedulian. "Kalau sampai kehilangan lawan sepertimu, hidup akan jadi sangat membosankan."Di seberang telepon, Ariana seolah-olah tersenyum. "Tenang saja, aku pasti nggak akan mati lebih dulu darimu.""Hmph." Bianca mendengus pelan, lalu menutup telepon."Apa yang dia katakan?" tanya Luther akhirnya."Dia bilang ini ulah Roman dan memperingatkanku supaya berhati-hati. Kediaman Pangeran Luandi sekarang sedang kacau," kata Bianca sambil menyimpan ponselnya. "Katanya ada kekuatan tak dikenal yang ikut campur, bahkan dia sendiri sudah nggak bisa mengambil keputusan."Alis Luther sedikit berkerut. "Roman .... Aku ingat dia, ambisinya cukup besar. Tapi kekuatan yang sampai membuat Ariana kerepotan itu jelas bukan pihak sederhana.""Ya. Dia juga bilang mungkin ada hubungannya dengan orang istimewa yang belakangan muncul di Midyar," ujar Bianca sambi
"Tenang saja, sekarang aku sangat rendah hati. Aku juga jarang muncul ke publik. Aku sudah menyerahkan urusan perusahaan pada orang-orang kepercayaan," kata Bianca sambil tersenyum."Baguslah kalau begitu," kata Luther sambil menganggukkan kepala.Beberapa hari kemudian setelah Oppie pergi, kehidupan Luther kembali tenang.Bianca juga makin sering datang ke vila. Namun, dia tidak tergesa-gesa lagi seperti saat sibuk mengurus perusahaan, dia malah sengaja meluangkan waktu untuk menikmati hari-hari sederhana bersama Luther. Hari itu adalah akhir pekan dan pagi-pagi sekali Bianca pun sudah datang sambil membawa banyak kantong."Hari ini mataharinya cerah sekali, ayo kita piknik. Aku sudah suruh koki menyiapkan bekal, buah-buahan, dan juga makanan penutup," kata Bianca sambil tersenyum ceria dan tatapannya memancarkan cahaya penuh harapan.Melihat halaman yang memang penuh dengan cahaya matahari, Luther menganggukkan kepala. "Boleh juga. Mau ke mana?""Aku tahu satu tempat yang nggak jauh
Saat wanita itu menatap Ice, Ice segera mendekat dan menggesekkan kepalanya ke tangan wanita itu dengan manja. Kelembutan terlintas sekilas di tatapannya, tetapi segera menghilang dan kembali menjadi dingin. "Terima kasih. Setelah lukaku agak pulih, aku akan pergi. Nggak akan mengganggumu.""Nggak perlu terburu-buru, istirahatlah dengan tenang. Boleh tahu siapa nama Nona?" tanya Luther.Wanita itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan pelan, "Oppie."Beberapa hari berikutnya, Oppie memulihkan diri di vila itu. Dia sangat jarang bicara dan sebagian besar waktunya dihabiskan duduk bersila untuk mengatur napas. Dia kadang-kadang berdiri di depan jendela untuk menatap pegunungan yang jauh dan termenung.Luther menyadari kecepatan pemulihan Oppie sungguh luar biasa. Luka-luka yang biasanya membuat orang biasa berbaring selama berbulan-bulan, tetapi Oppie hanya butuh beberapa hari untuk pulih hampir sepenuhnya.Sore itu, Luther sedang memangkas tanaman di halaman, tetapi tiba-tiba terdengar b







