LOGINPria berwajah mengerikan itu melihat keadaan tidak menguntungkan, jadi segera berbalik hendak melarikan diri. Namun, dia dikejar dua orang dari Keluarga Andrasta. Kilatan pedang menyambar. Seketika, kepala serta tubuhnya terpisah.Dalam sekejap mata, dari pihak Kalani, hanya tersisa dirinya seorang yang tergeletak di tanah dengan luka parah.Windy melangkah mendekat sambil menggenggam pedangnya. Ujungnya mengarah tepat ke tenggorokan Kalani. Empat anggota Keluarga Andrasta lainnya turut mengepung, menutup semua jalan mundur.Oppie juga berjalan mendekat, menatap dingin sosok yang menjadi dalang pembantaian Keluarga Brando.Kalani berambut kusut, tubuhnya berlumuran darah. Kesombongan sebelumnya telah lenyap, yang tersisa di matanya hanyalah ketakutan dan ketidakrelaan."Kalian ... kalian berani membunuhku? Suamiku adalah Janaka! Keluarga kami nggak akan melepaskan kalian! Tetua Ketujuh akan segera tiba! Kalian semua akan mati!"Oppie melangkah ke hadapannya, memandangnya dari atas deng
"Wanita jalang, hanya bisa sembunyi-sembunyi saja" marah Kalani yang merasa sambil memerintah para pengawalnya untuk menyerang dengan ganas ke arah munculnya aura Oppie.Oppie bertarung sambil mundur. Sekilas terlihat seperti dia terus terdesak ke dalam lembah, padahal dia sebenarnya sedang menarik Kalani dan yang lainnya masuk makin dalam ke area inti formasi. Dia ingin memancing mereka ke dalam lingkaran pengepungan yang sudah disiapkannya.Karena tak kunjung berhasil menembus formasi, Kalani merasa makin gelisah. Dia bahkan bersiap mengorbankan lebih banyak tenaga dan mengeluarkan pusaka yang lebih kuat untuk memaksa memecah formasi.Namun, tepat pada saat itu, perubahan mendadak pun terjadi. Di kedua sisi tebing lembah, beberapa cahaya spiritual tiba-tiba menyala. Beberapa saat kemudian, lima sosok memelesat turun dan mendarat di area kabut yang relatif lebih tipis. Mereka samar-samar membentuk formasi pengepungan balik terhadap Kalani dan ketiga pengawalnya.Kelima orang itu menge
Pengawal itu masih menyimpan kekhawatiran. "Tapi, kemampuan Oppie nggak sembarangan, semalam dia bahkan mampu melukai Dewi. Meskipun Dewi lengah, jurus esnya memang sangat hebat. Kami berempat ....""Nggak perlu takut!"Kalani berkata dengan kesal, "Dia sudah terluka parah, kekuatannya menurun drastis. Kita berempat bergabung ditambah Mutiara Petir Ungu di tanganku, masa nggak bisa menaklukkan satu orang yang sedang sekarat. Lagi pula, suamiku tahu aku ke sini untuk urusan ini. Kalau benar-benar ada bahaya, jimat pelindung yang ditinggalkannya akan otomatis aktif dan dia pun akan segera datang kemari."Saat menyebut suaminya, terlintas rasa bangga sekaligus ketergantungan di tatapan Kalani. Suaminya, Janaka, memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kalangan generasi muda Keluarga Giok Ungu, kultivasi sudah mencapai tingkat inti emas, dan sangat memanjakannya.Melihat tekad Kalani sudah bulat, ketiga pengawal itu hanya bisa memberi hormat. "Semua sesuai perintah Dewi.""Kirim kabar pada
Setelah meninggalkan reruntuhan rumah Keluarga Brando, Oppie tidak langsung melarikan diri jauh.Dia membawa Ice dan mencari sebuah gua gunung yang tersembunyi di pegunungan tandus di pinggiran Midyar. Di sana, dia memasang formasi penyamaran sederhana dan mulai menyusun rencana."Kalani orang yang pendendam. Pembantaian terhadap seluruh Keluarga Brando pasti membuatnya merasa sudah melampiaskan amarah," gumam Oppie sambil duduk bersila. Kilatan dingin berpendar di matanya. "Tapi dia pasti nggak akan berhenti sampai di situ. Aku harus menyingkirkan ancaman ini."Ice berbaring di samping lututnya, mendongak menatapnya, lalu mengeluarkan suara pelan.Oppie mengelus kepalanya. "Kamu juga merasa kita harus melawan, 'kan? Terus bersembunyi bukanlah solusi. Lagi pula ...." Di benaknya kembali terbayang puing-puing hangus itu. "Orang-orang nggak bersalah itu nggak boleh mati sia-sia."Dia mengeluarkan liontin giok pemberian Luther, meraba permukaannya yang hangat dan lembut, tenggelam dalam p
"Dewi, semuanya sudah dibersihkan," lapor pria berwajah mengerikan itu dengan tubuh penuh noda darah.Kalani menganggukkan kepalanya. Saat melihat kediaman yang berlumuran darah itu, tatapannya tidak terlihat merasa iba sedikit pun dan hanya ada rasa jijik. "Langsung bakar sampai bersih. Aku mau tempat ini tak tersisa sedikit pun."Para pengawal yang menerima perintah segera menyiram minyak ke berbagai sudut rumah. Ternyata mereka memang sudah menyiapkan semuanya sejak awal.Begitu obor dilempar, api besar langsung membubung dan menelan bangunan kayu, perabotan, serta jasad-jasad tak berdosa dengan rakus. Nyala api membubung tinggi dan asap pekat mengepul. Kediaman Keluarga Brando yang dahulu terlihat megah pun kini mengeluarkan bunyi letupan memilukan di tengah kobaran dan perlahan-lahan berubah menjadi lautan api."Kita pergi!"Kalani melirik sekilas lautan api itu, lalu membawa para pengawalnya segera pergi dari sana dan menghilang di ujung jalan.Tak lama setelah Kalani dan para pe
Malam perlahan-lahan makin larut.Oppie yang membawa Ice tidak pergi jauh dari Midyar. Dia menemukan sebuah gua di sebuah hutan pegunungan yang sepi sebagai tempat tinggal sementara untuk mengatur napas dan memulihkan luka. Dia memang memenangkan pertarungan melawan Kalani semalam, tetapi luka lama juga kembali terbuka dan membutuhkan waktu untuk menstabilkannya.Ice berbaring di samping Oppie dengan tenang dan menjilat kaki depannya, sedangkan matanya yang berwarna amber itu sesekali menatap ke luar gua dengan waspada.Hati Oppie sama sekali tidak merasa tenang karena dia sangat memahami sifat Kalani yang pendendam. Jika bukan karena Viridian tiba-tiba muncul dan menjadi penjamin, Kalani pasti tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.Viridian memang terlihat adil di permukaan, tetapi sikapnya yang ambigu sepertinya ada maksud tersembunyi di baliknya. Sementara itu, keluarga di balik Kalani, Keluarga Giok Ungu, memiliki pengaruh besar di antara keluarga-keluarga tersembunyi dan sela







