Home / Romansa / Dikejar-kejar Brondong / Bab 53 Kisah Kelam Keluarga Ryuji

Share

Bab 53 Kisah Kelam Keluarga Ryuji

Author: Leneva
last update Huling Na-update: 2024-06-10 11:04:21
Keheningan pun tercipta, baik Harumi maupun Sofie terdiam, hanya terdengar suara gemericik air dari pancuran mini di salah satu sisi ruangan.

Harumi terdiam beberapa saat, seperti terdapat beban berat di dalam dadanya. Ia menutup matanya, menundukkan kepala lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan, sebelum ia melanjutkan kisahnya.

"Tepat pukul sembilan malam, akhirnya kami mendapatkan kabar dari para penculik. Iya, mereka berdua diculik saat berjalan kaki bersama. Tidak ada
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 79 Kejutan yang Tak Terduga

    Rumah Sofie di kaki gunung Salak, Bogor mendadak ramai didatangi para tamu undangan pernikahan Shafa dan Rain. Para tetangga turut serta meramaikan acaranya dengan bergotong-royong memasak dan menyulap halaman depan menjadi pelaminan dan area buffet. Sofie dengan pembawaannya yang santai, terlihat asyik memandangi Shafa yang sedang dirias oleh make-up artis, kenalan Sofie dari Jakarta. "Mbak, nggak usah ngeliatin aku kayak gitu. Aku tahu aku cantik dan saat ini, aura kecantikanku sedang dalam tahap maksimal." "Kecantikanku memang menurun, ah senangnya," sahut Sofie santai. Lalu, tanpa permisi, ia keluar dari kamar pengantin untuk memeriksa persiapan di luar. Seperti biasa, Sofie dengan sifat perfeksionisnya, ia harus memastikan semuanya tampak sempurna. Tenda putih dengan dekorasi pita berwarna silver dan pink, tampak megah dan elegan di tengah halaman. Dekorasi manik-manik di setiap sisi atas tenda, bagaikan kristal mewah yang menangkap cahaya pagi dan memantulkannya dal

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 78 Rain dan Shafa

    Setahun pun berlalu, Ryuji dan Sofie yang terpisah ribuan kilometer, telah disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Ryuji kembali ke bangku kuliah, guna mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin Ryu Corporation, sementara Sofie tengah membangun bisnisnya sendiri. Pelatihan yang ia berikan kepada warga desa Sukamaju telah menelurkan karya-karya yang memiliki daya jual tinggi, sehingga tawaran untuk mengikuti pameran UMKM berulang kali diterimanya. "Mbak, kayaknya sekarang kita sudah siap untuk ikut pameran di Jakarta," ucap Shafa. "Hmm kayaknya sih begitu, tapi aku males ngurus registrasi sama semua perintilannya itu," sahut Sofie. Shafa pun berpikir sesaat, kemudian ia mengusulkan sebuah nama untuk mewakili Sofie, "Mbak, gimana kalau aku telpon Rain? Dia kan pengacara, pasti dia sanggup untuk ngurusin semua printilan ini. Ya minimal, dia bisa bantuin pakai kenalannya." "Baiklah, kuserahkan kepada dirimu, adikku tersayang. Oiya, kalau Rain belum nikah, lamar sekalian aja. Kan sud

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 77 Abe The Tutor

    "Kamu ... ah kamu siapa? Maaf, aku sama sekali nggak bisa mengingatmu, tapi aku merasa kalau kita berdua sangat dekat dan aku merasa kamu mengetahui rahasiaku," ucap Ryuji. Abe pun terkekeh mendengarnya, lalu ia melangkah lebih dekat, lalu menarik kursi untuk ia duduki di depan Ryuji. Lalu, dengan tersenyum, Abe menjawab, "Kamu benar, aku adalah orang yang menyimpan semua rahasiamu. Aku mengetahui sisi terbaik dan terburukmu. Aku juga mengetahui kekuatan dan kelemahanmu." "Berarti kamu adalah orang yang penting dalam kehidupanku. Nah, karena kamu adalah orang yang memegang rahasiaku, tolong ceritakan tentang aku, siapakah aku dan dimanakah aku sekarang? Karena aku merasa ini bukanlah tempat tinggalku yang sebenarnya," ucap Ryuji. "Memang benar, ini bukanlah tempat tinggalmu. Apakah kamu tahu, sekarang berada di negara apa?" tanya Abe. "It's easy, I'm in London. I can tell by their accent and the weather, lots of rain," jawab Ryuji. "That's right, so do you know who is your

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 76 Beban Seorang Pewaris

    Tanpa terasa, waktu bergulir dengan cepat. Sofie telah memulai pelatihan menggambar, desain dan kuliner yang dilaksanakan setiap hari Sabtu di balai desa. Pesertanya meliputi anak-anak, remaja hingga dewasa. Tentu saja, Sofie tidak sendiri dalam melatih, sang ayah yang merupakan seorang arsitek dan juga Shafa yang seorang chef turut membantu dalam pelatihan tersebut. Setelah pelatihan berjalan selama enam bulan, Sofie mengadakan evaluasi dengan cara membuat pameran hasil karya pelatihannya. Untuk menambah semangat pesertanya, Sofie mengundang media dan juga perusahaan mebel di Jakarta. Sementara, Rakha atau Ryuji telah menyelesaikan terapi paska kehilangan kesadarannya. "Jadi bagaimana perkembangan Ryuji saat ini, Dok?" tanya Ryuzaki. "Seperti yang dapat Anda rasakan, Ryuji perlahan telah kembali tanpa ada kemunculan karakter yang lain tetapi ingatannya masih kacau antara Ryuji dan Rakha. Kami akan mengadakan tes kembali sebelum Ryuji dapat kembali ke tengah masyarakat, jika has

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 75 Berusaha Bangkit

    "Mbak, ingat Rain nggak?" tanya Shafa.Sambil mengernyitkan keningnya, Sofie balik bertanya, "Rain Korea suaminya Kim Tae Hae?""Mbaaaak, sejak kapan aku kenal sama Rain yang ono? Rain, temen SMP aku itu lho, yang blasteran ...""Oh yang ganteng itu! Yang kamu suka tapi dianya jual mahal itu, kan?" goda Sofie sambil terkekeh."Idih, bener," sahut Shafa yang membuat Sofie terbahak."Keknya puas banget nih kakak satu," tambah Shafa."Sorry, sorry. Anyway, ada apa sama Rain ganteng?" goda Sofie lagi."He's a lawyer, mungkin mbak Sof butuh jasanya, maybe someday gitu?""Hmmm dia sudah nikah belum, kamu lamar gih, biar kamu segera pindah dari sini," goda Sofie lagi sambil terbahak."Sungguh menyesal aku bertanya," sungut Shafa.Shafa pun beranjak dari hadapan Sofie untuk kembali ke kamarnya, tetapi Sofie menahan pintunya sambil berucap, "Iya deh, maaf. Jangan ngambek dong, duduk lagi sini, sok cerita.""Udah nggak mood," sahut Shafa datar."Aduh, adik manis jadi ngambek. Cini-cini, mbak m

  • Dikejar-kejar Brondong   Bab 74 Rain dan Shafa

    Matahari pagi menjelang siang di kota Bogor telah bersinar terang, tetapi udara dinginnya masih terasa menerpa kulit. Keheningan di salah satu sudut kota, dimanfaatkan oleh Rain dan Shafa untuk menikmati hidangan ringan khas kota Bogor. Keduanya pun larut dalam perbincangan yang telah lama tidak mereka lakukan. "Jilbab kamu tambah panjang aja, Shaf and you look great," puji Rain. "Kamu tambah makmur ..." "Hei, aku cuma nambah beberapa kilo ..." "Aku nggak bilang kamu gendutan, cuma bilang tambah makmur, it's compliment," jelas Shafa. Sambil menyeruput kopi hangatnya, Rain bertanya, "Well thanks, but anyway, kamu ngapin disini?" "Belanja," jawab singkat Shafa, sambil menunjukkan tas belanjaannya. "I can see that, tapi kok disini? Sejak kapan kamu pindah ke sini?" "Pingin tenang aja, capek di Jakarta. Macet, panas, apa-apa mahal, dimana-mana belanja harus pakai kris," jawab Shafa. "Padahal kalau pakai pisau dikira mau ngerampok ..." "Shafaaa! Aku tuh serius, eh k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status