LOGIN(Area Dewasa!!! 21+) "Ahh, pelan-pelan, Pak!" Suara itu membuat bulu kuduk Ivy meremang. Saat melihat dari balik jendela, Ivy melihat seorang mahasiswi dan dosennya sedang bercinta! Ivy segera mengangkat ponsel, dan merekam adegan itu. Jika beruntung, Ivy bisa mengancam dosennya dan mendapat uang untuk menutupi hutang ayahnya! Tapi, siapa sangka, takdir bergerak ke arah yang tidak terduga. Damian, dosen dingin yang Ivy tuduh telah melanggar etika di wilayah kampus, malah tersenyum miring dan menantang. "Kamu pikir, kamu bisa menjebak saya dengan trik murahan seperti ini?" Sebelum Ivy sadar, mendadak keadaan berbalik, dan Ivy malah terjebak dalam situasi tidak terduga dengan dosen tampan itu. "Pak, mohon ampuni saya! Saya akan melakukan apapun untuk Bapak!" "Apapun?" Pria itu menyeringai. "Kalau begitu, saya punya pekerjaan yang cocok untukmu."
View More“Kamu ini bodoh, ya? Hutangmu tidak akan lunas kalau kamu malas-malasan seperti ini! Cepat bekerja!”
Seruan kasar itu membuat Ivy tersentak dari lamunannya. Mata Ivy segera beralih dari para pengunjung bar yang sedang berkumpul, kepada pria tinggi besar yang memandangnya bringas. “Baik, Paman.” Ivy menundukkan kepalanya patuh. “Jangan bermalasan seperti orang bodoh. Walaupun kamu memandangi mereka sampai matamu terlepas, posisi kalian tidak akan tertukar.” Samson berbicara sarkastik pada Ivy yang sejak tadi memandangi pengunjung bar. Mereka semua anak muda. Berkumpul di sebuah sofa dengan banyak alkohol di hadapan mereka. Denting-denting gelas terdengar dibarengi dengan suara tawa kegirangan. Jelas sangat bertolak belakang dengan kondisi Ivy yang menjadi budak tempat tersebut. Ivy— wanita berusia di awal 20-an yang berasal dari keluarga sederhana. Ibunya sudah meninggal lama, dan dia hanya hidup dengan ayahnya. Mungkin beruntung kalau ayahnya waras, tapi pria itu adalah kumpulan dari definisi keburukan. Dia pemabuk, penjudi, seringkali melakukan kekerasan kepada Ivy, dan memiliki banyak sekali hutang. Seolah tak cukup dengan hal itu, ayah Ivy menyerahkan putrinya sendiri kepada Samson, sang debt collector, sebagai jaminan. Sebagai gantinya, Ivy harus bekerja di bar sesuai perintah Samson sampai hutang-hutang ayahnya lunas. Samson benar. Tidak peduli betapa pun Ivy mendambakan kebebasan penuh di sekelilingnya, dirinya tidak akan pernah bertukar tempat dengan keberuntungan milik mereka. Tempatnya hanyalah pada kemalangan. “Ikut denganku. Ada pekerjaan yang bayarannya besar, lakukan dengan baik.” Samson berbicara lagi. Dia tidak memberi penawaran, langsung menyeret lengan Ivy untuk menjauh dari lantai utama bar tersebut menuju tempat lainnya yang lebih private. “Ke mana, Paman…?” Ivy dibuat membelalak saat Samson membuka salah satu pintu pada lorong panjang dengan pencahayaan temaram. Biasanya, ruangan di balik barisan pintu itu digunakan oleh sebagai tempat prostitusi. “Layani pria di dalam sana. Diam saja dan turuti perintahnya.” Tubuh Ivy kaku di depan pintu. Dia menggelengkan kepalanya ketakutan. “Tidak, tidak usah, Paman. Saya akan kembali ke depan saja.” Ivy bermaksud berbalik pergi ke lantai utama bar, tapi Samson langsung menyambar lengannya. “Mau kemana kamu? Kerja yang becus. Lakukan apa yang aku katakan!” Samsung menyeret tangan Ivy dengan kasar dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan. Blam! Langsung menutup pintunya tanpa sempat Ivy berbalik untuk kabur. “Wah, cantik juga mainannya.” Ivy menelan ludahnya sambil berbalik kaku. Seorang pria yang usianya jauh di atas Ivy duduk dengan kedua tangan bertengger pada sofa. Kedua kakinya menyilang di depan. Bibirnya menyeringai lebar. Sentakan bangga tergambar di wajahnya penuh gairah—seolah baru mendapatkan apa yang diinginkannya. Ivy mundur menjauh saat pria itu bangkit dari posisi duduk untuk mendekatinya. “Berapa umurmu? Masih muda sekali kelihatannya.” “Ma-maaf, sepertinya saya salah ruangan,” gagap Ivy, ingin meraih gagang pintu, tapi pria itu menarik tangannya. “Heh, mana ada salah ruangan? Samson mengantarmu ke sini untuk melayaniku.” Ivy terlonjak saat merasakan sentuhan halus pada bokongnya. Ia mundur, tapi cekalan di pergelangan tangannya tidak mau lepas. “Maaf, Tuan. Tapi saya tidak melakukan pekerjaan seperti itu,” kata Ivy gemetar, berusaha menjaga bicaranya agar tetap sopan. Pria itu cuma terkekeh. “Ah, jadi benar ini pertama kali bagimu? Aku bayar dua kali lipat untuk gadis perawan. Biasanya, aku ditipu, jadi aku harus memastikan...” Tangannya mulai meremas bokong Ivy dengan mesum, satu ujung jarinya menelisik melewati kemeja Ivy. “Ayo… kita cek apa benar kamu masih perawan?” Sekujur badan Ivy merinding dan gemetar luar biasa. “Tidak!” serunya, melepaskan cengkraman dan berlari ke arah pintu, tapi pria itu menyambar rambutnya. Membuat Ivy berteriak kesakitan. “Aahh! Tolong!” Pria itu mengencangkan jambakan dan menghempas kasar tubuh Ivy ke atas sofa. “Sudah kukatakan, aku membayar mahal untuk tubuhmu. Ayo, cantik, sekarang buka kakimu.” Ivy meronta saat pria itu menindih tubuhnya. Panik, tangan Ivy meraba-raba meja dan menyambar sebuah botol alkohol dari sana. Langsung saja, Ivy memukulkan botol itu ke kepala pria di atasnya. Prang! Botol itu pecah berhamburan di lantai. “ARGHH!” Pria itu mundur menjauh, memegangi kepalanya yang berdarah. Memberi kesempatan untuk Ivy menjauh. “Dasar jalang kurang ajar!” Pria itu menatap Ivy dengan pandangan garang yang menyala-nyala. Ivy sudah berlari meninggalkan ruangan sebelum pria itu bergerak menyambar tubuhnya lagi. “Kembali ke sini kau, jalang! Aku akan membunuhmu!” *** “Astaga, kamu berantakan banget, Ivy? Kamu tidak tidur semalaman atau bagaimana?” Clara—teman kuliah Ivy bertanya saat mereka berdua berjalan beriringan di selasar kampus. Ivy tertawa kecil. “Begitulah, hanya kurang tidur saja.” Atau karena Ivy memang hampir tidak tidur. Karena masalah yang disebabkannya di bar, Ivy tidak berani pulang ke rumah dan terpaksa tidur di sebuah taman. Di rumah pohon yang biasa dijadikan tempat mainan anak-anak. “Semalaman begadang mengerjakan tugas, ya? Gara-gara telat masuk kelas Pak Damian waktu itu?” tebak Clara. “Iya,” Ivy mengangguk, dengan lancarnya berbohong. “Eh, omong-omong, soal Pak Damian…” Sekarang Clara agak berbisik, memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada orang di dekat mereka. “Kamu tahu tidak, anak bimbingan Pak Damian, kating perempuan yang sangat populer itu?” Ivy mengangguk, sedikit tertarik. Tentu Ivy tahu. Mahasiswi itu terkenal sekali di seluruh penjuru kampus saking cantiknya. “Dengar-dengar, dia sering tidur sama dosen demi nilai.” Ivy memandang ngeri temannya. “Jangan bercanda begitu. Kalau ada yang mendengar bagaimana?” Tapi Clara mengangkat bahunya enteng. “Yah, itu ‘kan rumor yang aku dengar.” “Kita tidak tahu kebenarannya, Clara. Kalau rumor itu tidak benar, bisa jadi fitnah, tahu.” Clara hanya manyun, mengetahui kalau temannya memang tidak asik diajak bergosip. “Terus, soal tugas yang tadi, kamu mau ke perpustakaan dulu tidak buat cari referensi?” Ivy menggeleng. “Aku duluan, harus ke ruangan Pak Damian untuk mengumpulkan tugas.” Mendengar nama dosen yang barusan dibicarakan itu, senyum jahil Clara mengembang. “Ah, kamu ini, anak kesayangan Pak Damian!” “Mana ada anak kesayangan,” balas Ivy datar. Dosen dingin yang tak kenal ampun itu, sudah beberapa kali memberi hukuman pada Ivy, hingga tugasnya tak ada yang pernah selesai. “Ya sudah, ya sudah. Sana, Pak Damian menunggu.” Ivy hanya menghela napas, sebelum pergi meninggalkan temannya itu. Kantor dosen ada di gedung lain. Di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup, Ivy hendak mengetuk saat pintu itu sudah berayun terbuka. Seorang perempuan keluar dari sana dengan penampilan berantakan. Kancing atas kemejanya terbuka dan rambutnya kusut. Menyadari keberadaan Ivy, dia berdeham dan buru-buru melangkah pergi. Perempuan itu adalah Jasmine. Kating yang tadi dibicarakan oleh temannya. Apa yang dilakukannya di dalam ruangan dosen sampai penampilannya seperti itu? Ivy berusaha mengenyahkan pikiran buruknya dan langsung melayangkan ketukan pada pintu. “Masuk.” Suara berat dan dalam itu menyambut di ujung sana. Ivy langsung mendorong pintu terbuka. Pria berkemeja rapi dan bertubuh kekar di dalam ruangan menatapnya dengan mata memicing. “Lagi-lagi, kamu terlambat mengumpulkan tugas.” Damian—si dosen berwajah dewa—berbicara tegas. Pria itu tengah duduk di kursinya. Tubuhnya tegap dengan dada bilang, wajahnya memiliki paras tampan, rahangnya tegas dengan balutan tatapan dingin mengintimidasi. Siapa pun itu, setiap kali berhadapan dengan Damian pasti akan terpana oleh seberapa sempurnanya pria itu. Dosen muda terpopuler di kampus. Ivy menelan ludah. “Maaf, Pak.” “Ini maaf yang keberapa, Ivy?” “Saya tahu saya—” “Sering terlambat mengumpulkan tugas, terlambat masuk kelas, dan nilai-nilai juga turun. Begitu maksudmu?” Ivy menggigit bibir bawahnya. Tidak berani membantah. Damian mengangkat satu tangan, Ivy reflek mendekat dan langsung meletakkan makalah di tangan dosennya itu. Damian membukanya sejenak kemudian berbicara. “Terjemahkan karya ilmiah yang kita bahas Minggu lalu. Kumpulkan siang ini juga kalau mau memperbaiki nilai-nilai kamu.” Ivy langsung ternganga. “Pak, saya minta maaf untuk keterlambatan tugas ini. Tapi, waktunya tidak akan cukup kalau siang ini. Saya—” “Kamu tidak sanggup?” Ivy terdiam, spontan menunduk menyadari tatapan tajam pria itu. Damian bersandar santai pada kursinya. “Memangnya kamu bisa lakukan apalagi untuk memperbaiki nilai? Apa kamu bisa menawarkan jasa lain kepada saya?”Bertahun-tahun kemudian. Sore di kantor Damian selalu sama. Kelelahan menggantung hampir di setiap pasang mata yang ditemui oleh Damian. Atmosfer semangat yang diperlihatkan semua orang saat pagi hari, berubah dengan sangat intens saat sudah sore hari. Setiap kali Damian menyusuri lorong, setiap langkahnya dipenuhi dengan sapaan dari semua orang. Sopan dan penuh hormat. Mereka semua membungkukkan kepala kepadanya. Hal yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Damian. Masuk ke dalam lift, tidak ada siapa pun yang berani ikut bersamanya. Tidak ada siapa pun yang merasa pantas untuk berada di satu lift bersamanya. Lift itu berhenti di lantai dasar dan beberapa staf yang sudah mau pulang juga menyambut Damian di sana. “Selamat sore, Pak.” Sapaan serupa didengar lagi oleh Damian. Dan Damian sekali lagi hanya membalasnya dengan anggukan kepala kecil. Petugas resepsionis tersenyum kepadanya saat Damian menoleh ke sana. Tidak dibalas oleh Damian. Di luar kantor, ada petugas keamanan
Waktu bergulir begitu saja. Terasa begitu cepat berlalu untuk Ivy yang nyaris tidak tahu apa saja pencapaian yang sudah didapatkan olehnya.Kadang ada hari-hari di mana Ivy hampir menyerah, kesulitan dengan beberapa hal, tapi ternyata itu selalu bisa dilewati.Kehidupan kampus masih menyibukkan dan membuatnya beberapa kali sempat jatuh sakit, tapi sama seperti orang lain, akhirnya Ivy berhasil tiba di posisi itu.Suasana kampus hari itu ramai riuh. Hari kelulusan dilangsungkan dengan lancar.Beberapa orang melemparkan topi toga mereka ke udara sebagai bentuk kebebasan yang akhirnya mereka dapatkan setelah tahun-tahun berat yang mencekik mereka.Beberapa lainnya sibuk menerima hadiah atau saling berpelukan dan tertawa ceria bersama teman dan keluarga mereka. Hal serupa yang begitu sederhana dan juga dilakukan oleh Clara, teman Ivy.Tapi bahkan untuk hal sederhana itu, Ivy sama sekali tidak bisa melakukannya. Saat semua orang dikelilingi oleh keluarga mereka yang memberikan selamat deng
Pagi ketika Ivy membuka mata, dirinya mendapati Damian sedang memeluknya. Ivy menarik senyum geli. Berbantalkan lengan Damian dan dada hangat pria itu yang bisa disentuh olehnya, juga pemandangan wajah Damian yang pertama dilihat olehnya saat membuka mata, tidak disangka Ivy ternyata begitu merindukannya.Satu tangannya tanpa sadar terangkat dan bergerak menyentuh dahi Damian yang sedang tidur miring dengan wajah mengarah padanya. Ivy menggerakkan jari telunjuknya itu menyusuri bagian wajah Damian. Lurus dari bagian dahi sampai ke hidung. Terus turun sampai ke bagian bibir.Tapi tidak diduga tiba-tiba bibir itu terlihat seperti tersenyum. Ivy tercekat saat Damian membuka mulutnya kemudian menggigit jari telunjuknya pelan.Pria itu membuka mata dan bersitatap dengannya. Tatapan hangat yang dulu begitu didamba oleh Ivy, tapi sekarang selalu diperlihatkan oleh Damian, yang tidak pernah sekalipun membuat Ivy merasa kebosanan.“Dasar nakal,” kata Damian masih dengan posisi menggigit jari
Damian membelalak dan refleks langsung melingkarkan satu tangannya pada pinggang Ivy. Satu lainnya bergerak ke bagian belakang tulang belakang Ivy dan menariknya lebih dekat. Menerima ciuman balasan itu dengan sukarela.Keduanya saling merapatkan tubuh dengan keinginan sama besarnya. Seperti mereka sudah tidak pernah bertemu bertahun-tahun lamanya. Kerinduan itu nyata, terlihat dari keinginan besar kulit mereka untuk saling menyatu. Lewat bibir yang saling mengecap satu sama lain tidak kuasa untuk melepaskannya.Keduanya hanya saling bertumpu pada tubuh satu sama lain, pada sofa yang terasa sudah tidak bisa lagi menampung mereka. Saat cengkraman Ivy pada tangan Damian mulai menguat, Damian mengerti bahwa gadis itu mulai kehabisan napas.Tapi anehnya mereka tidak mau menjauh. Damian terus meraup kasar ranum merah muda itu. Tidak memberi Ivy kesempatan untuk sekedar menghirup udara. Barulah ketika cengkeraman itu berubah menjadi sebuah cakaran, Damian mengalah dan menjauhkan diri sejen












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.