MasukKebenaran jarang datang sekaligus. Ia hadir sedikit demi sedikit, seperti potongan kaca yang awalnya tampak kecil, tapi semakin lama semakin melukai siapa pun yang menggenggamnya terlalu erat.Pagi itu, ruang kerja Langit terasa lebih sunyi dari biasanya. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan cahaya pucat masuk dan jatuh tepat di meja kerja yang kini dipenuhi berkas baru. Tidak menumpuk—justru tersusun rapi, seolah setiap lembar sudah menunggu untuk dibaca dengan kepala dingin.Tanisha duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat, tapi isinya nyaris tak tersentuh. Perasaannya tidak tenang sejak Ramdan mengirim pesan singkat pagi tadi: “Pak, datanya makin mengerucut. Kita perlu bicara serius hari ini.”Ketika pintu terbuka dan Ramdan masuk, ekspresinya cukup untuk membuat Tanisha menegakkan punggung.“Apa sudah sejauh itu?” tanya Langit tanpa basa-basi.Ramdan mengangguk. Ia menutup pintu, memastikan ruangan itu benar-benar aman. “Lebih jauh da
Kepercayaan adalah sesuatu yang rapuh.Sekali retak, ia tidak pernah benar-benar kembali utuh. Ia mungkin bisa direkatkan, dipoles agar tampak sama, tapi bagi mereka yang pernah dikhianati, retakan itu akan selalu terlihat—setidaknya oleh mata yang tahu ke mana harus memandang.Langit berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap kota yang masih sibuk meski hari belum sepenuhnya terang. Pagi datang seperti biasa, membawa rutinitas yang seolah tak terpengaruh oleh kekacauan hidup seseorang. Tapi di dalam ruangan itu, suasana jauh dari kata normal.Di meja panjang yang biasanya dipenuhi berkas politik dan agenda partai, kini hanya ada satu laptop terbuka dan beberapa map tipis. Tidak banyak. Justru terlalu sedikit.Tanisha duduk di kursi seberang, tangannya terlipat di atas perutnya yang semakin membesar. Wajahnya tenang, tapi matanya awas—seperti seseorang yang sudah terlalu sering dikejutkan oleh kenyataan pahit hingga belajar mengantisipasi luka berikutnya.“Ini sisanya?” tanya Ta
Waktu berjalan dengan cara yang aneh.Ia bisa terasa lambat ketika dihabiskan dalam penantian, namun juga bisa berlalu terlalu cepat saat diisi dengan ketegangan yang tak pernah benar-benar reda. Dalam hitungan minggu, hidup Tanisha dan Langit berubah menjadi rangkaian hari yang dipenuhi bisikan, catatan kecil, dan percakapan setengah berbisik di balik pintu tertutup.Tidak ada lagi langkah ceroboh. Tidak ada lagi keputusan spontan. Setiap gerak dipikirkan dua kali. Setiap informasi disaring, dicocokkan, lalu disimpan rapat-rapat.Hanya mereka bertiga yang tahu. Langit. Tanisha. Dan Ramdan.Di ruang kerja kecil yang kini mereka gunakan sebagai pusat pengumpulan bukti—bukan kantor resmi, bukan rumah utama, melainkan ruang netral yang aman—tumpukan map mulai memenuhi meja. Tidak mencolok. Tidak berlabel besar. Semua terlihat seperti berkas biasa bagi mata awam.Namun Tanisha tahu, di dalamnya tersimpan kebenaran yang selama ini dikubur paksa.“Ini laporan transfer tambahan,” ujar Ramdan
“Kamu belum kasih tahu Mama tentang apa yang kamu temukan di rumah lama kalian, kan?”Suara Langit terdengar pelan, tapi serius. Mereka sudah berada di kamar. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Tirai tertutup rapat. Dunia di luar kamar seolah dipisahkan oleh batas tak kasatmata.Tanisha yang tengah duduk bersandar di sandaran ranjang, menoleh perlahan. “Nggak,” jawabnya lirih. “Bahkan Mama nggak tahu aku sempat jenguk Papa di penjara.”Langit menghela napas tipis, lalu duduk di sisi ranjang, berhadapan dengannya. Ia menyandarkan siku di paha, menautkan jemari, sikap khasnya ketika sedang berpikir serius.“Mama masih terguncang,” lanjut Tanisha. “Aku nggak mau bikin Mama makin tertekan. Rasanya… beliau belum siap dengar apa pun lagi.”Langit mengangguk pelan. “Bagus,” katanya akhirnya. “Memang sebaiknya Mama jangan tahu dulu.”Tanisha mengangkat wajahnya, menatap Langit dengan sorot ragu. “Mas yakin?”“Yakin,” jawab Langit tanpa ragu. “Ma
Dapur kecil itu biasanya hanya diisi suara detak jam dan langkah Tanisha yang pelan. Namun pagi ini berbeda.Ada Langit. Berdiri kaku di dekat meja dapur, mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung asal-asalan. Ekspresinya datar, nyaris serius—seolah ia sedang menghadiri rapat penting, bukan membantu membuat kue kering.Tanisha memperhatikannya sekilas sambil mengaduk adonan di mangkuk besar. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.“Mas,” katanya akhirnya, menahan senyum. “Kamu kelihatan kayak mau tandatangan kontrak, bukan bikin kue.”Langit melirik ke arah mangkuk. “Saya memang nggak pernah menyentuh hal-hal seperti ini.”“Itu kelihatan,” balas Tanisha ringan. “Sendoknya kebalik.”Langit menatap sendok kayu di tangannya, lalu membaliknya tanpa komentar. Gerakannya kaku, tapi serius. Terlalu serius untuk sesuatu yang seharusnya santai.Adinda sejak pagi belum keluar kamar. Demam ringan membuatnya memilih beristirahat, dan pesanan kue yang sudah terlanjur masuk tak mungkin dit
Mobil baru berhenti ketika Langit mematikan mesin dengan satu gerakan tegas. Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. Hanya suara ban yang melaju di aspal dan napas Tanisha yang sejak tadi belum benar-benar stabil.Begitu turun dari mobil, Tanisha langsung melangkah cepat menuju rumah. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena benda kecil yang kini tak lagi berada di genggamannya.Flashdisk itu.Langit mengikutinya dari belakang, langkahnya panjang, ekspresinya tak terbaca. Pintu tertutup, suasana rumah kembali sunyi—terlalu sunyi untuk dua orang yang baru saja membawa pulang sesuatu yang bisa mengubah segalanya.“Mas,” Tanisha akhirnya bicara, memecah keheningan. Ia berbalik, menatap Langit dengan mata yang masih menyimpan sisa panik. “Itu… bukan barang sembarangan.”Langit melepas jasnya, meletakkannya di sandaran kursi. “Saya tahu.”Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat Tanisha makin gelisah.







